SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Komunikasi Politik dan Pemanfaatan Budaya: Studi tentang Pemanfaatan Toneel oleh Soekarno di Ende Flores 1934-1938.

VIKTORINUS HERLY SOFYAN

Abstrak


ABSTRAK

Sofyan, Viktorinus, H 2019. Komunikasi Politik dan Pemanfaatan Budaya: Studi tentang Pemanfaatan Toneel oleh Soekarno di Ende Flores 1934-1938. Skripsi, Jurusan Ilmu Sejarah., Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M. Hum.

Kata Kunci: Soekarno, Toneel Kelimutu, Komunikasi Politik, Ende Flores 1934 - 1938.

Toneel adalah sebuah istilah untuk menyebut kata sandiwara dalam bahasa Belanda. Toneel mulai mengalami perkembangan di Indonesia sejak akhir abad 19 dan awal abad 20. Awal perkembangannya, Toneel hanya dapat dinikmati oleh sebagian kalangan, yaitu para elit pribumi dan Belanda. Namun, sejak tahun 1891 muncul perkumpulan Toneel bernama Komedie Stamboel pimpinan August Mahieu di Surabaya. Perkumpulan ini merupakan respresentasi dari Toneel yang mewakili rakyat pribumi, dan menjadi pionir bagi berkembangnya perkumpulan Toneel modern di kalangan rakyat pribumi Hindia Belanda. Pada tahun 1934 - 1938 Soekarno menggunakan Toneel sebagai media komunikasi politiknya dengan tujuan menyampaikan pesan - pesan perjuangan kepada rakyat Ende, Flores NTT.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Toneel dalam komunikasi politik Soekarno ketika berada di Ende, Flores 1934-1938. Ada 3 hal yang menjadi rumusan masalah pada peneltian ini, yaitu

(1) Latar belakang Soekarno diasingkan di Ende, Flores 1934-1938

(2) Aktivitas Soekarno selama menjalani pengasingan di Ende, Flores 1934-1938

(3) Pemanfaatan Toneel Kelimutu sebagai media komunikasi politik Soekarno di Ende, Flores 1934-1938.

Penelitian ini merupakan bentuk penulisan sejarah yang bersifat deskriptif –naratif dan analitis dengan menggunakan pendekatan sejarah sosial budaya. Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitin sejarah. Langkah pertama adalah pemilihan topik, pemilihan topik menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan emosional dan intelektual. Langkah kedua yaitu heuristik atau penungumpulan data, data pertama berisfat skunder berupa buku - buku dan artikel terkait penelitian. Kedua bersifat primer berupa arsip, wawancara, foto - foto, dan koran sezaman. Langkah ketiga yaitu kritik sumber, berupa kirtik intern dan ekstern. Langkah keempat melakukan interpretasi, data – data yang telah melalui proses kritik intern dan ekstren kemudian analisis dan disimpulakan. Langkah kelima yaitu historiografi, merupakan tahap akhir dari penelitian sejarah yang tertuang dalam bentuk tulisan secara kronologis.

Hasil dari penelitian ini adalah

(1) Kurun waktu 1926 - 1933 Soekarno banyak melakukan aktivitas politik, dimulai dari membentuk kelompok studi Algemene Studiclub Bandung hingga masuk dalam partai pergerakan, yaitu PNI dan Partindo. Tulisan hingga Soekarno yang berisifat revolusioner tak ayal membuat pemerintah Belanda geram. Soekarno berambisi untuk menggalang kekuatan secara besar - besaran bersama para tokoh pergerakan dan rakyat Hindia Belanda untuk menentang kolonialisme. Soekarno mencetuskan ideologi

nasionalisme sebagai arus sentral dalam perjuangannya. Akan tetapi semua usaha tersebut dipatahkan oleh pemerintah kolonial Belanda, Soekarno dipenjara hingga diasingakan ke luar Jawa karena dianggap sangat berbahaya.

(2) Di Ende Soekarno tidak banyak melakukan aktifitas politik seperti halnya di Jawa. Ende merupakan daerah yang masih terbelakang sehingga untuk melakukan kegiatan politik seperti pidato yang bersifat revolusioner merupakan hal yang sulit dan tidak mungkin dilakukan. Ketika awal Soekarno menjalani pengasingannnya di Ende, Soekarno lebih banyak meluangkan waktunya untuk membaca buku dan memperdalam ilmu agama Islam. Namun secara perlahan Soekarno berani untuk membuka diri dan memperluas persahabatannya dengan masyarakat Ende dari kalangan bawah serta para rohaniawan Katolik.

(3) Di Ende Soekarno juga membentuk perkumpulan Club Toneel Kelimutu. Kelimutu adalah istilah yang diambil dari sebuah nama danau tiga warna di Ende yaitu danau Kelimutu. Kelompok ini berisikan anggota keluarga hingga handai taulan Soekarno selama di Ende. Soekarno bertindak sebagai penulis, sutradara sekaligus produser. Sekitar dua belas naskah Toneel yang telah Soekarno tulis selama di Ende. Hasil tulisannya ini tentu sangat sarat akan pesan moral baik nasionelisme, etika kehidupan hingga modernisme. Tulisan ini dibuat dengan nuansa unsur politik dan sindiran kepada pemerintah kolonial Belanda. Agar mampu dipahami oleh masyarakat Ende, lakon-lakon yang ditulis dan dipentaskan didasarkan pada adat istiadat masyarakat setempat. Pada intinya Soekarno membentuk Toneel Kelimutu sebagai upaya mendapatkan dukungan publik.