SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Belajar dari Tradisi Memulang Sarak pada Masyarakat Sasak di Desa  Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara 

Inayati  Ika Nafika

Abstrak


 Salah satu peralihan yang dianggap penting oleh setiap
masyarakat adalah peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat
hidup berkeluarga, yaitu perkawinan. Hal ini juga terjadi pada
masyarakat Sasak karena bagi masyarakat Sasak kedudukan atau
arti perkawinan dapat meningkatkan ‘harga diri’ seorang individu
jika sudah menempuh perkawinan. Dalam hal ini semakin sering
seseorang menikah, maka mendapatkan kebanggaan tersendiri bagi
orang tersebut karena dianggap bisa ‘menaklukkan’ lawan jenisnya
terutama bagi kaum laki­laki. Dalam masyarakat Sasak di Desa
Sokong kawin cerai atau memulang sarak bukan merupakan hal
tabu, baik untuk laki­laki maupun perempuan.
Kata kunci: memulang, sarak, masyarakat Desa Sokong
Salah satu peralihan yang dianggap penting oleh setiap masyarakat adalah
peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga, yaitu
perkawinan. Perkawinan bagi masyarakat Sasak merupakan pintu simbolik bagi
masuknya laki­laki dan perempuan untuk diakui sebagai anggota masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut, seseorang akan diakui sebagai anggota
masyarakat jika ia sudah menikah. Sebenarnya untuk membangun rumah tangga
dibutuhkan kesiapan mental yang cukup agar bisa mengarungi bahtera rumah
tangga yang penuh dengan masalah hidup. Dalam hal ini, jika rumah tangga
pasangan suami isteri sedang mengalami permasalahan yang cukup besar dapat
diselesaikan dengan cara yang baik dan langkah perceraian tidak langsung
ditempuh oleh kedua belah pihak.
Faktor­faktor yang dapat menyebabkan adanya perceraian adalah kondisi
ekonomi keluarga. Dalam hal ini tingkat kebutuhan ekonomi di jaman sekarang
ini memaksa kedua pasangan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
keluarga, sehingga seringkali perbedaan dalam pendapatan atau gaji membuat tiap
pasangan berselisih, terlebih apabila sang suami yang tidak memiliki pekerjaan.2
Selain itu, tingkat pendidikan yang rendah dapat menjadi pemicu adanya
perceraian, karena  pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir seseorang dalam
memecahkan masalah yang terdapat dalam lingkungan yang penuh dengan
tantangan kehidupan (Bahar, 1989: 93).