SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Sosial Budaya Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja Pesantren (Studi Kasus di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung).

Retno Wijayanti

Abstrak


Perubahan fisik dan perkembangan kejiwaan yang terjadi pada masa
remaja/ pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan seks. Untuk itulah
perlu kiranya memberikan informasi masalah seksualitas/ kesehatan reproduksi
diantaranya melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud sering diistilahkan
dengan pendidikan seks. Istilah lain menyebutnya dengan pendidikan kesehatan
reproduksi. 
Peranan pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sangat
intensif membahas masalah agama Islam yang berguna bagi masyarakat luas,
sudah semestinya membahas seksualitas melalui pendidikan seks/ pendidikan
kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan pendidikan kesehatan reproduksi tidak
terlepas dari kehidupan manusia. Akan tetapi realitasnya, bahasan kesehatan
reproduksi masih tergolong tema yang sangat jarang dan sensitif di kalangan
pesantren serta kurang mendapat porsi yang memadai dalam program pendidikan
pesantren. Akibatnya berpengaruh pada penerapan pendidikan kesehatan
reproduksi yang kurang maksimal. Selain itu dapat memicu dampak yang sangat
besar yakni kondisi social budaya santri dalam mengelola seksualitasnya yang
terekam dalam perilaku pergaulannya. 
Kondisi seperti itu juga bisa saja terjadi di Pondok Pesantren Hidayatul
Mubtadi’ien (PPHM) Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung. 
Untuk itulah penelitian ini mengangkat permasalahan tentang bagaimana
kondisi PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung sebagai lembaga
pendidikan Islam, bagaimana pola pergaulan remaja putri di PPHM Asrama Putri
Sunan Pandanaran di Tulungagung, dan bagaimana permasalahan kesehatan
reproduksi remaja putri yang terjadi di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di
Tulungagung, serta bagaimana pendidikan kesehatan reproduksi yang telah
diterapkan di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung. 
Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi
PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung sebagai lembaga
pendidikan Islam, mengetahui pola pergaulan remaja putri di PPHM Asrama Putri
Sunan Pandanaran di Tulungagung, mengetahui permasalahan kesehatan
reproduksi remaja putri yang terjadi di PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di
Tulungagung, dan mengetahui permasalahan kesehatan reproduksi remaja putri,
serta mengetahui pendidikan kesehatan reproduksi yang telah diterapkan di
PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung. 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif berjenis diskriptif. Sedangkan data yang diperoleh 
ii
 
adalah menggunakan observasi dan sumber lisan melalui wawancara dengan
pengasuh, para dewan guru, para santri senior, madya, dan yunior (berdasarkan
lamanya nyantri/ mondok).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi PPHM Asrama
Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung sebagai lembaga pendidikan Islam yang
dikelola secara sistemik ternyata kurang adanya keseimbangan sistem.
Indikasinya adalah jumlah santri dan pengurus yang kurang seimbang, seringkali
terjadi hubungan yang tidak harmonis di antara beberapa lembaga pendidikan
yang ada di dalamnya. Keterbatasan interaksi santri dengan dunia luar pesantren
berpengaruh pada peraturan yang diterapkan. Pola pergaulan remaja putri di
PPHM Asrama Putri Sunan Pandanaran di Tulungagung, dalam kesehariannya
memang dihabiskan berinteraksi dengan sesama jenisnya. Namun karena
mayoritas pengurusnya adalah laki-laki maka tidak menutup kemungkinan terjadi
interaksi dengan lawan jenis meskipun sangat dibatasi. Permasalahan kesehatan
reproduksi remaja putri di PPHM Asrama Sunan Pandanaran di Tulungagung,
terjadi ketika hubungan antara lawan jenis sedemikian diperketat dalam segala
kondisi, sedangkan hubungan dengan sesama jenis sudah dianggap biasa.
Ternyata keadaan seperti itu dapat menimbulkan keadaan lain yang tidak diduga
sebelumnya bahkan luput dari perhatian banyak pihak pesantren. Keadaan yang
dimaksud adalah munculnya gejala kecenderungan intim dengan sesama jenis.
Pendidikan kesehatan reproduksi yang diterapkan di PPHM Asrama Putri Sunan
Pandanaran di Tulungagung telah diberikan sejak kelas VI Ibtida’iyyah berupa
funun (bidang kajian) kitab-kitab fiqh. Kajian kitab-kitab fiqh dimasukkan dalam
kurikulum sekolah diniyah dan sebagai pengajian kitab yang bersifat
ekstrakulikuler. Kajian kesehatan reproduksi di luar kajian kitab kuning, seperti
seminar dan penyuluhan di puskesmas di bawah organisasi HMHF (Hidayatul
Mubtadi’ien Healthy Federation) hanya sebagai formalitas. Namun dalam proses
edukasinya masih kurang memadai. Kondisi sosial budaya pesantren yang
sedemikian rupa dapat berdampak pada berbagai hal baik positif maupun negatif.
Namun dampak negatif seperti adanya kecenderungan hubungan intim sesama
jenis merupakan suatu hal yang kadarnya sangat serius dan memerlukan solusi
yang serius pula. Hal ini mengingat pesantren merupakan lembaga pendidikan
Islam yang nota bene merupakan lembaga yang ditugaskan mendidik moralitas
masyarakat.