SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw dengan Menggunakan Teka Teki Silang untuk Meningkatkan Minat Belajar di Kelas XII IPS 2 SMAN 1 TUREN

Yuwa Dilla Perdana Putra

Abstrak


Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw dengan Menggunakan Teka Teki Silang untuk Meningkatkan Minat Belajar di Kelas XII IPS 2 SMAN 1 TUREN

Yuwa Dilla Perdana P Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang Yuwadillaperdanaputra.ydpp@gmail.com

 

Abstrak

Pembelajaran sejarah seringkali dianggap peserta didik membosankan karena pembahasan tentang masa lampau dan menghafal angka tahun, nama tokoh dan tempat peninggalan. Pada pembelajaran sejarah peserta didik menganggap bahwa sejarah hanya berhubungan tentang menghafal sebab itu peserta didik mudah merasa bosan dengan mata pelajaran sejarah dengan kurangnya ditunjang oleh model pembelajaran yang kurang inovatif. dalam pembelajaran sejarah umumnya pendidik menggunakan sistem pembelajaran dengan cara berpusat kepada guru yang hanya bercerita saja dan kurang menggunakan model pembelajaran yang kemasannya menarik membuat peserta didik menjadi tidak begitu tertarik akan pembelajaran sejarah, hal ini membuat pembelajaran sejarah itu tidak lagi menarik karena sebab itulah kenapa peneliti memilih model pembelajaran Jigsaw. Jigsaw diharapkan menambah minat peserta didik. Pembelajaran yang lebih menarik tentunya membuat peserta didik jadi antusias dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran yang menarik akan membuat peserta didik mudah untuk menerima dan memahami penjelasan dari pendidik. Pembelajaran pendidik akan berusaha memaksimalkan keadaan kelas yang memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik  dengan pendidik. Pengaruh terhadap model pembelajaran yang diberikan oleh pendidik yang diterima oleh peserta didik kadang membuat perserta didik kurang fokus dalam melakukan proses pembelajaran

Kata Kunci : Pembelajaran, Teka Teki silang, Minat Belajar

 

Abstract

Learning history is often seen as boring students because of discussions about the past and memorizing year numbers, names of figures and places of heritage. In learning history students assume that history is only related to memorization because students are easily bored with history subjects with the lack of supported by less innovative learning models. in history learning, educators generally use a learning system by centering on teachers who only tell stories and not using a learning model that is attractive in packaging makes students less interested in learning history, this makes learning history no longer interesting because that is why researchers choose the Jigsaw learning model. Jigsaw is expected to increase the interest of students. More interesting learning certainly makes students enthusiastic in participating in learning. Interesting learning will make it easy for students to accept and understand explanations from educators. Learning educators will try to maximize classroom conditions that allow for interaction between students and educators. The influence on the learning model provided by educators received by students sometimes makes students less focused in conducting the learning process

Keywords: Learning, Crosswords, Learning Interest

Model pembelajaran sangatlah penting digunakan dalam proses pembelajaran dikarenakan model pembelajaran menurut Sadiman (2008: 7) adalah proses merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian peserta didik  sehingga proses belajar dapat terjalin. akan memudahkan peserta didik  untuk mengerti dan paham. Agar minat belajar dalam peserta didik  bertambah, Jadi pada minat terdapat unsur-unsur pengenalan (kognitif), emosi (afektif), dan kemampuan (konatif) untuk mencapai suatu objek, seseorang suatu soal atau suatu situasi yang bersangkutan dengan diri pribadi (Buchori, 1985). Model pembelajaran diterapkan dalam diskusi kelas yang dapat melibatkan peserta didik dengan pendidik sebagi fasilitator. Diskusi merupakan komunikasi seseorang berbicara satu dengan yang lain, saling berbagi gagasan dan pendapat secara lisan, teratur, dan untuk mengekpresikan pikiran tentang pokok pembicaraan (Uno & Mohamad, 2013:118). Sebab itulah model pemebelajaran yang diinginkan dengan menggunakan media teka teki silang diharapkan mampu membangunkan peserta didik agar lebih mampu berperan aktif dalam proses pembelajaran, model pembelajaran yang akan diterapkan dalam kelas adalah model pembelajaran tipe Jigsaw.

Model pembelajaran sangat berpengaruh dalam melakukan pembelajaran yang berlangsung karena tujuan dari sebuah pembelajaran adalah kompetensi yang ingin dicapai oleh pendidik, bahwasannya peserta didik dapat menangkap materi apa yang akan diberikan oleh pendidik tersebut. model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe mengajar akan tetapi peneliti menggunakan model Jigsaw dikarenakan. Peneliti melihat bahwa model Jigsaw ini, pantas digunanakan dalam pembelajaran dalam kelas XI IPS 2 sebab dari observasi awal peneliti melihat bahwa ternyata peserta didik kurang begitu berperan aktif dalam melakukan pembelajaran sejarah. model pembelajaran yang begitu saja sehingga peneliti ingin menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw agar peserta didik mampu berkerja sama dan menumbuhkan minat belajar dalam kelas.

Proses pembelajaran kooperatif menggunakan model Jigsaw adalah salah satu upaya dalam mengatasi permasalah yang terjadi dalam kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen mengapa menggunakan model Jigsaw sebab peneliti melakukan obeservasi secara langsung dan melakukan pendekatan secara struktural sehingga Jigsaw dianggap mampu untuk menambah minat belajar peserta didik dalam kelas.

 

Tujuan

Tujuan peneliti ingin memberikan sebuah stimulus dimana membuat pengenalan pembelajaran kooperatif dengan model Jigsaw menggunakan media teka-teki silang. yang bertujuan untuk meningkatkan minat belajar peserta didik, dikarenakan peneliti mengaggap bahwa kelas XI IPS II minat belajarnya menurun . Oleh karena itu peneliti ingin memberikan pembelajaran dengan model Jigsaw menggunakan media teka-teki silang. menurut Rinaldi Munir dalam (Satria, 2014:1)”teka-teki silang merupakan permainan berbentuk segi empat yang terdiri dari kotak kotak yang berwarna hitam putih, dilengkapi dua lajur mendatar(kumpulan kotak yang berbentuk satu baris dan beberapa kolom) dan menurun (kumpulan kotak satu kolom dan beberapa baris)”.

Dengan model teka-teki silang nantinya peneliti ingin menerapkan pembelajaran kooperatif menggunakan model Jigsaw. Karena pembelajaran Jigsaw dirasa mampu memberi stimulus dalam pembelajaran sejarah, Yang bertujuan untuk menumbuhkan minat belajar peserta didik. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kelompok tujuan penggunaan pembelajaran kooperatif menurut Slavina dalam (Sanjaya, 2007:240) “meningkatkan hasil belajar peserta didik serta meningkatkan hubungan sosial karena dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif ini dapat menumbuhkan rasa toleransi antar sesama anggota”. Karena itulah peneliti ingin menggunakan pembelajaran ini untuk memberikan stimulus agar minat belajar peserta didik terhadap pembelajaran sejarah.

Pembelajaran kooperatif menggunakan teka-teki silang, penerapannya akan dilakukan dengan cara membagi peserta didik dalam kelompok. Lalu kemudian setiap kelompok diambil satu perwakilan untuk menjadi kelompok ahli dan memahami materi yang akan di jelaskan, lalu pembagian model teka-teki silang yang akan dikerjaakan bersama-sama dalam kelompok masing-masing. Hasilnya akan terlihat proses pembelajaran peserta didik. Bagaimana perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran dengan tumbuhnya minat belajar dalam kelas untuk pembelajaran sejarah yang menarik di dalam kelas. Combinasi, pembelajaran Jigsaw dengan teka-teki silang, pembelajaran yang efektif adalah salah satu cara untuk memberikan pembelajaran yang mudah dipahami. Model pembelajaran Jigsaw memudahkan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran disebabkan model ini menekankan peserta didik kompak dalam pembelajaran dan ditekan berusaha untuk memahami materi yang diberikan kemudian menggunakan media teka-teki silang dikarenkan untuk menambah antusias dalam pembelajaran serta meningkatkan daya kemampuan peserta didik dalam menangkap suatu pertanyaan yang singkat. Dengan inilah kemudian peneliti ingin menggabungkan tujuannya adalah meningkatkan minat belajar peserta didik di pembelajaran sejarah. 

 

Metode

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian tindakan kelas (action research). Penelitian tindakan kelas ini berfokus pada kelas, yang memiliki suatu masalah dalam kelas. Penelitian tindakan kelas memiliki sebuah konsep untuk mengobati atau mengembangkan proses dalam kegiatan proses pembelajaran dengan berdasarkan masalah dalam kelas. Proses melaksanakan kegiatan penelitian dalam kelas melakukan beberapa cara untuk mengontrol dan mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran yang terjadi dalam kelas, dan melakukan refleksi serta belajar dari sebuah pengalaman pengajaran yang terjadi dalam kelas. Konsep utama dalam penelitian ini adalah adanya sebuah perubahan yang berkelanjutan terus menerus seperti siklus yang berulang sehingga. Tindakan penelitian ini akan dirasa cukup dengan data yang mulai jenuh. Jika data yang di perlukan sudah valid maka penelitian ini dapat dihentikan kemudian ditampilkan dan data dikumpulkan dengan data-data yang mengalami perubahan.

Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, pada peneliti ini pada setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu,

1). Refleksi awal.

2). Perencanaan tindakan

3). Tindakan dan obeservasi  dan

4).Refleksi. dalam tahapan proses penelitian dapat dilakukan beberapa siklus yang diperlukan untuk mengatasi masalah sampai di rasa tuntas. Berikut ini akan dipaparkan gambaran mengenai tahapan penelitian tindakan kelas :

 

1. Siklus 1

a.  Refleksi awal

Refleksi awal peneliti disini menentukan masalah yang akan diteliti dengan cara melakukan observasi agar mengetahui proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas IX IPS II serta melakukan wawancara kepada pendidik yang melakukan pembelajaran.

 

b. Tahap Perancanaan Tindakan

pada tahap ini melakukan, penyusunan jadwal pelaksanaan tindakan, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP), memberikan Angket penelitian. Mempersiapkan materi pembelajaran kemudian buku dan kemudian disampaikan materi melalui media power point, penyusunan lembar observasi penelitian yang meliputi validasi RPP, catatan lapangan, format penilaian minat belajar peserta didik, daftar nama kelompok peserta didik, lembar jawaban peserta didik, dan lembar observasi serta catatan aktifitas pendidik.

 

c. Tahapan Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

Tahapan pelaksanaan yang diuraikan pada saat ini adalah, pertama peneliti memberikan pertanyaan tes kepada peserta didik. Dalam bentuk soal yang diberikan pada awal adalah 10 soal dengan 5 soal pilihan ganda dan 5 uraian. Dengan ini peneliti dapat mengukur tingkat kemampuan dasar peserta didik sebagai acuan awal dalam pembelajaran untuk mengetahui minat belajar peserta didik. Pada penelitian ini peneliti menggunakan alat bantu media untuk menerapkan pembelajaran model Jigsaw menggunakan teka-teki silang. Kedua, Penyajian awal pembelajaran menyampaikan uraian mater. Penyajian materi ini dilakukan oleh pendidik disampaikan secara singkat untuk memberikan wawasan awal bagi peserta didik untuk mengatahui pembahasan mengenai materi yang akan dibahas dan didiskusikan bersama. Ketiga, pembelajaran dengan menggunakan kelompok. Setelah pendidik menjelasakan uraian tentang materi yang akan diajarkan kemudian peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok yang hiterogen dengan pembagian kelompok diskusi setiap kelompok nantinya ada yang berjumlah 5 sampai 6 orang peserta didik. dengan nantinya masing-masing kelompok akan diberikan tugas berupa materi soal menggunakan teka-teki silang. Keempat, setelah pembelajaran kelompok nanti setiap siswa akan memberikan penjelasan dengan masing-masing kelompok memberikan urian tentang jawaban yang telah dikerjakan serta tanggapan dan penjelasan. Kemudian pendidik akan memberikan ulasan pembelajaran yang sudah disampaikan oleh peserta didik dan penguatan pembelajaran yang sudah didiskusikan bersama. Pada tahap tindakan juga dilaksanakan secara bersama tahap observasi atas ketercapaian pelakasanaan tindakan. Kegiatan observasi dilaksanakan pada saat pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi serta catatan lapangan. Tahap observasi ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kekurangan selama kegiatan pelaksanaan penelitian lapangan.

 

d. Tahap Refleksi

Tahapan refleksi ini dilakukan menggunakan analisis data yang terkumpul untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik mengetahui pemahaman tentang materi yang diberikan serta mencari keunggulan dan kelemahan yang ada pada siklus I. Keunggulan yang terdapat pada siklus I akan tetap dipertahankan dalam proses pembelajaran kemudian akan lebih ditingkatkan dalam proses pembelajaran serta kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran siklus 1 akan ditingkatkan kualitasnya yang ada pada siklus I kemudian akan diperbaiki lagi pada siklus II.

 

2. Siklus II

a. Tahap Hasil Refleksi Siklus I

Hasil refleksi dari siklus I dilakukan sebagai acuan dalam melakukan perencanaan tindakan tarhadap siklus II.

 

b. Tahap Revisi Perencanaan Tindakan

Perencanaan Tindakan yang akan dilakukan pada siklus II yaitu berdasarkan pada refleksi siklus I.

 

c. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi.

Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksananakan sesuai dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran(RPP) yang sudah direvisi, pada tindakan siklus II peneliti menggunakan pertanyaan tes lanjutan untuk mengukur pembelajaran dengan memberikan soal tes 10 soal dengan 5 pilihan ganda dan 5 uraian. pada tindakan ini peneliti melakukan perbaikan dan kekurangan yang ada pada siklus I. Pada tahap ini penelitian pada siklus II akan dijadikan acuan utama dalam oleh peneliti  untuk mengkur minat peserta didik dalam proses pembelajaran menggunakan model jigsaw dengan teka-teki silang.

Observasi yang dilakukan pada siklus selanjutnya ini tidak berbeda dengan siklus yang sebelumnya siklus I. pada observasi ini pengematan terhadap ketercapaian pelaksaanaan kegiatan pada saat pembelajaran menggunakan lemabae observasi dan catatan hasil lapangan tujuan untuk mengetahui perkembangan dan kekurangan selama kegiatan penelitian berlangsung.

 

d. Tahap Refleksi

Tahap refleksi ini dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada pelaksanaan tindakan yang berlangsung pada siklus II. Pada penelitian tindakan ini dimulai pada siklus I pada tindakan awal untuk mengetahui bagaimana siklus I diterapkan. Pada siklus I memiliki komponen dalam refleksi awal yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Jika dalam tindakan ini sudah diketahui titik keberhasilan dan kendala yang ditemui pada siklus I, maka peneliti akan menyusun rancangan untuk masuk ke siklus II. Pada siklus II dalam prosesnya kegiatannya sama siklus I. akan tetapi dalam siklus II ini akan mengalami penyempurnaan dari kekurangan-kekurangan yang ada sebelumnya, sehingga disiklus II ini tujuan dari peneliti akan bisa tercapai dengan mendapatkan hasil yang diinginkan.

 

Hasil dan Pembahasan

 

1. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw dengan Teka-Teki Silang dalam Pembelajaran Sejarah

Model penerapan pembelajaran yang sudah di lakukan, mengacu kepada observasi yang dilakukan pada tanggal 6 February di SMA Negeri 1 turen. model pembelajaran yang selama ini diterpakan belum bisa menarik peserta didik untuk menumbuhkan minat belajarnya. Pada wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan pendidik terdapat beberapa hal yang dikatahui. Pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik adalah pembelajaran yang berpusat terhadap papan tulis dan buku saja sehingga kurang menerapkan model pembalajaran yang menarik minat belajar peserta didik. sehingga banyak dikataui peserta didik yang kurang fokus terhadap pembelajaran yang dilakukan, didapati beberapa peserta didik lebih asyik mengobrol dengan teman sebelahnya dan bercanda dengan teman satu sama yang lain serta memilih tidur dalam pembelajaran.

Rendahanya minat belajar di dalam kelas XI IPS 2 disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya. Kurangnya penggunaan model pembelajaran yang digunakan didalam kelas. Model pembelajaran dipergunakan untuk membuat kelas tidak merasakan kebosanan saat proses pembelajaran yang dilakukan.

Minat belajar peserta didik didasarkan pada bagaimana pendidik mengelola kelas tersebut pendidik harus mengetahui bagaiamana pembelajaran yang di lakukan tidak membuat peserta didik merasakan kejenuhan saat mengikuti pembelajaran. Penerapan model pembalajaran dalam kelas adalah salah satu solusi untuk mengatasi menurunya minat belajar yang terjadi pada peserta didik. minat belajar pada peserta didik bisa meningkat dengan melakukan tindakan yang dipelopori oleh pendidik untuk membuat peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pembalajaran. Dengan cara menggunkan model pembelajaran Jigsaw dipadukan dengan Teka-Teki silang. Pembelajaran berkelompok dengan mengandalkan kemampuan peseta didik untuk lebih berinteraksi dengan teman sebaya juga lebih mendalami materi pembalajaran yang diberikan oleh pendidik. Model pembelajaran Jigsaw  merupakan pebelajaran Kooperatif sistem kelompok. Membuat kelompok kecil dalam kelas yang nantinya dibuat kelompok belajar bersama peserta didik membuat peserta didik melakukan interaksi bersama peserta didik lain untuk mempelajari materi yang diberikan sehingga pesrta didik dituntun untuk memperlajari materi bersama peserta didik yang lainya.

Model pembelajaran yang diterapkan dalam membangun minat belajar peserta didik, peneliti menggunakan model pembelajaran Jigsaw menggunakan Teka-teki silang. Model pembelajaran yang dipakai dalam melaksanakan peneliti ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan minat belajar peserta didik yang dilaksanakn pada beberapa pertemuan pada pelaksaana pembelajaran dalam kelas. Proses pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung pada siklus pertama bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembalajaran mengalami peningkatan dalam mengikuti pembelajaran yang dilakukan. Diketahui bahwa peserta didik mulai fokus dalam melakukan pembelajaran yang dilakukan pada pembelajaran sejarah. Proses pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan berjalan ke siklus II pada proses ini pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model pembalajaran yang menarik sehingga peserta didik mudah mengerti dengan materi yang dipelajari sehingga minat belajar pada mata pelajaran sejarah disukai, minat belajar pada peserta didik mengalami peningkatan yang diperoleh dari hasil pemahaman peseta didik pada saat melakukan pembelajaran dengan mengisi tugas Teka-teki silang. Peningkatan ini juga diketahui dengan adanya peserta didik yang mulai belajar dengan bekerja sama teman kelompoknya.

Peserta didik pada kelas XI IPS 2 mengalami peningkatan pada minat belajar didalam kelas di mata pelajaran sejarah. Terlihat oleh bagiamana peserta didik lainya kompak pada kelompoknya untuk mengerjakan soal Teka-teki silang. Model pembelajaran ini dapat kita tarik benang merah dapat kita gunakan pada pembalajaran sejarah yang peserta didiknya merasa kurang memilki hasrat pada pembalajaran sejarah. Model pembalajaran Jigsaw menggunakan Teka-teki silang, sangat efektif digunakan dalam pembelajaran sejarah dalam meningkatkan minat belajar peserta didik yang menurun dikarenakan pemblajaran yang monotone.

 

2. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw menggunakan Teka-Teki Silang dalam upaya Meningkatkan Minat Belajar

Penerapan model pembalajaran, sebagai salah satu peningkatan belajar dalam mengatasi menurunya minat pembalajaran dalam kelas sehingga pelaksanaan pembelajaran menjadi menarik untuk menumbuhkan minat belajar didalam diri peserta didik.  Pelaksanaan pembelajaran dalam kelas, untuk meningkatkan minat dalam diri peserta didik di kelas menggunakan model pembelajaran Jigsaw ini bisa dilihat dengan peserta didik mulai memperhatikan materi yang diberikan oleh pendidik, fokus terhadap materi yang diberikan, berkurangnya bercanda bersama teman sebaya didalam kelas.

Peningkatan pembelajaran pada peserta didik ini dikarena model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik aktif dalam pembelajaran yang dilakukan. Peserta didik juga antusias dalam menerima materi yang diberikan. Pada pertemuan sebelum tindakan banyak peserta didik yang pasif dalam pembelajaran yang berlangsung. Sehingga perlu stimulus untuk mendorong peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. pembelajaran dengan model Jigsaw membuat peserta didik lebih aktif karena memberikan pembelajaran yang efisien dan menyenangkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan angket minat peserta didik hampir 80% merasa nyaman dengan pembelajaran dan merasa mampu menerima pembelajaran yang diberikan serta sudah dilakukan. Sebagai tolak ukur bahwa peserta didik mampu mengikuti pembelajaran yang sudah diterapkan. 

 

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pembelajaran yang dilakukan maka ada beberapa kesimpulan pada penelitian ini yaitu. Model pembelajaran Jigsaw yang diterapkan dengan menggunakan Teka-Teki Silang dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 1 Turen untuk meningkatkan minat belajar. Peserta didik sangat tertari dan bersemangat dalam pembelajaran yang berbasis kelompok, hampir semua peserta didik fokus pada pembelajaran yang diterapankan selain itu juga pembelajaran ini merupakan variasi untuk melakukan model pembelajaran pada mata pelajaran sejarah tentunya peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan sangat baik.

Pembelajaran ini melalui proses yang panjang, dalam penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen telah meningkatkan minta belajar peserta didik. setelah dilakukan penelitian ini peserta didik menjadi lebih aktif dalam kelas. Kemudian peserta didik juga sudah mulai aktif untuk bertanya hal kurang diketahui dan mampu juga menjawab pertanyaan dari pendidik. Serta mampu menyampaikan hal yang sudah didapat dari pembalajaran, adapun peserta didik juga mengingatkan peserta didik lain yangkurang fokus pada pembelajaran untuk fokus mengikuti pembelajaran yang dilakukan.

Penggunaan model pembelajaran Jigsaw dengan menggunakan Teka-Teki Silang meningkatkan minat belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah di SMA 1 Negeri Turen. model pembelajaran Jigsaw mendorong minat belajar peserta didik dari mata pelajaran sejarah. Hasil ini dapat diketahui terlihat pada setiap siklus. Pada siklus pertama adalah 65% dan pada siklus kedua adalah 82%.

 

B. Saran

Berdasarkan dari penerapan model pembelajaran Jigsaw yang dilakukan untuk meningkatkan minat pembelajaran peserta didik pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, yaitu :

1. Bagi Guru Sejarah

Pendidik diharapkan memberikan metode pembelajaran yang kreatif serta inovatif pada pembelajaran sejarah agar pembelajaran tidak monoton dan peserta didik tidak merasa bosan dalam pembelajaran di dalam kelas. Serta pendidik harus lebih memanfaatkan model pembelajaran yang lain serta media yang lain untuk menunjang pembelajarannya supaya lebih menarik di dalam kelas. Kemudian pada setiap pembelajaran peserta didik wajib mengemukakan kesimpulan pada pembelajaran guna mengetahui pemahaman peserta didik dalam pembelajaran.

2. Bagi Peserta didik

Peserta didik diharpakan mampu menambah minat belajar sejarah dengan cara mengulang pembelajaran yang sudah dilakukan di sekolah dan juga mempelajari materi yang sudah diberikan disekolah guna untuk mempermudah peserta didik dalam proses pembelajaran selanjutnya.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan mampu mempermudah peneliti yang akan melakukan penelitian yang sama dan permasalahan yang sama, maka penggunaan model pembelajaran Jigsaw bisa menambah minat belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah. 

 

Daftar Rujukan

Hamzah B. Uno. 2013. Teori Motivasi dan pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara

Arief S Sadiman, dkk. 2008. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Buchari. Psikologi pendidikan. Jakarta. Aksara baru. 1985

Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Wiriaatmadja, R. 2014. Metode Penelitian Tindakan Kelas: untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: PPs UPI Remaja Rosdakarya.

Ulfatin Nurul. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Malang : Banyumedia Publishing