SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

STUDI PROSES PEMBUATAN TENUN PELEKAT (TEMBE KAFA NA'E) DI DESA DONGGO KABUPATEN BIMA NUSA TENGGARA BARAT

Siti Hajar

Abstrak


ABSTRAK

Hajar Siti. 2016. Studi Proses Pembuatan Tenun Pelekat (Tembe Kafa Na'e) di Desa Donggo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Sumarwahyudi, M.Sn.

Kata Kunci: proses pembuatan, tenun pelekat (tembe kafa na'e), sarung tenun   kafa na'e me'e Donggo, fungsi.

Menenun merupakan seni kerajinan kuno dengan menempatkan dua set benang rajutan yang disebut lungsi dan pakan pada alat tenun untuk diolah penjadi kain tenun. Kain tenun biasa dimanfaatkan sebagai busana atau pakaian untuk menutup aurat. Tenun bagi masyarakat Bima merupakan simbol budaya, dimana disetiap daerah di Kabupaten Bima memiliki ciri khas tenun tersendiri yang membedakannya dengan daerah lain, tidak terkecuali desa Donggo dengan sarung tenun kafa na'e me'e(sarung tenun berwarna hitam) yang begitu khas dan dibuat sendiri oleh masyarakatnya mulai dari pemintalan benang hingga proses menenun. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan proses pembuatan tenun pelekat tembe kafa na'e me'e di desa Donggo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan tujuan penelitian yang menghasilkan datadeskriptif. Data yang diperoleh peneliti berupa hasil dari observasi dan wawancara dengan narasumber. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen aktif dalam upaya pengumpulan data-data di lapangan. Untuk pengecekan keabsahan data, dilakukan kegiatan trigulasi data, kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data yaitu tahap penelaahan data, tahap penyajian data dan tahap evaluasi data.

Berdasarkan hasil analisis data maka dapat disimpulkan bahwa proses pembuatan tenun kafa na'e me'e Donggomelalui beberapa tahap yaiti: 1). Proses pemintalan yaitu mengolah bunga/buah kapas yang masih mentah dengan menggunakan alat janta atau memilinnya secara manual dengan menggunakan tangan hingga menjadi benang tenun; 2). Proses pembuatan bahan pewarna, dalam mengolah bahan pewarna tenun, masyarakat Donggo memanfaat daun pohon dau untuk menghasilkan warna hitam, selain warna hitam hasil rendaman daun dau juga dapat menghasilkan warna biru dan biru tua, semakin lama proses perendaman maka semakin gelap nuansa warna yang dihasilkan; 3). Proses pencelupan yaitu merendam/mencelupkan benang kedalam pewarna, proses ini membutuhkan waktu satu minggu perendaman untuk mendapatkan nuansa warna hitam yang diinginkan; 4). Proses persiapan menenun merupakan proses mempersiapkan benang pakan dan benang lungsi sebelum ditenun; 5). Proses menenun adalah proses akhir untuk menghasilkan kain tenun, yaitu proses memasukan benang pakan diantara benang lungsi sehingga berbentuk anyaman yang akan menjadi kain tenun. Hasil kain tenunkafa na'e me'e dimanfaatkan oleh masyarakat Donggo untuk dijahit menjadi pakaian adat serta sarung yang akan digunakan pada acara ritual adat.