SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Radio Republik Indonesia: Peranannya Dalam Melestarikan Kebudayaan Jawa Pada Masyarakat Kota Malang Tahun 1945-2016

YENI ENDAH PURWATI

Abstrak


RADIO REPUBLIK INDONESIA: PERANANNYA DALAM MELESTARIKAN KEBUDAYAAN JAWA PADA MASYARAKAT KOTA MALANG TAHUN 1945-2016

Yeni Endah Purwati  Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati., M.Hum  Dr. Ari Sapto., M.Hum  Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

E-mail: Yeniendah90@gmail.com

 

Abstract: Basically the development of the plantation sector makes Malang City one of the destinations for migrants from various regions. Over time with the entry of new cultures it was feared that it could dissolve Javanese culture which since the past had merged into the lives of the people of Malang City. Therefore the media is needed in order to introduce and preserve Javanese culture. Formulation of the problem in this study is as follows:

(1) how was the history of the development of the Radio Republik Indonesia in Malang City in 1945-2016?

(2) how was the role of Radio Republik Indonesia in preserving Javanese culture in the people of Malang City in 1945-2016? The method used in this study is a historical research method consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. The results of this study showed that the development of RRI Malang was devided into four period, that are RRI Malang during the struggle in 1945-1950, RRI Malang as the Technical Implementation Unit (UPT) in 1965-1999, RRI Malang as the Bureau of Service (Perjan) in 2000-2004, and RRI Malang as a Public Broadcasting Institution (LPP) in 2005-2016. RRI Malang during the struggle period has a role as a media struggle through its broadcast program. While RRI Malang as UPT has a role as entertainment media, information, education, and national development. Even so, the implicitly of RRI Malang plays another role related to the preservation of Javanese culture, one of which is through procurement of wayang kulit broadcast. As a transition period, the role of RRI Malang as Perjan did not change from the previous period. This is different from RRI in LPP period which shows its role as a preserver of Javanese culture through the Programa 1 Saluran Budaya.

 

Keywords: Radio Republik Indonesia, role, Javanese culture

 

Radio merupakan salah satu media penyiaran dan telekomunikasi yang mempermudah individu maupun kelompok untuk mengakses informasi. Perkembangan radio masa kolonial Belanda ditandai dengan berdirinya Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) tahun 1934. Saat itu NIROM merupakan stasiun radio terbesar dikarenakan statusnya sebagai stasiun radio milik pemerintah Belanda yang berpusat di Jakarta. Perkembangan NIROM pada dasarnya dapat dilihat melalui adanya penambahan daya pemancar, pengadaan stasiun-stasiun relai, dan pengadaan sambungan telepon khusus dengan kota-kota besar. Terkait kota-kota yang dimaksudkan yaitu Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, dan lain-lain (Effendy, 1983:51).

Malang terpilih menjadi salah satu kota untuk didirikan NIROM  dikarenakan perkembangan yang telah dialami. Menurut Basundoro (2009:238) “sejak 1914 Kota Malang menjadi kota otonom dengan dijadikannya Malang sebagai gemeente”. Perkembangan Kota Malang lainnya dapat dilihat melalui pembangunan infrastruktur (transportasi modern seperti trem dan kereta api). Artinya transportasi tersebut digunakan untuk mempermudah masyarakat pendatang  masuk ke Kota Malang. Pada dasarnya perkembangan sektor perkebunan menjadikan Kota Malang sebagai salah satu tempat tujuan bagi para pendatang dari berbagai wilayah.

Mengingat banyaknya masyarakat luar daerah yang datang dan menetap di Kota Malang menjadikannya sebagai kota yang memiliki penduduk multietnis. Membahas penduduk Kota Malang yang multietnis ternyata tidak  hanya berkembang pada masa kolonial Belanda, akan tetapi berkembang hingga masa sekarang. Seiring waktu dengan masuknya kebudayaan baru dikhawatirkan dapat melunturkan kebudayaan Jawa yang sejak masa lampau telah melebur dalam kehidupan masyarakat Kota Malang. Oleh karenanya dibutuhkan media dalam rangka memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Jawa kepada generasi-generasi sekarang. Adapun salah satunya dapat diupayakan melalui media massa seperti radio yang dapat dengan mudah diakses. RRI Malang merupakan salah satu radio di Kota Malang yang ikut serta dalam pelestarian kebudayaan Jawa melalui adanya Programa 1 Saluran Budaya.

 

METODE

Pada dasarnya metode penelitian sejarah memiliki lima tahap yaitu pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi (Kuntowijoyo, 2013:69). Pemilihan topik menjadi tahapan pertama dalam metode sejarah yang terdiri atas kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Terkait alasan emosional dalam penelitian ini dikarenakan peneliti merasa kurangnya penelitian tentang Radio Republik Indonesia, terutama yang terdapat di Kota Malang. Mengenai alasan kedekatan intelektual dikarenakan topik penelitian ini termasuk dalam penelitian sejarah yang menekankan pada sejarah lokal, sehingga dalam pengkajiannya membutuhkan metode sejarah. 

Tahapan kedua yaitu heuristik (pengumpulan sumber) yang terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Terkait sumber primer dalam penelitian ini yaitu program siaran, struktur organisasi, serta jumlah pendengar RRI Malang. Selain itu peneliti menggunakan surat edaran dari Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan Republik Indonesia tahun 2001 yang menggambarkan adanya perubahan stastus RRI Malang sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan). Selain sumber primer, peneliti juga menggunakan sumber sekunder berupa buku-buku yang terkait dengan radio dan sejarah Kota Malang seperti buku dari Departemen Penerangan Republik Indonesia yang berjudul Indonesia 40 Tahun RRI: 11 September 1945-11 September 1989.

Tahapan ketiga yaitu verifikasi (kritik sumber) yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern. Adapun penerapan dalam kritik ekstern yaitu peneliti memberikan kritik terhadap sumber tertulis terhadap surat edaran dari Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan Republik Indonesia tahun 2001 melalui gaya tulisan, huruf, dan bahasa yang digunakan. Sementara untuk penerapan kritik intern yaitu peneliti memberikan kritik terhadap surat edaran dari Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan Republik Indonesia tahun 2001 melalui isinya, kemudian dibandingkan dengan sumber lain berupa buku-buku yang terkait tahun tersebut untuk menentukan keakuratannya.

Tahapan keempat yaitu interpretasi (penafsiran) yang terdiri dari analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan). Artinya seorang peneliti harus mampu menguraikan sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan serta menyatukannya menjadi sebuah historiografi (penulisan sejarah). Pada dasarnya historiografi menjadi tahapan kelima atau tahapan terakhir dalam metode penelitian sejarah. Terkait historiografi dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada sejarah perkembangan dan peranan RRI Malang dalam melestarikan kebudayaan Jawa pada masyarakat Kota Malang.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Perkembangan Radio Republik Indonesia di Kota Malang Tahun 1945-2016

Berdasarkan historisnya, perkembangan stasiun radio di Kota Malang telah ada sejak pemerintah Belanda dengan didirikannya pemancar NIROM di Kota Malang. Selanjutnya perkembangan stasiun radio di Kota Malang pada masa pendudukan Jepang dapat dilihat melalui didirikannya Malang Hoso Kyoku. Kedua periode tersebut memperlihatkan bahwa radio dibutuhkan sebagai penghubung antara pemerintah dengan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa radio memiliki pengaruh penting hingga periode kemerdekaan, yang mana  masyarakat berupaya untuk membentuk organisasi siaran radio. Adapun terkait upaya tersebut pada tanggal 11 September 1945, para pemimpin radio siaran mengadakan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah organisasi siaran radio bernama Radio Republik Indonesia (RRI) yang mana salah satunya yaitu Kota Malang.

Selanjutnya pada tanggal 12-13 Januari 1946, diadakan pertemuan yang membahas penetapan status RRI sebagai Jawatan Pemerintah di bawah naungan Kementerian Penerangan (Departemen Penerangan Republik Indonesia, 1989:54). RRI Malang pada periode Revolusi Nasional mengalami perkembangan yang fluktuatif. Hal tersebut terlihat ketika Kota Malang mendapatkan serangan Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947. Akibatnya RRI Malang mengalami beberapa kali pemindahan studio, salah satunya harus dipindahkan ke daerah Blitar. Pada tahun 1948 Kota Malang mengalami peristiwa Agresi Militer Belanda II. Oleh karena itu RRI Malang  kemudian bergabung dengan stasiun RRI Jawa Timur di bawah koordinasi Soedomo yang bertempat di Kota Kediri (RRI Malang, 1996:4).

Setelah peristiwa gencatan sejata, RRI Malang berupaya untuk mengadakan kembali siaran radio secara mandiri melalui peralatan radio militer di jalan Salak Kota Malang. Sejalan dengan pendapat Effendy (tanpa tahun:5-6) “setelah gencatan senjata mulailah dirintis kembali mengadakan siaran radio dengan menggunakan peralatan radio militer di jalan Salak”. Perkembangan siaran RRI Malang saat itu tidak berlangsung lama dikarenakan adanya pegawai yang kemudian dimutasikan ke stasiun radio lain. Adanya pemindahan pegawai RRI Malang saat itu merupakan  dampak dari kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Menurut Djamhari dkk (2010:417) “mulai tahun 1950 diadakan rencana lima tahun yaitu diusahakan penambahan-penambahan studio dan penyempurnaan alat-alat pemancar”. Artinya bahwa adanya penambahan stasiun radio berdampak pada kurangnya pegawai yang memiliki kecakapan dalam bidang penyiaran, sehingga RRI Malang mulai kehilangan para pegawai dan mengakibatkan kegiatan siaran radio saat itu terhenti hingga tahun 1964.

Pada tahun 1965, stasiun RRI Malang resmi berdiri sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Departemen Penerangan. Pada awal perkembangannya sebagai UPT, RRI Malang memiliki 20 orang anggota (pegawai) dengan Siswadi sebagai Kepala RRI Malang (RRI Malang, 1996:12). Mengenai pelaksanaan operasional siaran, RRI Malang menggunakan gedung bekas Siaran Radio Brawijaya di jalan Cerme nomor 16. Selain itu perkembangan RRI Malang juga dapat dilihat melalui program siarannya. Mengingat pemerintah Orde Baru saat itu mencanangkan konsep Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), maka pada tahun 1969 RRI Malang menyiarkan program siaran Pedesaan. Adapun pengadaan siaran tersebut ditunjang dengan peralatan yang sudah menggunakan solid state yaitu Telefunken dari Jerman dengan pemancar berkekuatan 1  kilowatt, sehingga siarannya mampu menembus pelosok desa (Panitia Peringatan HUT ke-55 Kotamadya Malang, 1969:83).

Pada tahun 1974, RRI Malang memiliki program siaran baru yaitu siaran Karang Taruna dan siaran Pramuka (RRI Malang, 1996:16). Kemudian pada tahun 1980an, RRI Malang memiliki program siaran Wanita dan Pembangunan. Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya program-program tersebut memperlihatkan bahwa RRI Malang memiliki cakupan pendengar yang beragam di berbagai kalangan. Selain itu RRI Malang mengalami perkembangan di bidang sarana dan prasarana yang mana pada tahun 1993, stasiun radio tersebut mendapatkan alat dari Austria serta didukung dengan jumlah pegawai sekitar 135 orang sesuai dengan bidang masing-masing. Pada tahun tersebut gedung RRI Malang juga mengalami perpindahan ke jalan Candi Panggung nomor 58 yang berada di wilayah Kotamadya Malang (RRI Malang, 1996:12).

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu alasan RRI Malang mengalami perpindahan gedung saat itu dikarenakan kekurangan tempat untuk penyimpanan alat siaran. Dampak dari perpindahan gedung terlihat pada program siaran semakin bervariasi dikarenakan alat siaran yang digunakan semakin canggih. Adapun siaran saat itu terdiri atas bagian siaran kata dan bagian siaran musik. Pada tahun 1997, RRI Malang menyajikan program siaran baru dalam rangka penyelenggaraan pemilihan umum yaitu siaran Spot, siaran Dinamika Pemilu, siaran Gema Pemilu, dan lain sebagainya (RRI Malang, 1996:18). Hal tersebut memperlihatkan adanya upaya RRI Malang untuk menyajikan program siaran sesuai dengan kondisi saat itu.

Pada tahun 2000 RRI Malang berubah status dari UPT menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) di bawah naungan Departemen Keuangan. Salah satu alasan perubahan status RRI Malang menjadi Perjan karena kondisi ekonomi Indonesia setelah krisis moneter tahun 1998. Pada dasarnya Perjan didirikan dengan tujuan menyediakan jasa pelayanan yang bermutu dan tidak untuk mencari keuntungan. Namun seiring waktu justru RRI Malang lebih cenderung sebagai lembaga penyiaran yang menekankan pada pencarian keuntungan. Menurut Masduki (2003:19) “kebijakan untuk memprofitkan RRI dan TVRI telah terlanjur bergulir dengan perubahan status kedua lembaga publik itu”. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan dana yang digunakan untuk operasional Perjan. Adanya keterbatasan dana inilah yang mengakibatkan RRI Malang sebagai Perjan harus mencari penghasilan lain.

Menurut  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2000 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan Radio Republik Indonesia terutama Pasal 8 menyatakan “untuk mendukung pembiayaan kegiatan dalam rangka mencapai maksud dan tujuan sebagaimana dimaksud Pasal 7, Perjan dapat menerima bantuan dan atau subsidi yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara berupa uang ataupun barang, hasil jasa penyiaran iklan, hasil kerjasama dengan lembaga lain yang mempunyai keterkaitan fungsi, dan hasil-hasil usaha yang sah”. Meskipun pada kenyataannya RRI Malang mengalami kesulitan untuk mendapatkan iklan, sehingga salah satu cara yang dapat dilakukan saat itu melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga yang membutuhkan bantuan RRI Malang sebagai media penyiaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa terbatasnya dana operasional tentunya dapat mempengaruhi kualitas program siaran. Adapun terkait pembagian siaran masih sama dengan masa UPT yang terdiri atas bagian siaran kata dan bagian siaran musik. Perkembangan RRI Malang menjadi Perjan berlangsung hingga tahun 2004.

Pada tahun 2005, RRI Malang berubah status menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP). Periode perkembangan RRI Malang sebagai LPP berlangsung hingga saat ini. Membahas mengenai program-program  siaran RRI sebagai LPP terbagi menjadi empat programa yaitu Programa 1, Programa 2, Programa 3, dan Programa 4. Membahas perkembangan RRI Malang sebagai LPP dapat dilihat melalui adanya klasifikasi stasiun peyiaran. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia terutama Pasal 14 menyatakan “klasifikasi stasiun penyiaran terdiri atas stasiun tipe A, stasiun tipe B, dan stasiun tipe C”. Pada umumnya RRI tipe A merupakan RRI Pusat yang terletak di Jakarta, RRI tipe B merupakan ibukota provinsi, dan RRI tipe C terletak di kota atau kabupaten. Berdasarkan hal tersebut RRI Malang saat ini termasuk ke dalam stasiun RRI tipe C.

Tidak dapat dipungkiri adanya klasifikasi stasiun penyiaran RRI ternyata berpengaruh terhadap programa siaran. Misalnya RRI Malang yang tergolong stasiun RRI tipe C yang menyiarkan Programa 1 (Ragam Musik dan Informasi, Programa 2 (Gaya Hidup), dan Programa 3 (Jaringan Berita Nasional). Sementara untuk kanal Programa 4 yang memiliki format siaran pendidikan dan kebudayaan disiarkan oleh RRI tipe A dan tipe B. Meskipun demikian RRI tipe C seperti RRI Malang dapat merelai siaran kebudayaan dari RRI tipe A dan RRI tipe B atau menyiarkan sendiri program kebudayaan pada Programa 1 atau Programa 2. Namun seiring waktu RRI Malang mulai melakukan upaya untuk menyiarkan kanal siaran budaya. Hal ini bertujuan agar program siaran tentang kebudayaan dapat memiliki wadah sendiri, sehingga program yang akan disiarkan tersebut juga lebih bervariasi. Adapun buktinya pada tahun 2008, RRI Malang menyiarkan Programa 1 Saluran Pendidikan dan Kebudayaan dengan frekuensi 91,5 MHz.

Pada tahun 2015, RRI Malang mengalami perubahan format siaran, yang mana programa 1 berubah format menjadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat. Programa 2 mengalami perubahan format menjadi Pusat Kreatifitas Anak Muda. Sementara untuk programa 1 Saluran Pendidikan dan Kebudayaan kemudian berubah format menjadi Programa 1 Saluran Budaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa RRI Malang dalam perkembangannya menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat Kota Malang. Tidak dapat dipungkiri perkembangan RRI Malang sebagai LPP juga dapat dilihat melalui struktur organisasi. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia terutama Pasal 6 menyatakan “organisasi RRI terdiri atas Dewan Pengawas, Dewan Direksi, Stasiun Penyiaran, Satuan Pengawasan Intern, Pusat, dan Perwakilan”. Artinya struktur organisasi RRI Malang seiring waktu mengalami perkembangan, yang mana dilihat dari bidang-bidangnya yang semakin beragam jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Peran Radio Republik Indonesia dalam Melestarikan Kebudayaan Lokal pada Masyarakat Kota Malang Tahun 1945-2016

Pada dasarnya media telekomunikasi digunakan sebagai perantara bagi individu maupun kelompok (lembaga) untuk menyampaikan suatu pesan dengan tujuan tertentu, misalnya radio. Hal tersebut dikarenakan radio dipercaya sebagai sumber berita dan dapat disebarkan secara massal. Membahas mengenai peranan radio, pada umumnya mengalami perubahan seiring waktu. Contohnya peranan RRI Malang pada masa perjuangan meliputi tiga poin yaitu pertama, RRI sebagai media perjuangan bangsa dan negara Republik Indonesia untuk menegakkan kedaulatan serta kemerdekaan negara pada khususnya, menggalang persatuan nasional dan membangun cita-cita kemerdekaan pada umumnya. Kedua, RRI sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat dan antara rakyat dengan rakyat. Ketiga, RRI sebagai alat pembinaan jiwa dan semangat proklamasi 17 Agustus 1945 (Departemen Penerangan Republik Indonesia, 1989:42).

Berdasarkan pemaparan terkait tujuan didirikannya RRI saat itu dapat disimpulkan bahwa RRI Malang sebagai RRI Cabang memiliki peran penting sebagai media informasi, media komunikasi, serta media perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, terutama bagi masyarakat Kota Malang. Namun setelah peristiwa agresi Militer Belanda II tahun 1948, RRI mengalami dilema terkait peranannya dikarenakan kondisi Kota Malang yang tidak lagi mengalami serangan musuh. Oleh karena itu pemerintah pusat melalui Kementerian Penerangan Republik Indonesia menginginkan stasiun RRI untuk memfokuskan peranannya sebagai media penerangan (informasi) massa, media pendidikan massa, media untuk membina kebudayaan, serta media hiburan bagi masyarakat. Adanya perubahan peranan tersebut memperlihatkan bahwa pada dasarnya peranan RRI dapat berubah sesuai dengan kondisi masyarakat saat itu.

Terkait salah satu peran RRI Malang sebagai media pembina kebudayaan khususnya kebudayaan Jawa dikarenakan kondisi masyarakat Kota Malang yang multietnis. Masuknya budaya asing yang dibawa oleh masyarakat pendatang akan dengan mudah diserap oleh masyarakat Kota Malang, sehingga semakin lama kebudayaan Jawa akan semakin memudar. Oleh karena itu perlu adanya upaya RRI Malang melalui program siarannya tentang kebudayaan Jawa seperti siaran Wayang Kulit meskipun stasiun radio tersebut harus merelai siaran RRI lainnya karena terkendala kurangnya peralatan siaran akibat Agresi Militer Belanda. Hal ini memperlihatkan bahwa RRI Malang berupaya untuk memainkan perannya sebagai media pelestari kebudayaan Jawa.

Berdasarkan historisnya, perkembangan RRI Malang sempat terhenti setelah tahun 1950  karena mengalami kekurangan pegawai yang berpengalaman di bidang siaran. Hal tersebut sebagai dampak dari kebijakan pemerintah terkait rencana lima tahun dalam rangka penambahan studio RRI. Meskipun demikian peran RRI Malang dalam melestarikan Kebudayaan Jawa dapat dilihat pada tahun 1969 melalui adanya siaran Pedesaan. Membahas kehidupan masyarakat desa, salah satu kebudayaan Jawa yang masih dipertahankan hingga saat ini yaitu tradisi bersih desa. Sejalan dengan pendapat Herusatoto (2008:68) “sisa-sisa kearifan lokal masyarakat tradisional Jawa itu sebagian masih ada yang diberlakukan khususnya dalam bentuk acara-acara seremonial seperti pernikahan, kematian, kelahiran, bersih desa dan makam, dan kegiatan swadaya masyarakat”. Tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi bersih desa masih dilakukan oleh masyarakat desa di berbagai wilayah, terutama Kota Malang sebagai warisan budaya.

Selanjutnya pada tahun 1980an, RRI Malang mengadakan siaran Wanita dan Pembangunan. Melalui siaran tersebut secara tidak langsung RRI Malang memberi wadah terhadap kreativitas para wanita di Kota Malang, salah satunya di bidang kesenian. Hal tersebut dibuktikan melalui penampilan kelompok kesenian Arumba yang memainkan alat musik tradisional Jawa (gamelan) saat mengisi siaran Wanita dan Pembangunan (RRI Malang, 1996:17). Pada periode 1990an, peran RRI Malang tersebut dapat dilihat melalui beberapa program siarannya. Tidak dapat dipungkiri sejak memiliki Outside Broadcasting Van (OB Van) dari Austria, RRI Malang semakin sering mengadakan kegiatan di luar gedung siaran seperti pengadaan siaran langsung wayang kulit di gedung pemerintah daerah Kotapradja Malang.

Adapun program-program terkait kebudayaan Jawa pada tahun 1993 yaitu siaran Maju Desaku,  siaran Obrolan (parikan, kwartet atau lawak Kartolo cs), siaran Sandiwara Titisan Sang Batari, siaran Kesenian Tradisional (gending Jawa), siaran Wayang Kulit, siaran Hiburan Karawitan, dan siaran Hiburan (ketoprak dan ludruk) (Santoso, 1992:52-53). Berdasarkan pemaparan tersebut dapat dijelaskan bahwa mayoritas program siaran Kebudayaan Jawa yang disiarkan RRI Malang dalam bentuk kesenian yaitu seni sastra (siaran Obrolan Parikan), seni drama (siaran Sandiwara Titisan Sang Batari, siaran Wayang Kulit, siaran  Hiburan Ketoprak dan Ludruk), siaran musik (siaran Hiburan Karawitan dan siaran Kesenian Tradisional Gending Jawa). Melalui hal tersebut dapat diketahui bahwa kesenian Jawa memiliki banyak jenis. Tentunya ini menandakan bahwa pada dasarnya kebudayaan Jawa sangat beragam, sehingga perlu adanya upaya pelestarian sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal masyarakat Jawa masa lampau.

Selanjutnya periode RRI Malang sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) merupakan masa transisi menuju statusnya sebagai Lembaga Penyiaran Publik. Membahas mengenai peran RRI Malang sebagai Perusahaan Jawatan tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2000 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan Radio Republik Indonesia terutama Pasal 7 bahwa untuk mencapai maksud dan tujuan sebagaimana dimaksud Pasal 6, Perjan menyelenggarakan kegiatan usaha jasa penyiaran publik dalam bidang informasi, pendidikan, dan hiburan serta usaha-usaha terkait lainnya yang dilakukan dengan standar kualitas yang tinggi. Artinya bahwa RRI Malang sebagai RRI Cabang saat itu memiliki peran sebagai media hiburan, informasi (penerangan), dan pendidikan.

Meskipun demikian secara tersirat RRI Malang berupaya untuk memainkan perannya sebagai media pelestari kebudayaan Jawa. Hal tersebut dapat dilihat melalui pembentukan Forum Pemerhati RRI Malang pada tanggal 11 September 2002. Pada dasarnya forum tersebut terdiri dari beberapa paguyuban yang didirikan oleh masyarakat sebagai pendengar RRI Malang. Adapun paguyuban tersebut yaitu Paguyuban Sate Kerang yang didirikan pada tanggal 7 Maret 1999, Paguyuban Senandung Rindu yang didirikan pada tanggal 7 Januari 2000, dan Paguyuban Jampi Gencar yang didirkan pada tanggal 7 Mei 2000 (Pusdatin RRI, tanpa tahun). Pada dasarnya nama-nama paguyuban tersebut merupakan nama program siaran RRI Malang. Mengingat program siaran Sate Kerang dan siaran Jampi Gencar hingga status RRI Malang sebagai LPP masih disiarkan. Oleh karena itu dapat diketahui bahwa program siaran Sate Kerang, siaran Senandung Rindu, dan siaran Jampi Gencar merupakan bagian dari program siaran RRI sebagai Perjan. Jika dikaitkan dengan program siaran sekarang, maka dapat diketahui bahwa siaran Sate Kerang menyajikan tembang langgam Jawa, sedangkan siaran Jampi Gencar menyajikan gending Jawa dan campursari.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik terutama Pasal 5 Ayat 3 menyatakan “RRI dan TVRI Cabang meneruskan siaran dari pusat dan menyelenggarakan kegiataan penyiaran sendiri yang bermuatan lokal”. Adapun terkait program-program siaran RRI Malang yang bermuatan lokal, salah satunya yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa. Contohnya pada tahun 2008, RRI Malang membuka Saluran Pendidikan dan Kebudayaan yang bergabung ke dalam Programa 1. Mengingat statusnya sebagai RRI tipe C yang tidak menyiarkan kanal Programa 4. Achmad dkk (2017:iv) mengatakan “RRI juga berkewajiban untuk memberikan edukasi melalui isi siaran budaya agar anak muda paham dan menjadi penerus pelestari budaya Bangsa Indonesia”. Adapun program-program siaran kebudayaan Jawa pada Programa 1 Saluran Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Programa 1 Saluran Budaya) tahun 2009 yaitu siaran Kembang Telon, siaran Warung Lapis Prapatan, siaran Ragam Budaya, siaran Campursari, siaran Kondang Sari, siaran Pelangi Budaya, siaran Geguritan Malam Jum’at (Gugat), dan siaran Wayang Kulit.

Membahas peran RRI Malang dalam melestarikan kebudayaan Jawa pada dasarnya tidak hanya melalui pengadaan program siarannya yang umumnya berada dalam area studio. Namun RRI Malang juga mengadakan siaran di luar studio. Selain untuk memberikan suasana baru, pengadaan siaran tersebut memperlihatkan upaya RRI Malang mengajak masyarakat Kota Malang agar ikut serta melestarikan kebudayaan Jawa. Adapun salah satu contohnya pada tahun 2011, RRI Malang melalui Programa 1 Saluran Pendidikan dan Kebudayaan acara Pentas Seni dan Budaya. Selain itu pada tahun 2015, RRI Malang mengadakan acara Gelar Budaya melalui pertunjukkan wayang kulit. Pengadaan pertunjukan tersebut bertempat di halaman gedung siaran RRI Malang tentunya dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan RRI Malang untuk ikut serta menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Hal tersebut sebagai salah satu bentuk pelayanan RRI Malang sebagai LPP selain sebagai upaya pendekatan stasiun tersebut kepada masyarakat Kota Malang sebagai pendengar.

Selanjutnya pada tahun 2016, program-program siaran kebudayaan Jawa pada Programa 1 Saluran Budaya (perubahan format dari Programa 1 Saluran Pendidikan dan Kebudayaan) yaitu siaran Kembang Telon, siaran Pedesaan, siaran Warung Lapis Prapatan, siaran Kondang Sari, siaran Berita Bahasa Jawa, siaran Apresiasi Macapat, siaran Sate Kerang, siaran Lentera Budaya, siaran Jampi Gencar, siaran Ludruk Guyonan, dan siaran Wayang Kulit. Berdasarkan pemaparan tersebut menunjukkan upaya RRI Malang dalam memainkan peranannya dalam melestarikan kebudayaan Jawa, terutama pada masyarakat Kota Malang sebagai pendengar. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran RRI Malang dalam melestarikan kebudayaan Jawa membutuhkan dukungan dari pendengar. Hal ini dikarenakan efektivitas peran stasiun radio tergantung kepada berapa banyak pendengar yang menikmati program-program radio (Prayudha, 2005:119). Artinya semakin banyak pendengar yang menikmati siaran kebudayaan Jawa, maka semakin efektif peran tersebut.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan historisnya, perkembangan RRI Malang terbagi menjadi empat periode yaitu RRI Malang Masa Perjuangan tahun 1945-1950, RRI Malang sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) tahun 1965-1999, RRI Malang sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 2000-2004, dan RRI Malang sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) tahun 2005-2016. Perkembangan RRI Malang dimulai ketika awal didirikannya pada tanggal 11 September 1945. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat  itu kondisi RRI Malang mengalami pasang surut dikarenakan Agresi Militer Belanda. RRI Malang sebagai UPT (1965-1999) merupakan periode kebangkitan kembali stasiun radio tersebut. Perkembangan RRI Malang saat itu mendapatkan intervensi dari pemerintah di bidang program dan frekuensi siaran. Selanjutnya terkait perubahan status RRI Malang sebagai Perjan (2000-2004) tentunya berpengaruh terhadap perkembanganya, terutama pada program siarannya yang menekankan pada pencarian keuntungan. Hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa stasiun RRI Malang saat itu mengalami kekurangan dana akibat krisis moneter yang dialami Indonesia pada akhir periode 1990an. Adapun perkembangan RRI Malang masih dapat dirasakan hingga saat ini, yang mana statusnya berubah sebagai Lembaga Penyiaran Publik (2005-2016).

Perkembangan RRI Malang dari awal didirikan hingga saat ini tentunya memperlihatkan peranannya. Pada masa perjuangan, peran RRI Malang tentunya ditekankan sebagai media perjuangan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan. Selanjutnya peran RRI Malang mengalami perubahan seiring berganti status sebagai UPT. Pada saat itu RRI Malang berupaya untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Contohnya sejak memiliki Outside Broadcasting Van (OB Van), RRI Malang sering mengadakan kegiatan di luar studio seperti pengadaan siaran langsung wayang kulit di gedung pemerintah daerah Kota Malang. Periode RRI Malang sebagai Perjan merupakan masa transisi untuk menjadi Lembaga Penyiaran Publik. RRI Malang berperan sebagai media pelestari kebudayaan Jawa melalui program siarannya yaitu siaran Sate Kerang dan siaran Jampi Gencar. Selanjutnya status RRI Malang sebagai LPP memainkan peranannya dalam melestarikan kebudayaan Jawa melalui adanya Programa 1 Saluran Budaya.

 

SARAN

Mengingat RRI Malang merupakan radio pemerintah di tingkat lokal, maka perlu adanya kerjasama antara masyarakat Kota Malang dengan pemerintah daerah untuk bersama-sama mengembangkan stasiun radio tersebut. Salah satu yang dapat dilakukan dengan  mendukung peran RRI Malang terkait pelestarian kebudayaan Jawa. Sebagai contoh pemerintah Kota Malang dapat bekerjasama dengan RRI Malang untuk mengadakan acara-acara terkait pelestarian budaya. Sementara terkait dukungan masyarakat Kota Malang dapat diperlihatkan melalui keikutsertaannya dalam acara-acara tersebut. Selain itu masyarakat Kota Malang, khususnya komunitas budaya dapat membantu memajukan program siaran melalui keikutsertaannya sebagai narasumber siaran.

 

DAFTAR RUJUKAN

Achmad, N., Adi, H., Rossini, L., Afrantini, N., Setyaningsih, A., Daryos, Gafar, Z., Muhadjar, Suyono, E., & Rianto, P. 2017. Petunjuk Pelaksanaan Pro 4 Pola Baru LPP RRI. Jakarta: Direktorat Program dan Produksi Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia.

Basundoro, P. 2009. Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang sejak Kolonial sampai Kemerdekaan. Yogyakarta: Ombak. Departemen Penerangan Republik Indonesia. 1989. Indonesia 40 Tahun RRI: 11 September 1945-11 September 1985. Jakarta: Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Djamhari, S.A., Santoso, R., Imran, A., Ardhiati, Y., Wulan, A., Ferdinandus, P., & Mahayana, M.S. 2010. Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia (± 1942-1998). Dalam R.P Soejono & R.Z Leirissa (Eds). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka. Effendy, E. Tanpa Tahun. Sejarah Singkat Stasiun RRI Regional II Malang dari Masa ke Masa. Buku Tidak Diterbitkan. Malang: LPP RRI Malang.

Effendy, O.U. 1983. Radio Siaran Teori & Praktek. Bandung: Alumni. Herusatoto, B. 2008. Simbolisme Jawa. Yogyakarta: Ombak. Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Masduki. 2003. Radio Siaran dan Demokratisasi. Yogyakarta: Jendela. Panitia Peringatan HUT ke-55 Kotamadya Malang. 1969. Kotamadya Malang: Lima Puluh Lima Tahun 1 April 1914-1 April 1969. Malang: Panitia Peringatan HUT ke-55 Kotamadya Malang.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2000 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan Radio Republik Indonesia. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kementerian Komunikasi dan Informasi. (Online), (https://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2014/02/pp_no_37_th_2000.pdf), diakses 30 April 2017.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik.  Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kementerian Komunikasi dan Informasi. (Online),  (https://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2014/02/pp_no_11_th_2005.pdf), diakses 30 April 2017.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kementerian Komunikasi dan Informasi. (Online),  (https://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2014/02/pp_no_12_th_2005.pdf), diakses 29 April 2017.

Prayudha, H. 2005. Radio: Suatu Pengantar untuk Wacana dan Praktik Penyiaran. Malang: Bayumedia Publishing. Pusdatin RRI. Tanpa Tahun. Kelompok Pemerhati RRI Malang. (Online), (pusdatin.rri.co.id/file/docs/1/FKP%20RRI%20Malang.pdf), diakses 21 Desember 2018.

RRI Malang. 1996. Perjalanan RRI Malang dalam Membudayakan Pancasila dan Menyebarluaskan Informasi Pembangunan. Buku Tidak Diterbitkan. Malang: RRI Malang.

 

Santoso, B. 1993. Pengembangan Produksi Media Radio sebagai Aplikasi Teknologi Pendidikan. Laporan Tidak Diterbitkan. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Program Pascasarjana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang.