SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

DAYA KREATIVITAS GURU DALAM MENGAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 1 SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG TAHUN 2018/2019

Tryanda Saputro Miftahul Huda

Abstrak


DAYA KREATIVITAS GURU DALAM MENGAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 1 SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG TAHUN 2018/2019

Tryanda Saputro Miftahul Huda

Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang

 

ABSTRAK

Dalam proses belajar mengajar diharapkan tidak terjadi adanya komunikasi satu arah saja, namun antara siswa dan guru sebaiknya melaksanakan komunikasi dua arah sehingga ada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini dibutuhkan juga kreativitas dari guru sendiri untuk membuat siswanya menjadi aktif dalam proses belajar mengajar di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskribtif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan guru Sejarah, Observasi dan angket terbuka yang diberikan kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung yaitu

(1) guru sudah cukup memahami materi Sejarah dengan baik baik. Guru menggunakan literatur-literatur berupa buku teks yang diberi oleh Kemendikbud dan didukung buku teks dari penulisannya sendiri. Materi yang dianggap sulit bagi guru yaitu materi yang mengandung kontroversial dan mengenai tokoh-tokoh di Indonesia,

(2) guru Sejarah SMA Negeri 1 Sumberpucung memiliki daya kreativitas mengajar yang baik. Hal tersebut ditunjukkan melalui model pembelajaran yang bervariasi, tugas yang beraneka ragam dan teknik penilaian yang menunjukkan bahwa guru bertanggung jawab terhadap profesinya.

Kata kunci: Kreativitas, Guru dan Sejarah.

Dalam pendidikan di sekolah terdapat proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa dimana terjadi interaksi pendidik kepada peserta didik. Dalam proses belajar mengajar diharapkan tidak terjadi adanya komunikasi satu arah saja, namun antara siswa dan guru sebaiknya melaksanakan komunikasi dua arah sehingga ada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini dibutuhkan juga kreativitas dari guru sendiri untuk membuat siswanya menjadi aktif dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Uno (2007: 54) menyatakan bahwa pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses interaksi antara peserta belajar dengan pengajar atau instruktur dan atau sumber belajar pada suatu ingkungan belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa  pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa yang dipengaruhi oleh berbagai komponen belajar dengan penuh kesadaran dan terencana. Dalam pelaksanaannya dibutuhkan suatu proses yang aktif untuk memperoleh pengalaman atau pengetahuan yang baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.

Mata pelajaran Sejarah merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah (SMA). Sejarah membicarakan kejadian-kejadian pada manusia di masa lalu. Sejarah merupakan kenangan pengalaman umat manusia. Sejarah dapat membantu siswa untuk memahami perilaku manusia pada masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan demikian sejarah merupakan suatu pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi dalam masyarakat pada masa lampau sesuai dengan rangkaian kausalitasnya serta proses perkembangannya dalam aspek yang berguna bagi pengalaman untuk dijadikan pedoman kehidupan manusia masa sekarang serta arah cita-cita pada masa yang akan datang (Murti & Krisdianto, 2010: 10).

Pengajaran sejarah berfungsi untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan bangga terhadap perkembangan masyarakat Indonesia. Dalam proses belajar mengajar, khususnya mata pelajaran sejarah seorang guru harus dapat menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa sejarah di masa lalu. Sebab menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Dengan demikian sejarah sangat berhubungan erat dengan peristiwa dan kehidupan umat manusia di masa lalu. Peristiwa-peristiwa masa lalu inilah yang dapat menumbuhkan rasa kebangsaan dan banggga terhadap tanah air (Kuntowijoyo, 1995:18).

Salah satu sekolah di SMA kebupaten Malang adalah SMA Negeri 1 Sumberpucung. Sekolah ini merupakan sekolah negeri yang menjadi sekolah sekolah favorite di kalangan masyarakat Sumberpucung. Berdasarkan hasil observasi awal diperoleh informasi bahwa SMA Negeri 1 Sumberpucung merupakan sekolah yang memiliki banyak prestasi baik akademik maupun non akademik. Hal itu menjadi keunikan tersendiri karena siswanya belajar dengan cara yang bervariatif sesuai dengan karakter guru.

Guru sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung berjumlah empat guru yaitu Bapak Susanto Yunus Alfian, Ibu Melaningrum Andarwati, Bapak Syamud, dan Ibu Eka Dian Susanti. Berdasarkan latar belakang pendidikan terdapat satu guru yang bukan lulusan sejarah yaitu Bapak Syamud. Bapak syamud merupakan lulusan Pendidikan Kewarganegaraan yang mengajar mata pelajaran Sejarah dan Sosiologi di SMA Negeri 1 Sumberpucung.

Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan, selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukkan bahwa betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan. Guru menjadi faktor yang menentukan mutu pendidikan karena guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas. Di tangan guru, mutu dan kepribadian peserta didik dibentuk. Karena itu, perlu sosok guru kompeten, bertanggung jawab, terampil, dan berdedikasi tinggi. Guru juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi  (Uno, 2009:16-17).

Menurut Kuntowijoyo (1995:4), pendekatan yang digunakan seorang guru sejarah berbeda-beda pada setiap jenjang pendidikannya. Di bangku SD, sejarah dibicarakan dengan pendekatan estetis. Artinya, sejarah diberikan semata-mata untuk menawarkan rasa cinta kepada perjuangan pahlawan, tanah air dan bangsa. Di bangku SLTP, sejarah diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat dan kebudayaaan lain, baik yang dulu maupun sekarang. Di bangku SMA, pengajaran sejarah harus diberikan secara kritis karena mereka sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang terjadi, dan arah kejadian-kejadian itu. Hal ini mengharuskan perlu adanya guru yang berwawasan kesejarahan yang luas agar dapat membentuk siswa yang berwawasan luas pula.

Kreativitas setiap guru dalam pembelajaran berbeda-beda. Guru memiliki cara mengajar yang berbeda-beda baik dalam mengajar di kelas ataupun dalam tingkat ilmu pengetahuannya. Kreativitas sangat diperlukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Kreatiftas dalam hal ini bukan hanya dalam hal pengembangan materi dengan menambah sumber materi  maupun referensi lain yang berhubungan dengan materi yang dipelajari, tetapi juga mencakup media pembelajaran yang digunakan, metode dalam pembelajaran, serta strategi pembelajaran yang digunakan.

 

Metode Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Pada proses pembelajaran peneliti sebagai observer (pengamat) dalam proses belajar mengajar. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu hasil observasi dan wawancara. Peneliti melakukan observasi awal pada tanggal 27 April 2019 di SMA Negeri 1 Sumberpucung, kemudian melakukan wawancara kepada guru Sejarah serta menyebarkan angket terbuka kepada siswa secara acak pada 29 April 2019 sampai 10 Mei 2019. Subjek penelitian ini adalah guru-guru Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung. Terdapat 4 guru sejarah di SMA negeri 1 Sumberpucung yaitu Bapak Susanto Yunus Alfian, Ibu Melaningrum Andarwati, Bapak Syamud dan Ibu Eka Dian Susanti. Selain itu peneliti juga mengambil data dari beberapa siswa dari kelas X dan XI baik pada mata pelajaran Sejarah Indonesia maupun Sejarah Peminatan melalui angket terbuka.

 

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A.Pengetahuan Guru Sejarah Tentang Materi Pembelajaran Sejarah Di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Susanto Yunus Alfian pada 10 Mei 2019, beliau menjelaskan bahwa materi Sejarah merupakan materi yang mengandung tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Ibu Melaningrum Andarwati juga menyatakan bahwa materi Sejarah merupakan materi yang mengandung unsur-unsur masa lalu yang berkitan dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Bapak Syamud juga menjelaskan bahwa mata pelajaran Sejarah merupakan mata pelajaran yang memuat nilai-nilai kehidupan di masa lalu. Ibu Eka Dian Susanti juga menyatakan bahwa Sejarah merupakan mata pelajaran yang penting untuk diajarkan di Sekolah karena mengandung kejadian dimasa lalu yang bersifat penting karena di dalamnya memuat unsur perubahan.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wasino (2007: 2) yang menyatakan bahwa Pembelajaran sejarah yaitu ilmu yang mempelajari kehidupan umat manusia pada masa lampau di berbagai tempat atau jenis lingkungan dengan berbagai corak politik, sosial, budaya, dan perekonomian juga mempelajari mata rantai kehidupan yang satu dengan yang lain serta hubungan masa silam dengan masa sekarang serta masa yang akan datang. Sejarah mengandung arti kejadian-kejadian yang dibuat manusia atau yang mempengaruhi manusia, perubahan atau kejadian yang berubah dari satu keadaan kekeadaan yang lainnya.

Menurut Ibu Melaningrum Andarwati, mata pelajaran Sejarah tidak hanya mata pelajaran yang menghafal konsep, mempelajari fakta akan tetapi siswa dididik untuk membentuk karakter yang baik karena Sejarah mengandung unsur-unsur nilai suatu Bangsa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Susanto (2014: 35) menyatakan bahwa dalam rangka pembangunan bangsa, pengajaran Sejarah tidak semata-mata berfungsi untuk memberikan pengetahuan Sejarah sebagai kumpulan informasi fakta Sejarah tetapi juga bertujuan menyadarkan anak didik atau membangkitkan kesadaran Sejarahnya untuk mencapai tujuan tersebut maka Sejarah yang diajarkan haruslah Sejarah yang mengedepankan nilai-nilai kehidupan, bukan Sejarah hapalan yang semata.

Menurut Bapak Susanto Yunus Alfian, materi Sejarah sangat penting untuk diajarkan di SMA karena dalam materi mengandung Sejarah Bangsa yang seharusnya siswa memahami untuk kehidupan yang lebih baik. Menurut Ibu Eka Dian Susanti, Sejarah tidak hanya dikenang akan tetapi pada materi Sejarah penting diajarkan agar siswa dapat memahami sejarah Bangsanya sehinga kedepannya siswa akan menjadikan Bangsanya lebih baik.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hasan (2008: 1) Materi pendidikan sejarah adalah materi yang lengkap menggambarkan perjalanan kehidupan kebangsaan dari mulai kehidupan awal sebelum kehidupan bangsa terbentuk. Keberhasilan dan kegagalan adalah suatu dinamika yang harus dipelajari generasi baru untuk dijadikan pelajaran dan dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih baik dalam memberikan warna jatidiri bangsa. Materi sejarah perlu diberikan pada dunia pendidikan. Hal tersebut dikarenakan sejarah adalah wahana penting untuk pendidikan kebangsaan.

Bapak Syamud mengatakan bahwa materi yang mengandung perbedaan pendapat seringkali menjadi kebingungan siswa sehingga guru harus belajar terlebih dahulu. Materi seperti teori- teori masuknya Hindu- Budha, masuknya Islam di Indonesia itu merupakan materi yang mengandung unsur kebingungan pada siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapatnya Djunaidi (2015:25-26) bahwa Ada dua jenis sejarah kontroversial, yang pertama berkaitan dengan fakta-fakta dan yang kedua berkaitan dengan signifikansi, relevansi dan interpretasi sekumpulan fakta. Sejarah kontroversial tidak hanya karena terjadinya multi tafsir dalam interpretasi, tetapi juga karena keterbatasan data sejarah sehingga menimbulkan polemik. Jadi bukan sesuatu yang asing kalau dalam tulisan sejarah akan muncul hal-hal yang cenderung bersifat kontroversial.

Bagi Ibu Eka Dian Susanti materi kontroversial di dalam mata pelajaran Sejarah menjadi materi yang sulit akan tetapi ada hal positifnya yakni melalui materi kontroversial dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan daya berfikir kritis pada siswa karena berkaintan dengan daya berfikit siswa. Su’ud (2007:109) menyatakan bahwa pengembangan pola isu kontroversi dalam kelas sejarah bertujuan untuk mencapai

(1) peningkatan daya penalaran;

(2) peningkatan daya kritik sosial;

(3) peningkatan kepekaan sosial;

(4) peningkatan toleransi dalam perbedaan pendapat;

(5) peningkatan keberanian pengungkapan pendapat secara demokratis; serta

(6) peningkatan kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

B.Daya Kreativitas Guru Dalam Mengajar Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Syamud pada 10 Mei 2019, menyatakan bahwa sebelum pembelajaran beliau menyiapkan Rancangan Rencana Pembelajaran (RPP) agar langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan jelas. Hal tersbut sesuai dengan Komalasari (2013: 3) menyatakan bahwa pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses pembelajaran subjek didik atau pembelajaran yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik atau pembelajar dapat mencapai tujuan- tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.

Wawancara pada tanggal 8 Mei 2019 dengan Ibu Eka Dian Susanti, didapatkan hasil bahwa sebelum mengajar beliau harus melihat silabus kemudian melihat tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam materi yang terdapat pada RPP. Rancangan dalam pembelajaran diperlukan agar kegiatan KBM dapat maksimal. Dalam penyusunannya perlu mempersiapkan sintak.

Hal tersebut sesuai dengan pengertian pembelajaran yang dijelasakn oleh Sukirman (2009: 1) belajar dan pembelajaran berlangsung dalam suatu proses yang dimulai dengan perencanaan berbagai komponen dan perangkat pembelajaran agar dapat diimplementasikan dalam bentuk interaksi yang bersifat edukatif, dan diakhiri dengan evaluasi untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Belajar dan pembelajaran merupakan suatu proses yang komplek dengan menyatukan komponen-komponen yang memiliki karakteristik tersendiri yang secara terintegrasi, saling terkait dan mempengaruhi untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Susanto Yunus Alfian pada 10 Mei 2019, menurut beliau cara mengajar yang sering dilakukan pada saat KBM ialah siswa biasanya disuruh mengerjakan soal-soal, diskusi kelompok dan juga membuat karya tulis. Tujuannya ialah agar siswa dapat berfikir kritis dengan belajar mandiri. Hal tersebut bukan berarti guru membiarkan siswa akan tetapi guru tetap memantau kegiatan siswa. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Bobae kelas XI IPA 1, ia menyatakan bahwa Bapak Susanto Yunus Alfian memberikan tugas seperti mencatat (merangkum) poin-poin dalam buku paket, membuat karya ilmiah, membuat kliping tentang pahlawan dari peristiwa-peristiwa pada saat kemerdekaan.

Menurut Ibu Eka Dian Susanti pada saat wawancara pada tanggal 8 Mei 2019, beliau menyatakan bahwa media pembelajaran itu penting. Pemilihan media harus didasarkan pada kebutuhan siswa. Media yang biasa digunakan adalah power point, multimedia dan film yang didukung dengan pemanfaatan laptop serta LCD. Hal ini sesuai dengan pendapat Menurut Sudjana (2009: 35-37) menyatakan kriteria keberhasilan pembelajaran dari sudut prosesnya (by process) adalah siswa menempuh beberapa kegiatan belajar sebagai akibat penggunaan multi metode dan multimedia yang dipakai guru ataukah terbatas kepada satu kegiatan belajar saja.

Menurut VX kelas XI IPA 1 yang dituliskan dalam angket menyatakan  bahwa sebenarnya ia tidak menyukai mata pelajaran Sejarah Indonesia akan tetapi karena gurunya Bapak Santo Yunus Alfian jadi pembelajarannya menyenangkan sehingga ia tidak merasa bosan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria keberhasilan pembelajaran dari sudut prosesnya (by process) menurut Sudjana (2009: 35-37) yaitu Kegiatan siswa belajar dimotivasi guru sehingga ia melakukan kegiatan belajar dengan penuh kesadaran, kesungguhan, dan tanpa paksaan untuk memperoleh tingkat penguasaan pengetahuan, kemampuan serta sikap yang dikehendaki dari pembelajaran itu sendiri.

Menurut Bobae kelas XI IPA 1 dalam angket terbuka, ia menyatakan bahwa Bapak Susanto Yunus Alfian memberikan tugas seperti mencatat (merangkum) poin-poin dalam buku paket, membuat karya ilmiah, membuat kliping tentang pahlawan dari peristiwa-peristiwa pada saat kemerdekaan. Adanya variasi pembelajaran yang dilakukkan bapak Susanto Yunus Alfian menunjukkan bahwa beliau merupakan guru yang kreatif.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Alfiyani (2010:15) berpendapat bahwa pendekatan pengajaran guru kreatif dapat dilakukan dengan memprakarsai belajar sendiri (self-initiared learning) pada sebagian siswa. Prinsip yang dipandang baik dalam proses belajar mengajar dilaksanakan, tetapi semua itu dilakukan dalam rangka menginduksi respon yang kreatif dari siswa, seperti melakukan aktivitas untuk mendorong siswa menyelidiki sendiri, melaksanakan eksperimen dan mengambil kesimpulan sementara terhadap eksperimen yang dilakukan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Eka Dian Susanti pada tanggal 8 Mei 2019, tugas-tugas yang diberikan kepada siswa beraneka ragam. Ada yang harus merubah materi sejarah menjadi lirik lagu, ada juga yang siswa harus membuat teka teki silang kemudian ditukar dengan kelompok lain. Hal itu justru menarik karena siswa akan berkreasi. Menurut beliau tugas-tugas seperti itu akan melatih kesabaran, kreatifitas siswa dan daya berfikir siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru kreatif dalam memberikan tugas kepada siswa.

Sesuai dengan pendapat Halman dalam Alfiyani (2010:15) bahwa Guru yang kreatif mendorong proses berfikir kreatif siswa. Dia memberikan rangsangan kepada siswa untuk mencari hubungan-hubungan yang baru antar data, mengimajinasikannya, mencari pemecahan-pemecahan masalah yang sedang dihadapi, membuat perkiraan secara cepat, menemukan ide-ide sampingan untuk membentuk ide-ide baru. Dia mendorong siswa untuk mengungkapkan hubungan-hubungan yang tidak mungkin antar elemen-elemen, dalam rangka menemukan suatu teori yang tidak masuk akal atau menyimpang dari yang biasa. Tidak hanya hal itu akan tetapi Guru yang kreatif mendorong individu untuk mengevaluasi sendiri kemajuan hasil belajarnya (encourages self-evaluation).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Melanirngrum pada tanggal 10 Mei 2019 dapat disimpulkan bahwa tugas yang diberikan kepada siswa bervariasi. Menurut Pangeran Catur, Fitri S, Rochmatul Hidayah, Elisa Fitri, dan Erilla Windayari kelas XI IPS 3 yang dituliskan pada angket menyatakan bahwa  tugas-tugas yang diberikan kepada siswa seperti membuat video visual dengan menggunakan aplikasi power director yang bertujuan menambah kreativitas murid. Tugas individu dan kelompok, membuat essay yang bertujuan untuk melatih para siswa agar para siswa berfikir kritis. Pada penilaiannya siswa diberikan kebebasan untuk mengevaluasi hasil kerja kelompok baik milik kelompoknya sendiri atau kelompok lain.

Hal diatas menunjukkan bahwa Ibu Melaningrum merupakan guru yang kreatif. Sesuai dengan pendapat Halman dalam Alfiyani (2010:15) guru yang kreatif menciptakan lingkungan belajar yang tidak otoriter, kondisi yang bebas memberikan fasilitas kepada siswa untuk berkreatif, jenis kebebasan yang diperlukan agar siswa menjadi kreatif adalah kebebasan yang berkenaan dengan psikologi, simbolik dan kebebasan untuk mengungkapkan pengalaman secara spontan.

Menurut Erlinda Nur Cahyani pembelajaran Sejarah Indonesia yang diajarkan Ibu Eka Dian Susanti bervariasi dan mudah dipahami. Tugas yang diberikan seperti membuat peta (jalur kedatangan Jepang), mengubah lirik lagu dengan materi pelajaran, membuat mading dan membuat teka-teki silang. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru tegolong kreatif. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Halman dalam Alfiyani (2010:15) Guru yang kreatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk memanipulasi materi, ide-ide, konsep-konsep, alat-alat dan struktur-struktur. Keahlian adalah suatu unsur yang diperlukan dalam kreativitas yang bersifat pribadi, bilamana hal itu berhubungan dengan keahlian menggunakan kata-kata seperti bersajak atau mengarang, menggunakan warna seperti menggambar, menggunakan nada seperti dalam bernyanyi dan menggunakan kayu seperti pertukangan.

Ibu Eka Dian Susanti pada tanggal 8 Mei 2019 juga mengatakan bahwa saat pembelajaran Sejarah Peminatan siswa diberikan tugas untuk melakukan penelitian Sejarah di daerahnya secara berkelompok. Tugas tersebut menunjukkan bahwa guru memberikan tugas yang membuat siswa melakukan penelitian untuk memberikan pengalaman kepada siswa. Berikut didukung dengan pernyataan siswa yaitu Halman dalam Alfiyani (2010:15) Guru yang kreatif mempromosikan fleksibilitas intelektual (promote intellectual flexibility) diantara siswa. Dia mendorong siswa untuk mengangkat posisi observasi yang mereka lakukan untuk memvariasikan pendekatan menuju masalah-masalah yang akan dipecahkan.

 

Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan pada Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Paparan Data dan Pembahasan dapat disimpulkan sebagaiberikut:

1. Pengetahuan Guru Sejarah Tentang Materi Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019 sudah baik. Guru sudah memahami materi Sejarah melalui masa pendidikannya dan melalui literature-literature yang didapatkan dari pemerintan maupun dari pencarian pribadi. Materi yang dianggap sulit bagi guru adalah materi yang bersifat kontroversial. Akan tetapi guru mampu mengatasi hal tersebut dengan memperbanyak bacaan atau literature. Hal positif yang didapatkan guru dalam materi kontroversial ialah guru di SMA Negeri 1 Sumberpucung dapat memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis.

2. Daya Kreativitas Guru Dalam Mengajar Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung Tahun 2018/2019 sudah baik. Kreativitas yang dimiliki guru berdasarkan pada hasil wawancara, observasi dan angket terbuka siswa dapat menunjukkan bahwa guru Sejarah di SMA Negeri 1 Sumberpucung memiliki cara mengajar yang kreatif. Kreativitas dapat ditunjukkan melalui pemilihan berbagai macam model pembelajaran dan pemberian tugas.

 

Saran

Berdasarkan pada hasil penelitian, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1) Bagi Guru Sejarah SMA Negeri 1 Sumberpucung

Sebaiknya setelah guru melakukan proses belajar mengajar pada mata pelajaran Sejarah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi kekurangan dari pembelajaran yang telah dilakukan.

2) Bagi Seluruh Siswa Kelas X dan XI

Sebaiknya pada saat pembelajaran Sejarah siswa tetap mengikuti aturan guru sehingga kondisi kelas tetap kondusif.

3) Bagi penelitian yang akan datang

Sebaiknya untuk penelitian yang akan datang tidak hanya melihat daya kreativitas guru dalam mengajar Sejarah saja. Akan tetapi pengaruh dari kreatitivitas guru dalam mengajar Sejarah.

 

DAFTAR RUJUKAN

Djunaedi. 2015. Strategi Pengelolaan Pembelajaran Isu Materi Sejarah “Serupa” Dan Sejarah Kontroversial. Jurnal: Pendidikan Sejarah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Vol 4 (2).

Hawadi, Reni Akbar,dkk. 2003 . Kreativitas. Jakarta: Grasindo.

Komalasari, Kokom. 2013. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi.Bandung: Reflika Aditama.

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Murti, Setya & Krisdianto, FX Joko. 2010. Peran Penting Metode Dan Media Pembelajaran Mata Pelajaran Sejarah Dalam Pemahaman Materi Pelajaran Sejarah. Jurnal: Psiko Wacana, Vol 9 (1).

Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya.

Sukirman, Dadang. 2009. Microteaching. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia.

Susanto, Heri. 2014. Seputar Pembelajaran Sejarah (Isu, Gagasan dan Strategi Pembelajaran). Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Uno, dkk. 2011. Menjadi Peneliti PTK yang Profesional. Jakarta: PT Bumi Aksara

Wasino. 2007. Dari Riset hingga Tulisan Sejarah. Semarang: UNNES Press.