SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perilaku Sosial-Keagamaan Pada Masyarakat Multi Agama (Studi Kerukunan Beragama Pada Masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar)

Ani Juwita

Abstrak


Penelitian tentang kerukunan beragama masyarakat Desa Sidomulyo
Kecamatan Selorejo ini dilandasi oleh ketertarikan penulis terhadap kondisi sosial
yang tumbuh di Desa Sidomulyo. Desa Sidomulyo merupakan salah satu miniatur
dari kehidupan beragama yang  menjadi dambaan dan cita-cita bangsa yang
memiliki berbagai macam agama. Masyarakat Desa Sidomulyo menganut empat
agama dan satu aliran kepercayaan yang tumbuh dan berkembang secara
beriringan, yaitu, Islam, Kristen Protestan, Khatolik, Budha dan satu aliran
kepercayaan Paguyuban Pangestu. Penganut masing-masing agama dan
kepercayaan tersebut hidup berdampingan. Pembangunan tempat ibadah mereka
pun berdampingan. Dalam kehidupan bermayarakat tidak ada pengelompokan dari
salah satu penganut agama dan kepercayaan. 
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah, (1) Bagaimanakah proses
terbentuknya kerukunan beragama di Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo
Kabupaten Blitar?; (2) Apakah faktor-faktor pendukung terbentuknya kerukunan
yang ada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar?; (3)
Bagaimana pemikiran yang muncul akibat terbentuknya kerukunan beragama di
Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar?.
Tujuan dari penelitian ini adalah, (1) Menjelaskan proses terbentuknya
kerukunan beragama di Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar;
(2) Menjelaskan faktor-faktor pendukung terbentuknya kerukunan yang ada di
Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar; (3) Menjelaskan
pemikiran yang muncul akibat terbentuknya kerukunan beragama di Desa
Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar.
Untuk mencapai tujuan di atas penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif. Sedangkan untuk memperoleh data dengan cara studi lapangan melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan yaitu
sumber data primer dari informan dan sumber sekunder didapatkan dari dokumen
tertulis dan hasil foto penelitian. Analisis dan pengolahan data dalam penelitian
ini menggunakan analisis kualitatif. 
Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses munculnya kerukunan
beragama di Desa Sidomulyo dimulai dari masuknya agama-agama yang tidak
bersamaan. Tapi Islam telah ada yang kemungkinan pada saat mulai dibukanya
wilayah desa ini. Dan agama-agama lain muncul paska tragedi G30 S, yaitu
sekitar tahun 1965/1966, atau pemberontakan PKI. Sebelum terciptanya
kerukunan diawali oleh pertentangan oleh tokoh-tokoh agama islam terhadap
masuknya agama dan kepercayaan lain. Tokoh-tokoh agama di Desa Sidomulyo 
lebih memilih musyawarah dalam menyelesaikan masalah maupun perselisihan
antar agama.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kerukunan di
Desa Sidomulyo ini antara lain: 1) kesadaran masyarakat Desa Sidomulyo akan
pentingnya kerukunan menjadi landasan dalam hidup bermasyarakat. 2)
Masyarakat Desa Sidomulyo telah mengenal sikap saling menghormati sebagai
sebuah tradisi dan norma. 3) Perbedaan agama dan kepercayaan yang tumbuh dan
berkembang baik diantara mereka merupakan hasil dari keyakinan mereka yang
kuat dan tradisi saling menghormati tersebut. 4) Tradisi saling menghormati
tersebut dikukuhkan dengan interaksi dan komunikasi diantara pemeluk agama
yang berbeda. Interaksi tersebut bukan hanya tertumpu pada tokoh-tokoh yang
tergabung dalam subuah forum kerukunan namun, lebih dari itu masyarakat juga
telah terbiasa meniadakan pebedaan dalam interaksi kehidupan sehari-hari
meskipun mereka berbeda agama dan keyakinan. Interaksi dan komunikasi
tersebut diwujudkan dalam berbagai kerja sama antar umat beragama. 5)
Pemerintah sebagai pemerintahan tertinggi di desa tersebut juga memberikan
pengaruhnya, yaitu sebagai payung dan pelindung dari adanya tradisi dan budaya
yang berkembang.
Kerukunan yang tercipta di Desa Sidomulyo telah mampu membentuk 
sebuah tatanan kehidupan yang selalu dicita-citakan oleh masyarakat multikultur.
Tatanan kehidupan tersebut antara lain 1) toleransi, 2) saling menghormati, 3)
saling pengertian, 4) menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya,
dan 5) kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.
  Sebagai akhir dari penelitian saran yang dapat diberikan adalah keragaman
bangsa Indonesia dianggap sebagai kebanggaan dan anugrah dari Yang Maha
Kuasa dan bukanlah bahan dari pemecah kesatuan bangsa. Anggapan tersebut
bukan hanya sebuah konsep namun harus diterapkan dan ditanamkan kepada
setiap lapisan masyarakat. Disamping itu kesadaran-kesadaran akan pentingnya
menghormati dan menghargai orang lain perlu ditanamkan sejak dini. Pada
pendidikan formal hendaknya ditanamkan pendidikan multikultural yaitu
pendidikan tentang kesadaran akan adanya perbedaan suku, bangsa dan agama
agar diterapkan di sekolah-sekolah sehingga pencapaian kesadaran atas perbedaan
semakin kuat pengaruhnya dalam diri bangsa Indonesia sejak dini.