SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERSEPSI DESAINER LOKAL TERHADAP KOMPETISI CROWDSOURCING (STUDI KUALITATIF PRAKTEK CROWDSOURCING DESAIN LOGO BERBASIS ONLINE)

HANA GRATIA APRILIANI

Abstrak


Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui persepsi para desainer logo mengenai fenomena crowdsourcing, (2) Untuk mengetahui aspek-aspek pembentuk persepsi para desainer logo mengenai kompetisi crowdsourcing.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu: Informan atau narasumber, yaitu enam belas desainer logo yang berdomisili di Malang Raya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam (in depth interviewing) dan studi dokumentasi. Teknik pengembangan validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi data yaitu triangulasi teori dan pengamat.  Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif menurut Miles dan Hubberman yang memiliki tiga komponen yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Pengetahuan seorang desainer mengenai logo dan proses desain tidak dapat diukur dari latar belakang pendidikannya. Walaupun seharusnya desainer berlatarbelakang pendidikan formal lebih mampu menguasai, namun saat ini media lainnya mampu menjadi sumber belajar desain. Pengetahuan mengenai crowdsourcing bisa didapatkan melalui informasi dari teman, pengalaman pribadi maupun browsing di internet. Situs crowdsourcing terbagi berdasarkan registrasinya, yaitu diuji terlebih dahulu dan tidak. Kompetisi crowdsourcing juga terbagi menjadi open contest dan blind contest. Dalam menentukan harga sebuah logo, desainer tidak dapat menentukan secara pasti karena adanya dari faktor dari desainer dan kliennya. Namun adanya fenomena “harga teman” dan harga dalam negeri menjadi keresahan desainer sehingga hampir semua tertarik dengan klien luar negeri dan crowdsourcing adalah alternatifnya. (2) Persepsi desainer logo sebagian besar pro terhadap crowdsourcing karena dianggap mudah, cepat dan nyaman, sedangkan yang kontra menganggap crowdsourcing adalah ancaman. Adapun berbagai faktor internal yang lebih kuat dalam menentukan persepsi tersebut, antara lain idealisme dan kebutuhan. Selain itu perbedaan nilai mata uang juga salah satu faktor eksternalnya. Pada praktek crowdsourcing, desainer seringkali menoleransi adanya pelanggaran kode etik desainer.  (3) Perilaku atau kebiasaan desainer dalam crowdsourcing ditentukan berbagai motivasi, antara lain; berorientasi pada personal branding, portofolio, finansial, dan ada yang iseng-iseng saja. Motivasi berpengaruh terhadap intensitas berkompetisi. Sedangkan desainer yang kontra memiliki motivasi jangka panjang yaitu mengedukasi desainer dan klien mengenai proses desain logo.