SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERBEDAAN VISUALISASI ATRIBUT DAN PROPORSI WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA DENGAN WAYANG KULIT PURWA GAYA YOGYAKARTA PADA TOKOH ARJUNA

Achmad Saifurrijal

Abstrak


ABSTRAK

 

Saifurrijal, Achmad. 2017. Perbedaan Visualisasi Atribut dan Proporsi Wayang

Kulit Purwa Gaya Surakarta dengan Wayang Kulit Purwa Gaya

Yogyakarta Pada Tokoh Arjuna. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M.Sn, (II) Ike Ratnawati, M.Pd.

 

Kata Kunci: Perbedaan visualisasi, wayang kulit purwa

 

, tokoh Arjuna Arjuna adalah anggota keluarga Pandawa yang tengah atau ketiga, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunthi. Tokoh Arjuna dalam dunia pewayangan antara Surakarta dengan Yogyakarta digambarkan kedalam bentuk visual wujud yang berbeda yaitu Arjuna gaya Surakarta lebih jangkung daripada Arjuna gaya Yogyakarta, penyebab perbedaan bentuk visual wujud tersebut dikarenakan perpecahan kerajaan mataram menjadi 2, yaitu kasunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Metode yang digunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dengan melibatkan. Dalang sebagai narasumber. Data pada penelitian ini diperoleh melalui metode observasi dan wawancara. Sedangkan untuk menguji keabsahan data, dilakukan kegiatan metode triangulasi. Perbedaan visualisasi yang menonjol adalah pada atribut dan proporsi bagian atas, tengah, dan bawah yaitu Arjuna gaya Surakarta tidak memakai

mangkara, sedangkan Arjuna gaya Yogyakarta memakai mangkara mata satu, sumping Arjuna gaya Surakarta memakai khudupturi dan Arjuna Yogyakarta memakai wederan. Selanjutnya Arjuna Surakarta dan Yogyakarta tidak memakai kalung melainkan sunggingan bludiran yang menyerupai kalung. Arjuna gaya Surakarta memiliki badan lebih ramping dan juga lebih jangkung dari badan Arjuna gaya Yogyakarta. Arjuna Surakarta memakai sabuk sembung Arjuna Yogyakarta memakai sabuk slepe, dodot Arjuna gaya Surakarta memakai dodot warna merah ukiran semen, dodot Arjuna gaya Yogyakarta menggunakan dodot berwarna utama coklat gelap dengan ukiran bubukan dan motif parang rusak, Arjuna gaya Surakarta memakai pocong polos dan gaya Yogyakarta menggunakan pocong banyakan, kaki Arjuna gaya Surakarta ukurannya lebih ramping/kurus, gaya Yogyakarta lebih gemuk dan lebar. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada pembaca dan peneliti lain untuk mengkaji dan mempelajari secara lebih mendalam, karena beberapa data hasil wawancara dan observasi tidak ditemukan di pustaka. Diharapkan penelitian tentang Tokoh Arjuna ini dapat dilanjutkan kajian mengenai sejarah tokoh Arjuna dan kajian makna atribut serta proporsi wayang tokoh Arjuna.