SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

MODEL PEMBELEJARAN KREATIF DAN PRODUKTIF UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR SISWA DI SMK MUHAMMADIYAH WATULIMO TRENGGALEK PADA POKOK BAHASAN PERSEBARAN MANUSIA TAHUN AJARAN 2017/2018

FIKRI ROCHMAN HAKIM

Abstrak


MODEL PEMBELEJARAN KREATIF DAN PRODUKTIF  UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR SISWA DI SMK MUHAMMADIYAH WATULIMO TRENGGALEK PADA POKOK BAHASAN PERSEBARAN MANUSIA TAHUN AJARAN 2017/2018

Fikri Rochman H Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang

Fikrirochmanhakim30@gmail.com

 

Abstrak: Sekolahan memang banyak sekali berbagai model pembelajaran yang dapat di manfaatkan oleh guru dalam proses pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang dapat di manfaatkan adalah model pembelajaran kreatif dan produktif. Dalam proses pembelajaran di lembaga formal maupun informal diperlukan model pembelajaran untuk memper mudah pemahaman siswa terhadap materi yang di ajarkan oleh guru. Dalam hal ini model pembelajaran kreatif dan produktif  di harapkan mampu membatu guru untuk mempermudah penyampaian materi dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kususnya pada pokok pembahasan persebaran manusia Dalam proses pembelajaran ada beberapa hal yang saling berkaitan yaitu guru, siswa, materi pembelajaran,serta metode pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan metode-metode yang dapat di pakai untuk mencapai tujuan belajar. Metode pembelajaran itu bisa berupa ceramah, diskusi, tanya jawab, ceramah, demonstrasi, latihan, perancangan, percobaan, pembelajaran jingsaw, mengajar beregu dan contextual teaching and learning.

 

Kata Kunci: kelas sekolahan, metodebelajar, pembelajaran sejarah

 

Abstract: School is indeed a lot of various learning models that can be utilized by the teacher in the learning process, one of the learning models that can be utilized is creative and productive learning models. In the learning process in formal and informal institutions a learning model is needed to facilitate students' understanding of the material taught by the teacher. In this case the creative and productive learning model is expected to be able to help teachers to facilitate the delivery of material and to improve student learning outcomes specifically on the subject matter of human distribution. In the learning process there are several interrelated things namely teacher, students, learning materials, and learning methods. Learning methods are methods that can be used to achieve learning goals. Learning methods can be in the form of lectures, discussions, question and answer, lectures, demonstrations, exercises, design, experiments, jingsaw learning, team teaching and contextual teaching and learning

 

PENDAHULUAN

Kegiatan utama dalam proses pendidikan di sekolah adalah kegiatan belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang dilakukan merupakan penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Sesuai dengan Undang-undang sistem pembelajaran bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Munib, 2009 : 33).

Keberhasilan dalam proses belajar mengajar disekolah tergantung kepada beberapa aspek yaitu sarana prasarana, guru, siswa dan metode pembelajaran yang diajarkan. Aspek yang dominan dalam proses belajar mengajar adalah guru dan siswa. Kegiatan yang dilakukan guru dan siswa dalam hubungannya dengan pendidikan disebut kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai motivator  dan fasilitator sedangkan siswa sebagai penerima informasi yang diharapkan dapat lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Daya upaya yang dilaksanakan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka dalam proses belajar mengajar, guru harus mampu merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi hasil belajar siswa. Dalam kegiatan  ini  guru  harus  bisa  menciptakan  situasi  yang  memungkinkan pembelajaran menjadi aktif dan efektif. Selain itu guru juga dapat berperan sebagai pengelola kelas agar dapat menciptakan pembelajaran aktif, efektif dan menyenangkan. Kedua peran tersebut dalam pembelajaran saling mendukung.

Model pembelajaran yang terkesan mengejar target waktu dengan model tagihan (evaluasi belajar) yang masih sering memakai model jawab singkat, hal ini sering dijadikan pembelajaran klasik terjadi di kelas. Berdasarkan hasil ulangan yang pernah dilaksanakan, upaya-upaya meningkatkan prestasi peserta didik  tersebut  ternyata  belum  berhasil  secara  optimal  sebagaimana  yang ditargetkan dalam SKM sekolah 75, artinya siswa dikatakan tuntas belajar sejarah jika nilai ulangan lebih besar atau sama dengan 75.

Dalam pengajaran sejarah, metode dan pendekatan serta model yang telah dipilih merupakan alat komunikasi yang baik untuk pengajar dan siswa, sehingga setiap pengajaran, dan setiap uraian sejarah yang disajikan dapat memberikan motivasi belajar (Kasmadi, 2001: 2). Pengajaran sejarah menghendaki pemecahan suatu masalah dengan memberikan peluang kepada siswa untuk melahirkan banyak gagasan dan pertanyaan yang bersifat analitis. Prinsip pengajaran sejarah yang mendasar yaitu keterbukaan dan dialogis.  

Permasalahan yang  muncul dapat dijadikan rumusan sebagai berikut (1)Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kreatif dan produktif di kelas X KGSP A di SMK Muhammadiyah Watulimo Trenggalek? (2) Bagaimanakah hasil belajar dengan penerapan model pembelajaran kreatif dan produktif di kelas X KGSP A di SMK Muhammadiyah Watulimo Trenggalek ?

 

METODE PENELITIAN

Pada penelitian tindakan kelas ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Akbar, (2009: 28) antara lain: (1) menyusun rencana (planning), (2) pelaksanaan rencana kegiatan (acting), (3) observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Model ini tampak masih begitu dekat dengan model yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin, yang juga meliputi empat aspek tersebut di atas. Hanya saja pada model Kemmis & Mc. Taggart sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. “PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang…” (Arikunto, 2010: 73). Bersiklus artinya berdaur atau berputar dan berulang artinya siklus ini bisa dilaksanakan berulang-ulang mengikuti setiap tahapnya sampai peneliti merasa puas terhadap penelitiannya.

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini kehadiran peneliti yang bekerjasama dengan guru bidang studi lapangan, dalam hal ini peneliti menemui Guru Sejarah sangat diperlukan. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru pendidikan Sejarah, dan peran guru sebagai teman sejawat bertindak sebagai pengamat. Peneliti dan Guru Sejarah terlibat langsung dalam merencanakan tindakan, melakukan tindakan, observasi, refleksi, pengumpulan data dan analisis data.Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Watulimo Trenggalek di desa Margomulyo Kecamatan Watu Limo. Penelitian ini khusus meneliti hanya pada kelas kelas X KGSP A saja dengan dengan materi asal-usul persebaran manusia di Indonesia pada tahun ajaran 2017/2018.

Subyek penelitian yang digunakan yaitu siswa kelas X KGSP A. Subyek berjumlah 36 siswa. Data penelitian ini adalah pembelajaran sejarah pada materi asal-usul persebaran manusia di indonesia. Pengambil data (observer) dalam penelitian ini adalah peneliti dan guru sejarah sebaagai guru praktikkan. Data diperoleh dengan observasi pada saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi awal diperoleh informasi dan temuan bahwa guru masih cenderung menggunakan ceramah sebagai model pembelajaran yang dominan dengan jenis tagihan (evaluasi belajar) yang masih sering memakai jawab singkat, hal ini sering dijadikan alasan klasik terjadi di kelas X KGSP A  di SMK Muhammadiyah Watulimo Trenggalek. Peneliti mendapati guru mengajar secara monoton yaitu bercerita dan berceramah saja serta sedikit-sedikit menerangkan apa yang ada dalam buku. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam PTK ini adalah sebagai berikut. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi (Arikunto, 2002: 198). Pada penelitian ini menggunakan tes tindakan, berupa praktek melakukan tolak peluru dengan teknik gaya menyamping untuk mengetahui penguasaan teknik tolak peluru pada siswa di kelas X KGSP A  di SMK Muhammadiyah Watulimo Trenggalek.

Catatan lapangan pada penelitian ini digunakan untuk merekam seluruh kegiatan pembelajaran yang meliputi suasana pembelajaran, aktivitas guru, dan aktivitas siswa. Menurut Bodgan dan Biklen (dalam Moleong 2005: 209) catatan lapangan catatan tertulis apa yang di dengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Isi catatan lapangan berupa kejadian-kejadian yang terjadi selama proses pembelajaran. Kegiatan ini digunakan untuk merekam aktivitas yang tidak bisa terekam melalui lembar observasi. Pada penelitian ini menggunakan dokumentasi tertulis untuk mempermudah pengamatan proses dan hasil pembelajaran, yang berupa lembar observasi penilaian proses dan hasil pembelajaran serta foto dalam proses penelitian. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah RPP guru sejaran dengan materi asal-usul persebaran manusia di Indonesia. Selain RPP peneliti juga merekam aktivitas siswa berupa foto. Model observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi sistematis karena menggunakan pedoman sebagai instrumen penelitian. Pedoman yang dimaksud adalah pedoman observasi yang berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Observasi  dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Hasil pelaksanaan tindakan kelas yang meliputi data tes dan non tes. Data tes berupa hasil tes evaluasi yang diberikan kepada siswa.

Wawancara digunakan untuk memenuhi kekurangan atau kelebihan pada saat proses pembelajaran dan sebagai pedoman untuk melakukan refleksi.

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka teknik analisis data ditinjau dari segi pelaksanaan pembelajaran, metode pembelajaran serta intensitas pembelajaran maka data yang tekumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif persentase.Teknik ini digunakan untuk mengetahui jumlah perbandingan skor dari masing-masing variabel pada proses pembelajaran.

 

P =

fx 100 %

(Sudijono, 1987: 40-41)

N

Keterangan:

P = persentase

f = frekuensi jawaban responden

N = jumlah seluruh responden

Setelah diketahui besar persentase dari suatu kegiatan, langkah selanjutnya yaitu mengkategorikan hasil analisis persentase tersebut ke dalam Tabel 3.1

Persentase Klasifikasi

76% - 100%

56% - 75%

40% - 55%