SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KESESUAIAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SEJARAH INDONESIA DENGAN KURIKULUM 2013 KELAS X DI MA BAHRUL ULUM JATISARI TAJINAN

Nailul Faidhoh

Abstrak


KESESUAIAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SEJARAH INDONESIA DENGAN KURIKULUM 2013 KELAS X DI MA BAHRUL ULUM JATISARI TAJINAN

Nailul Faidhoh, Kasimanuddin Ismain Universitas Negeri Malang

E-mail: lulianfaidhoh@gmail.cocm

 

Abstrak

Rencana pelaksanaan pembelajaran digunakan sebagai fasilitas untuk mengetahui ketercapaian standar kompetensi lulusan. RPP sejarah Indonesia selain digunakan untuk mencapai SKL juga memiliki peran penting dalam membangun peradaban Indonesia. Fokus pembahasan dalam artikel ini  adalah kesesuain RPP Sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari Tajinan dengan Kurikulum 2013. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Hasil pembahasan menunujukan jumlah skor telaah RPP sebesar 77,7 hal ini dapat disimpulkan bahwa Kurikulum benilai cukup sesuai dengan Kurikulum 2013.

 

Kata kunci: RPP Sejarah Indonesia kelas X, Kurikulum 2013 

RPP merupakan tahap awal dari perencanaan pembelajaran yang digunakan untuk menfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap peserta didik mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat (Widyastono, 2014: 193). Demi menciptakan pembelajaran yang menyenengkan serta mencapai kompetensi lulusan yang ditentukan maka setiap matapelajaran diwajibkan utuk membuat RPP termasuk matapelajaran sejarah Indonesia. Matapelajaran sejarah Indonesia memiliki fungsi yang sangat penting untuk memperkuat dan memilihara kesatuan nasional lewat kesadaran nasional dengan mengetahui sejarah negaranya (Kartodirdjo, 1988: xvi), sehingga dapat dikatakan bahwa matapelajaran Indonesia memiliki arti yang strategis untuk pembentukan watak dan peradaban Indonesia.

Berdasarkan standar yang ditetapkan pemerintah dalam mengetahuai tingkat keterbacaan dan tingkat kesesuaian, pengembangan RPP mengacu pada Permendikbud nomor 22 tahun 2016 (standar proses) dan Permendikbud nomor 103 tahun 2014 (Hatikah, dkk., 2017: 53). Namun penerapan dilapangan sangat berbeda, masih ada sekolah yang belum menggunakan ketentuan tersebut. Salah satunya ialah sekolah MA Bahrul Ulum yang terletak di desa Jatisari kecamatan Tajinan kabupaten Malang.  Berdasarkan wawancara awal  tanggal 11 November 2018 pada pukul 08.00-09.00 WIB dengan bapak Miftahur Rohman S.Pd. I selaku guru sejarah Indonesia di MA Bahrul Ulum Jatisari kecamatan Tajinan, mengungkapkan bahwa:

“Pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran tidak sulit selama masih berpedoman pada undang-undang, bahkan di internetpun sudah banyak contoh-contoh pembuatan RPP. Pedoman rencana pelaksanaan pembelajaran sejarah Indonesia di sekolah MA Bahrul Ulum berlandaskan pada Permendikbud nomor 103 tahun 2014” (wawancara dengan Bapak Miftah, 11 November 2018).

Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa dalam pengembangan RPP sejarah Indonesia yang dilakukan oleh guru subyek masih berdasarkan Permendikbud No. 103 tahun 2014. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dalam pengembangan RPP kurang sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada Kurikulum 2013.

Selain itu, pada ada hasil obeservasi awal pembelajaran sejarah Indonesia kelas X tanggal 11 November 2018 pukul 12.00-13.00 WIB di MA Bahrul Ulum Jatisari kurang menampakan implementasi Kurikulum 2013. Dimana pada proses pembelajaran belum berpusat pada peserta didik. Hal ini ditandai dengan peserta didik hanya melakukan aktifitas sebagai pendengar informasi dari guru, bukan sebagai pihak yang mencari informasi disisi lain, usaha guru untuk  mengaktifkan peserta didik dengan mengajukan pertanyaan tingkat dasar seperti “bagaimana cara-cara islamisai di Indonesia?”

Kegiatan literasi yang menjadi ciri dari Kurikulum 2013 juga belum begitu nampak, kegiatan pembelajaran hanya bertumpu pada LKS (Lembar Kerja Peserta didik). Selama pembelajaran sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum berlangsung, kegiatan membaca dan menulis yang dilakukan peserta didik hanya ketika guru mengajukan pertanyaan saja. Akibatnya kontak peserta didik dengan sumber belajar sangat minin. Padahal kegiatan ini begitu penting  bagi peserta didik untuk memahami pesan-pesan moral dari apa yang telah dipelajari (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, 2016: 25). Selain itu, kegiatan tersebut termasuk dalam prinsip-prinsip pengembangan RPP dimana dalam menyusun RPP harus mengembangkan budaya membaca dan menulis (Widyastono, 2014: 201).

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kesesuaian RPP Sejarah Indonesia dengan Kurikulum 2013 Kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari Tajinan. Penelitian ini tidak bertujuan untuk menghakimi guru sebagai perencana maupun pelaksana proses pembelajaran melainkan secara bersama-sama untuk saling membantu dan memudahkan pencapain tujuan pendidikan. Dimana pendidikan adalah jalan terindah untuk membangun peradapan (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, 2016: 23). Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti “ Kesesuaian RPP Sejarah Indonesia dengan Kurikulum 2013 Kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari Tajinan”

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini ialah kata-kata dan tindakan selain itu didukung dengan data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Lofland& Lofland dalam Moleong, 1988: 95). Berdasarkan uraian tersebut maka subyek pada penelitian yang telah dilakukan ialah guru sejarah Indonesia di MA Bahrul Ulum Jatisari Tajinan yang terdiri dari 1 guru. Objeknya berupa RPP sejarah Indonesia kelas X dan terdiri dari 1 RPP dengan KD 3.7, 3.8, 4.7 dan 4.9. Data yang dikumpulkan diperoleh melalui wawancara dan hasil studi dokumen. Hasil studi dokumen dilakukan dengan chek list berdasarkan hasil telaah kesesuian setiap komponen RPP dengan Kurikulu 2013.

 

HASIL & PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa MA Bahrul Ulum Jatisari Tajinan telah menerapkan Kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2017/2018. Penerapan Kurikulum 2013 tersebut memiliki banyak kendala dikarenakan kurangnya kesiapan dari pihak sekolah namun, pihak sekolah tetap berusaha untuk mengimplementasikan Kurikulum dalam segala aspek pembelajaran termasuk RPP. Pedoman pengembangan RPP dapat dilihat dalam Permendikbud No. 22 tahun 2016 dan Permendikbud No. 103 tahun 2014. Namun, peneliti menemukan adanya ketidak sinkronan antara RPP Sejarah Indonesia kelas X dengan Kurikulum 2013 di MA Bahrul Ulum Jatisari Tajinan.

Rencana pelaksanaan pembelajaran Sejarah Indoesia kelas X di MA Bahrul Ulum dikembangkan hanya berlandaskan pada Permendikbud No. 103 tahun 2014. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa pihak Kurikulum telah mensosialisasikan pendoman pembuatan RPP yakni berdasarkan Permendikbud No. 22 tahun 2016. Namun, karna kurangnya pengawasan dari pihak sekolah masih ada pendidik yang menggunakan permendikbud lama tanpa memadukan dengan Permendikbud yang baru. Untuk mengetahui kesesuian RPP Sejarah Indoesia kelas X dengan Kurikulum 2013 maka secara terperinci akan dijabarkan melalui komponen-komponen RPP dibawah ini:

 

1. Identitas RPP

Komponen pertama dalam RPP ialah Identitas. Menurut Permendikbud No. 22 tahun 2016 Identitas RPP terdiri atas identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan, identitas mata pelajaran atau tema/ subtema, kelas/ semester, materi pokok, dan  alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan  untuk  pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil studi dokumen pada RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari dapat diketahui bahwa identitas yang dicantumkan kurang pada satu point yakni tidak dicantumkannya materi pokok, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa  identitas yang telah dirancang guru subyek kurang sesuai dengan ketentuan.

Jika pada tahap komponen identitas kurang lengkap/ kurang sesuai maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada komponen yang lain akan terjadi hal serupa. Hal ini dikarenakan kelengkapan identitas dapat dijadikan sebagai  penialaian awal terhadap ketelitian guru dalam penyusunan RPP. Namun, ketika ditinjau kembali dari sisi landasan Permendikbud  yang digunakan untuk pengembangan RPP oleh guru subyek memang pada komponen identitas, tidak ada materi pokok. Permasalah yang terjadi ialah Permendikbud yang berlaku untuk pengembangan RPP saat ini mengacu pada perpaduan Permendikbud No. 22 tahun 2016 dan Permendikbud No. 103 tahun 2014. Berdasarkan uarain tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penyebab ketidak sesuaian identitas guru memang karna landasan yang dipakai kurang sesuai dengan ketentuan.   

 

2. Kompetisi Inti dan Kompetensi Dasar

Kompetensi Inti menurut Permendikbud No. 21 tahun 2016 mencangkup kompetensi sikap yang terbagi atas sikap spiritual, dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari menunjukan bahwa KI yang dicantumkan pada RPP sejarah Indonesia kelas X  telah  sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kesesuaian KI ini memiliki kedudukan yang sangat penting untuk memberikan arahan pada tingkat kompentensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan minimal, yang harus dicapai oleh peserta didik. KI menjadi tingkat awal untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Jika KI tidak terpenuhi/ tidak sesuai ketentuan maka dapat dipastikan bahwa peserta didik tidak dapat mencapai standar kompetensi lulusan yang akan berakibat fatal kepada ketetercapaiannya pendidikan nasional. Sehingga pemenuhan KI dalam RPP ini dapat dikatan memegang peranan utama dalam penyusunan RPP.

KD merupakan tingkat kemampuan suatu pokok bahasan pada mata pelajaran yang mengacu pada Kompetensi Inti (Hatikah, dkk, 2017: 13). Berdasarkan data yang diperoleh KD yang dicantumkan dalam RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013. Kesesuaian KD juga memiliki kedudukan yang penting di dalam RPP. Hal ini dikarenakan KD merupakan dasar pengembangan materi pembelajaran dan juga ketrampilan bagi peserta didik. Jika KD tidak dicantumkan dalam RPP maka dapat dipastikan bahwa tidak akan ada materi yang dapat dikembangkan dalam RPP yang direncanakan.

 

3. Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran

Menurut MGMP sejarah Jawa Timur (2018) mengungkapkan bahwa IPK disusun menggunakan kata kerja opresional yang dapat diukur dan dijabarkan dari KD pengetahuan dan KD ketrampilan. Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari mengungkapkan bahwa guru subyek tidak menggunakan KKO dalam merumuskan IPK namun, jika dicermati kembali IPK yang telah dirumuskan dapat dikategorikan menggunakan kata kerja operasional dalam tingkatan C1 (mengidentifikasi) dan C2 (menjelaskan) diranah pengetahuan. Jika dikaji kembali KKO tersebut maka, dapat dikategorikan kurang sesuai dengan KD 3.7 dan 3.8 yang telah dicantumkan dimana, seharusnya memakai tingkatan C4 (menganalisis) namun, yang digunakan berada pada tingkatan C1 dan C2. Selain itu, IPK yang telah disusun oleh guru subyek hanya penjabaran dari KD pengetahuan sedangkan KD 4.7 dan KD 4.8 pada ranah ketrampilan tidak dijabarkan.

Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Permendikbud No. 22 Th 2016).  Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari mengungkapkan bahwa tujuan yang dirumuskan hanya mencangkup pengetahuan saja sedangkan untuk kompetensi sikap dan ketrampilan tidak dicantumkan. Secara keselurahan dapat diambil kesimpulan bahwa IPK dan tujuan pembelajaran yang telah disusun kurang sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013.

Kurang sesuainya IPK dan tujuan pembelajaran ini akan berakibat fatal bagi peserta didik. Hal ini dikarenakan peserta didik hanya akan diarahkan kepada kompetensi pengetahuan saja tanpa memperdulikan pengembanggan ketrampilan dan sikap peserta didik. Jika permasalahan ini berlanjut maka akan menyebabkan tidak seimbannya antara pengetahuan dengan sikap dan ketrampilan yang dimiliki oleh peserta didik. Padahal pengalaman belajar ini nantinya akan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat (Kemendikbud, 2017: 6).

 

4. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran harus memuat fakta, konsep/ prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi/ IPK (Permendikbud No 22 tahun 2016). Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari diketahui bahwa materi pembelajaran secara keseluruhan memang tidak dipisahkan antara materi yang memuat fakta, konsep/ prinsip, dan prosedur namun, secara menyeluruh meteri tersebut telah memuat 3 point yang telah disebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa materi pembelajaran yang telah dicantumkan oleh guru sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013. 

Kesesuaian materi dalam RPP sangatlah penting dan tidak boleh diremehkan. Hal ini dikarenaka dengan adanya materi peserta didik dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran. Dimana pengetahuan tersebut dapat mendorong rasa ingin tahu, rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menggunakan pengetahuan untuk kemajuan dirinya di zaman 4.0 saat ini.

 

5. Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran harus mampu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai (Permendikbud No 22 tahun 2016). Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari diketahui bahwa metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan penugasan. Menurut keterangan dari subyek metode yang digunakan mampu membuat peserta didik belajar dengan aktif dan mencapai KD yang ditelah ditentukan. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan saintifik yang bermuara pada kegitan 5 M. Secara tidak langsung maka dapat disimpulkan bahwa metode yang telah dipilih oleh subyek sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013. Namun, subyek tidak menggunakan model pembelajarn tertentu hal ini dikarenakan kuarang terbiasanya pendidik dalam menerapkan model pembelajaran.

Kendati demikian kurikulum tidak mempermasalahkan model  pembelajaran yang digunakan oleh guru namun, harus relevan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran. Hal ini dikarenakan setiap matapelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Selaian itu, penggunaan model maupun metode pembelajaran diharapkan dapat meciptakan pembelajaran yang bermuara pada HOTS. Disisi lain penggunaan model dan metode tersebut dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan serta guru mampu melaksanakan dalam pembelajaran.

 

6. Media pembelajaran

Media Pembelajaran berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran (Permendikbud No 22 tahun 2016). Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari mengungkapkan bahwa guru subyek tidak menggukana media karena kurangnya fasilitas yang tersedia sedangkan alat yang digunakan yakni berupa papan tulis. Alat yang dicantumkan dapat dikatakan belum mampu untuk memenuhi karakteristik belajar peserta didik yang beragam. Padahal pendidik sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua keunikan yang melekat pada tiap peserta didik salah satunya dengan pemanfaat berbagai media pembelajaran (Dimyati & Mudjiono, 2013: 66).

 Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yang telah dicantumkan oleh guru kurang sesuai dengan Kerikulum 2013. Kurang  sesuaian ini dapat pastikan akan  mempengaruhi  iklim  belajar, kondisi dan lingkungan belajar  yang  ditata  dan  dikelola  oleh  guru. Hal ini dikarenakan tidak adanya media yang dapat mengatasi  keterbatasan indera, ruang dan waktu serta dapat memfasilitasi peserta didik untuk belajar lebih luas. Contohnya untuk kedatangan dan persebaran Islam di Indoenesia diperlukan peta untuk mengatasi keterbatasan ruang.

 

7. Sumber Belajar

Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak, elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan (Permendikbud No 22 tahun 2016). Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari dijelaskan bahwa sumber pembelajaran yang digunakan yakni buku sejarah Indonesia kelas X, buku paket dan buku lain yang relevan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sumber belajar yang dicantumkan dalam RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum kurang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Kurang kesesuaian tentu saja akan berakibat kurang terpenuhinya literasi peserta didik. Penggunaan sumber belajar yang berupa buku Indonesia kelas X, buku paket dan buku lain yang relevan memang akan mendorong literasi membaca dan menulis peserta didik jika guru dapat memanfaatkan dengan baik. Namun, untuk kebetuhan literasi informasi yang luas terhadap sumber sejarah maupun teknologi akan kurang terpenuhi.

 

8. Kegiatan Pembelajaran

Langkah Pembelajaran menurut Permendikbud No. 22 tahun 2016 harus dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup

a. Kegiatan Pendahuluan:

Menurut Hatikah dkk (2017: 32) ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam kegiatan pendahulan yakni sebagai berikut:

1) mengklondisikan suasana belajar yang menyenangkan, bisa berupa lingkungan, digital, atau bahan cetak;

2) mendiskusi kompetensi yang sudah dipelajari dan dikembangan sebelumnya berkaitan dengan kompetensi yang akan dipelajari dan dikembangkan terkait dengan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan;

3) menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari;

4) menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan termsuk pengetahuan nilai-nilai karakter sesuai tuntunan KD; dan

5) menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan, termasuk penilaian kemampuan literasi dan penguatan pendidikan karakter.

Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari menunjukkan bahwa point-point diatas telah tercantum dalam RPP namun ada satu point yang tidak tercantum yakni point menyampaian penilaian yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendahuluan yang telah dirancang kurang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Penyampaian penilaian pada awal pembelajaran sebenarnya dapat dikatakan hal yang sederhana namun, memiliki efek yang sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan dengan adanya penyampaian penilaian yang akan mendorong peserta didik semangat untuk terus belajar. Selain itu, juga dapat mendorong peserta didik untuk mengali informasi yang ingin diketahui. Pada dasarnya dalam  proses pembelajaran  memang  di perlukan dorongan yang kuat  baik dari dalam diri peserta didik, guru, keluarga ataupun masyarakat. Salah satu bentuk dorongan yang dapat guru lakukan yakni dengan penyampaian penilaian yang akan dilakukan secara objektif.

b. Kegiatan Inti

Menurut Permendikbud nomor 22 tahun 2016, Kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan  mata pelajaran.Penggunaan model, metode, dan sumber belajar. Berdasarkan data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari menunjukkan bahwa  dalam kegiatan  pembelajaran metode pembelajaran dan sumber belajar telah digunakan secara maksimal namun, belum ada kegiatan yang bersinggungan dengan  media pembelajaran. Selain itu, guru subyek tidak menggunakan model pembelajaran tertentu dikarenakan kurang tersbiasa guru subyek dalam menerapkan model pembelajaran. Uraian tersebut sudah mampu menjelaskan bahwa dalam kegiatan inti belum terencana secara maksimal.

Menurut MGMP Jawa Timur (2018) dalam kegiatan inti juga harus menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan lain yang relevan dengan karakteristik materi dan mata pelajaran. Berdasarkan  data yang diperolehmenunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan ialah pendekatan saitifik yang bermuara pada kegiatan 5 M. Selain itu kegiatan pembelajaran juga telah menumbuhkan kegiatan literasi dalam hal membaca dan menulis, serta mengembangkan karakter siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perencanaan kegiatan inti dalam RPP sejarah Indonesia kelas X sesuai dengan Ketentuan Kurikulum 2013

c. Kegiatan Penutup

Menurut Hatikah dkk (2017: 32) ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam kegiatan penutup yakni sebagai berikut:

1) kegiatan guru bersama peserta didik yaitu: membuat rangkuman/ simpulan pembelajaran, melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan, dan memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajara; dan

2) kegiatan guru yaitu: melakukan penilaian, merencanakan tindak lanjut dalam bentu pembelajaran remidial, program pengayaan, layanan konseling/ memberikan tugas baik tugas individu maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Data dari hasil studi dokum RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari menunjukkan bahwa guru subyek dalam kegiatan penutup telah menyantumkan  poin-poin di atas sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang dirancang oleh guru sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013. Kegiatan penutup ini sangat penting untuk melihat pencapaian kopetensi bagi peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Harapannya dengan melakukan kegiatan penutup dapat mejadi bahan perbaikan untuk RPP pada pertemuan selanjutnya.

Berdasarkan uraian diatas secara keseluruhan maka dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan pembelajaran yang telah dirancang oleh guru subyek telah memenuhi ketentuan Kurikulum 2013. Dimana kegiatan pembelajaran memuatan kegiatan pedahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

 

9. Penilaian

Penilaian menurut Permendikbud nomor 22 tahun 2016, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

“Penilaian dapat dilakukan saat proses pembelajaran dengan menggunakan alat: lembar pengamatan, angket sebaya, rekaman, catatan anekdot, dan refleksi. Penilaian juga dapat dilakukan saat proses pembelajaran dan di akhir satuan pelajaran dengan menggunakan metode dan alat: tes lisan/perbuatan, dan tes tulis. Penilaian akhir diperoleh dari gabungan penilaian proses dan penilaian hasil pembelajaran”.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa penilaian yang telah dirancang dalam RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum  dilakukan dengan beberapa teknik. Penilaian yang dilakukan mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian sikap diambil melalui lembar pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian pengetahuan diambil melalui tes tulis dengan bentuk soal uraian berjumlah 5 soal. Soal-soal yang telah dibuat belum memuat HOTS (tingkatan C4-C6) hal ini dikarenakan soal-soal tersebut hanya memuat LOTS (tingkatan C1-C3). Penilaian ketrampilan diambil melalui tugas portofolio namun, dari keseluruhan penilaian yang akan dilakukan belum ada pedoman penskoran untuk mengukur hasil pencapaian belajar. Padahal hal ini sangat penting untuk penentuan penilaian agar diperoleh hasil penilan yang objektif. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penilaian yang telah dirancang oleh subyek dalam RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum kurang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Berdasarkan analisis komponen-komponen RPP yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa kesesuaian komponen RPP sejarah Indonesia kelas X di MA Bahrul Ulum Jatisari yang dirancang oleh bapak Mifta bernilai cukup sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013. Namun, berdasarkan data yang diperoleh menunjukan bahwa landasan permendikbud yang digunakan oleh guru subyek cukup sesuai (skor hasil telaah RPP 77,7) dengan ketentuan Kurikulum 2013. Menurut Al-Tabany (2014: 244) mengungkapkan bahwa Penyusunan RPP merupakan aktualisasi kemampuan profesional guru dalam mengembangkan Kurikulum. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru subyek cukup profesional dalam kemampuan mengembangkan Kurikulum.

 

Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas diperoleh kesimpulan bahwa RPP sejarah Indonesia kelas X cukup sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013. Hasil telaah RPP sejarah Indonesia kelas X yang telah dilakukan oleh peneliti memperoleh skor 77,7 (cukup sesuai). Hal ini menunjukan bahwa pengembangan kemampuan bagi tenaga kependidikan belum maksimal.

Belum maksimalnya kemampuan tenaga kepedidikan ini memang sudah menjadi permasalahan pokok dalam bidang pendidikan. Namun ketika permasalahan tersebut dapat dideteksi dan ditanggulangi mulai dari akar maka diharapkan sistem pendidikan nasional dapat menjalankan tugasnya dengan baik yakni menjamim pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efesiensi menejemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan kesinambungan.

 

Daftar Rujukan

Al-Tabany, Trianto I. B. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual: Konsep, Landasan dan Ipmlementasi pada Kurikulum 2013. Jakarta: Prenadamedia Group.

Dimyati & Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:PT. Rineka Cipta.

Hatikah, T., Riva’i, Hasanah, U., Suryana, E. S., & Nurdin, M. A.   2017. Srjarah Indonesia SMA. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menenngah Atas Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jendela Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Empat Perbaikan Kurikulum 2013. Jakarta: KEMENDIKBUD RI.

Kartodirdjo, S. 1988. Pengantar Sejarah Indonesia Bru: 1500-1900: dari Emporium sampai Imperium (Jilid 1). Jakarta: Gramedia

Kemendikbud. 2017. Model Pengembangan RPP. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Drektorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

MGMP Jawa Timur. 2018. Tuntunan Penyusunan RPP. Soft file pemberian guru pamong pada KPL tahun ajaran 2018/2019 di SMA N Taruna Nala Jawa Timur.

Moleong, L. J. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Salinan Lampiran Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No. 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. (Online). (http://bsnp-indonesia.org/standar-isi/), diakses 15 Februari 2016.

--------------------------------------------------------------------------------- No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. (Online). (http://bsnp-indonesia.org/standar-proses/), diakses 15 Februari 2016.

 

Widyastono, H. 2014. Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi Daerah: dari Kurikulum 2004, 2006, ke Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.