SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Rekonstruksi Tari Kupu Cedung Karya Sayun Sisiyanto di Desa Mangir kecamatan Rogojampi kabupaten Banyuwangi

MEGA NILY SARI

Abstrak


ABSTRAK

Mega Sari, Nily. 2016. Rekonstruksi Tari Kupu Cedung Karya Sayun Sisiyanto di Desa Mangir Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Senidan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd (II) Rully A. Zandra, M.Sn,M.Pd

Kata Kunci: rekonstruksi, tarikupuCedung, Sayun, Banyuwangi.

Tari Kupu Cedung adalah taritradisi yang merupakan kiblatter ciptanya tari   anak-anak yang mempunyai cirri khas tersendiri, yaitu mengambil tema binatang kupu-kupu. Namun keberadaannya sempat vakum dan kemudian direkontruksi kembali oleh penciptanya. Tari Kupu Cedung menceritakan segerombol kupu-kupu yang sedang bermain. Dengan mempelajari tari Kupu Cedung bertujuan untuk kepada anak-anak memiliki sikap untuk saling mengasihi sehingga pendidikan moral mereka sudah ditanamkan sejak dini lewat media tari. Untukitu pula di ungkap lebih dalam mengenair ekonstruksi tari kupu Cedung . mendiskripsi kan bagaimana pencipta tari kupu Cedung yaitu Sayun dalam melakukan proses rekonstruksi dan bagaimana bentuk tari kupu Cedung setelah mengalami proses rekonstruksi.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif di mana bentuk penyajian data berupa uraian kata-kata. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.Kegiatan analisis data dilakukan selama dan setelah proses penelitian dimulai dari tahap pengumpulan data, tahapreduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan simpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan trianggulasi teknik dan trianggulasi sumber.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rekonstruksi tari Kupu Cedung saat ini telah mempunyai bentuk tari baru yang memiliki tiga belas ragam gerak, perubahan penggunaan sewek menjadi celana, penambahan instrument music angklung serta dalam proses rekonstruksi terjadi dua belas proses tahapan yang jika di kelompokkan menjadi proses perancangan, proses kreatif dan proses rekaman.

Rekonstruksi tari kupu Cedung dapat disimpulkan bahwa dua belas tahapan proses rekonstruksi berhasil mengubah bentuk ragam gerak, tata rias dan busana, serta musiki ringan tari kupu Cedung. Bentuk tari yang semula terdiri dari lima ragam gerak, penggunaan sewek dan tanpa angklung; berubah menjadi tiga belas ragam gerak, penggunaan celana dan penambahan instrumen music angklung.

Saran untuk penelitian ini adalah penelitian masih belum komperhensif karena masih meneliti tentang bagaimana prosesnya dan bentuk ragam gerak, belum meneliti secara luas tentang bagaimana secara spesifik ragam gerak tersebut mampu menyuarakan isi hati penciptanya dan bagaimana masyarakat luas dapat menerima kembali tari kupu Cedung setelah mengalami rekonstruksi.