SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo

Misda Ulum

Abstrak


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ULAR-ULARAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 3 PROBOLINGGO

ARTIKEL

OLEH MISDA ULUM

NIM 130731615721

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEPTEMBER 2019

 

Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo

Misda Ulum Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang

Misda94@gmail.com

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat berperan dalam pembangunan suatu bangsa.Pendidikan formal maupun non-formal haruslah selalu menuju kepada fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Tugas dan peranan model pembelajaran merupakan sebagai alat bantu dalam mengantarkan atau menyampaikan pesan dalam hal penyampaian materi antara guru dan peserta didik.

Dalam hal ini model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran ular-ularan. Model permainan akan diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien. Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Sehingga model pembelajaran yang digunakan dapat dijadikan sebagai model permainan untuk proses belajar.Bukan hanya itu, penerapan model pembelajaran ular-ularan juga dapat digunakan saat diadakan ulangan maupun untuk mengisi waktu kosong.

Kata Kunci: Pembelajaran, Ular-ularan, Motivasi Belajar

 

Pendahuluan

Pendidikan menjadi salah satu teladan penting dalam mempengaruhi perkembangan dan kemajuan setiap bangsa. Seluruh komponen dalam dunia pendidikan harus didukung dan digerakkan demi kemajuan tingkat intelektual dan moral peserta didik. Setiap matapelajaran yang diberikan harus mendukung dua hal tersebut, karena kemajuan intelektual dan kedewasaan moral akan mempengaruhi masa depan bangsa (Prawiradilaga, 2007:2). Rumpun ilmu sosial merupakan salah satu matapelajaran wajib dengan fokus pada wawasan kemasyarakatan dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh ialah ilmu sejarah memberi cakrawala berpikir tentang kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan sekarang dan memberi andil bagi kehidupan masa datang. Begitu juga dengan bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. Pelajaran sejarah dalam pembangunan bangsa berfungsi untuk penyadaran warga negara dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam rangka pembangunan nasional (Ali, 2005:122).

Kondisi yang memicu kebosanan peserta didik dalam mengikuti pelajaran sejarah diantaranya dapat dipengaruhi oleh model pembelajaran guru yang kurang menarik dalam mengajar di dalam kelas dan jarang menggunakan model mengajar yang dapat menarik peserta didik untuk memperhatikan penjelasan materi pelajaran yang disampaikan di dalam kelas. Model pembelajaran yang umum digunakan oleh guru membuat peserta didik merasa jenuh dan mengantuk dalam mengikuti pelajaran sejarah. Tidak heran ketika peneliti melakukan observasi di kelas tampak situasi seperti itu ketika guru mengajar. Sementara itu, hanya sebagian kecil saja peserta didik yang menyimak penjelasan guru, selebihnya ada yang mengobrol, mengerjakan tugas lain, dan aktivitas lainnya di luar kegiatan belajar mengajar.

Penggunaan model pembelajaran bertujuan agar peserta didik lebih merasa tertarik dan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran yang diintegrasikan dengan beberapa tujuan dan isi dalam pembelajaran dapat meningkatkan mutu belajar mengajar (Sani, 2014). Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Permainan yangakan digunakan dalam proses belajar mengajar sebelumnya sudah dipersiapkan oleh guru dengan berbagai variasi, sehingga dengan menggunakan model permainan dalam pembalajaran dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. Permainan ular-ularan dapat diberikan untuk melihat kemampuan belajar, melatih kecepatan dalam menjawab soal yang cukup panjang, dan melatih kejujuran peserta didik dalam menilai hasil jawaban mereka.

Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan belajar mengajar berupa rendahnya motivasi belajar siswa, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar siswa menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal.

Melihat kondisi belajar yang ada di lingkungan SMA 3 Negeri Probolinggo, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan diterapkannya model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya adalah model pembelajaran ular-ularan. Pelaksanaan model pembelajaran ular-ularan dilakukan peserta didik dengan menjawab soal secara bergantian, selanjutnya hasil jawaban akan mereka cocokkan sendiri dan memberikan nilai dari hasil jawaban yang sudah dicocokkan.

Model pembelajaran ular-ularan merupakan model pembelajaran yang baru dan tidak jauh beda dengan model pembelajaran ular tangga. Namun dalam model ular-ularan ini semua peserta didik harus berada diluar, dan guru menata meja dan menempelkan selembar soal dimasing-masing meja, dan di meja depan terdapat meja untuk mencocokkan jawaban dan menghitung nilai mereka sendiri-sendiri. Cara bermain dimana peserta didik harus berbaris panjang seperti ular dan urut dengan presensi. Setelah itu guru meniupkan peluit dan peserta didik absen pertama masuk dan mengerjakan soal pertama, meniup kembali peluit, dan peserta didik akan bergantian menjawab soal. Setelah peserta didik menjawab semua soal mereka akanmencocokan jawaban mereka sendiri dan memberikan nilai sendiri sesuai hasil dari jawaban benar peserta didik.

 

Metode

Di dalam penelitian ini peneliti melakukan pendekatan penelitian kualitatif. Moleong (2013:27) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berakar pada latar alamiah sebagai kebutuhan, mengandalkan analisis data secara induktif, mengarah pada penemuan teori, bersifat diskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya disepakati oleh peneliti dan subjek penelitian. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Wiriatmadja (2007:13) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri, mereka dapat mencobakan suatu gagasan, perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Peneliti melakukan.

Subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo sebanyak 23 peserta didik yang terdiri dari 11 laki-laki dan 12 perempuan pada matapelajaran sejarah dengan menggunakan model pembelajaran ular-ularan. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo khususnya kelas X IPS 1 sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan berupa rendahnya motivasi belajar peserta didik, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar peserta didik menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, dan terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal.

Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan empat cara yang sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu observasi, wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan informasi serta tercapainya tujuan penelitian. Berikut adalah penjabaran terkait teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini.

 

Hasil dan Pembahasan

Peneliti didalam penerapan model pembelajaran Ular-ularan di kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dilakukan dalam 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan dalam beberapa tahap, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan yang dilakukan oleh guru matapelajaran sejarah terdapat perbaikan dari siklus I ke siklus II ke arah yang lebih baik.

Persentase motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan pada siklus I setelah penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada siklus I terlihat adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dari 64% menjadi 71%, hal tersebut ada peningkatan sebanyak 7% dari pra-siklus ke siklus I. Keempat komponen juga mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I yaitu attention yang awalnya 62% menjadi 73%, relevance dari 69% menjadi 72%, confidence dari 64% menjadi 69%, satisfication dari 70% menjadi 76%. Dari peningkatan motivasi belajar peserta didik menunjukkan adanya respon terhadap pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Ular-ularan.

Pada pelaksanaaan siklus I ini motivasi belajar setiap peserta didik beberapa sudah mengalami peningkatan, walaupun pada siklus I masih ada peserta didik yang motivasinya terlihat rendah. Motivasi setiap individu mengalami peningkatan dan ada juga yang motivasinya tetap Abdul Aziz Hoirun dari 68% menjadi 73%, Afifah dari 78% menjadi 85%, Ahmad Faizal dari 59% menjadi 70%, Ahmad Mustakim dari 68% tetap 68%, Ahmad Reihan 53% menjadi 68%, Ayu Naufal dari 68% tetap 68%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 67%, Diantri Widiyawati dari 59% menjadi 63%, Eva Ramadhani dari 64% tetap 64%, Fitri Anggraini dari 58% menjadi 63%, Husnul Khotimah dari 60% menjadi 64%, Ike Nurjannah dari 67% tetap 67%, Ilham Akbar dari 71% tetap 71%, Imam Gozali dari 64% menjadi 73%, Lukman Hakim dari 68% tetap 68%, Muhammad Aris dari 73% tetap 73%, Muhammad Nazril dari 60% menjadi 86%, Okky Zebri M dari 63% tetap 63%, Sinta Bela dari 70% tetap 70%, Siti Hotija dari 61% menjadi 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 53% menjadi 78%.

Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami beberapa perbaikan yang sudah dilakukan berdasarkan kegiatan refleksi oleeh guru dan peneliti. Perbaikan yang ditingkatkan pada siklus II yaitu persiapan guru dalam mengajar atau materi, efiseinsi waktu, dan pendalaman soal. Pelaksanaan siklus II menunjukkan bahwa peserta didik lebih semangat dan ceria serta antusias dalam pembelajaran sejarah didalam kelas, keseluruhan peserta didik mulai memperhatikan dengan baik dan fokus apa yang diterangkan oleh guru. Selain itu guru sudah sudah mengelola alokasi waktu dengan sempurna.

Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik. Motivasi belajar peserta didik satu kelas meningkat dari 71% menjadi 82%, dari kategori sedang ke tinggi. Keempat komponen motivasi belajar juga mengalamai peningkatan attention yang awalnya 73% menjadi 83%, relevance dari 72% menjadi 82%, confidence dari 69% menjadi 85%, satisfication dari 76% menjadi 83%.

Pada siklus II motivasi belajar setiap peserta didik mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dari siklus I. peningkatan tersebut secara bertahap yaitu: Abdul Aziz Hoirun dari 73% menjadi 92%, Afifah dari 85% menjadi 95%, Ahmad Faizal dari 70% tetap 70%, Ahmad Mustakim dari 68% menjadi 81%, Ahmad Reihan 68% menjadi 89%, Ayu Naufal dari 68% menjadi 94%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 87%, Diantri Widiyawati dari 63% menjadi 81%, Eva Ramadhani dari 64% menjadi 81%, Fitri Anggraini dari 63% menjadi 83%, Husnul Khotimah dari 64% menjadi 73%, Ike Nurjannah dari 67% menjadi 83%, Ilham Akbar dari 71% menjadi 82%, Imam Gozali dari 73% tetap 73%, Lukman Hakim dari 68% menjadi 84%, Muhammad Aris dari 73% menjadi 82%, Muhammad Nazril dari 86% tetap 86%, Okky Zebri M dari 63% menjadi 79%, Sinta Bela dari 70% menjadi 74%, Siti Hotija dari 81% tetap 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 78% menjadi 88%.

Peningkatan terhadap motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 tercatat berdasarkan hasil angket terhadap penerapan model pembelajaran Ular-ularan yang diberikan kepada peserta didik setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II. Hasil dari angket selanjutnya dianalisis agar dapat diketahui tercatat sebagian peserta didik mengalami peningkatan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran sejarah. Skor keseluruhan deskriptor angket motivasi belajar berjumlah 1840 dengan peningkatan skor perolehan total peserta didik yang diamati dari pra-siklus ke siklus I meningkat dari 1193 menjadi 1299 sehingga tercatat persentase perolehannya meningkat sebesar 7% dari 64% (rendah) menjadi 71% (sedang). Sedangkan peningkatan dari siklus I ke siklus II motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan 11% dari 71% (sedang) ke 82% (tinggi).

Peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 terlihat dari keempat indikator pengukuran motivasi. Attention pada pra-siklus 62%, siklus I meningkat menjadi 73%, dan siklus II menjadi 83%. Relevance pada pra-siklus 69%, siklus I meningkat menjadi 72%, dan siklus II menjadi 82%. Confidence pada pra-siklus 64%, siklus I meningkat menjadi 69%, dan siklus II menjadi 85%. Satisfication pada pra-siklus 70%, siklus I meningkat menjadi 76%, dan siklus II menjadi 83%.

 

Kesimpulan

Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 probolinggo. Meskipun pada pelaksanaan tindakan di siklus I pertemuan I menunjukkan bahwa peserta didik masih bingung dengan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pertemuan II peserta didik telah memahami model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga pembelajaran berjalan secara efisien dan menyenangkan.

Kegiatan di siklus I telah menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Peserta didik tampak senang dan menikmati kegiatan pembelajaran dengan model Ular-ularan. Peningkatan motivasi belajar peserta didik juga ditunjukkan dari hasil angket pada siklus I. Pada siklus II pembelajaran dengan model Ular-ularan berjalan dengan baik serta alokasi waktu juga berjalan dengan baik. Peserta didik juga antusias dalam pembelajaran sejarah.

Penerapan model Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo. Peningkatan yang terjadi pada motivasi belajar peserta didik terlihat dari hasil angket peserta didik pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II terhadap 4 indikator yaitu attention (perhatian), relevance (kesesuaian), confidence (kepercayaan diri),dan satisfication (kepuasan). Indikator attention (perhatian) mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 62% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II, indikator relevance (kesesuaian) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 69% di pra-siklus menjadi 82% di siklus II, indikator confidence (kepercayaan diri) dalam kegiatan pembelajaran meningkat sebesar 21% yaitu dari 64% di pra-siklus menjadi 85% di siklus II, indikator satisfication (kepuasan) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 70% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo dalam mata pelajaran sejarah.

 

DAFTAR RUJUKAN

Agustinus, N. 2013. Pentingnya Refleksi Dalam Proses Belajar-Mengajar, (Online), (http://nur-agustinus. blogspot. com /2013 /06/ pentingnya-refleksi-dalam-proses.html), diakses 27 Januari 2019.

Ali, R. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.

Arifin, Z. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Baron, R. A., & Byrne, D. 2004. Psikologi Sosial: Jilid 1. Alih Bahasa: R. Djuwita; M. M Parman; D. Yasmina; L. P Lunanta. Jakarta: Erlangga.

Haris, H. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Salemba Humanika.

Miles, B. M. & Huberman, M. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP.

Moleong, J.L. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Nasution, S. 1991. Metode Research Penelitian Ilmiah. Bandung: Jermais.

Prawiradilaga, D. S. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana Predana Media Group. Riduwan. 2004. Metode Riset. Jakarta: Rineka Cipta.

Suyanto. 2006. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adicit. Wiriatmadja, R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda karya.