SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL BERBASIS SEJARAH LOKAL MELALUI PERISTIWA KEPET TUBAN: KONTRIBUSI PEJUANG LOKAL DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN 1948-1949 UNTUK SISWA KELAS XI IPS 4 MAN 2 TUBAN

Niki Astria Sahara

Abstrak


PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL BERBASIS SEJARAH LOKAL MELALUI PERISTIWA KEPET TUBAN: KONTRIBUSI PEJUANG LOKAL DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN 1948-1949 UNTUK SISWA KELAS XI IPS 4 MAN 2 TUBAN

Niki Astria Sahara, Yuliati

Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Univeristas Negeri Malang

Jl. Semarang, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia

Email: nikiastriasahara@yahoo.com

 Abstrak

pengembangan bahan ajar berupa modul berbasis sejarah lokal dengan alasan dapat digunakan sebagai sumber belajar pendukung yang praktis, efektif serta efisien, untuk lebih memfokuskan pengembangan bahan ajar disesuaikan berdasarkan analisis kebutuhan siswa. Penelitian ini memiliki tujuan jangka panjang yakni supaya pembelajaran sejarah Indonesia lebih bermakna kepada siswa. Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini yakni dapat menghasilkan sebuah produk bahan ajar modul yang dapat digunakan untuk melengkapi pembelajaran sejarah Indonesia pada MAN 2 Tuban.

Kata kunci: sejarah lokal, bahan ajar modul, peristiwa kepet tuban.

Pendidikan yang bermutu akan mencetak sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing di era global. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam menghadapi tantangan globalisasi yakni diterbitkannya kurikulum 2013. Salah satu aspek yang dapat menentukan keberhasilan mutu pendidikan adalah pembelajaran. Dalam artian guru harus berupaya semaksimal mungkin mengondisikan pembelajaran agar menjadi suatu proses yang bermakna dalam membentuk pengalaman dan kemampuan siswa.

Pembelajaran sejarah merupakan salah satu pendidikan yang masuk dalam K-13 yang harus ada dalam satuan pendidikan baik pada tingkatan SMA, MA dan SMK. Sejarah dianggap penting untuk di masukan ke dalam K-13 karena dengan belajar sejarah dapat membangkitkan rasa nasionalisme siswa. Mata pelajaran sejarah mengajarkan kepada siswa untuk membentuk sikap bijaksana dalam bertindak dengan melihat kesalahan dan kejayaan pada masa lalu, karena dengan belajar sejarah peserta didik diharapkan bisa mengambil hal-hal positif yang ada di masa lalu. Kejadian di dalam sejarah mengandung nilai-nilai sehingga kita semua selalu menjadi bijaksana dalam menghadapi masa yang  akan datang.

Suatu pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Untuk mengatur proses pembelajaran pentingnya guru menggunakan bahan ajar penunjang untuk memperoleh hasil pembelajaran yang baik.

Pembelajaran akan menjadi bermakna jika dalam pembelajaran terdapat kesinambungan antara guru dan siswa. Sejalan dengan pendapat Agung (2013: 3) bahwa, pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada. Terwujudnya kerja sama yang baik diawali dengan interaksi yang baik. Interaksi utama dalam pembelajaran yakni guru, siswa dan bahan ajar. Pada pembelajaran bahan ajar merupakan sarana terjadinya interaksi antara guru dan siswa.

Pada pembelajaran sejarah Indonesia diperlukan bahan pembelajaran yang jelas sebab terkait dengan periodisasi atau pembabakan waktu sejarah. Jika dalam pembelajaran tersebut guru tidak memiliki bahan ajar maka pembelajaran menjadi tidak sitematis. Selain itu perlu dilakukan pengembangan bahan ajar supaya pelajaran sejarah Indonesia lebih menarik dan tidak membosankan. Pembelajaran sejarah di sekolah juga memiliki anggapan yang negatif yakni memiliki daya tarik yang rendah pada siswa bahkan dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan serta tidak memiliki manfaat dan kegunaan.

Bahan ajar merupakan bagian yang sangat penting dari suatu proses pembelajaran secara keseluruhan (Ramdani 2012: 50). Bahan ajar merupakan unsur yang penting dalam kegiatan pembelajaran karena mengandung rambu-rambu materi yang akan diajarkan. Tanpa adanya bahan ajar guru tidak dapat berinteraksi dengan siswa dalam memberikan materi pembelajaran. Bahan pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru tidak hanya bahan inti sebab pembelajaran akan menjadi kaku. Agar pembelajaran sejarah Indonesia tidak kaku, terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa, serta mampu menumbuhkan kesadaran sejarah di era globalisasi maka guru dapat mengembangkan bahan ajar berupa modul berbasis sejarah lokal yang berupa objek-objek sejarah di daerah siswa. Bahan ajar modul yang dikembangkan lebih mempermudah siswa mehami materi. Peserta didik bisa menganalisis objek-objek sejarah dengan dikaitkan pada materi pelajaran yang ada di sekolah.

Menurut Nilasari dkk. (2016: 1399) Modul pada dasarnya bahan ajar yang secara sistematis dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya agar mereka dapat belajar mandiri atau tanpa bimbingan yang minimal dari guru. Berdasarkan data yang telah diperoleh bahwa siswa dapat memahami dengan baik bahan ajar modul yang dikembangkan dalam penelitian ini. Karena modul telah disusun sesuai dengan bahasa yang mudah dipahami siswa tingkat Madrasah Aliyah. Selain bahasa yang mudah dipahami juga disusun berdasarkan usia siswa.

Modul yang akan dikembangkan dalam penelitian ini yakni modul berbasis sejarah lokal . Objek sejarah di pusatkan pada  Peristiwa kepet Tuban: kontribusi pejuang lokal dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan tahun 1948-1949 sebab siswa sangat minim pengetahuan tentang hal tersebut. Pengembangan bahan ajar modul sejarah Indonesia berbasis objek sejarah lokal di Kabupaten Tuban akan membantu dalam proses pembelajaran.

Peristiwa kepet tahun 1948-1949 merupakan sismbol Semangat Nasionalisme Revolusioner yang timbul dalam diri rakyat dan dengan semakin bertambahnya kekuatan Militer karena memakai persenjataan jepang rakyat indonesia semakin bersemangat untuk melawan belanda. Perlawanan terhadap belanda adalah upaya untuk menguasai kembali wilayah-wilayah indonesia yang dilakukan sampai pada wilayah tingkat daerah salah satunya adalah perlawanan yang dilakukan rakyat indonesia terhadap belanda dilakukan di wilayah Tuban.

Selanjutnya, dari hasil penyebaran angket kepada Siswa MAN 2 Tuban khususnya kelas XI IPS 4 melalui peristiwa sejarah lokal yang ada di Tuban khususnya mengenai materi Peristiwa Kepet Tuban: Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, mereka hanya mengetahui monumen dan jembatan yang ada di daerah  tersebut. hampir seluruh  Siswa mengaku tidak mengetahui Tokoh pejuang lokal pada masa Revolusi fisik selain itu siswa juga mengaku bosan dengan cara guru mengajar yang hanya menggunakan LKS atau handout, selain itu juga Siswa tidak diperbolehkan untuk membawa HP, Laptop di Sekolah sehingga untuk mencari informasi sejarah sangat sulit. Kondisi di atas tidak terlepas dari penggunaan Handout dan LKS yang dirasa kurang merangsang berfikir historis siswa. Padahal dalam pembelajaran sejarah siswa diharapkan mampu memahami peristiwa masa lalu secara kronologis dan kritis.

Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa sebagian besar dari mereka kurang antusias dalam belajar sejarah. Sehingga, untuk membantu siswa dalam pembelajaran sejarah dibutuhkan sebuah bahan ajar yang inovatif untuk bisa mengetahui gambaran peristiwa masa lalu.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu dengan menggunakan bahan ajar pembelajaran yang inovatif dan menarik supaya proses pembelajaran tidak berlangsung monoton.

Dari kesimpulan permasalahan diatas, beberapa permasalahan terkait pembelajaran sejarah Indonesia yaitu

(1) pada proses pembelajaran yang sudah menerapkan kurikulum 2013 guru hanya menggunakan buku paket dan Lembar Kerja Siswa (LKS)

(2) kurangnya sarana pembelajaran yang berupa media pembelajaran

(3) siswa menganggap pembelajaran sejarah menjenuhkan dan susah dipahami

(4) siswa tidak memahami peninggalan-peninggalan sejarah di Kabupaten Blitar sehingga kesadaran sejarah tidak muncul pada individu.

Berdasarkan fenomena tersebut, untuk mewujudkan pembelajaran yang bermutu dan bermakna pada MAN 2 Tuban perlu adanya pengembangan dalam proses pembelajaran yakni pengembangan bagan ajar. Harapannya mampu melengkapi informasi utama yang hanya didapatkan dari buku paket dan LKS.

Agar siswa mudah untuk mempelajari dan memaham sejarah lokal dan mengaitkannya dengan sejarah nasional, maka diperlukan bahan ajar yang mendukung. Bahan ajar yang akan saya gagas adalah bahan ajar yang berupa modul tentang Peristiwa Kepet Tuban: Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, Modul ini bukanlah Modul biasa yang hanya akan menjemukan Siswa yang tidak suka membaca materi yang terlalu panjang, sehingga peneliti berusaha mengembangkan modul agar Siswa memilki motivasi dan lebih tertarik untuk mempelajari dan Dalam kurikulum 2013 revisi 2016, yaitu pada KD 3.6 Menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangan kemerdekaan Indonesia  dan KD 4.6 Menulis sejarah tentang satu tokoh nasional dan tokoh dari daerahnya yang berjuang melawan penjajahan Untuk itu, Siswa seharusnya mmpelajari dan memahami sejarah lokalnya seperti sejarah perjuangan pejuang lokal dalam mempertahankan kemerdekaan.

 

Metode

Model Penelitian dan Pengembangan

Pengembangan media pembelajaran ini menggunakan model Sugiyono. Penggunaan model pengembangan Sugiyono dikarenakan sederhana, terstruktur sehingga memudahkan pengembang dalam memahami langkah-langkah pengembangan serta telah mencakup keseluruhan proses yang sistematis dalam suatu pengembangan produk yang tidak membingungkan pengembang dalammeracang media pembelajaran. Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2016:407).

Langkah-langkah dari model pengembangan Sugiyono yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan bahan ajar modul adalah sebagai berikut:

(1) Potensi dan Masalah,

(2) Pengumpulan Data,

(3) Desain Produk dan Materi,

(4) Validasi Desain dan Materi,

(5) Revisi Desain dan Materi

(6) Uji Coba Produk

(7)  Revisi  Produk

(8) Uji Coba Pemakaian Produk,

(9)  Revisi Produk,

(10) Produksi Akhir (Sugiyono, 2016:409).

Prosedur Penelitian dan Pengembangan

Pada Tahap Pertama: Pada saat peneliti melakukan observasi di MAN 2 Tuban peneliti melihat adanya potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan dalam proses pembelajaran sejarah  di  MAN 2 Tuban. MAN 2 Tuban ini merupakan salah satu sekolah yang berada di pinggiran Kecamatan dengan kondisi sekolah yang memiliki fasilitas sekolah yang kurang lengkap seperti tidak adanya  LCD, tidak adanya internet Akses untuk siswa, tidak diperbolehkannya membawa Alat elektronik seperti HP, Leptop.

Permasalahan kedua yang ditemukan oleh peneliti dari hasil observasi dan wawancara di  MAN 2 Tuban  peneliti menemukan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran sejarah. Permasalahan  yaitu  kurangnya variasi bahan ajar yang digunakan  gurupada saat proses  pembelajaran sejarah di kelas,  selain itu, banyaknya siswa yang tidak mengetahui sejarah lokalnya atau sejarah daerahnya sendiri seperti Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949.

Berdasarkan potensi dan masalah yang telah peniliti jelaskan di atas, peneliti melihat bahwa pengembangan bahan ajar modul dengan tampilan yang sederhana namun dengan materi yang sangat mendalam dapat mengatasi permasalahn-permasalahan yang ada di MAN 2 Tuban pemilihan materi mengenai Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, maka pengetahuan siswa mengenai tokoh-tokoh  pejuang  lokal di Indonesia akan bertambah.

Pada Tahap Kedua: pengumpulan Informasi Data yang meliputi kajian pustaka, pengamatan atau observasi kelas, wawancara kepada pejuang veteran badroen dan meminta arsip-arsip yang masihtersimpan, wawancara purnawirawan bungkil, wawancara bapak heri kepala sekoah smp 2 soko tentang peristiwa kepet tuban dan persiapan laporan awal. Penelitian awal ini sangat dianjurkan guna untuk memperoleh informasi awal untuk melakukan sebuah pengembangan.Misalnya melalui sebuah pengamatan atau observasi dikelas untuk melihat kondisi yang sebenarnya di lapangan.

Pada tahap pemilihan topik, peneliti memilih topik tentang sejarah lokal.Tahap pengumpulan data merupakan tahap untuk mengumpulkan informasi sebagai bahan untuk merencanakan produk yang akan dikembangkan. Proses pengumpulan informasi yang peneliti lakukan yaitu dengan studi lapangan dan studi literatur.Studi lapangan dilakukan dengan melakukan observasi di Kelas XII IPS 4 1 yang dilakukan pada kurun waktu tanggal 20 September 2018 hingga 29 November 2018.

Pada tahap ketiga Desain produk yang akan peneliti kembangkan ini berbasis sejarah lokal meliputi Pengembangan Bahan ajar Modul Kontribusi Pejuang Lokal Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 1948-1949, di mana produk ini berbentuk modul cetak.

Pada Tahap Keempat: Tahap validasi ini merupakan tahap penentu kelayakan produk bahan modul untuk digunakan dalam proses uji coba kepada peserta didik. Adapun validator produk bahan ajarmodul ini ialah sebagai berikut:

a. Validator ahli materi yang akan memvalidasi materi dalam produk bahan ajar modul  ini adalah Bapak Arif Subekti, S.Pd, M.A, dosen jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang memahami materi sejarah Indonesia seputar revolusi fisik (1945-1949). Ahli materi ini merupakan lulusan Strata 2 (S2) yang sudah berpengalaman sebagai dosen pengampu matakuliah Sejarah Indonesia Modern.

b. Validator ahli media yang akan memvalidasi produk bahan ajar modul ini adalah Bapak Moch. Nurfahrul L. Khakim, S.Pd, M.Pddosen jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang berpengalaman dalam bidang sejarah dan teknologi. Ahli media ini merupakan lulusan Strata 2 (S2) yang sudah berpengalaman sebagai dosen dam validator Pengembangan Bahan Ajar.

Pada Tahap Kelima: revisi desain. Revisi desain peneliti lakukan dengan mendapat arahan dari dosen ahli yaitu bapak Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, S.Pd., M.Pd selaku dosen ahli media.

Pada Tahap Keenam uji coba produk. Pada tahap ini peneliti melakukan tahap uji coba pada siswa kelas XI. Pada uji coba awal/ kelompok kecil peneliti menggunakan kelas IPS MAN 2 Tuban sebanyak 6 orang. Uji coba awal/ kelompok kecil digunakna untuk mengetahui seberapa efektif media pembelajaran. Dari tahap tersebut dapat digunakan untuk meminimalisir kesalahan.

Pada Tahap ketujuh adalah revisi produk. Media pembelajaran yang telah diuji cobakan pada tahap uji coba awal akan memperoeh kritik dan saran. Kritik dan saran tersebut peneliti gunakan untuk merevisi produk agar dapat diuji cobakan pada uji coba kelompok besar.

Pada Tahap Kedelapan adalah uji coba pemakaian/uji coba kelompok besar. Uji coba kelompok besar peneliti menggunakan kelas IPS 4 MAN 2 Tuban sebanyak 23 orang. Pada uji coba kelompok besar peneliti juga menyebarkan angket untuk melihat seberapa efektif media pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Peneliti juga memberikan soal pretest dan postest.

Pada Tahap kesembilan adalah revisi produk. Revisi produk peneliti lakukan untuk mencapai kesempurnaan bahan ajar modul sejarah berbasis sejarah lokal. Revisi produk disesuaikan dengan angket yang berisi kritik dan saran siswa pada tahap uji coba pemakaian/ uji coba kelompok besar.

Pada Tahap kesepuluh adalah produksi masal mengunggah bahan ajar tersebut dalam bentuk soft file ke media sosial seperti instagram dan facebook. Selain itu alternatif lain yang dapat dilakukan ialah dengan membagikan soft file bahan ajar modul  melaluiwhatsapp ataupun e-mail.

Uji Coba Produk

Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat kelayakan dan daya tarik dari produk yang dihasilkan. Dalam tahap ini secara berurutan yang dikemukakan adalah desain uji coba, subjek uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data dan teknik analisis data.

 

Hasil dan Pembahasan

Analisis data berupa menganalisis data dalam uji coba produk yang telah digunakan. Data tersebut penting karena dapat mengetahui seberapa efektif media pembelajaran selama proses pembelajaran. menurut Akbar (2017:82)

sebagai berikut:

P = 100%

Adapun keterangan dari rumus tersebut adalah

P  : Presentase

 : Jumlah Jawaban validator dalam satu komponen

 : Jumlah Skor maksimum dalam satu komponen

100 %  : Konstanta

Analisis data angket validasi digunakan untuk megetahui kelayakan dari media pembelajaran. Sedangkan Validalitas Menurut Ahli Tingkat Kriteria Keterangan:

86%-100%             Sangat Valid Sangat Baik digunakan

71%-85%               Valid Boleh digunakan dengan revisi kecil

56%-70%               Cukup Valid Boleh digunakan setelah direvisi besar

41%-55%               Kurang Valid Tidak boleh digunakan

25%-40%              Tidak Valid Tidak boleh digunakan

(Sumber: Akbar, 2017: 78)

Dan  Efektifitas Produk Menurut Siswa Tingkat Kriteria

81,00% - 100,00%             Sangat Efektif

61,00% - 80,00%               Cukup Efektif

41,00% - 60,00%               Kurang Efektif

21,00% - 40,00%               Tidak Efektif

00,00% - 20,00%               Sangat Tidak Efektif

(Sumber: Akbar, 2017: 78)

 

Hasil Validasi

Berdasarkan penyajian data hasil validasi oleh ahli materi yaitu Bapak Arif Subekti, S.Pd., M.A seperti yang tertera pada tabel 4.1 diketahui rata-rata presentase hasil evaluasi untuk mengetahui tingkat kevalidan bahan ajar pembelajaran ahli materi yakni 87,6 %. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa bahan ajar modul berbasis sejarah lokal  ini dapat dikatan valid dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah.

Berdasarkan penyajian data hasil validasi oleh ahli bahan ajar yaitu Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, S.pd, M.Pd seperti yang tertera pada tabel 4.2 diketahui rata-rata presentase hasil evaluasi untuk mengetahui tingkat kevalidan bahan ajar pembelajaran ahli materi yakni 96,3 %. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa bahan ajar modul berbasis sejarah lokal  ini dapat dikatan valid dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah.

Hasil uji coba kelompok kecil/terbatas diperoleh tingkat kevalidan produk bahan ajar pembelajaran sebasar 94%. Perolehan persentase tersebut jika disesuaikan dengan kriteria bahan ajar modul  pembelajaran dapat dikatan sangat valid dan dapat diimplementasikan dalam uji coba kelompok besar.

hasil uji coba kelompok besar diperoleh tingkat kevalidan produk bahan ajar modul pembelajaran sejarah sebasar 96,8%. Perolehan persentase tersebut jika disesuaikan dengan kriteria bahan ajar modul  pembelajaran dapat dikatan sangat valid.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Bahan ajar pembelajaran ini meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pelajaran. Bahan ajar modul pembelajaran sejarah berisi tentang peristiwa Kepet Tuban: Kontribusi pejuang lokal dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1948-1949.

Bahan ajar pembelajaran sejarah berbasis sejarah lokal ini ini telah melalui uji validasi dari ahli materi, ahli media dan peserta didik selaku responden. Adapun hasil validasi dari ahli materi menunjukan persentase sebesar 87,6 % dan ahli media dengan persentase sebesar 96,3 %. Hasil validasi dari ahli materi dan ahli media tersebut termasuk ke dalam kategori sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Selanjutnya hasil uji coba yang dilakukan kepada kelompok kecil menunjukkan persentase sebesar 94 % dan hasil uij coba lapangan menunjukkan persentase sebesar 96,8 %, sehingga dari hasil uji coba kelompok kecil dan uji lapangan masuk ke dalam kategori sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Meskipun dari hasil-hasil validasi yang masuk kategori sangat valid, tetapi ada beberapa saran dari ahli materi, media, dan peserta didik untuk diperbaiki demi kesempurnaan media pembelajaran tersebut.

Bahan ajar modul pembelajaran sejarah berbasis lokal yang dikembangkan oleh peneliti dapat dijadikan alternatif bahan ajar pembelajaran yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Peneliti dalam membuat bahan ajar modul pembelajaran sejarah menggunakan Microsoft office word, edit photoshop  yang memiliki kemampuan untuk membuat modul secara mudah dan dengan desain yang menarik.

Saran

Saran untuk peneliti lebih lanjut yaitu: Meskipun presntase dan keefektifan produk bahan ajar modul berbasis sejarah lokal tergolong sebagai produk media pembelajaran yang sangat efektif dan sangat vilid, bukan berarti produk ini dikatakan sempurna tanpa perbaikan,namun tidak menutup kemungkinan memiliki kekurangan. Hal demikian dikarenakan terus berkembangnya teknologi dan bahan ajar yang lain. Adanya perkembangan teknologi dan bahan ajar yang lain juga menuntut untuk lebih semangat lagi mendidik anak bangsa terutama dalam bidang pembelajaran. Oleh karena itu, untuk peneliti selanjutnya dapat mengembangkan bahan ajar modul berbasis sejarah lokal atau berbasis yang lainnya sehingga dapat mengatasi problem pembelajaran Sejarah Indonesia, mengembangkan modul menjadi jauh lebih menarik lagi dari apa yang dikembangkan sekarang perlu dilakukan penelitian

 

DAFTAR RUJUKAN

Agung, L. & Wahyuni, R. 2013. Perencanaan Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Akbar, S. 2017. Instrumen perangkat pembelajaran. Bandung, Indonesia: PT. Remaja

Nilasari, Efi, dkk. 2016. Pengaruh Penggunaan Modul Pembelajaran Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan.

Ramdani, Yani. 2012. Pengembangan Instrumen dan Bahan Ajar Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi, Penalaran, dan Koneksi Jurnal Penelitian Pendidikan.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:

Alfabeta.