SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Sejarah Perkebunan Kopi di Kabupaten Blitar 1930-1990

Ani Hartanti

Abstrak


Abstrak

 

Sebagai daerah yang subur, Blitar memiliki topografi yang cocok untuk menanam kopi. Perkebunan berkembang di wilayah Blitar akibat pemberlakuan Undang-undang Agraria oleh  pemerintah pada tahun 1870. Dengan masuknya pemodal asing di Nusantara,  perkebunan  mulai meluas di berbagai daerah tak terkecuali dengan Blitar. Tidak banyak  diketahui  bahwa krisis global yang terjadi tahun 1930 berpengaruh terhadap dinamika produksi perkebunan kopi di Kabupaten Blitar. Sejarah perkebunan kopi di Kabupaten Blitar era 1930 hingga 1990 diwarnai pasang surut produksi dan kondisi perkebunan kopi. Selain krisis, kasus-kasus sengketa lahan dan bencana alam juga mewarnai dinamika perkebunan.. Beberapa perkebunan kopi di Kabupaten Blitar seperti Perkebunan Karanganyar, Ngusri, Sengon dan Kawisari masih beroperasi hingga saat ini.

Kata Kunci: kopi, sejarah perkebunan, Kabupaten Blitar.

 

Abstract

 

As a fertile area, Blitar has a suitable topography for growing coffee. Plantations developed in the Blitar region due to the enactment of the Agrarian Law by the government in 1870. With the entry of foreign investors in the archipelago, plantations began to expand in various areas including Blitar. Not much is known that the global crisis that occurred in 1930 affected the dynamics of coffee plantation production in Blitar Regency. The history of coffee plantations in Blitar Regency in 1930 to 1990 was colored by the ups and downs of production and conditions of coffee plantations. In addition to the crisis, cases of land disputes and natural disasters also colored the dynamics of plantations. Some coffee plantations in Blitar Regency such as the Karanganyar Plantation, Ngusri, Sengon and Kawisari are still operating today.

Keywords: coffee, plantation history, Blitar Regency