SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah di SMK Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017: Studi Kasus SMKN 4 Malang

Amey Karimatul Fadhilah

Abstrak


Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah di SMK Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017: Studi Kasus SMKN 4 Malang

Amey Karimatul Fadhilah, Joko Sayono, Yuliati

Ameykff@gmail.com

 

Abstrak

Kurikulum merupakan unsur penting dalam setiap bentuk dan model pendidikan. Sejalan dengan perkembangan pendidikan yang terus meningkat pada semua jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia. Indonesia sekarang menggunakan Kurikulum 2013 Revisi 2017. Fokus pembahasan dalam artikel ini pertama adalah pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia yang meliputi perencanaan, proses pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.  Kedua faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Proses penelitian dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran dan melakukan wawancara dengan subyek penelitian yaitu peserta didik dan guru di SMK N 4 Malang. Data yang diperoleh akan dipaparkan kemudian dilakukan analisis untuk menjawab fokus penelitian. Berdasarkan hasil analisis data, kesimpulan yang diperoleh adalah pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK N 4 Malang berlangsung baik dan sudah mengacu terhadap peraturan mengenai Kurikulum 2013 Revisi 2017. Faktor pendukung banyak diperoleh dari fasilitas dan media pembelajaran yang tersedia, dan faktor penghambat mengenai alokasi waktu dan banyaknya penilaian autentik yang harus dilakukan guru subyek.

 

Abstrack

The curriculum is an important element in every form and model of education. In line with the development of education which continues to increase in all types and levels of education in Indonesia. Indonesia now uses the 2013 Revised Curriculum 2017. The focus of the discussion in this article first is the implementation of learning Indonesian History which includes planning, implementation processes, and assessment of learning. Both supporting factors and obstacles to the implementation of learning Indonesian History. This study uses descriptive qualitative methods. The research process is carried out by observing the learning process and conducting interviews with the research subjects, namely students and teachers in Malang N 4 Vocational School. The data obtained will be presented and then analyzed to answer the research focus. Based on the results of data analysis, the conclusions obtained are that through the research instrument, it can be seen that the implementation of Indonesian History learning in Malang Vocational High School 4 is good and has referred to the revised 2017 Curriculum 2013. inhibitors regarding the allocation of time and the number of authentic evaluations that the subject teacher must do.

Kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang berarti berlari dan currere yang artinya tempat berpacu (Idi, 2017:183). Dalam bahasa Latin ”curriculum” semula berarti a running course, or race course, especially a chariot race course dan terdapat pula dalam bahasa Prancis ”courier” artinya “to run, berlari”. Kemudian istilah itu digunakan untuk sejumlah “courses” atau matapelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah (Nasution, 2003:9). Dalam bahasa Arab, kurikulum diartikan dengan manhaj, yakni jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupan dan kemudian diterapkan dalam bidang pendidikan (Raharjo, 2012: 16). UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menjelaskan kurikulum sebagai sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan.

Sejak Indonesia merdeka, pendidikan telah mengalami berbagai perubahan dan perbaikan kebijakan kurikulum. Dalam sejarah kurikulum di Indonesia paling tidak telah mengalami sebelas kali dinamika perubahan. Dimulai dari masa prakemerdekaan dengan bentuk yang sangat sederhana, dan masa kemerdekaan yang terus menerus disempurnakan yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan tahun 2017. Berbagai kebijakan perubahan kurikulum tersebut didasarkan pada hasil analisis, evaluasi, prediksi dan berbagai tantangan yang dihadapi baik internal maupun eksternal yang terus berubah. Dalam konteks ini kurikulum sebagai produk kebijakan bersifat dinamis, kontekstual, dan relatif. Oleh karenanya prinsip dasar dalam kebijakan kurikulum adalah change and continuity yaitu perubahan yang dilakukan secara terus menerus.

Kebijakan perubahan Kurikulum 2013 Revisi 2017 merupakan sebuah ikhtiar dan wujud dari prinsip dasar kurikulum change and continuity tersebut, yaitu hasil dari kajian, evaluasi, kritik, respon, prediksi, dan berbagai tantangan yang dihadapi. Kurikulum 2013 Revisi 2017 diyakini sebagai kebijakan strategis dalam menyiapkan dan menghadapi tantangan dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Kebijakan kurikulum 2013 Revisi 2017 akan mampu memerankan fungsi penyesuaian  (the adjusted or adaptive function), yaitu kurikulum yang mampu mengarahkan peserta didiknya mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang terus berubah. Kurikulum 2013 mengintegrasikan tiga ranah kompetensi yaitu sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang dalam implementasinya terangkum dalam Kompetensi Inti.

Revisi Kurikulum 2013 tahun 2017 tidak terlalu signifikan, namun perubahan difokuskan untuk meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurikulum 2013 Revisi 2017, yang dibuat harus muncul empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS sehingga perlu kreatifitas guru dalam meramunya (Kurniasih & Sani, 2014:42). Pada Kurikulum 2013 Revisi 2017 alokasi waktu matapelajaran Sejarah Indonesia menjadi 108 jam, yang hanya diperoleh di kelas X dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran dalam satu minggu.

SMK Negeri 4 Malang adalah salah satu sekolah menengah kejuruan negeri yang melaksanakan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dan merupakan salah satu sekolah percontohan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 di kota Malang. Selain itu, SMKN 4 Malang memenuhi amanat Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan yang berfungsi mencapai tujuan pendidikan nasional pada umumnya, dan tujuan pendidikan sekolah pada khususnya.

Diterapkannya Kurikulum 2013 Revisi 2017 berdampak terhadap matapelajaran Sejarah Indonesia di SMK. Terdapat perubahan alokasi waktu matapelajaran Sejarah Indonesia menjadi 108 jam pelajaran, yang hanya diperoleh di kelas X dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran dalam satu minggu. Sekolah kejuruan mempersiapkan peserta didik untuk bisa bersaing di dunia kerja dan industri. Hal ini berimbas kepada minimnya pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK, terbukti dari alokasi waktu yang disediakan.

Permasalahan muncul ketika pembelajaran normatif dan adaftif, seperti Sejarah Indonesia juga harus disampaikan ketika peserta didik sedang Praktek Kerja Industri. Selama ini peserta didik hanya diberi tugas untuk dikerjakan ditempat industri, dan mengumpulkan hasilnya ketika ada waktu luang atau kosong dari industri. Hal ini tidak bisa berlangsung dengan efektif karena keterbatasan waktu dan jarak antara sekolah dengan dunia industri. Menurut Grafura & Wijayanti (2014:101) orientasi pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK selama ini hanya untuk kepentingan mendapatkan nilai tinggi bukan untuk menanamkan nasionalisme. Terlebih di sekolah kejuruan yang sebagian besar substansi materinya difokuskan kepada matapelajaran produktif.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih menekankan kepada usaha menelaah fenomena sosial secara wajar dan alami melalui wawancara, observasi, maupun dokumentasi (Wiyono, 2007:7). Penelitian kualitatif memiliki kedalaman bahasan yang tidak terbatas. Penelitian ini menggunakan pendeketan kualitatif dengan format deskriptif. Penelitian deskriptif pada umumnya bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat dan tidak memerlukan hipotesis karena hanya bertujuan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif pada penelitian ini dipilih dengan pertimbangan agar mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata dalam pengumpulan fakta mengenai pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia, faktor pendukung dan faktor penghambatan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK N 4 Malang.

Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Indonesia Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMK N 4 Malang

Pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia terbagi menjadi tiga ranah, yaitu perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran.

 

Perencanaan Proses pembelajaran

Guru melakukan perencanaan pembelajaran yang mengacu kepada silabus yang dikembangkan oleh SMKN 4 Malang. RPP dikembangkan dari silabus dan bertujuan untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi. RPP yang dibuat oleh guru subyek sejumlah 13 RPP untuk satu tahun dengan rincian satu KD dalam satu RPP. Hal tersebut sudah sesuai dengan silabus, karena di silabus terdapat 13 KD untuk Sejarah Indonesia.

Peneliti dalam penelitian mengambil semester genap saja. Semester genap terdapat tujuh RPP dan tujuh KD. Ada ketidaksamaan antara alokasi waktu yang tertera di RPP dengan silabus. Dalam silabus dijelaskan untuk KD 3.11 memiliki alokasi waktu 6 JP, sedangkan di RPP guru subyek menggunakan 12 JP.  Hal tersebut dikarenakan dalam RPP KD 3.11 guru melakukan empat kali pertemuan, satu kali pertemuan terdapat 3 JP, 3 JP x 4= 12 JP. Pada KD 3.11 dilakukan sebanyak empat kali pertemuan dikarenakan materi yang disajikan luas dan butuh pemahaman yang lebih, selain itu guru menggunakan model pembelajaran diskusi yang membutuhkan banyak alokasi waktu untuk peserta didik dapat memecahkan masalah hingga mempresentasikam hasil diskusi tersebut. Hal tersebut juga mempengaruhi pekan efektif yang terdapat di pembelajaran. Terdapat 19 pekan efektif yang harus ditempuh oleh peserta didik degan 13 KD, banyaknya pekan efektif berpengaruh kepada pertemuan setiap KD yang akan di sampaikan kepada peserta didik.

Pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 harus mengacu pada pedoman proses pembelajaran sesuai dengan Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 Tentang Standart Nasional Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan. Proses pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Malang sudah terlaksana dengan baik. Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara mandiri bersama ketiga guru subyek lainnya. RPP guru sudah mengacu pada ketentuan dalam Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 tentang Pedoman Umum Pembelajaran.

Peneliti menggunakan rubrik penilaian penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dalam mengaji dokumen RPP narasumber. Peneliti dalam mengaji salah satu narasumber menggunakan 21 deskriptor, dan 20 deskriptor mendapatkan skor maksimal, sedangkan satu deskriptor belum mendapat skor maksimal. Deskriptor yang belum memperoleh skor maksimal adalah kunci jawaban dan pedoman penskoran dinyatakan dengan jelas. Dalam deskriptor tersebut yang dinyatakan dengan jelas hanya pedoman penskoran, sedangkan kunci jawaban tidak tersedia.

Tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru subyek dalam RPP KD 3.11 sudah mencakup rumus ABCD yaitu audience, behaviour, conditions, dan degree.

Dalam perumusan IPK harus sesuai dengan rumus SMART yaitu specific, measurable, achievable, reliable, dan timely. IPK yang disajikan guru belum memenuhi salah satu aspek yaitu timely, tidak ada penjelasan perhitungan waktu yang mencukupi dan jelas batasannya dalam kalimat indikator pencapaian kompetensi. IPK tersebut dibuat oleh guru subyek sama dengan yang tertera di silabus. Guna menunjang proses pembelajaran Sejarah Indonesia guru subyek menggunakan buku pegangan, media pembelajaran/alat peraga, dan sumber belajar. Dalam penerapannya dari ketiga hal tersebut media pembelajaran/alat peraga adalah hal yang jarang di gunakan saat proses pembelajaran. Dikarenakan guru subyek tidak mempersiapkan media pembelajaran dengan baik, mereka hanya menggunakan powerpoint untuk menyampaikan materi. Keterbatasan waktu memungkinkan guru untuk tidak bisa membuat media pembelajaran yang rumit, contohnya seperti video dan maket.

Evaluasi atau penilaian di Kurikulum 2013 Revisi 2017 menggunakan standart Higher Order Thinking Skills (HOTS). High order thinking skills akan terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi baru dengan infromasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan mengaitkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan.

Kegiatan inti guru sudah melakukan kegiatan dengan HOTS, guru melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik yaitu 5M. Metode ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan.  Soal-soal yang disajikan guru subyek belum memenuhi syarat HOTS karena belum menggunakan taksonomi bloom hingga ke C4. Hal tersebut dikarenakan guru subyek memiliki banyak pilihan soal ketika disajikan di kelas, dan melihat pemahaman peserta didik sebelum memberikan penilaian. guru subyek hanya melakukan penilaian dengan cara tes tulis, tes lisan, dan unjuk kerja atau proyek.

 

Pelaksanaan Proses Pembelajaran Sejarah Indonesia

Peneliti membagi tiga kegiatan dalam proses pembelajaran Sejarah Indonesia yaitu apersepsi atau pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup atau evaluasi. Pada setiap kegiatan apersepsi, guru membangun minat belajar peserta didik dan membuka kembali wawasan peserta didik tentang pembelajaran sebelumnya. Pada kegiatan apersepsi lebih ditekankan pada eksplorasi peserta didik untuk mengetahui materi yang akan disampaikan dengan mengaikatkan di kehidupan sehari-hari dan mengingat sedikit materi sebelumnya agar peserta didik tidak lupa. Guru dalam kegiatan ini menyampaikan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik, metode pembelajaran yang akan digunakan, bahkan guru bisa menjelaskan proses penilaian yang akan dilakukan terhadap peserta didik.

Pada penelitian ini ditemukan kegiatan awal pembelajaran atau apersepsi yaitu, pertama guru subyek memberikan ucapan salam dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing dan guru melakukan presensi peserta didik. Kedua, guru berbincang-bincang dengan peserta didik untuk menciptakan suasana yang nyaman dan untuk menarik perhatian peserta didik sebelum penyampaian materi. Ketiga, guru memberikan pertanyaan tingkat dasar untuk memancing daya ingat peserta didik atas materi sebelumnya, dan keempat guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang akan dipelajari. Kegiatan apersepsi yang dilakukan oleh tiga guru subyek sudah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tertulis dalam RPP. Pada kegiatan apersepsi lebih ditekankan pada eksplorasi peserta didik untuk mengetahui materi yang akan disampaikan dengan mengaikatkan di kehidupan sehari-hari dan mengingat sedikit materi sebelumnya agar peserta didik tidak lupa. Guru dalam kegiatan ini menyampaikan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik, metode pembelajaran yang akan digunakan, bahkan guru bisa menjelaskan proses penilaian yang akan dilakukan terhadap peserta didik. Menurut Marno & Idris (2014:76) membuka pelajaran dilakukan tidak hanya pada setiap awal pelajaran, tetapi pada setiap penggal awal dan akhir pelajaran setiap kali beralih ke hal baru atau topik baru.

Pada kegiatan inti yang dilakukan oleh guru subyek penelitian menunjukkan cara yang berbeda sesuai dengan karakteristik guru. Peneliti melakukan observasi sebanyak tiga kali di setiap kelas. Tiga guru subyek menggunakan model diskusi dan kerja kelompok, serta hasil dari diskusi tersebut dipresentasikan antar kelompok supaya kelompok lain saling memahami materi dan memberi respon balik serta membuat pertanyaan yang harus di jawab oleh seluruh peserta didik. Kegiatan lain guru subyek lebih menekankan pada penyampaian materi menggunakan media film kemudian diskusi dan kerja kelompok untuk peserta didik, proses diskusi dan kerja kelompok dilakukan di lobby sekolah. Hasil dari observasi selama februari hingga maret dalam disimpulkan guru subyek melakukan pembelajaran menggunakan 5M, dengan rincian sebagai berikut, Mengamati, guru menjelaskan materi dan menampilkan sebuah gambar. Menanya, Guru mendorong agar para peserta didik bertanya tentang gambar atau foto-foto tersebut guru memberi komentar tentang beberapa pertanyaan yang muncul, untuk kemudian mengaitkan dengan pembahasan topik pembelajaran, kemudian Menalar, guru membagi kelas menjadi dua sampai empat kelompok besar dan memberikan permasalahan yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Mencoba Guru memberikan pengantar untuk memperjelas dari tayangan gambar  Setiap kelompok mendapatkan tugas melakukan eksplorasi dan mengasosiasi melalui diskusi kelompok untuk menemukan jawaban sesuai dengan topik yang sudah dibagikan disetiap kelompok, yang terakhir adalah Mengkomunikasikan, dalam mengkomunikasikan Tiap-tiap peserta didik yang mendapat tugas yang sama kemudian berkumpul untuk saling membantu mengkaji dan merumuskan materi yang menjadi tanggung jawabnya, lantas peserta didik melakukan presentasi hasil temuan masing-masing kelompok. Pada saat kelompok tertentu presentasi kelompok yang lain dapat bertanya, masing-masing mendapat giliran.

Kegiatan penutup merupakan kegiatan akhir pembelajaran, biasanya dilakukan guru dengan cara membuat kesimpulan dari pembelajaran yang sudah berlangsung. Pada kegiatan penutup, guru subyek memberikan umpan balik berupa pertanyaan kepada peserta didik terkait materi yang sudah dipelajari. Kemudian guru dengan peserta didik membacakan kesimpulan dari proses pembelajaran. Selain itu guru juga memberikan penjelasan terhadap materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya dan memberikan tugas rumah kepada siswa. Pada kegiatan penutup, guru menjadi penengah memberikan ulasan singkat tentang materi yang baru saja didiskusikan, guru dapat menanyakan apakah peserta didik sudah memahami materi tersebut. Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran dan pelajaran apa yang diperoleh. Guru memberikan kesimpulan dan memberikan tugas untuk pertemuan minggu berikutnya selain itu guru juga memberikan penjelasan terhadap materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya dan memberikan tugas rumah kepada siswa. Tugas yang diberikan oleh guru merupakan tindak lanjut dari pembelajaran inti atau pembentukan kompetensi, yang berkenaan dengan materi standar yang telah dipelajari maupun yang akan dipelajari berikutnya (Mulyasa, 2013:129).

Melakukan penutup guru kurang memberi dorongan psikologi atau sosial, hal tersebut dapat dilakukan dengan memuji hasil yang dicapai oleh peserta didik dengan memberikan pujian maupun hadiah, dan mendorong untuk lebih semangat belajar mencapai kompetensi yang lebih tinggi dengan menunjukkan pentingnya materi yang dipelajari.

Kegiatan penutup yang dilakukan oleh ketiga guru sudah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah

 

Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan, guru melakukan sebagai  berikut.

1.melakukan refleksi seluruh rangkaian aktivitas

pembelajaran, hasil dan manfaat yang diperoleh;

2.memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil

pembelajaran;

3.merencanakan kegiatan tindak lanjut; dan

4.menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk

pertemuan berikutnya. (Permendikbud 34 tahun 2018:7)

 

Penilaian Proses Pembelajaran

Penilaian pengetahuan dilakukan dalam dua bentuk, yakni tes tulis dan tes lisan. Tes tulis dilakukan dalam model essai. Penilaian pengetahuan yang dilakukan oleh ketiga guru subyek sudah disertakan pedoman penskoran. Penilaian sikap, beliau menggunakan teknik observasi perilaku, dan pedoman penskoran tidak disertakan. Dalam penilaian menggunakan lembar pengamatan, pada saat dilakukan diskusi guna menilai siswa. Pedoman penskoran tidak disertakan dalam lembar pengamatan. Penilaian keterampilan, dilakukan dalam bentuk penilaian proyek, dimana siswa diberikan tugas membuat keterampilan dan akan dipasang di majalah dinding sekolah. Pedoman penskoran tidak disertakan dalam penilaian proyek tersebut, beliau juga melakukan penilaian menggunakan remedial dan pengayaan tetapi tidak disertakan pedoman penskoran. Guru subyek sudah melakukan penilaian berdasarkan KD yang tersaji, berdasarkan KD guru akan menentukan melakukan penilaian menggunakan tes lisan, tes tulis, ataupun unjuk kerja/proyek. Tes tulis harus berupa beberapa soal yang harus merunjuk kepada KD ataupun IPK. Guru subyek melakukan penilaian berupa perbaikan dan pengayaan jika terdapat peserta didik yang mendapat nilai kurang, dalam poin-poin diatas guru telah melakukan penilaian dengan cara kuis dan pengamatan, tetapi tidak melakukan penilaian diri dan penilaian antar teman.

Dari pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh guru subyek, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melakukan penilaian terhadap siswa, guru membagi dalam tiga ranah penilaian yakni, penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses penilaian, setiap guru memiliki cara dan strategi sendiri dalam melakukan penilaian. Proses penilaian yang dilakukan oleh guru sudah terintegrasi dengan RPP, namun dalam beberapa kegiatan seperti diskusi dan presentasi dalam RPP semua guru subyek tidak disertakan lembar pedoman penskoran meskipun di dalam kelas guru menggunakannya.

 

Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran Sejarah Indonesia Berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMKN 4 Malang

Pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia di SMK N 4 Malang tidak terlepas dari faktor pendukung dan penghambat. Berdasarkan pemaparan data fasilitas di SMKN 4 Malang tergolong baik dan mendukung dikarenakan sesuai dengan indikator yang ada, LCD dan proyektor sering digunakan dalam proses pembelajaran, bahkan terdapat laboratorium yang berisi replika tengkorak manusia purba yang menjadi faktor pendukung dalam proses pembelajaran Sejarah Indonesia. Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia sudah sesuai dengan prinsip ACTION. Peta, video, lagu, gambar, dan LCD merupakan media pembelajaran yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga siswa akan terlibat aktif baik secara fisik maupun, intelektual dan mental. Dalam pelaksanaannya ketiga guru subyek belum memanfaatkan media pembelajaran dengan sistematis dan kontinu atau terus menerus dalam pembelajaran.

Faktor penghambat Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMKN 4 Malang di antaranya terlalu banyak penilaian yang harus dilakukan dan pengurangan jam pada matapelajaran normatif. Selaras dengan progam semester genap Sejarah Indonesia tahun 2018-2019 jumlah pekan efektif hingga distribusi alokasi waktu pada semester genap ini terdapat 19 pekan efektif dengan 57 JP setiap pekan. Ketika dilakukan analisis perencanaan alokasi waktu guru subyek sudah sesuai, terlihat dari tujuh KD pada semester genap dibagi dengan alokasi waktu 57 JP dan 19 pekan efektif. Selama observasi peneliti menemukan ketidaksesuaian antara perencanaan tersebut dengan pelaksanaan di dalam kelas, terdapat beberapa KD yang menambah alokasi waktu pertemuan. Hal tersebut dikarenakan terdapat hari libur nasional yang tidak terhitung di dalam kalender akademin dan progam semester genap yaitu libur Hari Buruh pada 1 Mei 2019. Tentunya itu menjadi faktor kurangnya alokasi waktu dalam pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia, karena tidak sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat oleh guru subyek.

Mengenai proses penilaian guru subyek tidak sistematis karena hanya menggunakan penilaian pengetahuan yang dilampirkan di RPP, sedangkan penilaian sikap dan keterampilan menyesuaikan peserta didik. Menurut Muslich (2011: 70-75) jenis-jenis penilaian autentik dalam pembelajaran yaitu, penilaian kinerja (Performance Assessment), penilaian evaluasi diri,  penilaian esai, penilaian portofolio, dan penilaian projek. Terlihat belum ada kesesuaian antara penilaian guru dengan indikator penilaian yang di tetapkan dalam penilaian autentik, hal tersebut dapat menjadi faktor penghambat pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia sudah sesuai dengan prinsip ACTION. Peta, video, lagu, gambar, dan lcd merupakan media pembelajaran yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga siswa akan terlibat aktif baik secara fisik maupun, intelektual dan mental. Dalam pelaksanaannya ketiga guru subyek belum memanfaatkan media pembelajaran dengan sistematis dan kontinu atau terus menerus dalam pembelajaran.

Faktor penghambat Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMKN 4 Malang di antaranya terlalu banyak penilaian yang harus dilakukan dan pengurangan jam pada matapelajaran normatif. Selaras dengan progam semester genap Sejarah Indonesia tahun 2018-2019 jumlah pekan efektif hingga distribusi alokasi waktu pada semester genap ini terdapat 19 pekan efektif dengan 57 JP setiap pekan. Jika dianalisis perencanaan alokasi waktu guru subyek sudah sesuai, terlihat dari tujuh KD pada semester genap di bagi dengan alokasi waktu 57 JP dan 19 pekan efektif. Selama observasi peneliti menemukan ketidaksesuaian antara perencanaan tersebut dengan pelaksanaan di dalam kelas, terdapat beberapa KD yang menambah alokasi waktu pertemuan. Hal tersebut dikarenakan terdapat hari libur nasional yang tidak terhitung di dalam kalender akademin dan progam semester genap yaitu libur Hari Buruh pada 1 Mei 2019. Tentunya itu menjadi faktor kurangnya alokasi waktu dalam pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia, karena tidak sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat oleh guru subyek.

Mengenai proses penilaian guru subyek tidak sistematis karena hanya menggunakan penilaian pengetahuan yang dilampirkan di RPP, sedangkan penilaian sikap dan keterampilan menyesuaikan peserta didik. Menurut Muslich (2011: 70-75) jenis-jenis penilaian autentik dalam pembelajaran yaitu, penilaian kinerja (Performance Assessment), penilaian evaluasi diri,  penilaian esai, penilaian portofolio, dan penilaian projek. Terlihat belum ada kesesuaian antara penilaian guru dengan indikator penilaian yang di tetapkan dalam penilaian autentik, hal tersebut dapat menjadi faktor penghambat pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia sudah sesuai dengan prinsip ACTION. Peta, video, lagu, gambar, dan lcd merupakan media pembelajaran yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga siswa akan terlibat aktif baik secara fisik maupun, intelektual dan mental. Dalam pelaksanaannya ketiga guru subyek belum memanfaatkan media pembelajaran dengan sistematis dan kontinu atau terus menerus dalam pembelajaran.

Faktor penghambat Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMKN 4 Malang di antaranya terlalu banyak penilaian yang harus dilakukan dan pengurangan jam pada matapelajaran normatif. Selaras dengan progam semester genap Sejarah Indonesia tahun 2018-2019 jumlah pekan efektif hingga distribusi alokasi waktu pada semester genap ini terdapat 19 pekan efektif dengan 57 JP setiap pekan. Jika dianalisis perencanaan alokasi waktu guru subyek sudah sesuai, terlihat dari tujuh KD pada semester genap di bagi dengan alokasi waktu 57 JP dan 19 pekan efektif. Selama observasi peneliti menemukan ketidaksesuaian antara perencanaan tersebut dengan pelaksanaan di dalam kelas, terdapat beberapa KD yang menambah alokasi waktu pertemuan. Hal tersebut dikarenakan terdapat hari libur nasional yang tidak terhitung di dalam kalender akademin dan progam semester genap yaitu libur Hari Buruh pada 1 Mei 2019. Tentunya itu menjadi faktor kurangnya alokasi waktu dalam pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia, karena tidak sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat oleh guru subyek.

Mengenai proses penilaian guru subyek tidak sistematis karena hanya menggunakan penilaian pengetahuan yang dilampirkan di RPP, sedangkan penilaian sikap dan keterampilan menyesuaikan peserta didik. Menurut Muslich (2011: 70-75) jenis-jenis penilaian autentik dalam pembelajaran yaitu, penilaian kinerja (Performance Assessment), penilaian evaluasi diri,  penilaian esai, penilaian portofolio, dan penilaian projek. Terlihat belum ada kesesuaian antara penilaian guru dengan indikator penilaian yang di tetapkan dalam penilaian autentik, hal tersebut dapat menjadi faktor penghambat pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Malang

 

PENUTUP

Berdasarkan penelitian dilakukan oleh peneliti mengenai pelaksanaan pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indonesia berbasis Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMK N 4 Malang tahun 2019 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Proses pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Malang sudah terlaksana dengan baik. Dalam perencanaan pembelajaran sudah mengacu kepada silabus yang dikembangkan oleh SMKN 4 Malang. RPP dikembangkan dari silabus dan bertujuan untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi. RPP yang dibuat oleh guru subyek sejumlah 13 RPP untuk satu tahun dengan rincian satu KD dalam satu RPP. Hal tersebut sudah sesuai dengan silabus, karena di silabus terdapat 13 KD untuk Sejarah Indonesia. Terdapat 26 pekan dalam satu semester, terdiri dari 19 pekan efektif dan tujuh pekan tidak efektif yang digunakan untuk ujian dan libur nasional maupun libur sekolah.  Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara mandiri bersama ketiga guru subyek lainnya. RPP guru sudah mengacu pada ketentuan dalam Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 tentang Pedoman Umum Pembelajaran. Dapat diketahui bahwa tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru subyek dalam RPP sudah mencakup rumus ABCD yaitu audience, behaviour, conditions, dan degree, sedangkan dalam perumusan IPK harus sesuai dengan rumus SMART yaitu specific, measurable, achievable, reliable, dan timely. IPK yang disajikan guru belum memenuhi salah satu aspek yaitu timely, tidak ada penjelasan perhitungan waktu yang mencukupi dan jelas batasannya dalam kalimat indikator pencapaian kompetensi. Guru di dalam proses pembelajaran Sejarah Indonesia sudah menggunakan pendekatan saintifik yaitu pendekatan 5 M (Mengamati, Menanya, Mencoba/Mengumpulkan data, Mengasosiasi, dan Mengkomunikasikan) sudah terlaksana dan terlampir dalam RPP ketiga guru subyek, guru sudah memposisikan diri sebagai fasilitator ketika pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan buku pegangan sesuai dengan anjuran Kemendikbud, dan media pembelajaran berupa peta, video, lagu, gambar, dan LCD. Sumber belajar yang digunakan untuk membantu peserta didik belajar berupa buku, internet, dan e-book. Kegiatan penutup yang dilakukan oleh ketiga guru sudah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan, dalam melakukan penutup guru kurang memberi dorongan psikologi atau sosial, dan hanya dilakukan di awal pembelajaran sebagai pembuka pembelajaran. Proses penilaian atau evaluasi guru sudah mengacu pada ketentuan dalam Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 Tentang Standar Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan, akan tetapi proses penilaian autentik belum terlaksana secara komprehensif, karena guru tidak melampirkan pedoman penskoran sikap, evaluasi diri, dan keterampilan.

Sarana dan prasarana yang ada sudah mendukung proses pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017. LCD proyektor, Wi-Fi, buku paket, ruang kelas yang memadai dan perpustakaan dengan koleksi buku Sejarah Indonesia yang lengkap sudah menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 di SMKN 4 Malang. Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia sudah sesuai dengan prinsip ACTION. Peta, video, lagu, gambar, dan lcd merupakan media pembelajaran yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga siswa akan terlibat aktif baik secara fisik maupun, intelektual dan mental. Dalam pelaksanaannya ketiga guru subyek belum memanfaatkan media pembelajaran dengan sistematis dan kontinu atau terus menerus dalam pembelajaran, contohnya dalam penggunaan video, guru jarang menampilkan video saat proses pembelajaran. Meskipun sudah menerapkan Kurikulum 2013 Revisi 2017 selama lima tahun bukan berarti tidak menemui kendala. Terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 Revisi 2017 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia di SMKN 4 Malang, faktor tersebut yakni mengenai guru yang mengeluhkan kurangnya alokasi waktu dalam pembelajaran sehingga materi yang diberikan kurang maksimal, hal tersebut bisa terjadi jika perencanaan alokasi waktu yang telah dibuat tidak sesuai dengan pelaksanaan di dalam kelas, terdapat 19 pekan efektif, yang sudah selaras dengan alokasi waktu yang digunakan yaitu 57 JP. Kalender pendidikan, progam semester, dan rencana pekan efektif telah sesuai, terdapat hari libur nasional yang tidak masuk ke dalam progam semester menjadi salah satu faktor mundurnya alokasi waktu pembelajaran dan akan menghambat proses pembelajaran hingga dirasa alokasi waktu kurang untuk menyampaikan materi.  Terlalu banyak penilaian yang harus di lakukan sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013 Revisi 2017 juga menjadi faktor penghambat, karena terlihat belum ada kesesuaian antara penilaian guru dengan indikator penilaian yang di tetapkan dalam penilaian autentik, guru hanya melakukan penilaian dari aspek pengetahuan dan keterampilan.

 

Daftar Pustaka

Grafura, Lubis & Ari Wijayanti. 2014. Strategi Implementasi Pendidikan Sesuai Kurikulum 2013 di Jenjang SMK. Jakarta: Pustakarya

Marno, & M. Idris. 2014. Strategi, Metode & Teknik Mengajar. Yogyakarta:Arruz Media

Mulyasa, E. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2011. Authentik Assesment (Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi). Bandung: Refika Aditama

Nasution, N. 2003. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Citra Aditya Bakti

Idi, A. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Yogyakarta: Ruzz Media

Raharjo, R. 2012. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta: Baituna Publishing

Tim Pengembang MKDP. 2012. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali

Wiyono, B. 2007. Metodologii Penelitian. Malang. FIP Universitas Negeri Malang.