SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH INDUSTRI GAMELAN TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENGRAJIN GAMELAN DI DESA PAJU PONOROGO (1998-2017

Hermin Dwi Purwaningsih

Abstrak


PENGARUH INDUSTRI GAMELAN TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENGRAJIN GAMELAN DI DESA PAJU PONOROGO (1998-2017)

Hermin Dwi Purwaningsih  llmu Sejarah,Universitas Negeri Malang

Email : hermindwi22@gmail.com

 

ABSTRAK: Desa Paju merupakan desa yang terletak di Kabupaten Ponorogo yang sudah terkenal sebagai desa pengrajin gamelan sejak tahun1970. Munculnya industri gamelan di Desa Paju telah membawa banyak perubahandari segi sosial dan ekonomi para tenaga kerja serta pemilik industri itu sendiri. Selain itu sejak didirikanya industri gamelan di desa Paju perkembangan peningkatan hasil produksi semakin meningkat. Tujuan penelitian ini adalah:

(1) mengetahui perkembangan industri gamelan Desa Paju tahun 1998-2017

(2) mengetahui pengaruh industri gamelan Desa Paju terhadap kondisi sosial-ekonomi pengrajin tahun 1988-2017. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah meliputi pemilihan topik,heuristik,verifikasi meliputi kritik ekstern sejak tahun 1973-an kritik intern, interpretasi dan historiografi. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sejarah berdirinya industri gamelan Desa Paju telah ada sejak tahun 1970an. Perkembangan industri gamelan pada 1998-2017 mengalami peningkatan produksi yang berjalan dengan adanya kebijakan pemerintah mengadakan Festival Reog Nasional setiap tahunya. Peningkatan produksi juga sering terjadi saat dinas-dinas mengadakan kebijakan pemberian alat musik tradisional pada tahun 2013 di Yogyakarta yang dipesan di Ponorogo. Pada tahun 2014 saat kunjungan SBY ke Desa Paju membawa dampak positif dengan semakin dikenalnya industri ke luar daerah. pengaruh industri gamelan ini semakin terasa pada bidang sosial dan ekonomi.

 

Kata Kunci :industri gamelan Paju, perkembangan, sosial-ekonomi

Sejarah industri gamelan di Kabupaten Ponorogo yang pada awalnya merupakan suatu usaha yang dikembangkan secara turun-temurun yang awalnya berdiri karena ketidaksengajaan para grup karawitan Desa Paju. Salah satu industri gamelan adalah milik Bapak Goiman yang terletak di Jl. KH.Sholikin nomor 8 Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo. Industri gamelan di desa Paju telah berdiri sejak tahun 1970-an. Masyarakat Desa Paju dulunya ada tergabung dalam grup karawitan yang memiliki anggota sekitar 10-20 orang salah satunya Pak Goiman. Mereka biasanya hadir pada acara-acara hajatan dan perayaan agustusan. Perkembangan industri gamelan mulai mengalami perkembangan hingga mulai merekrut tenaga kerja yang berasal dari golongan petani dengan pendapatan yang tidak bisa diprediksi.Tujuan penelitian ini adalah :

(1) Mengetahui perkembangan industri gamelan desa Paju tahun 1998-2017

(2) Mengetahui pengaruh industri gamelan desa Paju terhadap kondisi sosial-ekonomi pengrajin tahun 1998-2017.

 

METODE

Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis dan jenis penelitian historis. Menurut Sjamsuddin (2007 :17) metode historis adalah suatu proses pengkajian, penjelasan, dan penganalisaan secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan masa lampau. Kuntowijoyo (2013 : 69 )menjelaskan bahwa dalam melaksanakan penelitian sejarah memiliki lima tahap yaitu : pemilihan topik, Pengumpulan data dan sumber (Heuristik), Verifikasi( kritik sumber), Intepretasi, Historiografi.

Dalam penelitian sejarah terdapat sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini berupa dokumen dan informan yang terlibat langsung dalam kajian yang diteliti. Dari penelitianya diperoleh sumber dari pihak-pihak yang terlibat langsung menggunakan metode atau tehnik wawancara. Beberapa pihak yang terlibat dalam penelitian diantaranya Goiman (Pemilik industri),Kusnan (Pemilik industri),Sutrisno (Tenaga kerja), Bambang Nurcahyo Aji (Kepala Desa Paju),Budi Suhartana (Pemilik Industri). Sumber primer berupa data yang diperoleh oleh peneliti dari dinas  berupa data profil desa Paju dari kantor kelurahan tahun 2017 serta data jumlah industridari dinas INDAGKOP. Sumber sekunder yang digunakan peneliti berupa sumber pendukung terkait dengan penelitian. Beberapa sumber sekunder diantaranya artikel atau jurnal yang terkai dengan penelitian serta data Kabupaten Ponorogo yang diakses secara online dari BPS.

 

A. Perkembangan Industri Gamelan Desa Paju Ponorogo Tahun 1998-2017

Perkembangan industri gamelan desa Paju pasti memiliki berbagai faktor yang dapat mempengaruhi yang berasal dari lingkungan desa Paju. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan industri gamelan desa Paju yaitu adanya keinginan masyarakat untuk beralih dari sektor pertanian yang dianggap kurang memberikan kontribusi terhadap kehidupan khususnya dalam bidang ekonomi. Sebelum adanya industri gamelan ini desa Paju merupakan daerah pertanian yang memiliki lahan subur namun, pada sektor pertanian ini memiliki berbagai kelemahan khususnya sektor peratanian yang masih mengandalkan musim. Hal ini menjadi salah satu kendala untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari bidang pertanian dianggap kurang memberi kontribusi terhadap kehidupan petani.

Menurut Majalah Republika (2010:4) pada tahum 1973 dijelaskan bahwa sejarah perkembangan gamelan di Ponorogo berawal dari beberapa seniman yang ingin memproduksi sendiri alat musik gamelan dengan memanfaatkan barang-barang bekas seperti drum bekas. Kehidupan masyarakat yang mayoritas merupakan seorang petani ingin membuat inovasi sehingga masyarakat berinisiatif membuat gamelan untuk di jual. Masa keemasan industri gamelan ini berada pada puncakya di tahun 1980 sampai sekarang dimana pemasaran produksinya di beli oleh jajaran perkantoran di Jawa Timur serta beberapa daerah di luar Jawa. Selain dapat menguntungkan industri gamelan di daerah tersebut juga memiliki tujuan yang berkaitan dengan kelestarian alat musik tradisional karena seiring dengan perkembangan jaman semua yang hal yang berbau tradisional mulai di tinggalkan.

Pemerintah dengan segala kebijakanya telah berusaha agar dengan adanya industri gamelan di desa Paju akan semakin lebih baik. Pembangunan industri di daerah pedesaan seperti Ponorogo disamping memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil produksi barang-barang industri juga untuk merencanakan pembangunan ekonomi daerah. Beberapa kebijakan pemerintah yang telah diterapakan diantaranya program pembinaan yang dilaksanakan pada tahun 1973 dan 2000.Selain pembinaan pemerintah juga ikut andil dalam memberikan alat-alat pembuatan gamelan untuk meningkatkan produksi gamelan di desa Paju.

Peningkatan produksi gamelan semakin tinggi yang ditandai dengan tinggi permintaan gamelan dari jajaran perkantoran di Jawa Timur yang selalu mempercayakan gamelan di Industri gamelan desa Paju. Pada masa keemasanya ini industri gamelan di desa Paju semakin berkembang dan semakin dikenal oleh para seniman (Kabar Jatim,2010:23). Permintaan produksi yang melonjak naik ini diakibatkan masih minimnya pengrajin gamelan di Jawa Timur sehingga tidak seimbangnya antara permintaan dan produksi barang.

Perkembangan industri gamelan desa Paju tahun 2000 hingga 2017 terjadi karena adanya Festival Reog Nasional yang diadakan setiap tahunya. Festivial Reog Nasional ini meningkatkan produksi gamelan yang yang mendorong pemilik industri gamelan mulai menggunakan alat produksi yang lebih meringankan tenaga kerja. Peningkatan kualitas alat-alat pembuatan gamelan semakin ditingkatkan dengan adanya alat-alat yang menggunakan listrik sebagai sumbernya.

Menurut Suparlan dalam (Paeni,2009:25) Teknologi pada dasarnya merupakan sarana dalam kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sebagai mahluk hidup yang berada di suatu lingkungan tertentu. Teknologi merupakan hasil pemikiran manusia sebagai anggota suatu masyarakat yang dipakai dalam kerangka untuk memahami lingkungan yang dihadapinya sebagai suatu strategi dalam beadaptasi

Di tahun 2013 menjadi salah satu puncak kebangkitan industri gamelan Paju karena pada tahun tersebut, indutri gamelan mendapatkan pesanan sebanyak 100 unit gamelan yang akan dibagikan ke sekolah-sekolah di Yogyakarta. Hal ini menjadi salah satu pemicu tumbuhnya semangat para pemilik serta pengrajin gamelan desa Paju. Industri yang berdiri sejak 1970an ini bisa membuat satu unit gamelan yang terdiri dari bonang, kenong, kempul, gong suwuk, gong gedhe, kethuk kempyang, demung, saron, gender, peking, slenthem, gambang, kendang, rebab, siter bolak-balik dan suling. Selain membuat gamelan lengkap industri gamelan Paju juga menerima permintaan yang memesan gamelan berlanggam pelog dan slendro yang memerlukan waktu sekitar 3 minggu (Surya Jatim,2013: hal 5).

 

B. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Sosial-Ekonomi Pengrajin Desa Paju Kabupaten PonorogoTahun 1998-2017

1. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Ekonomi Pengrajin Desa Paju Kabupaten Ponorogo

Industri yang telah berdiri sejak tahun 1973-an ini telah memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajinnya khususnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, menciptakan saling keuntungan antara pengrajin dan pemilik industri. Menurut Tambunan (2012:35) apabila dilihat dari banyaknya jumlah pengrajin maka industri kerajinan tangan atau indutri tradisional menempati kedudukan utama. Hal tersebut sifatnya masih menggunakan bantuan tangan manusia.

Keuntungan yang diperoleh dua pihak ini menandakan berjalannya suatu usaha yang dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar. Selain kemajuan para pekerjanya, para pemilik industri juga meraup keuntungan sebagai modal pengembangan usaha agar lebih maju. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Goiman pengrajin industri gamelan pada 22 Desember 2017 menjelaskan bahwa:

“Awal-awal pendirian industri ini memang butuh perjuangan yang tidak mudah mbak karena membutuhkan modal besar dalam membuat gamelan lengkap. Dulu saya pernah mbak menjual sapi karena kekurangan modal setelah saya pikir hal tersebut bukan masalah selagi usaha gamelan ini masih berjalan pasti akan berkembang. Setelah itu memang banyak orderan perbulanya kisaran dari 50 juta kadang lebih. Jika dihitung angka tersebut cukup untuk memenuhi upah pengrajin dan kebutuhan rumah tangga keluarga ”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendirian industri gamelan di Desa Paju telah memberikan keuntungan ekonomis bagi pemilik usaha. Pekerjaan yang telah digeluti oleh Bapak Goiman sebagai pengrajin industri gamelan bukan sekedar pekerjaan sampingan, melainkan sudah menjadi pekerjaan utama yaitu sebagai pengusaha sekaligus sebagai pengrajin. Berkat pendirian industri Bapak Goiman telah mampu memenuhi kebutuhan keluarga serta memberikan gaji yang pantas bagi para pengrajin agar terbebas dari kemiskinan..

Adanya industri gamelan di Desa Paju telah memenuhi kebutuhan para pengrajin mulai dari kebutuhan yang sifatnya pokok maupun untuk memenuhi keinginan semata. Hal ini sesuai dengan pemenuhan kebutuhan manusia sangat bergantung dengan tingkat sosial serta profesi seseorang tersebut. Dilihat dari kelasnya biasanya para golongan bawah hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok saja. Golongan menengah dapat memenuhi kebutuhan pokok dan tambahan sebagai kebutuhan pelengkap dalam kehidupan sehari-hari. Golongan atas dapat memenuhi kebutuhan yang sifatnya pokok, pelengkap dan yang sifatnya mewah. Hal ini juga berlaku pada pengrajin gamelan di Desa Paju yang termasuk dalam golongan menegah yang telah dapat memenuhi kebutuhan pokok serta pelengkap yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa kebutuhan ekonomi yang telah terpenuhi dari bekerja sebagai pengrajin gamelan di Desa Paju:

 

1. Kebutuhan Primer

Meneurut Arfida (2013:15) kbutuhan primer merupakan sebuah kebutuhan pokok atau yang utama dan harus dipenuhi oleh setiap orang untuk dapat menjalani hidup yang layak sebagai manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa kebutuhan primer adalah kebutuhan pertama yang harus dipenuhi seseorang demi keberlangsungan hidupnya. Sama halnya dengan pengrajin Desa Paju yang bekerja sebagai pengrajin gamelan seperti terpenuhinya akan sandang, pangan dan papan. Salah satu cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan pokonya mereka bekerja sebagai pengrajin gamelan.  Para pengrajin gamelan harus memenuhi kebutuhan pokoknya agar bisa melangsungkan kehidupanya. Kebutuhan pokok sendiri terdiri dari 3 aspek yaitu:

 

a) Sandang

Arfida (2013:15) menjelaskan bahwa kebutuhan sandang adalah kebutuhan pakaian yang diperlukan manusia untuk kehidupan sehari-hari. Pakaian diperlukan untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin. Hal ini menjadi salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan demikian halnya dengan pengrajin di Desa Paju salah satu yang harus terpenuhi adalah sandang guna menunjang kehidupan sebagai seorang manusia. Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia namun, pada jaman modern seperti saat ini pakaian juga tidak lepas dari status sosial suatu orang. Seperti halnya pengrajin gamelan Desa Paju dalam berpakaian mereka lebih cenderung mengenakan pakaian yang biasa saja yang menyesuaikan dengan status sosialnya yang termasuk dalam golongan menengah ke bawah.

 

b) Pangan

Kebutuhan pangan atau biasa yang disebut dengan makan adalah kebutuhan paling utama bagi makhluk hidup. Definisi pangan yaitu bahan-bahan yang dimakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja dan penggantian jaringan tubuh yang rusak (Suhardjo, 1996:40). Makanan dan minuman bertujuan untuk menghasilkan tenaga dan nutrisi. Tenaga dan nutrisi yang diperoleh berguna untuk melalukan berbagai aktifitas sehari-hari. Makanan yang sehat dan bergizi membantu pertumbuhan manusia baik otak maupun badan. Hal ini menjadi salah satu pemicu semangat pengrajin gamelan guna mencukupi kebutuhan akan pangan sehari-hari. Pangan menjadi suatu hal yang penting bagi keberlangsungan hidup. Pengrajin Desa Paju yang mulanya hanya menggantungkan hidup sebagai petani dengan penghasilan yang pas-pasan, saat ini mulai mengalami kemajuan dengan mulai bekerja di industri gamelan. Beberapa kebutuhan lain juga tercukupi dengan mengandalkan pekerjaan yang ditekuni saat ini. Para pengrajin gamelan yang mulanya bekerja sebagai petani merasa bahwa dalam pemenuhan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari jika mengandalkan pertanian akan sulit terpenuhi. Hal ini berkaitan dengan musim panen yang tidak menentu. Saat para petani menanam padi mereka harus menunggu hingga 3 sampai 4 bulan lamanya untuk bisa merasakan hasilnya. Selama menunggu panen, biasanya para petani masih mengandalkan pinjaman dari warung yang menyediakan bahan pangan. Setelah panen mereka bisa menutup pinjaman tersebut dengan hasil panen ataupun uang hasil penjualan panenan.

 

c) Papan

Papan merupakan tempat tinggal seseorang atau yang biasa disebut dengan rumah. Rumah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus terpenuhi untuk bisa tetap bertahan hidup. Selain itu fungsi rumah sendiri bagi manusia adalah untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Bukti industri berpengaruh bagi kehidupan pengrajin khususnya pemenuhan kebutuhan akan papan adalah berdasarkan pernyataan dari Bapak Sutrisno yang menjadi pengrajin gamelan di Desa Paju lewat wawancara pada tanggal 22 Desember 2017 yang menyatakan:

“Banyak mbak yang berubah sejak saya kerja jadi pengrajin gamelan. Sekarang sudah punya penghasilan yang setiap bulan bisa ditunggu. Rumah saya ini dulu lantainya masih tanah liat. Sekarang alhamdullilah sudah bisa di plester ini dari hasil nabung sedikit demi sedikit. Bagian tiangnya ini dulu masih kayu dindingnya”.

Setelah terpenuhinya kebutuhan akan sandang dan pangan pengrajin Desa Paju mulai mengalami perubahan pada rumahnya meskipun  tidak pada keseluruhanya. Meskipun rumah telah dimiliki  sebelum bekerja sebagai pengrajin namun, terjadi beberapa perubahan meskipun sejak bekerja di industri gamelan. Para pengrajin bisa memperbaiki beberapa bagian rumah yang sudah rusak dengan menyisihkan sedikit uang upahnya. Rata-rata kondisi rumah pengrajin gamelan sudah mengalami perubahan. Pada umumnya rumah yang ditinggali sudah beralaskan semen. Sebelum adanya industri gamelan rumah para pengrajin Desa Paju masih beralaskan tanah liat. Perubahan tersebut dirasa cukup signifikan karena membawa dampak positif bagi pengrajin.

Seiring berjalanya waktu, rumah sebagai sarana berlindung juga mengedepankan estetikanya. Beberapa pengrajin gamelan berusaha menyisihkan upah bulanannya untuk merenovasi bagian yang rusak pada rumahnya. Kondisi rumah para pengrajin telah berhasil mengubah pandangan orang terhadap pekerjaan sebagai pengrajin gamelan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan. Dari hasil kerja sebagai pengrajin mereka dapat membuktikan bahwa pekerjaan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun itu merupakan pekerjaan yang menjanjikan. Para pengrajin dapat membuktikan pada orang-orang yang memandang pekerjaan sebelah mata.

 

2. Kebutuhan Sekunder

Menurut Arfida (2013:15) kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang harus terpenuhi setelah tercukupinya kebutuhan primer. Pengrajin Desa Paju yang saat ini bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi adalah wujud terpenuhinya kebutuhan sekunder. Dilihat dari penghasilan yang diperoleh pengrajin gamelan termasuk dalam golongan pendapatan yang rendah, Namun beberapa dari para pengrajin telah menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Selain itu mayoritas anak pengrajin di Desa Paju pada tahun 2017  minimal sudah mengenyam pendidikan SMA. Para pengrajin tersebut sadar akan pentingnya pendidikan bagi generasi lanjutan.

Terpenuhinya kebutuhan pokok pengrajin gamelan di Desa Paju sedikit meringankan.  Menjadi seorang pengrajin gamelan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun tidaklah mudah mereka harus benar-benar tekun dalam menjalani pekerjaan tersebut. Selain meningkatkan perekonomian para pengrajin keberadaan industri ini juga meningkatkan kesejahteraan sosial bagi pengrajin yang telah menekuni pekerjaan ini. Dengan adanya pengaruh bagi kehidupan pengrajin yang menyangkut aspek sandang, pangan dan papan  maka secara otomatis status sosial para pengrajin yang bekerja di industri gamelan juga tinggi.

Pengaruh ekonomi yang tidak kalah pentingnya bagi kehidupan masa depan anak-anak pengrajin Desa Paju yaitu meningkatnya kesadaran pendidikan. Masyarakat mulai sadar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi hal ini diungkapkan oleh Bapak Sutrisno pada wawancara tanggal 22 Desember 2017 yang menyatakan:

“Alhamdulillah dengan berdirinya industri gamelan Desa Paju telah membantu saya membiayai anak-anak saya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu anak saya saat ini juga sedang berkuliah di Yogyakarta. Salah satu yang memacu semangat saya untuk terus bekerja dan memperbaiki kehidupan”

Dari wawancara di atas diperoleh kesimpulan bahwa pengaruh industri gamelan membawa pengaruh positif terhadap kondisi ekonomi pengrajin Desa Paju. Kesejahteraan pendidikan anak-anak pengrajin gamelan mulai mengalami perkembangan. Hal ini menunjukkan keberadaan industri ini telah mengubah kehidupan ekonomi pengrajin Desa Paju. Dari tingginya kesadaran akan pendidikan di Desa Paju yang semakin meningkat akan membuat anak-anak pengrajin gamelan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian serta pendidikan yang ditempuhnya. Dari sini maka status sosial keluarga pengrajin gamelan di Desa Paju mengalami perubahan yang lebih baik.

 

2. Pengaruh Industri Gamelan Terhadap Kondisi Sosial Pengrajin Desa Paju Kabupaten Ponorogo.

Menurut Soekanto (1999:34) kehidupan sosial dalam suatu masyarakat merupakan hubungan antara kelompok manusia maupun perorangan apabila dua orang bertemu dan saling berinteraksi. Interaksi yang muncul antar kedua orang dengan cara bergotong royong maupun berbicara. Merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial walaupun orang-orang yang bertemu muka tersebut tidak saling mengenal satu sama lain. Adanya interaksi yang terjalin dalam industri rumahan di Desa Paju yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Pada umumnya semakin lama interaksi yang terjalin antar pengrajin maka hubungan sosial yang dimiliki juga akan semakin tinggi.

Keadaan masyarakat akan arti pentingnya pendidikan dalam pembangunan didasari bahwa pendidikan hakekatnya perlu untuk mencapai kemajuan teknologi dan ekonomi. Pendidikan untuk memelihara sistem intelektual tradisional dan untuk memajukan berbagai aspek modernisasi baik yang bersifat material maupun non material. Sumbangan lainnya adalah terciptanya suatu kelas menengah dalam masyarakat di Desa Paju yang terdiri dari golongan kelas atas, menengah dan bawah. Lahirnya kelas menengah ini diharapkan mampu mendorong tingkat kesejahteraan secara cepat. Keberadaan kelas menengah dalam masyarakat secara tidak langsung telah melahirkan pelapisan sosial secara nyata. Menurut Murtolo (1996:112) pelapisan sosial merupakan sesuatu kedudukan seseorang berdasarkan derajat yang ditentukan oleh hubunganya dengan orang-orang lain di dalam masyarakat. Akibat dari adanya perkembangan industri gamelan menunjukkan peningkatan pendapatan pengrajin di Desa Paju yang cukup tinggi.

Industri gamelan  ini dapat menekan angka pengangguran dan menghambat laju urbanisasi masyarakat Desa Paju khususnya bagi mereka yang memiliki keahlian di bidang gamelan untuk tidak mencari pekerjaan di kota-kota besar di Indonesia. Secara tidak langsung warisan usaha industri gamelan dari nenek moyang tersebut dapat bertambah keberadaanya. Ada pengaruh lain dari adanya industri gamelan Desa Paju yaitu sistem kekerabatan yang semakin meningkat. Sebelum adanya industri gamelan sebagian pengrajin adalah petani yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Waktu tersebut digunakan untuk bekerja di sawah mengolah tanah dan berbagai aktifivitas yang bisa menghasilkan pendapatan. Hubungan mereka sangat kuat dan erat setelah berkembangnya industri gamelan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arfida BR.2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia Kuntowidjoyo.2013.Pengantar Ilmu Sejarah.Yogyakarta.Tiara Wacana

Murtolo,Sudarmo Ali.1996. Dampak Pembangunan Ekonomi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.Yogyakarta : Depdikbud

Paeni,Muklis.2009.Sejarah Kebudayaan Indonesia : Sistem Tehnologi . Jakarta : Rajawali Press.

Sjamsudin, Helius & Ismaun. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan direktorat jendral pendidikan tinggi proyek pendidikan teaga akademik.

Tambunan,Tulus.2012.Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia. Jakarta :LP3ES

Hadisasmita, Rahardjo. 2013. Pembangunan Perdesaan: Pendekatan Partisipatif, Tipologi, Strategi, Konsep Desa Pusat Pertumbuhan.Yogyakarta:Graha Ilmu