SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Persepsi Siswa Kelas XI MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Terhadap Mata Pelajaran Sejarah dan Tarikh Bilingual

Arif Shobirin

Abstrak


PERSEPSI SISWA KELAS XI MA AL ISHLAH SENDANGAGUNG PACIRAN LAMONGAN TERHADAP MATA PELAJARAN SEJARAH DAN TARIKH BILINGUAL

Arif Shobirin1 , Najib Jauhari2 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

 

ABSTRAK: Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah

(1) mendeskripsikan persepsi siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan terhadap mata pelajaran sejarah, dan

(2) mendeskripsikan perpsepsi siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan terhadap mata pelajaran tarikh bilingual.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitiannya adalah menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai persepsi siswa terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh terdapat temuan penelitian berupa pengklasifikasian persepsi menjadi 4 bagian, yaitu menarik, manfaat, nilai, dan penting. Hasil dari wawancara yang dilakukan terhadap 17 narasumber terdapat 3 faktor yang mempengaruhi perspesi siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh. Ketiga faktor tersebut adalah faktor pembelajaran, faktor mata pelajaran, dan faktor guru.

 

Kata Kunci: Persepsi, Mata Pelajaran Sejarah, Mata Pelajaran Tarikh, Bilingual

 

PERCEPTION OF THE STUDENT OF XI CLASS OF AL ISHLAH SENIOR HIGH SCHOOL SENDANGAGUNG PACIRAN LAMONGAN ON HISTORY SUBJECT AND BILINGUAL TARIKH

 

ABSTRACT: The purpose of this research are

(1) to describe the perception of student of XI class of Al Ishlah Senior High School Sendangagung Paciran Lamongan on history subject, and

(2) to describe the perception of student  of XI class of Al Ishlah Senior High School Sendangagung Paciran Lamongan on bilingual tarikh subject.

This research uses a descriptive qualitative approach with the research method is to use interview, observation, and documentation. From the results of the research that has been carried out regarding student’s perceptions of historical subject and tarikh there are research finding in the form of classifying perceptions into 4 parts, namely interesting, benefit, value, and importance. The result of the interviews conducted with 17 informant included 3 factors that influenced the perspectives student of XI class of Al Ishlah Senior High School on history subject and tarikh. These three factors are learning factor, subject factor, and teacher factor.

 

Key Words: Perception, History Subject, Tarikh Subject, Bilingual

 

Pendahuluan

Pada umumnya kurikulum yang dianut oleh lembaga pendidikan di Indonesia menganut kebijakan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah. Seperti yang terjadi saat ini, pemerintah di Indonesia memberlakukan kurikulum terbaru menggantikan kurikulum KTSP yaitu Kurikulum 2013 atau yang dikenal dengan K13. Namun, penerapan kurikulum pada lembaga pendidikan tidak selamanya mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi lembaga tersebut tidak mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah salah satunya adalah belum ada kesiapan untuk menerapkan kurikulum sesuai yang sudah diterapkan oleh pemeritah. Bahkan ada pula lembaga pendidikan yang menerapkan dua kurikulum dalam proses pembelajarannya. Bahkan ada pula yang memiliki kurikulum sendiri, hal ini terjadi pada lembaga pendidikan di pesantren misalnya. MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan pondok pesantren Al Ishlah yang memiliki sistem pendidikan yang unik. MA Al Ishlah Sendangagung menerapkan kurikulum yang berbeda dari sekolah-sekolah lain pada umumnya. Kurikulum yang digunakan di MA Al Ishlah Sendangagung adalah kurikulum yang menganut kebijakan pemerintah yaitu kurikulum 2013 dan kurikulum yang menganut kebijakan  pondok yaitu kurikulum ma’hadiyyah yang semua mata pelajarannya menggunakan bahasa Arab. Konsekuensi dari digunakannya dua kurikulum di MA Al Ishlah Sendangagung tersebut adalah adanya dua mata pelajaran berbeda yang diajarkan kepada siswa, dua mata pelajaran berbeda tersebut ialah mata pelajaran sejarah. Mata pelajaran sejarah pertama adalah sejarah nasional sesuai dengan kurikulum 2013 dengan berisi materi-materi sejarah Indonesia serta metode pembelajarannya yang menggunakan bahasa Indonesia seperti pada mata pelajaran sejarah pada umumnya. Mata pelajaran sejarah yang kedua adalah mata pelajaran tarikh. Tarikh merupakan mata pelajaran yang hanya membahas sejarah Islam mulai dari budaya, politik serta kondisi sosial ekonominya. Tarikh sama dengan mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam seperti yang lumrah terdapat pada lembaga pendidikan lainnya khususnya Madrasah Aliyah. Akan tetapi yang menarik pada mata pelajaran tarikh di MA Al Ishlah Sendangagung adalah metode pembelajarannya menggunakan bahasa Arab atau bisa disebut pembelajaran sejarah bilingual. Siswa diberi dua mata pelajaran sejarah yang berbeda dengan metode pembelajaran sejarah yang berbeda memungkinkan terdapat dinamika dalam pembelajaran. Perbedaan strategi pembelajaran yang digunakan guru mengakibatkan siswa akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap pembelajaran sejarah itu sendiri. Strategi sendiri menurut Hamdani (2010:18) dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Persepsi sendiri adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium (Slameto, 2010:102). Perpsepsi juga memiliki ciri-ciri umum, menurut Shaleh & Muhbib (2005:89) terdapat empat ciri-ciri umum dari persepsi, yaitu:

 

1. Modalitas

Rangsang-rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiaptiap indera, yaitu sifat sensosris dasar dan masing-masing indera (cahaya untuk  penglihatan, bau untuk penciuman,suhu bagi perasa, bunyi bagi pendengaran, sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).

2. Dimensi ruang

Dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang), kita dapat mengatakan atas-bawah, tinggi-rendah, luas-sempit, latar depan-latar belakang, dan lain-lain.

3. Dimensi waktu

Dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat-lambat, tuamuda, dan lain-lain.

4. Struktur konteks

Keseluruhan yang menyatu: objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu. Sedangkan mata pelajaran sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang termuat dalam setiap satuan kurikulum pendidikan. Menurut Ulhaq, dkk (2017:1-2) mata pelajaran sejarah Indonesia pada tingkat SMA merupakan sebuah mata pelajaran kelompok wajib A, yang berarti mata pelajaran tersebut wajib diambil oleh seluruh jenis sekolah menengah tingkat atas yang berada di lingkup Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementrian Agama. Mata pelajaran sejarah juga merupakan mata pelajaran yang penting untuk dipelajari. Selanjutnya pelajaran sejarah menurut Kasmadi (1996:13) pelajaran sejarah merupakan salah satu unsur utama dalam pendidikan politik bangsa. Lebih jauh, pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antar bangsa dan Negara. Secara etimologis, sejarah dalam bahasa Arab diartikan sebagai tarikh yang artinya pengetahuan tentang waktu atau waktu terjadinya dan sebab-sebab terjadinya. Sedangkan mata pelajaran tarikh sama halnya dengan mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Karena secara isi materi, baik tarikh maupun sejarah kebudayaan Islam sama-sama merupakan mata pelajaran yang hanya memfokuskan pada satu bahasan saja, yaitu Islam. Baik itu sejarah kebudayaannya, maupun sejarah politik yang terkandung dalam sejarah Islam itu sendiri. Umunya, sejarah kebudayaan ini lebih membahas tentang sejarah  kebudayaan Islam yang ada di Arab. Mulai dari zaman Rasulullah SAW sampai pada zaman dinasti-dinasti seperti dinasti Abbasiyah, Ustmaniyah, dll. Model pembelajaran bilingual merupakan suatu model dimana dalam praktek pembelajarannya menggunakan bahasa asing. Mengingat secara namanya pun berasal dari bahasa Inggris, jadi bilingual adalah pembelajaran yang dalam prakteknya menggunakan bahasa Inggris. Ada beberapa macam model pembelajaran bilingual, menurut Sofyan & Supriyono (2013:213) banyak pendekatan pembelajaran bilingual yang telah dikenal, tiga di antaranya adalah concurrent aproach, preview-review aproach, dan alternate-language approach. Adapun pembelajaran bilingual yang sering digunakan di sekolah-sekolah adalah pembelajaran bilingual concurrent aproach. Dalam pendekatan concurrent aproach ini meggunakan gabungan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian dengan porsi yang khusus ataupun dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan bahasa Arab secara bergantian dengan penggunaan porsi bahasa yang dominan antara dua bahasa. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan didapat temuan awal bahwa pada mata pelajaran sejarah, guru telah menggunakan metode pembelajaran yang variatif. Guru pada mata pelajaran tersebut menggunakan media film sejarah serta power point dalam proses pembelajarannya, akan tetapi siswa masih kurang tertarik terhadap mata pelajaran sejarah sehingga siswa di kelas cenderung pasif dan ditemukan pula siswa yang tidur ketika proses pembelajaran sejarah berlangsung. Sedangkan pada mata pelajaran tarikh, guru menerapkan metode pembelajaran konvensional. Guru cenderung menerapkan metode pembelajaran seperti yang diterapkan pada pesantren salafi. Dimana guru menunjuk salah satu siswa untuk membacakan materi setelah itu dibahas oleh guru, intinya guru lebih banyak menggunakan metode ceramah pada saat pembelajaran berlangsung. Namun siswa di kelas cenderung lebih aktif ketika mengikuti pelajaran tarikh.

 

Pembahasan

Berdasarkan paparan data yang telah dijabarkan, diketahui siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al Ishlah memiliki persepsi yang berbeda pada mata pelajaran  sejarah dan tarikh. Peneliti mengklasifikasikan hasil temuan dari hasil wawancara menjadi 4 bagian, yaitu menarik, manfaat, nilai, dan penting. Peneliti melakukan wawancara kepada siswa kelas XI dengan memilih narasumber secara acak. Seperti diketahui jumlah kelas XI di Madrasah Aliyah berjumlah 9 kelas dengan rincian 5 kelas dengan jurusan IPA dan 4 kelas jurusan IPS. Peneliti melakukan wawancara dengan total 17 narasumber yang terdiri dari 4 siswa kelas XI IPA 1, 1 siswa kelas XI IPA 2, 3 siswi kelas XI IPA 3, 2 siswa kelas XI IPS 1, 3 siswa kelas XI IPS 2, 3 siswi kelas XI IPS 3, dan 1 siswi kelas XI IPS 4. Selanjutnya dari hasil persepsi yang telah diutarakan oleh siswa kelas XI terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh, ditemukan temuan yang terangkum dalam tanel berikut ini:

Hasil Temuan Sejarah Tarikh

Manfaat 2 6

Menarik 6 11

Penting 8 5

Nilai 4 2

Gambar 4.8: Tabel Pernyataan Siswa Terhadap Mata Pelajaran Sejarah dan Tarikh

Dari hasil tabel di atas disimpulkan bahwa terdapat 6 siswa yang mengaggap mata pelajaran tarikh lebih mempunyai manfaat daripada mata pelajaran sejarah. Sedangkan 2 siswa menganggap mata pelajaran sejarah lebih mempunyai manfaat daripada mata pelajaran sejarah. Selanjutnya terdapat 11 siswa yang berargumen mata pelajaran tarikh lebih menarik daripada mata pelajaran sejarah. Sedangkan 6 siswa lainnya lebih tertarik pada mata pelajaran sejarah. Lalu terdapat 8 siswa yang menyatakan bahwa mata pelajaran sejarah lebih penting daripada mata pelajaran tarikh. Sedangkan 5 siswa memilih mata pelajaran tarikh lebih penting. Terakhir, terdapat 4 siswa yang berpendapat bahwa mata pelajaran sejarah lebih mempunyai nilai daripada mata pelajaran tarikh. Sedangkan 2 lainnya memilih mata pelajaran tarikh lebih mempunyai nilai daripada mata pelajaran sejarah. Dari hasil tabel di atas juga hanya kolom menarik yang memiliki jumlah akumulasi sama dengan jumlah total narasumber yaitu 17. Sedangkan pada kolom penting, nilai, dan manfaat jumlah akumulasinya tidak  sama dengan jumlah narasumber. Hal ini dikarenakan sebagian siswa tidak memberikan argumen yang berkaitan dengan penting, nilai, dan manfaat dari mata pelajaran sejarah dan tarikh. Selanjutnya dari hasil paparan data di atas, peneliti menyimpulkan 3 faktor yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh. Tiga faktor tersebut adalah faktor mata pelajaran, proses pembelajaran, dan guru. Penjelasan lebih singkatnya dapat dilihat pada peta konsep di bawah ini:

Gambar 4.9: Peta Konsep Persepsi Siswa Terhadap Mata Pelajaran Sejaran dan Tarikh

Penjabaran dari tiga faktor yang mempengaruhi siswa terhadap mata pelajaran sejarah dan tarikh adalah sebagai berikut:

 

1. Faktor Mata Pelajaran

Siswa menganggap mata pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang penting karena memuat nilai terhadap perjuangan para pahlawan selain itu juga mata pelajaran sejarah dianggap penting karena membahas kejadian masa lalu Sejarah Tarikh Faktor yang Mempengaruhi:

1. Mata Pelajaran

2. Proses Pembelajaran

3. Guru Nilai

Manfaat Penting Menarik Persepsi Siswa yang penting. Sedangkan mata pelajaran tarikh merupakan mata pelajaran yang berbahasa Arab dengan materi sejarah kebudayaan Islam. Bahasa Arab yang merupakan bahasa yang digunakan oleh siswa sebagai komunikasi sehari-hari selama di pondok pesantren. Mengingat mayoritas siswa Madrasah Aliyah Al Ishlah adalah santri di Pondok Pesantren Al Ishlah. Mata pelajaran tarikh sendiri secara materi memang tidak sebanyak materi yang ada di mata pelajaran sejarah.

 

2. Faktor Proses Pembelajaran

Pembelajaran sejarah di kelas XI IPA dan IPS berbeda. Hal tersebut dikarenakan guru yang mengajar sejarah di kelas IPA dan IPS berbeda. Selain itu di kelas XI IPS juga terdapat dua mata pelajaran sejarah yaitu sejarah wajib dan peminatan dengan guru yang berbeda pula. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan melalui wawancara, siswa menggagap proses pembelajaran sejarah terkadang membosankan sehingga siswa kurang antusias terhadap pembelajaran tersebut. Walaupun guru sudah menggunakan metode pembelajaran yang variatif seperti menayangkan video atau film sejarah serta melakukan tanya jawab, namun tidak siswa masih kurang antusias pada saat pembelajaran sejarah. Bahkan pada saat guru menayangkan video atau film sejarah terlihat siswa justru dengan lelap tertidur di kelas. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil dokumentasi pada saat observasi yang dilakukan peneliti. Temuan siswa yang tertidur pada saat guru menayangkan video sejarah terjadi di kelas XI IPA 4. Sedangkan pada pembelajaran tarikh dari hasil wawancara yang telah dilakukan, siswa berpendapat bahwa pembelajaran tarikh lebih menarik. Meskipun mata pelajaran tarikh menggunakan bahasa Arab, tetapi siswa justru beranggapan lebih tertantang dalm belajar tarikh. Karena bagi siswa selain mempelajari sejarah kebudayaan Islam, siswa juga belajar tentang bahasa Arab lebih dalam. Siswa dapat memperkaya mufrodat atau kosakata yang belum diketahui menjadi tahu setelah mempelajari tarikh. Sehingga dapat meningkatkan kemahiran siswa terhadap bahasa Arab juga. Selain itu, materi pada mata pelajaran tarikh yang tidak terlalu banyak menjadikan siswa lebih senang pada saat belajar tarikh di kelas. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti juga terlihat siswa lebih antusias pada saat pembelajaran berlangsung.

 

3. Faktor Guru

Guru sejarah wajib di kelas XI IPA adalah Bapak Ali Efendi, sedangkan guru sejarah wajib di kelas XI IPS adalah Bapak Sekargondo dan guru sejarah peminatan kelas XI IPS adalah Bapak Robithoh Islami. Adapun guru mata pelajaran tarikh kelas XI adalah Ust. Farid As Siddiqi. Bapak Ali Efendi merupakan guru sejarah sejak tahun 2007 serta mempunyai latar belakang pendidikan sejarah juga. Sedangkan Bapak Sekargondo mengajar sejarah sejak tahun 2012 dan Bapak Robithoh Islami mengajar sejarah sejak tahun 2017. Bapak Sekargondo dan Robithoh Islami sama-sama tidak memiliki latar belakangan pendidikan sejarah. Adapun Ust. Farid As Siddiqi mengajar tarikh sejak tahun 2012. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh siswa, Bapak Ali Efendi sering menayangkan film atau video sejarah pada saat pembelajaran. Serta dalam menjelaskan materi juga sering menggunakan media power point. Terdapat siswa yang antusias pada saat guru menayangkan video atau film juga terdapat pula siswa yang kurang antusias. Selain itu, metode pembelajaran Bapak Ali Efendi lainnya adalah tanya jawab dan diskusi. Selanjutnya metode pembelajaran Bapak Sekargondo lebih banyak menggunakan metode ceramah. Selain ceramah, sesekali Bapak Sekargondo juga menayangkan video atau film yang berkaitan dengan materi sejarah juga metode tanya jawab dan diskusi. Menurut siswa, Bapak Sekargondo juga orangnya suka melucu pada saat pembelajaran berlangsung namun terkadang hanya sedikit yang tertawa. Bapak Sekargondo juga orangnya santai bahkan saking santainya terkadang siswa yang tertidur di kelas dibiarkan saja. Tetapi terkadang pula Bapak Sekargondo mengintruksikan siswa untuk berdiri dan melakukan peregangan agar kembali fresh dalam mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, Bapak Robithoh Islami yang mengajar sejarah peminatan merupakan guru yang terbilang masih baru. Bapak Robithoh Islami baru mengajar sejarah sejak tahun 2017. Menurut siswa, Bapak Robithoh Islami merupakan guru yang tegas tapi tetap santai. Namun terkadang pula tidak memperhatikan siswa yang tertidur di kelas. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh Bapak Robithoh Islami hampir sama dengan metode yang digunakan oleh guru sejarah kelas XI lainnya. Metode ceramah tetap menjadi pilihan pertama selanjutnya yaitu  penayangan video atau film sejarah, tanya jawab, serta presentasi. Dapat dikatakan, meskipun pengalaman mengajar Bapak Robithoh Islami belum lama namun sudah dirasa cukup dalam mengajar sejarah. Kekurangnnya menurut siswa adalah Bapak Robithoh kurang bisa melucu sehingga proses pembelajaran di kelas terkesan agak kaku. Guru mata pelajaran tarikh adalah Ust. Farid As Siddiqi yang telah mengajar sejak tahun 2012. Mata pelajaran tarikh sendiri menitikberatkan pada kemampuan berbahasa Arab bagi siswa. Sehingga siswa banyak yang beranggapan jika mata pelajaran tarikh akan mudah difahami apabila mahir dalam berbahasa Arab. Meskipun terdapat siswa yang kurang mahir dalam berbahasa Arab, namun mata pelajaran tarikh tetap banyak diminati. Salah satunya yaitu karena faktor guru yang mengajar. Guru mata pelajaran tarikh di mata siswa cukup menyenangkan. Terdapat kedekatan pula antara guru dengan siswa karena guru tarikh menjadi staff pengasuhan santri di pondok pesantren Al Ishlah. Sehingga seringkali juga berinteraksi di luar jam sekolah. Metode pengajaran yang digunakan guru tarikh memang lebih banyak menggunakan metode ceramah. Selain ceramah, metode tanya jawab juga digunakan untuk mengukur tingkat pemahan siswa terhadap materi yang telah di jelaskan.

 

Penutup

Kesimpulan

Siswa menganggap mata pelajaran sejarah merupakan mata pelajaran yang penting karena membahas kejadian atau peristiwa penting yang terjadi di masa lalu. Siswa juga beranggapan bahwa dengan belajar sejarah dapat mengambil makna serta nilai. Proses pembelajaran sejarah di kelas XI juga bervariasi, hal tersebut dikarenakan terdapat tiga guru yang mengajar sejarah. Tanggapan pembelajaran sejarah dari ketiga guru tersebut juga beragam. Persepsi siswa kelas XI MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan terhadap mata pelajaran tarikh bilingual juga beragam. Siswa berpendapat bahwa mata pelajaran tarikh adalah mata pelajaran yang menarik karena membahas sejarah Islam pada zaman Khulafaur Rasyidin.

 

Saran

1. Bagi guru sejarah dan tarikh di MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan untuk lebih memperhatikan kondisi siswa di kelas pada saat pembelajaran.

2. Bagi Kepala Sekolah MA Al Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan dihaharapkan menambah fasilitas penunjang pembelajaran di kelas.

3. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama baik bagi guru, kepala sekolah, dan siswa sehingga pembelajaran sejarah dan tarikh dapat berjalan lebih baik lagi di masa yang akan datang.

4. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat lebih dalam lagi menggali referensi terkait mata pelajaran sejarah, tarikh, serta pembelajaranya sehingga dapat dijadikan pembanding karya lain.

 

Daftar Rujukan

 

Hamdani. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Kasmadi, H. 1996. Model-model Dalam Pengajaran Sejarah. Semarang: Semarang Press. Shaleh & Muhbib. 2005. Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Prenada Media. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruinya. Jakarta: Rineka Cipta. Ulhaq, dkk. 2017. Pembelajaran Sejarah Berbasis Kurikulum 2013 di SMA Kotamadya Jakarta Timur. Jurnal Pendidikan Sejarah, (Online), Vol. 6 No.02 Juli 2017, (https://media.neliti.com/media/publications/209919- pembelajaran-sejarah-berbasis-kurikulum.pdf) diakses 31 Januari 2019. Sofyan, M. A. & Supriyono. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Bilingual Preview Review Berbasis Inquiry 5E Dalam Pembelajaran Fisika di SMA Negeri 2 Kediri. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika, (Online), Vol. 02 No. 03 Tahun 2013, 212-216, (http://ejournal.unesa.ac.id/article/6762/32/article.pdf), diakses 23 Oktober 2016.