SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

STRATEGI PEMBELAJARAN TARI TURONGGO YAKSO PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS XI IPS 3 DI SMA NEGERI 2 TRENGGALEK

Yeni Setyo Cahyaningrum

Abstrak


STRATEGI PEMBELAJARAN TARI TURONGGO YAKSO PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS XI IPS 3 DI SMA NEGERI 2 TRENGGALEK

 

Yeni Setyo

E-mail: Yenny.setyo@yahoo.com

Tjitjik Sriwardhani

Rully A Zandra

 

Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

 

ABSTRAK:SMA Negeri 2 Trenggalekmerupakansalahsatusekolah formal yang mempunyaikeunggulandalambidangsenitariyaitupadatariTuronggo Yakso yang termasuk kegiatan intrakurikuler di SMA Negeri 2 Trenggalek. Turonggo Yakso merupakan salah satu icon taridari Kabupaten Trenggalek. Tari TuronggoYakso di SMA Negeri 2 Trenggalektelahmendapatkanjuara 1 festival jarananTuronggoyaksopadatahun 2015, penyajiterbaikdalam festival jarananTuronggoYaksotahun 2016, juara 3 lombatari di kodimpadatahun 2016, 5 penyajiterbaikdanpenatatariterbaiktahun 2017. Hal tersebutmenjadisebuahpertanyaanstrategiapakah yang digunakanoleh guru tari di SMA Negeri 2 Trenggalek. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif.Pengumpulan data penelitian diperoleh dengan cara melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi berupa foto dan video. Analisis data  yang digunakan dalam penelitian menggunakan analisis data Milles dan Huberman. Hasil penelitian ini adalah, guru seni tari sudah membuat RPP seperti guru pada umumnya, sekolah memberikan kebebasan untuk mengembangkan materi dalam proses pembelajarannya sendiri. Penyampaian materi dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi.Pada pengelolaan pembelajaran, guru mengarah pada pengelolaan ruang dan pengelolaan siswa.

 

Kata kunci :strategipembelajaran, Tari Turonggo Yakso, Seni Budaya

 

ABSTRACT:SMA Negeri 2 Trenggalek is one of the formal schools that have excellence in the field of dance that is dance Turonggo Yakso which includes intrakurikuler activities in SMA Negeri 2 Trenggalek. Turonggo Yakso is one of the dance icon of Trenggalek Regency. The Turonggo Yakso dance in SMA Negeri 2 Trenggalek has been awarded the 1st champion of the yako Turonggo jaranan festival in 2015, the best presenter of the 2016 Turonggo Yakso festival, the 3rd dance champion at the kodim in 2016, the top 5 renderers and the best dance artist of 2017. It becomes a question of what strategy is used by the dance teacher in SMA Negeri 2 Trenggalek. This research uses qualitative research type. The research data was collected by observation, interview, and documentation in the form of photo and video. The data analysis used in this research use Milles and Huberman data analysis. The result of this research is, dance art teacher has made RPP like teacher in general, school give freedom to develop material in its own learning process. Submission of materials using lecture, discussion, and demonstration methods. In the management of learning, teachers lead to spatial management and student management.

Keywords: learning strategy, Dance Turonggo Yakso, Art Culture

 

Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan masa depan peserta didik (Soehardjo, 2012:152). Melihat pendapat tersebut, pendidikan merupakan suatu peranan penting dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang, sehingga dengan pendidikan seseorang dianggap sempurna karena mempunyai kualitas dan kreativitas. Oleh karena itu, pendidikan bertujuan untuk menyiapkan masa depan seseorang yang dapat diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal seperti halnya pendidikan seni.

Menurut (Hidayat, 2013:6) menjelaskan bahwa pendidikan seni di sekolahmenempatkan sasaran hasil belajar pada tiga tataran, yaitu: (1) sebagai strategi mengembangkan sensitivitas dan kreativitas siswa dalam menggunakan berbagai macam bahasa, bunyi, gerak, rupa, dan perpaduannya; (2) memberi peluang seluas-luasnya pada siswa untuk berekspresi diri dan juga mengekspresikan citra budaya etniknya, serta (3) mengembangkan pribadi siswa ke arah pembentukan pribadi yang utuh dan menyeluruh, baik secara individu, sosial, maupun budaya.

Strategi pembelajaran yang dilakukan oleh setiap guru di sekolah berbeda-beda untuk mencapai hasil belajar siswa yang optimal. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan (Majid, 2013:3).

Proses pembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek sesuai dengan kurikulum pendidikan yang telah dicantumkan. Menurut Budiyono selaku staff kurikulum di SMA Negeri 2 Trenggalek menjelaskan bahwapembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek termasuk kegiatan pembelajaran intrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua siswa kelas XI.Beberapa kelas XI diSMA Negeri 2 Trenggalek yang lebih menonjol dan kreatif dalam kegiatan berkesenian yaitu kelas XI IPS 3 yang merupakan salah satu kelas favorit, siswa-siswi kelas XI IPS 3 selalu antusias dalam pembelajaran seni tari terutama pada materi tari Turonggo Yakso.

Salah satu kesenian yang ada di Kabupaten Trenggalek yaitu tari Turonggo Yakso yang merupakan icon dan kesenian tari asli yang bersumber dari upacara adat Baritan yang dilaksanakan oleh masyarakat Dongko. Turonggo Yakso yang digambarkan dengan wujud kuda berkepala raksasa tersebut merupakan simbol kekuatan masyarakat dalam mengusir pengaruh buruk dalam ketentraman masyarakat (Surur, 2013:48).

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dikarenakan peneliti ingin memaparkan data hasil penelitian berupa data wawancara, observasi, dan dokumentasi.Peneliti merupakan instrument yang menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian, peneliti sebagai perencana, pengumpul data, melakukan analisis, menafsirkan data, sekaligus sebagai pelapor penelitian (Moleong, 2003:34).Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Trenggalek, tepatnya beralamatkan di Jalan Soekarno Hatta, Gg Siwalan, RT.012/RW.004, Sambirejo, Kec. Trenggalek, Kab. Trenggalek.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah mengenai informasi tentang strategi pembelajaran tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek, yang di dalamnya terbagi menjadi beberapa komponen, yaitu 1) pengorganisasian pembelajaran, 2) penyampaian pembelajaran, dan 3) pengelolaan pembelajaran. Sumber data dalam penelitian ini adalah Fresti selaku guru Seni Budaya, Budiyono selaku Staff Kurikulum, dan Ericha selaku peserta didik di SMA Negeri 2 Trenggalek, dengan dokumentasi berupa foto kegiatan pembelajaran tari Turonggo Yakso.

Analisis data terbagi menjadi beberapa tahapan menurut Miles and Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Untuk memperoleh keabsahan data, agar data yang diperoleh valid , peneliti menggunakan cara trianggulasi yaitu teknik pengecekan yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh. Dalam hal ini trianggulasi yang digunakan ada dua, yaitu trianggulasi teknik dan triangulasi waktu. Peneliti melakukan triangulasi teknik sebagai berikut, peneliti melakukan wawancara dengan Fresti selaku guru seni tari mengenai pengorganisasianpembelajaran, penyampaian pembelajaran, dan pengelolaan pembelajaran. Data yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil observasi.Selanjutnya, untuk lebih memperjelas data, hasil wawancara yang sudah dibandingkan dengan observasi kemudian dilengkapi dengan dokumentasi berupa foto.Sedangkan pada triangulasi waktu, peneliti melakukan wawancara dalam waktu yang berbeda.Hasil wawancara antara narasumber satu dengan narasumber lainnya dibandingkan sehingga didapatkan kesimpulan. Peneliti melakukan wawancara dengan Fresti mengenai pengorganisasian pembelajaran, selanjutnya melakukan wawancara yang sama dengan Budiyono mengenai pengorganisasian pembelajaran Reog Mini. Jawaban kedua narasumber tersebut diolah, kemudian dibuat kesimpulan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengorganisasian Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek.

Dalampelaksanaanpembelajaran, adabeberapatugas yang harusdilaksanakanolehseorang guru, salahsatunyaadalahmembuatpengorganisasianpembelajaran. Dalammembuatpengorganisasianpembelajaranterdapatbeberapaperencanaanmengenaiapasaja yang dilakukandalampembelajaransehingga proses belajarmengajardapatberjalansesuaidenganapa yang diharapkan.

Perencanaan pembelajaran di SMA Negeri 2 Trenggalek adalah tentang pembelajaran dengan sebuah rencana pembelajaran yang spesifik.Walaupun menurut Uno (2011:45) dalam pengorganisasian pembelajaran terdapat perencanaan sebagai awal dari pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Adanya acuan pembelajaran berupa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) membuat kegiatan pembelajaran berjalan baik. Guru dapat melakukan pembelajaran sesuai dengan tujuan pokok kelas seni itu sendiri yaitu, menciptakan generasi dengan kemampuan berkesenian, khususnya  tari Turonggo Yakso.

Secara garis besar, pada kelas seni SMA Negeri 2 Trenggalek, pengorganisasian pembelajaran dibagi secara arti luas dan sempit.Secara luas, pengorganisasian mengacu pada konsep pembelajaran yang dijunjung.Konsep pembelajaran yang dimaksud mengacu pada tujuan dasar kegiatan pembelajaran untuk membina dan mengembangkan kekayaan seni budaya daerah setempat sebagai penyangga kebudayaan nasional serta mengembangkan daya cipta dan kreatifitas siswa, khususnya dalam bidang seni tradisi dengan memberikan wadah pembinaan dan apresiasi pada siswa dalam berolah seni. Maka dari itu, konsep pembelajaran dikemas dengan cara yang lebih mudah yaitu memfokuskan pada kegiatan praktek yang memberikan wawasan langsung kepada siswa bahwa menarikan jaranan tidak selalu menjadi hal yang hanya dilakukan oleh orang tua dan akan sangat menyenangkan untuk dibelajari bersama teman seusia. Seperti dikemukakan oleh Mulyasa (2008:86), bahwa dengan demikian guru dan siswa dapat bersama-sama belajar menggali kompetensinya secara optimal.

 

Materi

Memilih materi yang tepat merupakan suatu hal yang seharusnya dilakukan oleh guru apapun mata pelajarannya.Secara spesifik, tari Turonggo Yakso pada kegiatan pembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek memilih materi pokok tari Turonggo Yakso dengan tujuan penguasaan yang tinggi pada pertunjukan tari tersebut. Didasari dengan alasan bahwa dengan menerjunkan siswa langsung pada materi yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, siswa akan memunculkan kemampuan yang bervariasi dan ketertarikan yang lebih dalam pembelajaran seni tari Turonggo Yakso. Seperti disampaikan oleh Djamarah dan Zain (2006:43) materi pembelajaran adalah substansi yang akandisampaikan dalam proses belajar mengajar.Maka dari itu, segala substansi seharsusnya dipilih dan dipilah sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa tersebut.

 

Media

Kehadiran media pada kegiatan pembelajaran seni tari menjadi sangat penting sebagai jembatan penghubung bagi siswa untuk memahami materi.Media yang sering digunakan pada pembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek adalah satu set properti tari Turonggo Yakso dan Tape recorder.Sanjaya (2006:169) mengemukakan bahwa salah satu fungsi dan manfaat penggunaan media adalah menambah gairah dan motivasi siswa dalam belajar. Maka, media yang bervariasi seperti video, rekaman, dan media lain yang dapat mendukung pembelajaran.Media merupakan suatu alat atau sarana yang berfungsi sebagai perantara atau jembatan dalam kegiatan komunikasi (penyampaian dan penerimaan pesan) antara komunikator (penyampai pesan) dan komunikan (penerima pesan).

 

Metode

Metode pembelajaran yang tepat akan berdampak pada keberhasilan tujuan pembelajaran. Dalam penerapannya, guru menggunakan tiga macam metode pembelajaran yang diaplikasikan secara bertahap dengan tujuan pencapaian pemahaman yang setara kepada materi yang diberikan. Hal tersebut sesuai dengan Sanjaya (2011:147) bahwa metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode ceramah sebagai metode pembuka menjadi awal bagi siswa untuk menerima penjelasan tentang materi-materi yang akan dipelajari. Hal ini merupakan langkah yang baik untuk memulai suatu pembelajaran karena informasi penting mengenai petunjuk pembelajaran dan tambahan motivasi bagi siswa seharusnya disampaikan di awal.Akan lebih baik jika metode ini tidak digunakan dalam waktu yang terlalu lama.

Metode kedua yang digunakan dalam pembelajaran adalah Metode Demontrasi.Hasibuan & Moedjiono (2010:29-30) menjelaskan bahwa metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana cara membuat, terdiri dari apa saja, bagaimana cara mengaturnya, bagaimana proses bekerjanya, serta bagaimana cara mengerjakannya. Dengan adanya demonstasi diberikan oleh guru, siswa mendapatkan contoh tentang materi yang sedang diberikan.Dikemukakan oleh Sanjaya (2011:152) bahwa dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.Maka dari itu, pengunaan metode demonstrasi terbilang sangat membantu dalam pembelajaran.

Metode Diskusi sebagai metode ketiga menjadi metode penguat keterampilan siswa dalam menari. Melakukan gerakan yang sesuai musik iringan tari Turonggo Yakso menjadi salah satu hal yang dapat digunakkan untuk menguji kepekaan kemampuan psikomotorik sekaligus kepekaan terhadap kelompoknya.Latihan atau berlatih merupakan proses belajar dan membiasakan diri agar mampu melakukan sesuatu (Supriadie, 2012:149).

Penilaian

Pada kegiatan pembelajaran penilaian dilakukan secara individu dan kelompok.Secara individu dilakukan dalam peranan siswa di kelas saat mempelajarinya sendiri, mencoba menarikanya tarian yang diajarkan. Sedangkan secara kelompok, dilakukan saat siswa praktek tari secara bersama-sama. Penilaian yang digunakan guru terkandung ketiga aspek kurikulum 2013 yang dituliskan secara tersirat. Ketiga aspek tersebut aspek afektif, aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Sebagai acuannya, sesuai dengan pendapat Sudjana (2014:3) bahwa penilaian merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran.Penilaian adalah proses upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran.

 

Penyampaian Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek.

Langkah-langkah pembelajaran

langkah-langkah pembelajran terbagi menjadi tiga tahap  berupa kemampuan mengembangkan keterampilan dasar mengajar yang dilakukan dari mulai kegiatan awal (membuka), kegiatan inti, hingga kegiatan menutup pelajaran.

 

Kegiatan Awal

Dalam kegiatan awal, guru mencairkan suasana agar tercipta suasana yang kondusif. Guru mempersiapkan mental siswa dengan saling berkomunikasi dan memotivasi siswa. Setelah siswa dirasa siap menerima pelajaran, guru memulai pelajaran.Hal ini sesuai dengan pernyataan Supriadie (2012:153) bahwa kegiatan awal adalah usaha yang dilakukan guru pada saat mengawali pembelajaran dalam rangka menciptakan kondisi bagi siswa agar fisik, mental, perhatian, dan motivasi terpusat dan bangkit untuk melakukan aktifitas pembelajaran.Maka dari itu, kegiatan awal dimaksudkan untuk menata mental dan kesiapan siswa untuk menerima pelajaran dan dimaksudkan untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif sebelum memulai pembelajaran.

 

Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti, guru mengorganisir pembelajaran agar siswa mudah melakukan kegiatan belajar dan mencapai tujuan.Pada kegiatan inti, guru sudah mengelola kelas dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.Guru mengaktualisasikan pembelajaran sesuai langkah-langkah kegiatan dengan mengembangkan variasi pola interaksi dan prinsip-prinsip mengajar serta keterampilan mengajar (Supriadie, 2012:153). Kegiatan inti yang dilakukan disusun berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan.Metode ceramah berada pada awal kegiatan inti dimaksudkan untuk memberi arahan, instruksi, dan penjelasan mengenai pembelajaran yang dilakukan.Kemudian diteruskan dengan berbagai praktek menyesuaikan materi yang diberikan. Hal tersebut sesuai dengan teori Supriadie (2012:154), bahwa banyak hal yang dapat dilakukan guru berdasarkan keterampilan dasar mengajar, berupa keterampilan memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, bertanya, mengelola diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, dan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

 

Kegiatan Penutup

Beberapa hal yang dilakukan guru dalam menutup pembelajaran menurut Supriadie (2012:155) adalah melakukan validasi/merangkum, membuat simpulan, melakukan post test, memberikan kegiatan tindak lanjut (bisa berupa tugas).Sesuai hal tersebut, guru memberikan evaluasi dengan menyampaikan letak kekurangan pada saat pembelajaran berlangsung. Guru memotivasi siswa agar selalu semangat dan memperbaiki kekurangan masing-masing. Pembelajaran diakhiri dengan banyak motivasi untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kemampuan masing-masing.Dengan tatanan kegiatan penutup terebut, kepedualian guru terhadap pemahaman siswa merupakan hal yang baik untuk dilakukan pada setiap pembelajaran.Hal ini bertujuan agar siswa juga memiliki tanggung jawab tentang pembelajaran kedepan dan tidak merasa diabaikan.

 

Pengelolaan Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek.

Pengelolaan Ruang

 

Berkenaan dengan pembelajaran yang kondusif, sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu ruang belajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempat duduk, penerangan, suhu, pemanasan sebelum masuk ke materi, dan bina suasana dalam pembelajaran.Bila pembelajaran dilakukan di ruang tertutup, luas ruangan perlu diperhatikan (Majid, 2013:165).Terkait dengan hal tersebut, ruang yang digunakan dalam pembelajaran tari Turonggo yakso di SMA Negeri 2 Trenggalek sudah cukup baik. Ruangan yang digunakan ada 2, yaitu ruang kelas seni dan aula.Sebelum digunakan, seperangkat gamelan dan properti tari tertata rapi di ruangan paling belakang agar siswa tidak seenaknya menggunakan. Dan properti tari digunakan pada waktu latihan. Sebelum dan sesudah pelajaran, siswa juga diwajibkan untuk membersihkan kelas, sehingga suasana pembelajaran berlangsung nyaman.

Dengan hasil data dan teori tersebut, maka dapat dikatakan kondisi ruang pada pembelajaran seni tari sudah baik.Sekolah sudah cukup baik dalam memberikan sarana dan prasarana. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori Majid (2013:167), bahwa lingkungan fisik pembelajaran yang baik meliputi: 1) ruang pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bergerak bebas, 2) pengaturan tempat duduk yang memungkinkan guru mudah bertatap muka dengan siswa, 3) ventilasi dan pengaturan cahaya yang baik sebagai penunjang terciptanya suasana belajar yang nyaman, 4) penyimpanan barang-barang pada tempat khusus sehingga mudah dicapai bila diperlukan.

 

Pengelolaan Kelas

Pada saat pembelajaran berlangsung, kondisi kelas dapat dikatakan cukup kondusif.Siswa memiliki tingkah laku yang baik walaupun kadang memerlukan sedikit percakapan dan candaan. Guru dapat mengatur siswa berdasarkan situasi yang ada ketika proses belajar mengajar berlangsung. Ada dua kategori pokok tentang masalah pengelolaan siswa dalam proses belajar mengajar, yaitu masalah individual dan masalah kelompok (Majid, 2013:115). Dalam masalah individual, guru langsung mendekati siswa dan memberi peringatan. Guru akan memisahkan salah satu siswa yang suka membuat gaduh pada tempat yang terpisah. Begitu juga dengan siswa yang asik bermain handphone pada saat pelajaran. Jika siswa tersebut susah dinasehati, guru akan menyita handphone tersebut dan mengembalikannya setelah pelajaran selesai.

Dalam masalah kelompok, guru lebih membebaskan siswa untuk bertanya kepada teman-temannya ketika mereka mengalami kesulitan. Guru menyadari bahwa tidak semua siswa bisa leluasa bertanya kepada guru, karena rasa canggung atau takut bertanya kepada guru. Maka dari itu, di sela-sela pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berdiskusi mengenai materi yang diajarkan.Siswa yang kurang paham bisa bertanya kepada temannya yang lebih pandai, begitu juga sebaliknya siswa yang pandai mengajari temannya yang bertanya.Hal tersebut juga sesuai dengan teori Majid (2013:112) bahwa siswa dalam suatu kelas biasanya memiliki kemampuan yang beragam, pandai, sedang, dan kurang. Karenanya, guru perlu mengatur kapan siswa bekerja perorangan, berpasangan, berkelompok, atau klasikal. Jika berkelompok, kapan siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan sehingga ia dapat berkonsentrasi membantu yang kurang, dan kapan siswa dikelompokkan secara campuran sebagai kemampuan sehingga terjadi tutor sebaya.

 

PENUTUP

Kesimpulan

PengorganisasianPembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek.

Pada pengorganisasian pembejaran, tujuan pembelajaran pada kegiatan seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek adalah membina, mengembangkan dan melestarikan kekayaan seni budaya daerah.Terlebih dalam mengembangkan daya cipta dan kreativitas siswa, khususnya dalam bidang seni tradisi. Mengangkat harkat seni dan budaya serta memberikan wadah pembinaan dan apresiasi kepada siswa dalam berolah seni khususnya seni tradisi.Materi diberikan secara bertahap, diawali dengan pengetahuan , selanjutnya dengan menggunakan  metode ceramah, demonstrasi, dan diskusi.Dalam pembelajaran ini, media yang digunakan hanya berupa satu set properti tari dan gamelan.Penilaian dilakukan oleh guru dilakukan berdasarkan pengamatan guru.

Namun demikian, dalam penilaian yang dilakukan terkandung aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik.Meskipun demikian, guru menerapkan penilaian dengan caranya sendiri dan menjabarkan ketiga aspek tadi secara singkat dan tersirat. Guru mengamati siswa secara individu dalam dua macam indikator, yaitu: keaktifan siswa dan kemampuan praktek.Kemampuan praktek sendiri mencakup kepekaan nada, tempo, dan dinamika.Secara kelompok, siswa dinilai dalam bagaimana mereka menarikan tari Reog Mini secara bersamaan.

 

Penyampaian Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek.

Penyampaian pembelajaran dilakukan dalam tiga langkah pembelajaran, yaitu: Kegiatan awal, inti, dan penutup. Pada pelaksanaanya, kegiatan awal berisi doa bersama, presensi dan penguraian kembali materi yang didapat pada pembelajaran sebelumnya. Sedangkan pada kegiatan inti, siswa diajak untuk terjun langsung pada instrument masing-masing dan mempraktekkan materi yang diberikan oleh guru.Pada bagian penutup, guru mengingatkan siswa kembali agar dapat mempelajari dan mengingat materi yang diberikan untuk kemudian dipraktekkan pada pembelajaran selanjutnya, serta memberikan evaluasi singkat tentang kekurangan yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

 

Pengelolaan Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek.

PengelolaanpembelajaranReog Mini padakegiatansenitari di SMA Negeri2 Trenggalek dibagimenjadidua, yaitupengelolaanruangdanpengelolaansiswa.Pengelolaanruangmeliputikondisiruang yang digunakanpadasaatkegiatanpembelajaran.Terdapatduaruangan yang digunakanuntukpembelajaranyaitu ruangkelaskhusussenitaridan aula.Namun, ruangkelaskhusustarilebihseringdigunakandalampembelajarandikarenakankeadaanruang yang lebihmemadai. Pengelolaanruang juga mengacupadatatakelolaruangsehinggamenciptakankenyamananpadasaat proses pembelajaranberlangsung.Sedangkanpengelolaansiswadilakukandalamduamacamcara, individudankelompok. Secaraindividu, siswadibinalangsungoleh guru untukmempraktekkanmateripadagerakan yang diberikanuntukmasing-masingsiswa. Secarakelompok, siswadiajarkanuntuksalingmembantusatusama lain jikaada yang mengalamikesulitandalampembelajarantariTuronggoYakso.

 

 

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian maka diajukan beberapa saran:

1.                  Bagipeneliti, disarankanuntukmemperdalampenelitianserupapadasekolah-sekolahlain, sehinggadapatmemperolehpengetahuanlebihbanyaklagitentangstrategipembelajaran.

2.                  Bagi Program StudiPendidikanSeni Tari danMusikdisarankanuntuklebihmemperbanyakpenelitiansejenis, karenapadakenyataannyabanyak guru senibudaya yang belummengaplikasikanperencanaanpembelajarandenganbaik.

3.                  BagiUniversitasNegeri Malang diharapkandapatmenambahperbendaharaankepustakaandalambidangkependidikan, khususnyadalamhalpenerapanstrategipembelajaransehinggadapatmengembangkandayaciptadankreativitascalon guru untuk media pengajaran masa depan.

4.                  Sekolahdiharapkandapatmemberikanperhatiandalamkegiatan pembelajaranmengenaipenyusunanperencanaanpembelajaran, sehingga guru dapatmemaksimalkanstrategipembelajaranmelaluiperencanaan yang dibuatsebagaiacuan proses pembelajaran.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arikuanto, Suharsimi.1987. pengelolaankelasdansiswa. Jakarta CV. Rajawali

Arikuanto, Suharsimi, 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Degeng.2005. Belajar Dan Pembelajaran. Laboratorium Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

 

Djamarah, S 2010. StrategiBelajarMengajar. Jakarta: RinekaCipta

Hamalik, Oemar. 2011. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara

 

Iriaji. 2011. Konsep Dan Strategi Pembelajaran Seni Budaya. Malang: Jurusan Seni Dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pustaka Kaiswaran.

 

Majid, Abdul. 2011.Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Moleong, J. Lexy. 2005. MetodologiPenelitianKualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya

 

Sanjaya, H. Wina. 2013. Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran, Bandung: Kencana Prenadamedia Groub

 

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

 

Surur, Misbahus. 2013. Turonggo Yakso Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi. Trenggalek: Rumah Produksi Heruistic.

 

Uno, Hamzah B. 2011. PerencanaanPembelajaran. Bandung: PT. RosdaKarya