SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN OUTDOOR LEARNING BUS MACYTO UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI STRATEGI PERLAWANAN RAKYAT LOKAL MALANG UNTUK KELAS XI IPS 2 DI SMA NEGERI 4 MALANG

Afifah Rahmatika Furzaen

Abstrak


PENERAPAN OUTDOOR LEARNING BUS MACYTO UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI STRATEGI PERLAWANAN RAKYAT LOKAL MALANG UNTUK KELAS XI IPS 2 DI SMA NEGERI 4 MALANG

Afifah Rahmatika Furzaen, Dr. R. Reza Hudiyanto, M.Hum. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

E-mail: afifahrahmatika7@gmail.com, r.reza.fis@um.ac.id

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan outdoor learning Bus MACYTO dan mengukur peningkatan pemahaman materi sejarah lokal Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dengan satu siklus. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan dari hasil rata-rata kelas 57 menjadi 86 dan presentase ketuntasan klasikal pada pra siklus adalah 3% kemudian meningkat menjadi 88,23%. Berdasarkan hasil tersebut, penerapan Outdoor Learning Bus MACYTO dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pemahaman materi sejarah lokal Malang.

 

Kata Kunci: Outdoor Learning, Bus MACYTO, Pemahaman, Sejarah Lokal, Malang.

 

ABSTRACT: This study aims to determine the implementation of outdoor learning MACYTO Bus and to measure the increase in understanding of Malang's local history material. This study uses a classroom action research approach with one cycle. The results of the conducted research show an increase from the average grade 57 results to 86 and the classical completeness percentage in the pre cycle is 3% then increases to 88.23%. Based on these results, the application of outdoor learning MACYTO Bus can be a solution to increase understanding of Malang's local history material.

 

Keyword: Outdoor Learning, MACYTO Bus, Understanding, Local History, Malang.

Pendidikan merupakan hal yang penting. Pendidikan menjadi sesuatu yang penting karena adannya suatu bimbingan untuk mencapai suatu kemampuan yang utuh (Mardiatmadja, 1986:40). Pernyataan tersebut artinya manusia memerlukan suatu bimbingan untuk mencapai suatu kemampuan sempurna sehingga manusia harus berkembang. Dalam dunia pendidikan juga erat kaitanya dengan yang namanya  proses pembelajaran. Proses pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik (dosen, guru pamong belajar, tutor instruktur dan sebagainya) dan lingkungannya sehingga terjadi suatu perubahan perilaku yang lebih baik (Kurniadi, 2007:419).

Pendidikan juga sering dikaitkan dengan pembelajaran salah satunya pada pembelajaran sejarah. Menurut Widja (1989:23) pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang di dalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini. Pembelajaran sejarah harapannya dapat mengaitkan suatu peristiwa di masa lampau dengan masa kini dan peserta didik dapat mengambil pembelajaran berharga atau memaknai sesuatu hal dengan baik.

Pada kenyataanya, pembelajaran sejarah di sekolah terutama pada proses pembelajaran sejarah masih terdapat banyak permasalahan. Hal ini dibuktikan dengan yang disampaikan (Widja, 1989) yang mengemukakan jika diperhatikan pada praktek pengajaran di sekolah, terutama pembelajaran sejarah sering mendapat kesan bahwa sejarah itu tidak menarik dan sangat membosankan. Guru sejarah hanya menunjukkan fakta-fakta kering berupa urutan tahun dan peristiwa. Pembelajaran sejarah bagi peserta didik hanya mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Model dan teknik yang digunakan guru terkesan monoton dikarenakan guru memulai pelajaran dengan bercerita atau lebih tepat membacakan apa yang ada dalam buku ajar, dan akhirnya menutup pelajaran ketika bel akhir telah berbunyi.

Permasalahan dalam pembelajaran sejarah juga terjadi di SMA Negeri 4 Malang. Sekolah ini menerapkan sistem moving class atau kelasnya berpindahpindah. Berdasarkan eksplorasi awal pada tanggal 26 November 2018, pihak Tata Usaha di SMA Negeri 4 Malang menyampaikan bahwa SMA Negeri 4 Malang memiliki keterbatasan ruangan. Artinnya, pembelajaran dilakukan ada yang di Gazebo, Lapangan, dan sebagainya. Berdasarkan eksplorasi awal tersebut, peneliti mendalami permasalahan dengan cara wawancara kepada salah satu guru sejarah yaitu Ibu Intan. Beliau juga mengemukakan bahwa SMA Negeri 4 Malang mengalami keterbatasan ruangan yakni ada ruangan kelas yang sempit dan luas.  Ukuran ruangan kelas yang tidak sama tersebut menimbulkan permasalahan yang kompleks terkait sistem moving class diantaranya

(1) Peserta didik kurang fokus jika menempati ruangan sempit sehingga mudah bosan dalam proses pembelajaran,

(2) Kondisi yang tidak nyaman membuat peserta didik lebih memilih mengobrol dengan teman daripada mendengarkan penjelasan materi pembelajaran sejarah.

Berdasarkan berbagai materi yang ada dalam pelajaran sejarah (kelas XI), materi dalam KD 3.10 mengenai strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda merupakan materi yang menuntut peserta didik untuk mampu menganalisis strategi perlawanan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman Sekutu dan Belanda. Kompetensi dasar yang menyeluruh ini kemudian diturunkan dalam indikator pencapaian mengenai materi strategi dan bentuk perlawanan masyarakat lokal (Kota Malang) terhadap penjajahan Belanda. Hal ini didukung bukti bahwa masih banyak peserta didik di kelas XI IPS 2 yang tidak paham mengenai strategi dan bentuk perjuangan masyarakat kotanya sendiri.

Alasan peneliti menggunakan materi sejarah lokal Malang yaitu

(1) Peserta didik yang ada di Kota Malang dapat memahami mengenai sejarah lokal yang dibuktikan melalui aksi atau perlawanan rakyat Malang terhadap penjajahan Belanda,

(2) Sejarah lokal juga dekat dengan lingkungan sehari-hari peserta didik (bersekolah dan tinggal di Kota Malang),

(3) Peneliti juga memiliki ketertarikan pada materi sejarah lokal Malang karena Kota Malang merupakan kota kelahiran bagi peneliti.

Salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menggunaan Bus Malang City Tour (MACYTO) sebagai wahana transportasi wisata sejarah di Kota Malang. Harapanya agar model pembelajaran outdoor learning terus berinovasi kedepannya. Pemilihan lokasi penelitian di SMA Negeri 4 Malang yaitu

(1) Terdapat permasalahan yang sesuai dengan arah penelitian skripsi,

(2) SMA Negeri 4 Malang merupakan SMA yang punya akreditasi dan favorit di Malang,

(3) Lokasi SMA Negeri 4 Malang juga dekat dengan monumen perjuangan Tugu Malang atau kompleks Balai Kota yang termasuk materi penting dalam materi strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda,

(4) Lokasi SMA Negeri 4 Malang juga dekat dengan lokasi start dari Bus MACYTO.

Bus MACYTO (Malang City Tour) yang ada di Kota Malang sudah terkenal sejak peresmianya di tahun 2015 hingga tahun sekarang (2019). Bus MACYTO ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (Disbudpar). Lokasi start Bus MACYTO yang berada di Taman Rekreasi Kota Malang (TAREKOT) tidak jauh dari Balai Kota Malang yaitu di Jalan Simpang Majapahit. Bus Malang City Tour (MACYTO) memiliki jalur-jalur tertentu sehingga wisata sejarah tidak hanya terpaku dalam satu tempat saja atau semacam mini tour keliling.

Alasan peneliti menerapkan model outdoor learning dengan menggunakan Bus MACYTO ini adalah

(1) belum ada yang meneliti tentang pembelajaran sejarah dengan mini tour keliling yang melibatkan peserta didik di jenjang SMA untuk melakukan pembelajaran di luar ruang kelas,

(2) peneliti melihat kenyataan bahwa yang menaiki Bus MACYTO ini rata-rata adalah peserta didik TK (Taman KanakKanak) dan SD (Sekolah Dasar),

(3) Warga Malang sendiri banyak yang menaiki Bus MACYTO namun ada yang belum pernah menaiki bus tersebut disebabkan tidak mengetahui prosedur untuk menaiki bus ini ataupun hanya sekadar mengetahui keberadaan Bus MACYTO saja,

(4) Berdasarkan hasil eksplorasi awal di SMA Negeri 4 Malang tepatnya di kelas XI IPS 2, hanya sebagian peserta didik pernah naik Bus MACYTO.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas atau biasa disebut PTK. PTK adalah suatu kegiatan ilmiah yang berorientasi pada memecakan masalah-masalah pembelajaran melalui tindakan yang disengaja dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran (Ningrum, 2014:22). Wiriaatmadja (2005) dalam (Ningrum, 2014:23) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran dan belajar dari pengalaman tersebut.

Penelitian ini menggunakan model PTK dengan model spiral dari Kemmis dan Taggart (1988). Model Kemmis dan Taggart ini dipilih oleh peneliti dikarenakan mudah dipahami dari segi fokus langkah-langkahnya. Model Kemmis dan Taggart menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan langkah diantaranya:

1) rencana,

2) tindakan,

3) pengamatan,

4) refleksi, kemudian perencanaan kembali

(Ningrum, 2014:49). Akan tetapi, penelitian ini menggunakan satu siklus, dan setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Dua kali pertemuan berlangsung di dalam kelas dan satu kali pertemuan dilaksanakan di luar ruangan. Pembelajaran yang diterapkan dalam pertemuan ketiga ini yaitu Outdoor Learning dengan Bus MACYTO sebagai wahana transportasi sejarah yang ada di Kota Malang. Penelitian ini hanya menggunakan satu siklus dikarenakan hasil penelitian sudah mengalami peningkatan secara signifikan namun juga terkait pertimbangan administrasi dan waktu yang terbatas.

Peneliti juga merupakan instrumen utama peneliti bertindak sebagai perencana tindakan, pelaksana tindakan, pengumpulan data, dan pelapor hasil penelitian (Daryanto, 2011:80). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran peneliti sangat penting dan diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian. Peneliti akan meminta bantuan kepada teman yang membantu dalam penelitian untuk menjadi observer. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 4 Malang. Kelas XI IPS 2 ini merupakan kelas dengan proporsi 12 peserta didik lakilaki dan 22 peserta didik perempuan.

Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui empat hal yakni observasi dengan menggunakan catatan lapangan, wawancara, dokumentasi, dan tes. Teknik pengumpulan data yang keempat adalah tes yang pada umumnya bersifat mengukur dan dalam dunia pendidikan tes dibedakan menjadi dua hal yaitu tes hasil belajar dan tes psikologis (Sukmadinata, 2015:223). Peserta didik diberikan diberikan beberapa soal yang berlangsung di awal setiap siklus berupa pretest dan pada akhir setiap siklus diberikan soal berupa postest. Tes dalam penelitian ini berupa 10 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peningkatan pemahaman materi sejarah lokal Kota Malang terutama  strategi perlawanan rakyat lokal Malang pada peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang

Proses pembelajaran sejarah masih terdapat beberapa permasalahan. Salah satunya adalah sistem moving class atau perpindahan kelas pada saat pergantian jam pelajaran berdampak pada proses pembelajaran, secara khusus berdampak pada kondisi peserta didik yang kurang fokus saat berada di ruangan yang sempit, kondisi yang kurang nyaman sehingga membuat peserta didik lebih memilih mengobrol dengan teman daripada mendengarkan penjelasan materi pembelajaran. Permasalahan lainnya juga terletak pada materi sejarah yang kompleks dengan model pembelajaran hanya di dalam kelas membuat peserta didik merasa bosan dan mengantuk terbukti dari wawancara peneliti dengan salah satu peserta didik XI IPS 2 (NW) (transkrip wawancara terlampir). NW menjelaskan sebagai berikut.

“Kalau di dalam itu lebih ngantuk, Bu soalnya cerita terus. Kita cuma ndengerin doang. Malah kadang anak-anak itu gak nonton filmnya, Bu. Yaa banyak yang tidur”

Berdasarkan pernyataan tersebut, pembelajaran yang cenderung berada di dalam kelas membuat peserta didik merasa bosan walaupun sudah menggunakan cara-cara tertentu seperti bercerita dan menonton film di ruang kelas. Peneliti juga mendapatkan informasi dari peserta didik lainya bahwa kegiatan di dalam kelas cenderung monoton disebabkan hanya mengerjakan UKBM secara terus menerus. Tidak hanya mengerjakan UKBM namun peserta didik harus mampu mencapai beberapa pencapaian kompetensi yang didalamnya terdapat materi pembelajaran sejarah.

Suyadi dalam (Husamah, 2013:25) menjelaskan kekuatan dari pembelajaran luar kelas yaitu dengan pembelajaran variatif peserta didik akan segar dalam berpikir karena suasana yang berganti, inkuiri lebih produktif, akselerasi lebih terpadu dan  spontan, kemampuan eksplorasi lebih runtut, dan menumbuhkan penguatan konsep. Penguatan konsep ini menjadi hal yang sesuai dengan usaha peneliti untuk meningkatkan pemahaman sejarah lokal Malang. Hasil dari pemahaman yang semakin meningkat dapat dilihat di akhir siklus.

Perencanaan dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga kali pertemuan yakni pada tanggal 14 Februari 2019, 21 Februari 2019, dan 8 Maret 2019. Pada tanggal 14 dan 21 Februari 2019 berlangsung di dalam kelas. Peneliti menggali data melalui beberapa pertemuan baik di dalam kelas maupun di luar kelas (outdoor learning Bus MACYTO).

Berdasarkan hasil observasi pada pertemuan I (tanggal 14 Februari 2019), proses pembelajaran awalnya berlangsung kondusif terutama saat berdo’a dan pemberian apersepsi. Pertemuan ini membahas mengenai KD 3.10 yakni menganalisis strategi dan bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancama Sekutu dan Belanda. Kegiatan pada pertemuan I ini adalah pemberian pretest kemudian pembelajaran berlangsung sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada saat proses mengerjakan pretest, semua peserta didik berusaha mengerjakan dengan baik walaupun banyak peserta didik yang bingung dengan istilah yang baru didapatkan seperti “Malang Bumihangus”.

Peserta didik XI IPS 2 juga rata-rata tidak mengetahui gedung penting yang ada di area Kota Malang yakni Gedung Societeid Concordia atau sekarang dikenal dengan nama Sarinah. Rata-rata menjawab gedung Societeid Concordia adalah gedung Kantor Pos. Hal ini merupakan kesalahan konsep atau kurangnya pengetahuan peserta didik terhadap sejarah lokal Malang. Akan tetapi, antusias peserta didik kelas XI IPS 2 cukup tinggi saat proses pembelajaran terutama saat diskusi kelompok. Proses pembelajaran pada pertemuan ini tidak hanya diskusi kelompok namun juga presentasi kelompok yang bertujuan memaparkan hasil temuan untuk dibagikan kepada seluruh peserta didik. Presentasi dilakukan dengan baik, walaupun masih terdapat peserta didik yang tidak terlalu antusias bahkan ada yang tidak memperhatikan penjelasan teman yang ada di depan dikarenakan lebih tertarik bergurau dengan anggota kelompoknya.

Pelaksanaan pada pertemuan selanjutnya atau pertemuan II dilaksanakan pada 21 Februari 2019. Peneliti tetap bertindak sebagai guru pengajar dan proses pembelajaran dimulai dari pengucapan salam, do’a, pengecekan kehadiran. Peneliti menggunakan apersepsi peristiwa Bandung Lautan Api dikaitkan dengan Peristiwa Malang Bumihangus. Alasan peneliti menggunakan apersepsi ini dikarenakan peristiwa Bandung Lautan Api telah dikenal peserta didik terbukti dari lagu HaloHalo Bandung yang liriknya juga terkait dengan peristiwa penting. Peristiwa penting tersebut yakni Bandung pernah juga dibakar atau dibumihanguskan oleh para pejuang dan gerilyawan kota agar tidak dapat dikuasahi oleh Sekutu dan Belanda. Hal ini juga sesuai dengan peristiwa yang ada di Kota Malang yakni Malang Bumihangus. Malang Bumihangus merupakan peristiwa yang jarang diketahui oleh banyak orang. Kota Malang juga pernah menjadi medan pertempuran dalam menghadapi ancaman Sekutu dan Belanda bahkan Kota Malang pernah menjadi kota mati yang ditinggalkan oleh warganya.

Kegiatan pada pertemuan II ini adalah guru menjelaskan materi Malang Bumihangus melalui media Power Point (PPT) dan mengadakan kuis Ranking 1 untuk mengecek pemahaman peserta didik mengenai materi Sejarah Lokal Malang. Kuis ini menggunakan media kertas A4 warna putih yang dibagikan kepada seluruh peserta didik XI IPS 2. Fungsi kertas ini adalah lembar jawaban bagi peserta didik. Pada saat kuis, peserta didik kelas XI IPS 2 bersemangat dan menyimak pertanyaan dengan baik. Ranking 1 diraih oleh Reza Kumalasari, salah satu peserta didik kelas XI IPS 2. Berdasarkan catatan lapangan yang telah dituliskan oleh observer, seluruh peserta didik XI IPS 2, 80% paham dengan materi yang sudah dibahas selama proses pembelajaran. Peneliti juga mulai mengenal lebih mendalam lingkungan belajar peserta didik kelas XI IPS 2. Pertemuan II ini adalah pertemuan terakhir pembelajaran di dalam kelas sebelum dilakukan tindakan Outdoor Learning Bus MACYTO.

Pertemuan III atau Pelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO dilaksanakan pada Jum’at, 8 Maret 2019 pada pukul 06.00 – 11.00 WIB. Ini merupakan tindakan outdoor learning Bus MACYTO. Pelaksanaan Outdoor  Learning ini perlu direncanakan dengan matang termasuk keperluan yang dibawa saat Outdoor Learning Bus MACYTO diantaranya nametag atau tanda pengenal (nomor absen peserta didik), sticker, lembar temuan bagi peserta didik XI IPS 2, materi untuk panduan dalam penyampaian selama perjalanan di bus, lembar catatan lapangan untuk observer, dan sebagainya. Pelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO ini dimulai dari jam pertama, seluruh peserta didik meletakkan tas di kelas dan dihimbau untuk membawa alat tulis serta langsung menuju area halaman SMA Negeri 4 Malang. Pengumpulan semua peserta didik ini bertujuan agar memudahkan peneliti dalam membagikan nametag, sticker, dan lembar temuan serta air mineral. Pembarisan berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan, peneliti dibantu oleh Ibu Intan untuk mengkondisikan seluruh peserta didik. Lokasi start Bus MACYTO terletak di Taman Rekreasi Kota (TAREKOT) Malang, namun untuk penelitian ini peneliti dan Ibu Intan berkoordinasi agar Bus MACYTO yang menuju ke depan SMA Negeri 4 Malang untuk keefektifan waktu.

Bus Malang City Tour (MACYTO) ini memiliki bentuk yang unik dan siapapun yang melihat bus ini akan tertarik untuk menambah pengalamannya menaiki bus tersebut. Berdasarkan penjelasan Bapak Agung Harjaya Buana selaku Kepala Seksi Pemasaran Pariwisata Disbudpar Kota Malang, Bus MACYTO ini merupakan bus yang memberikan fasilitas gratis kepada masyarakat (tidak dipungut biaya apapun). Bus MACYTO ini hanya satu-satunya di Jawa Timur dan di Indonesia yang modelnya double decker atau bertumpuk, bertingkat, tetapi yang belakangnya top-off itu hanya di Malang saja. Jadwal pemberangkatan terkait Bus MACYTO ada dua yakni sistem booking dan umum. Fasilitas yang ada di Bus MACYTO ini juga lengkap mulai dari kenyamanan tempat duduknya hingga pemandu wisata (guide).

Penelitian Outdoor Learning Bus MACYTO ini menggunakan jadwal keberangkatan dengan sistem booking untuk mempermudah peneliti dalam mempersiapkan segala keperluannya. Fasilitas yang ada dalam Bus MACYTO adalah guide, yang artinya seorang pemandu wisata atau pramuwisata yang langsung berhubungan dan berkomunikasi serta melakukan kontak pribadi dengan anggota rombongan yang dibawanya (Yoeti,1985:25). Pemandu wisata dalam pembelajaran  ini adalah peneliti sendiri dibantu oleh Ibu Intan (Guru Sejarah SMA Negeri 4 Malang).

Pada awal pembelajaran peserta didik sangat antusias mendengarkan penjelasan dari peneliti dan guru. Peneliti dan guru saling berkolaborasi dalam menyampaikan materi sesuai rute yang dilalui Bus MACYTO. Penyampaian materi ini menggunakan alat yakni microfon yang bisa menjangkau penumpang yang ada di bawah dan di bagian atas (tingkatan atas bus). Pada saat berada di dalam bus, peneliti dan guru harus benar-benar teliti dalam melihat sekeliling dikarenakan rute yang dilalui harus sesuai dengan penjelasan materi. Rute yang digunakan adalah rute panjang dikarenakan sistem booking dalam Bus MACYTO mencakup keseluruhan jelajah Kota Malang.

Keseluruhan jelajah kota juga tidak dapat dilepaskan dalam lingkup penting sejarah lokal tersebut. Tjahaja Timoer (dalam Hudiyanto, 2007:217) menjelaskan pada tahun 1878, Kota Malang mulai terbuka dengan terhubungnya jalan kereta api Malang dengan Surabaya. Pada tahun 1897, Kota Malang mulai kedatangan penduduk dalam jumlah besar setelah Departemen van Oorlong memindahkan beberapa batalyon dari Surabaya ke Malang. Fase terakhir pembentukan kota adalah pada tahun 1914 ketika secara resmi onderdistrik Malang berubah menjadi gemeente. Berbagai sekolah, instansi pemerintah, tempat hiburan, dan lembaga swasta telah membentuk sebuah masyarakat yang dituntut paham membaca dan menulis (Hudiyanto, 2007:217). Berdasarkan sejarah lokal Malang secara umum tersebut diperlukan rute jelajah kota yang dapat menjadi potensi keunggulan Malang.

Rute yang digunakan pada saat Outdoor Learning Bus MACYTO adalah SMA Negeri 4 Malang – Jalan Tugu atau Monumen Tugu – Stasiun Kota Baru – Taman Trunojoyo – Perempatan Rampal (Jalan Panglima Sudirman) – Jalan W.R. Supratman (Rumah Sakit Lavalette) – Perempatan Kaliurang ke Jalan Jaksa Agung Suprapto (Celaket) – Gedung Sekolah Cor Jesu – Rumah Sakit Umum Saiful Anwar – Kampung Putih – Kompleks Pertokoan AVIA – PLN Area Malang – Perempatan Kayu Tangan – Patung Khairil Anwar – Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus – Toko Oen – Pertokoan Sarinah – Bank Indonesia – Kompleks Alun-Alun Malang – Kantor Pos Indonesia – Hotel Pelangi – Jalan Kauman – Jalan K.H. Hasyim Asyhari (daerah Talun) – Jalan Kawi – Ijen Boulevard – Museum Brawijaya – Patung TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) – Politeknik Kesehatan Malang – Simpang Balapan – Jalan Besar Ijen – Gereja Katedral Ijen – Monumen Melati atau Kadet Suropati – Perpustakaan Umum Kota Malang – Jalan Arief Rahman Hakim – GPIB Imamanuel – Masjid Agung Jami’ Kota Malang – Jalan Ade Irma Suryani – Perempatan Embong Arab – Jalan Pasar Besar atau Pecinan – Klenteng Eng An Kiong – Jalan Gatot Subroto (ROMA) – Kampung Warna-Warni Jodipan – Jembatan Brantas – Jalan Sriwijaya – Jalan Kertanegara – Berakhir di titik awal yaitu SMA Negeri 4 Malang.

Pada saat melewati bangunan bersejarah, monumen, pusat perbelanjaan, tempat keagamaan, pemukiman elit, penamaan jalan di Kota Malang, dan sebagainya, peneliti menyebutkan materi namun juga memberikan kesempatan peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahami contohnya dalam perjalanan ada peserta didik yang menanyakan sejarah Perpustakaan Kota Malang. Peneliti dan Ibu Intan mengemukakan bahwa Perpustakaan Kota Malang merupakan tempat penyimpanan arsip-arsip penting bagi Kota Malang. Peserta didik terlihat antusias selama pelaksanaan kegiatan ini dikarenakan dapat melihat langsung materi yang diajarkan. Banyak peserta didik yang mengamati bangunan, memotret, mengambil video bangunan bersejarah, dan berdiskusi dengan teman untuk mengkroscek kebenaran materi yang disampaikan.

Pembelajaran luar kelas ini dipadukan peneliti dengan model discovery learning yang menekankan pada peserta didik untuk menemukan sendiri konsep pengetahuannya. Dalam proses menemukan, peserta didik dibimbing untuk melakukan keseluruhan tahapan pembelajaran mulai dari mengamati sampai dengan mengorganisasikan hasil penemuannya menjadi konsep pengetahuan. Discovery Learning ini tidak jauh berbeda dengan inquiry dan problem solving. Akan tetapi, Discovery Learning ini lebih menekankan pada penemuan konsep pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui oleh peserta didik (Widiasworo, 2016:162).

Aktivitas yang dilakukan peserta didik selama Outdoor Learning Bus MACYTO adalah mencatat hasil temuan pada lembar temuan yang sudah diberikan oleh peneliti. Berdasarkan hasil lembar temuan peserta didik, pembelajaran berharga yang dapat diperoleh peserta didik salah satunya lembar temuan atas nama Phoebe Merlinda (XI IPS 2) (lembar temuan terlampir) yang mengemukakan sebagai warga Malang sudah seharusnya mengetahui sejarah kota sendiri, jadi mengetahui makna dibalik didirikannya monumen-monumen yang ada di Kota Malang agar dapat menambah rasa nasionalisme dan dapat mengetahui perjuangan para pendahulu kita. Pada saat Outdoor Learning Bus MACYTO yang berlangsung selama pukul 07.00 – 10.00 WIB (durasi pembelajaran tiga jam), seluruh peserta didik juga diperbolehkan mengambil potret foto, video, merekam penjelasan guide (guru bersama peneliti).

Penelitian ini juga memiliki resiko yang besar yakni keselamatan peserta didik sebagai penumpang Bus MACYTO terutama yang berada di tingkat atas. Peneliti sebagai guide juga selalu menghimbau kepada para peserta didik kelas XI IPS 2 yang ada diatas agar berhati-hati terhadap kabel dan ranting pohon yang rendah. Berdasarkan catatan lapangan dan analisis dari foto serta video, pembelajaran luar ruangan tidak lepas dari kendala atau hambatan yaitu peserta didik kurang berkonsentrasi dikarenakan banyak faktor, diantaranya melihat sesuatu hal yang lebih menarik seperti iklan di sepanjang jalan, kerumunan orang yang berada di area tertentu, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat pada temuan salah satu foto yaitu tampak seorang peserta didik mengamati hal yang lebih menarik di area kawasan Kayutangan padahal penjelasan bangunan berada di sebelah kiri yakni Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Hambatan lainya yaitu mengarahkan ulang fokus peserta didik pada saat outdoor learning tidak mudah bahkan peserta didik yang terlalu fokus mengamati bangunan menjadi lupa mencatat temuan. Akan tetapi, beberapa peserta didik juga mengalami kesulitan mencatat hasil temuan saat berada di dalam Bus MACYTO namun antusias mereka untuk berusaha mencatat temuan perlu diapresiasi oleh peneliti. Hal ini membuktikan bahwa peserta didik kelas XI IPS 2 benar-benar berusaha keras dan belajar dengan baik selama Outdoor Learning Bus MACYTO.  Peserta didik tetap berusaha menulis segala temuanya di lembar temuan yang sudah diberikan oleh peneliti dengan bantuan apapun. Salah satunya mencatat dengan bantuan jendela Bus MACYTO.

Proses pelaksanaan Outdoor Learning Bus MACYTO berlangsung kondusif dan lancar, setelah rute kembali lagi ke titik sekolah SMA Negeri 4 Malang, peneliti dan guru berkoordinasi untuk mengagendakan foto bersama dan lokasi yang dipilih adalah Tugu Malang. Kegiatan setelah foto bersama kemudian semua peserta didik diarahkan menuju kelas untuk beristirahat dan dibagikan konsumsi serta soal (postest). Bentuk tes postest yaitu tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran. Tujuan postest ini untuk mengetahui sampai dimana pencapaian peserta didik terhadap bahan pengajaran (pengetahuan maupun keterampilan) setelah mengalami suatu kegiatan belajar (Purwanto, 2012:28).

Berdasarkan siklus yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran sejarah menggunakan Outdoor Learning Bus MACYTO sebagai berikut.

1. Kelebihan Outdoor Learning Bus MACYTO

a. Memberikan suasana baru dalam belajar di luar ruangan,

b. Pikiran lebih jernih dan pembelajaran menjadi menyenangkan,

c. Membuat peserta didik lebih bersemangat dan mau belajar dengan baik,

d. Memberikan pengalaman langsung bagi peserta didik,

e. Membuat pembelajaran lebih bermakna dikarenakan mengamati langsung (nyata),

f. Menumbuhkan penguatan konsep terutama sejarah lokal Malang secara runtut,

g. Membuat peserta didik mampu memaknai pentingnya belajar mengenai sejarah lokal kotanya sendiri yakni Kota Malang.

2. Kelemahan Outdoor Learning Bus MACYTO

a. Pengelolaan peserta didik akan sulit terkondisi saat berada di lapangan,

b. Mengarahkan ulang fokus peserta didik tidak mudah sehingga ada beberapa peserta didik yang kurang berkonsentrasi hingga lupa mencatat temuannya,

c. Mencatat lembar temuan dalam kondisi bus berjalan tidak mudah,

d. Masalah keselamatan peserta didik sebagai penumpang Bus MACYTO sangat dipertimbangkan terutama yang menempati posisi atas bus (tingkatan atas bus),  beberapa peserta didik bingung menghindari kabel dan ranting pohon yang sangat rendah.

e. Foto-foto pribadi peserta didik terkadang lebih utama daripada mendokumentasikan hasil temuan di lapangan.

Berdasarkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran luar ruangan dengan Bus MACYTO ini, dapat diketahui manfaat dari pembelajaran diantarannya kegiatan belajar akan lebih menarik tidak monoton atau membosankan, situasi alami akan membuat hakikat belajar lebih bermakna terutama materi yang dekat dengan lingkungan peserta didik yakni sejarah lokal Malang, peserta didik menjadi lebih mengetahui, memahami, dan memaknai sejarah kotanya sendiri, menambah pengalaman yang berharga terutama mengenai belajar dari sejarah, dan meningkatkan rasa nasionalisme terhadap perjuangan bangsa dalam suatu daerah, serta turut berperan menjaga bangunan bersejarah dan melestarikan segala peninggalan serta cagar budaya di Kota Malang.

Peningkatan Pemahaman Materi Strategi Perlawanan Rakyat Lokal Malang dengan penerapan Outdoor Learning Bus MACYTO di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang

Sudjana (2014) mengungkapkan pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga kategori yakni pemahaman terjemahan (tingkat rendah), pemahaman penafsiran, dan pemahaman ekstrapolasi (tingkat tinggi). Pemahaman materi sejarah dikatakan tinggi jika peserta didik mampu memahami materi yang dijelaskan oleh guru dan menyimpulkannya menurut kalimatnya sendiri. Hal ini untuk menjelaskan tingkat pemahaman materi peserta didik, peneliti berpedoman pada hasil tes. Peneliti menggunakan mengukur pemahaman mengenai sejarah lokal Kota Malang dengan pretest dan postest. Dick dan Carey dalam (Purwanto, 2012:28) pretest yaitu tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai dan bertujuan untuk mengetahui sampai dimana penguasaan peserta didik terhadap bahan pengajaran (pengetahuan dan  keterampilan) yang akan diajarkan. Dalam hal ini fungsi pretest adalah untuk melihat sampai dimana keefektifan pengajaran, setelah hasil pretest tersebut nantinya akan dibandingkan dengan hasil postest.

Observasi awal di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Malang menunjukkan bahwa pemahaman materi strategi dan bentuk perjuangan Bangsa Indonesia masih rendah terutama materi strategi dan perlawanan rakyat lokal Malang. Berdasarkan nilai pemahaman pada pratindakan yang telah dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2019, peserta didik yang mendapatkan nilai >76 berpresentase 3%. Patokan KKM untuk matapelajaran sejarah di SMA Negeri 4 Malang adalah 78. Presentase 3% ini didapatkan hanya 1 orang peserta didik yang tuntas dalam pretest dan memperoleh nilai 80. Sedangkan, peserta didik yang mendapat nilai