SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Fantasia for String Orchestra Karya Musik Berbentuk Fantasia Orkestra Gesek

Mahardika Septyo Aji

Abstrak


ABSTRAK

 

FANTASIA FOR STRING ORCHESTRA

KARYA MUSIK BERBENTUK FANTASIA ORKESTRA GESEK

Mahardika Septyo Aji Putra Garini

Universitas Negeri Malang

Email : Dika_violin81@yahoo.co.id

Abstrak: Jurusan musik pendidikan ataupun murni umumnya identik dengan grup orkestra. Namun Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang belum mempunyai orkestra yang sifatnya serius dan mempunyai program tahunan. Karya musik ini diciptakan dengan tujuan Menciptakan dan mempresentasikan “Fantasia for String Orchestra” yang bersumber pada musik absolut. Metode penciptaan komposisi yang digunakan adalah metode pengelolaan musik tonal. Hasil dari penciptaan ini adalah sebuah karya musik berbentuk fantasia untuk orkestra gesek yang terdiri dari tiga bagian.

 

Kata Kunci: Fantasia, String, Orkestra, Karya musik

Abstract: Majoring in music education or purely generally synonymous with orchestras. However Study Program Dance and Music, State University of Malang does not have an orchestra that are serious and have an annual program. This musical work is created with the purpose of creating and presenting "Fantasia for String Orchestra" which is based on absolute music. Composition creation method is the method of management of tonal music. The results of this creation is a fantasia-shaped piece of music for string orchestra composed of three parts.

 

Keywords: Fantasia, String, Orchestra, piece of music

Jurusan musik pendidikan ataupun murni di universitas-universitas indonesia pada umumnya identik dengan grub orkestra, namun Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang belum mempunyai orkestra tetap yang sifatnya bisa menjadi lahan apresiasi mahasiswa dan mempunyai agenda rutin program tahunan. Kemudian pencipta membuat komposisi ini dengan maksud bisa menjadi bahan literatur skripsi penciptaan dan bisa menjadi apresiasi bagi mahasiswa musik khususnya. Skala musik yang digunakan adalah diatonis, kemudian komposisi ini ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah komposisi dengan struktur homophonic dan berbentuk fantasia yang terdiri dari tiga bagian dan dibedakan menjadi tiga jenis tempo. Bagian pertama dengan tempo Allegro atau cepat, bagian kedua dengan tempo largo atau  lambat, dan bagian ketiga dengan tempo andante/ sedang.

Karya musik ini dibuat berdasarkan konsep musik absolute, yaitu musik yang dibuat berdasarkan hitungan ilmu harmoni dan menggunakan teori musik klasik. Setiap bagian mempunyai perbedaan, contohnya pada bagian pertama mempunyai suasana ceria ibarat orang yang menari dan melompat-lompat. Bagian kedua mempunyai suasana yang beda juga, yaitu dengan keagungan dan keseriusan yang ditimbulkan dari efek tempo pelan dan permainan dinamika. Selanjutnya bagian ketiga mempunyai dua suasana, yang pertama suasana yang sangat mencekam, dan yang kedua ibarat setelah menggapai suatu mimpi yang lama di impikan dengan sebuah keseriusan.

Penciptaan karya musik ini pada dasarnya terinspirasi dari musik klasik barat yang penuh dengan ornamen nada, variasi dan harmoni. Menurut Blume (Karl-Edmud,1993:76) musik klasik adalah karya seni musik, yang sempat mengintikan daya ekspresi dan bentuk bersejarah sedemikian hingga terciptalah suatu ekspresi yang meyakinkan dan dapat bertahan terus.

Bentuk musik yang akan diciptakan ini adalah berbentuk fantasia. Kata fantasia berarti komposisi musik yang di ciptakan berdasarkan teknik yang mengandalkan improvisasi komposisi. Fantasia mempunyai struktur di dalamnya yaitu eksposisi, development dan rekapitulasi.

METODE

Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah menggunakan ilmu harmoni untuk karya musikskala diatonis yang di susun oleh (Prier 2012:84) dalam bukunya yang berjudul  Ilmu Harmoni.

Langkah Pertama

Menentukan nada dasar dan nada-nada yang masuk dalam tangga nada diatonis.

Menentukan nada pengantar untuk menuju ke nada dasar.

Membuat melodi berdasarkan gerakan-gerakan pada masing-masing kalimat lagu.

Membuat motif-motif lagu

Langkah Ke dua

Tahap ke dua ini membuat kompoisi pengiring sebagai kontrapung melodi:

Menentukan dulu nada-nada untuk iringan.

Dengan menggunakan motif dari melodi diharapkan dapat membentuk sekwensi dan pembalikan.

Menentukan dengan gaya homofoni atau polifoni, artinya dengan irama yang berbeda dengan irama melodi.

HASIL

Komposisi ini mempunyai konsep garap yaitu dengan menggunakan alat musik gesek.Karya musik ini mempunyai tiga pembagian tempo yaitu allegro, largo dan andante. Kemudian tabel di bawah ini akan menjelaskan pembagian movement dari komposisi yang telah dibuat

BAGIAN

KETERANGAN

DURASI

Bagian I         

Allegro

Bagian pertama karya ini menggunakan tempo Allegro (cepat), yaitu 120 bpm. Skala nadanya disajikan dengan skala nada G Major. Komposisi ini mempunyai struktur mempunyai ciri-ciri lompatan tiap not yang sangat lincah dan ritmiknya yang sangat khas. Bagian pertama ini diawali oleh tema yang dimainkan biola 1, tema sangat terlihat jelas dan di pamerkan. Beberapa birama kemudian, viola, cello dan bass masuk untuk memberi peran harmoni dalam komposisi ini. Uniknya komposisi ini mayoritas menggunakan nilai harga not ¼ dan 1/8.

Kurang lebih

5 Menit

Bagian II

Largo

Bagian kedua menggunakan tempo Largo, yaitu 45 bpm. Bagian kedua ini mempunyai suasana tentang sebuah ketenangan yang di timbulkan dari kesan dinamika piano. Ibarat seperti air mengalir dan perasaan sangat damai. Bagian kedua ini banyak didominasi oleh orgelpung (bass panjang)

Kurang lebih

 4 menit

Bagian III

Andante

Bagian ke tiga ini kembali ke tempo Andante, yaitu 100 bpm. Bagian ketiga ini dibuat dalam bentuk kesimpulan, dimana tergambarkan sebuah ketenangan yang diawali oleh kegelisahan, dan struktur pada motif ke tiga ini sangat menggambarkan pada era klasik romantic dimana terjadi lompatan nada yang tenang, banyak menggunakan dinamika dan sangat dalam. Dalam bagian ketiga terjadi skema mengerucut yang sangat terlihat jelas sekali.

Kurang lebih

5 menit

Karya musik ini disajikan dalam bentuk penyajian musik kamar atau dalam ruangan. Format dalam penyajian musik ini adalah 21 pemain orkestra dan kemudian dibagi menjadi beberapa divisi, yaitu adalah biola 1 sebanyak 6 orang, biola 2 sebanyak 6 orang, viola sebanyak 4 orang, cello sebanyak 4 orang, dan Double bass sebanyak 1 orang. Pertimbangan menggunakan format orkestra gesek ini karena dalam harmoni musik juga memuat tentang SATB (Sopran, Alto, Tenor dan Bass)sehingga cocok untuk dijadikan saru kesatuan komposisi.

Ada beberapa sumber pendukung dalam karya musik ini antara lain:

Bentuk Panggung

Panggung yang digunakan adalah panggung proscenium yaitu panggung yang hanya dapat dilihat dari arah depan (satu arah pandang), sehingga penggarapan penyajian lebih memfokuskan kearah depan

Blocking Pemain

Tabel 1

Keterangan    

Violin 1                   =             

Violin 2                   =`            

Viola                       =             

Cello                       =             

Double Bass           =       

Conductor              =       

Arah hadap              =      

 ke depan penonton

Arah hadap              =

belakang panggung

Pencahayaan yang digunakan pada pertunjukan musik ini adalah general tetapi sedikit redup.

PEMBAHASAN

Penciptaan ini dimaksudkan untuk menciptakan karya musik yang bersumber dari karya musik zaman klasik yang dibuat dengan skala musik diatonis. Dalam penggarapannya menggunakan buku teori IBM (Ilmu Bentuk Musik) Karl-Edmund Prier sj. Buku IBM tersebut memuat tentang teori analisa pembuatan musik yang dimana inti bentuk fantasia terdiri dari eksposisi, development dan rekapitulasi.

Tahapan Penciptaan Karya

Sebelum proses penciptaan musik fantasia dimulai, terlebih dahulu penata musik menentukan tema garap pada karya ini yaitu garapan musik yang menggambarkan suasana malam hari. Skala nada yang dipakai untuk menciptakan karya musik ini adalah diatonis.

Buku teori IBM yang ditulis oleh Romo (Prier, 1996: 78) musik fantasia mempunyai tiga unsur yaitu eksposisi, development dan rekapitulasi. Berikut adalah tahapan penciptaan berdasarkan tiga unsur tersebut.

Eksposisi

Karya musik bentuk fantasia pada bagian awal ialah menentukan tema kalimat musik, di dalam tema fantasia terdapat suatu ‘motif’. ‘Motif’ adalah sepotongan lagu atau sekelompok nada yang merupakan suatu kesatuan dengan memuat arti dalam dirinya sendiri (Prier,1996: 26).

Motif’ biasanya dimulai dalam hitungan ringan dan menuju pada nada hitungan berat, tetapi pada nada berat tidak harus pada menjadi nada akhir ‘motif’.Unsur utama pada bagian ekposisi ini adalah tema. Tema adalah adalah gagasan besar dalam sebuah melodi dan irama suatu bentuk musik fantasia.

Development

Bagian development ini adalah pengembangan dari tema bagian eksposisi.Tema yang dibuat telah dikembangkan bagian motif-motifnya. Development secara garis besar mempunyai unsur-unsur pokok yaitu, tidak semua tema yang dikembangkan tetapi hanya beberapa motif saja untuk diolah. Motif diolah dengan augmentasi, diminuasi, pembalikan, kedua tema digabung dan biasanya terdapat orgelpung atau bas panjang menjelang akhir dari development .

Rekapitulasi

Bagian rekapitulasi karya fantasia ini adalah memunculkan kembali motif-motif pada bagian eksposisi. Tema lagu dimainkan kembali namun selain kembalinya materi pokok dari eksposisi dalam rekapitulasi juga terdapat sejumlah perubahan atau tambahan seperti figurasi dari melodi, wilayah nada diperluas dan instrumentasi dirubah. Rekapitulasi juga terdapat unsur lain didalamnya yaitu Episode

Episode  berarti sisipan yang pada umumnya berupa materi yang tidak begitu penting terutama pada bagian eksposisi dan rekapitulasi biasanya memunculkan tema baru.

Epilog dan coda

Epilog berarti kata akhir pada suatu kalimat lagu, maksudnya sebagai persiapan untuk menutup suatu bagian.Epilog dapat muncul pada akhir eksposisi atau rekapitulasi.

Coda adalah ekor pada bagian lagu dan merupakam suatu tambahan ekstra menjelang akhir sebuah karya.Coda pada umumnya terdapat pada akhir rekapitulasi mendatangkan suatu peningkatan untuk memperkuat akhir dari bagian atau movement.

Introduksi

Musik fantasia dapat dilengkapi dengan introduksi atau pengantar pada bagian awal sebelum melodi inti dimainkan.

Struktur dan Analisa Fantasia for String Orchestra

Berikut adalah struktur dan anilisa dari komposisi fantasia dan akan dijelaskan perbagian:

Eksposisi – Allegro (cepat) Bagian Pertama

Bagian Eksposisi bagian I dalam musik ini menggunakan tempo allegro sekitar 120 bpm yang berarti tempo cepat. Bagian pertama ini dimainkan dalam skala nada G Major. Kesan suasana yang ingin di sampaikan dalam bagian pertama ini adalah sebuah keceriaan yang terlihat dari efek kelincahan tiap lompatan not dan pola ritmiknya yang beragam. Bagian awal karya fantasia ini diawali oleh sebuah pengantar sebelum masuk ke tema lagu pada birama 1-4. Motif 1 dalam bagian pertama komposisi ini terletak pada birama 5 sampai birama 8. Kemudian tema 2 terdapat pada birama 13-16. Motif  pada eksposisi ini bersifat pendek/ satu kalimat, kemudian dikembangkan sedemikian rupa. Pertengahan komposisi ini terjadi modulasi pada birama 50-85. Modulasi terjadi pada skala nada awal dalam G Major kemudian menuju ke skala

nada C Major. Selanjutnya birama 86 terjadi modulasi kembali ke dalam skala nada awal yaitu G Major. Birama 86-123 mengalami pengulangan motif eksposisipada nada dasar G Major. Bagian akhir eksposisi ini disisipkan sebuah coda sebagai tambahan ekstra menjelang akhir dari sebuah karya. Kesan yang ditimbulkan pada material ini adalah mendatangkan suatu peningkatan untuk memperkuat akhir dari bagian. Setelah ini akan dijelaskan secara rinci mengenai analisa dari komposisi bagian pertama.

Violin satu : violin satu dalam bagian eksposisi memegang peran sangat penting, yaitu dengan memegang motif. Motif 1 pada tema ini adalah sebagai berikut.

Motif 1 pada bagian eksposisi dipamerkan dengan sangat jelas dengan pola kelincahan ritmik dan loncatan tiap not yang sangat indah. Kemudian motif 1 dikembangkan lagi menjadi motif dua. Motif 2 yang di mainkan oleh violin satu adalah sebagai berikut.

Birama 29-44 peran violin satu dirubah yang sebelumnya berperan sebagai pemegang tema, namun dirubah peran sebagai pengiring tema. Tema yang dimainkan oleh violin berpindah ke tingkatan suara dibawahnya yaitu cello. Selanjutnya pada birama 48 adalah bridge atau jembatan yang bertujuan akan berpindah nada dasar atau biasanya sering disebut dengan modulasi. Modulasi

terjadi pada birama 50. Modulasi yang dilakukan adalah dari nada dasar sebelumnya dari G Major kemudian menjadi C Major.Birama 75-85 terjadi pengolahan tema kembali. Tema disederhanakan sebagai maksut akhiran dari pola bagian B. Maksutnya adalah sebagai penghantar untuk kembali ke tema 1 dan kembali ke pola A atau pola awal. Birama 86-108 terjadi pengulangan tema 1 pada pola A. Namun disini lebih dikembangkan sedemikian rupa. Kemudian birama 109-123 adalah bagian coda atau akhir penutup lagu yang dipegang secara utuh oleh violin satu. Bagian coda yang dimainkan oleh violin satu adalah sebagai berikut

Violin dua : violin dua berperan sebagai pengiring dari motif 1 yang dimainkan oleh violin satu. Nada dasar iringan ini adalah akord G major. Maka terjadilah pola iringan yang dimainkan violin dua sebagai beriku

Selanjutnya pola iringan motif satu yang dimainkan oleh violin dua dikembangkan sedemikian rupa karena motif satu dari violin satu juga dikembangkan. Perkembangan iringan motif yang dimainkan oleh violin dua adalah sebagai berikut.

Selanjutnya akhir bagian dari komposisi ditutup dengan sebuah coda. Coda yang dimainkan oleh violin dua adalah sebagai berikut.

Viola : posisi viola mempunyai fungsi yang sama dengan violin dua. Yaitu sebagai pengiring dari motif dan berperan sebagai harmoni dalam akor iringan. Pola iringan yang dimainkan viola adalah sebagai berikut.

Selanjutnya pola iringan motif 1 dikembangkan berdasarkan berkembangnya juga motif satu dari violin satu. Berikut adalah perkembangan pola iringan motif 2 yang dimainkan oleh viola.

Cello : nada yang dimainkan cello kebanyakan adalah sama dengan nada yang dimainkan oleh viola. Fungsinya adalah mempertegas pola iringan dari tema yang dipamerkan secara bebas oleh violin satu. Selanjutnya akan dijelaskan pola iringan dari motif 1 yaitu sebagai berikut.

Selanjutnya birama 22-23, cello bermain sebagai bass continutto.

Artinya adalah bass yang berjalan secara berpindah-pindah nada. Gambar dibawah ini adalah Bass continutto yang dimainkan cello pada birama 22 dan 23.

Birama 29-44 cello berpindah peran dari sebelumnya sebagai peran pengiring, kini menjadi pemegang motif utama yang sebelumnya dimainkan oleh violin satu.

Kemudian terjadi orgelpung/ nada bass panjangpada birama 93-108 yang berfungsi sebagai coda.

Double Bass : double bass dalam pola iringan ini double bass mengalami teknik ilmu harmoni yang bernama fucking not, yaitu berarti memainkan nilai harga not yang berlawanan dari lainnya yang bersifat memisahkan diri dari yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.

Kemudian pada bagian terakhir berkonstribusi besar dalam bagian coda.

Selanjutnya bisa disimak dari partitur dibawah ini.

 

Development –Largo (pelan)