SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN MODEL DEBAT RAPAT DEWAN KOTA UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI IIS 2 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI MAN 3 BLITAR

Sururin Fitriana

Abstrak


PENERAPAN MODEL DEBAT RAPAT DEWAN KOTA UNTUKMENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI IIS 2PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI MAN 3 BLITAR

Sururin Fitriana Universitas Negeri Malang

Email: sururinfitriana@gmail.com

 

ABSTRAK

Penerapan model pembelajaran debat rapat dewan kota dilatarbelakangi rendahnya minat belajar siswa kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar dalam mata pelajaran sejarah. Penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru belum melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki masalah rendahnya minat siswa XI IIS 2 MAN 3 Blitar dengan menerapkan debat rapat dewan kota dalam mata pelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan debat rapat dewan kota dapat meningkatkan minat belajar siswa XI IIS 2 MAN 3 Blitar pada mata pelajaran sejarah. Dari hasil analisis minat siswa XI IIS 2 menunjukkan peningkatan siklus I sebesar 49% dan siklus II sebesar 77%.

 

Kata kunci: Debat Rapat Dewan Kota, Minat, Pembelajaran Sejarah

 

PENDAHULUAN

Pada umumnya orang berpendapat bahwa mata pelajaran sejarah adalah pelajaran yang tidak penting (mata pelajaran tambahan atau bivjak). Arti sejarah dalam kehidupan sehari-hari memang jarang disadari. Padahal sebetulnya tujuan sejarah Indonesia dan dunia begitu berperan dalam kehidupan dan menumbuhkan jiwa nasional (Ali, 2005: 362). Sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang termasuk dalam sistem kurikulum pendidikan Indonesia. Namun, bila diperhatikan dalam praktik-praktik pengajaran yang dilaksanakan di sekolahsekolah, seringkali pelajaran sejarah dianggap kurang menarik serta membosankan. Kendala yang menyebabkan Sejarah kurang diminati para siswa adalah bahwa sejarah merupakan mata pelajaran pengulangan sejak tingkat dasar.  Dikarenakan pengulangan tersebut, turut mempengaruhi cara penyampaian guru didalam kelas yang terkesan monoton dengan materi dan rujukan yang seadanya. Guru cenderung kurang kreatif dalam penyampaian materi sehingga menyebabkan siswa mudah cepat bosan. Selain itu, guru juga cenderung kurang menguasai keadaan kelas yang seharusnya sesuai dengan mata pelajaran yang akan dijelaskan. Inilah sebabnya, siswa merasa cepat bosan dan mengantuk karena ketertarikannya terhadap pelajaran sejarah cenderung kurang tersampaikan secara maksimal. Berdasarkan wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah di XI IIS 2 MAN 3 Blitar yakni Ibu Taslimatut Diniyah, S. Pd pada 17 November 2018 menuturkan bahwa pembelajaran sejarah hampir seluruhnya menggunakan metode ceramah karena keterbatasan guru. Begitu juga wawancara dengan beberapa siswa XI IIS 2 MAN 3 Blitar yang umumnya mengharapkan perubahan agar siswa dapat berperan aktif dalam pembelajaran sejarah sehingga selain memperbaiki minat dan pemahaman juga melatih siswa untuk kritis dan aktif dalam pembelajaran sejarah. Berkaitan dengan minat siswa dalam pembelajaran sejarah yang rendah, minat merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang memiliki pengaruh besar terhadap belajar. Menurut Khairani (2013: 142) minat dapat menjadi sebab sesuatu kegiatan dan sebagai hasil dari keikutsertaan dalam suatu kegiatan. Karena itu minat belajar adalah kecenderungan hati untuk belajar, mendapatkan informasi, pengetahuan, kecakapan, melalui usaha, pengajaran dan pengalaman. Minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Pada penerapan belajar mengajar khususnya mata pelajaran sejarah, guru harus mampu menciptakan dan mengkondisikan keadaan kelas dengan kondusif dan menarik sehingga dapat menumbuhkan minat belajar siswa untuk belajar. Oleh karena itu, peneliti dan guru berkolaborasi untuk menerapkan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota pada mata pelajaran sejarah di kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar. Model pembelajaran debat merupakan salah satu strategi dalam menstimulasi diskusi kelas. Sebagaimana pada Silberman (2017: 140) perlu adanya penggunaan strategi pembelajaran yang dapat membangkitkan minat belajar siswa salah satunya dengan menstimulasi diskusi kelas. Debat dan Rapat Dewan Kota merupakan model yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran sejarah dalam format kelas besar. Berdasarkan pengertian diatas, model debat dan model dewan kota sangat sesuai agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan memperbaiki masalah rendahnya minat belajar siswa XI IIS 2 MAN 3 Blitar pada mata pelajaran sejarah dengan menerapkan model pembelajaran debat rapat dewan kota.

 

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Secara harfiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berasal dari Bahasa Inggris yaitu Classroom Action Research, yang berarti penelitian dengan tindakan yang dilakukan di kelas. Secara garis besar pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yakni pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan (Suyadi, 2012: 1-2). Tujuan dilakukannya Penelitian Tindakan kelas (PTK) yaitu untuk memperbaiki mutu pembelajaran dan memperbaiki permasalahan yang terjadi pada suatu kelas dengan kegiatan yang nampak lebih kreatif dan inovatif dibandingkan dengan kegiatan yang biasanya dilakukan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di salah satu Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Blitar yaitu MAN 3 Blitar tepatnya kelas XI IIS 2. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IIS 2 pada tahun ajaran 2018/2019 semester genap. Subyek dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IIS 2 yang berjumlah 38 siswa yang terdiri atas 11 siswa laki-laki dan 27 siswa perempuan. Alasan pengambila subyek penelitian ini dikarenakan siswa di kelas XI IIS 2 memiliki minat belajar pada mata pelajaran sejarah yang rendah dan kurang terlibatnya siswa dalam pembelajaran sejarah. Data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini yakni data mengenai pembelajaran sejarah menggunakan Model Debat Rapat Dewan Kota dan minat  belajar siswa kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar saat diterapkannya model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota pada saat pembelajaran berlangsung. Sedangkan sumber data utama yang digunakan adalah siswa, Peneliti memperoleh data dari hasil penelitian berupa pengamatan selama proses belajar mengajar berlangsung. Sumber data yang didapatkan oleh peneliti berasal dari guru pengajar yakni Ibu Taslimatut Diniyah, S. Pd, dan siswa kelas XI IIS 2. Analisis data dilakukan oleh peneliti dan guru melalui data observasi, wawancara dan dokumentasi setiap siklus. Analisis data disajikan dalam bentuk naratif dimana peneliti menjadikan 10 siswa sebagai informan dalam peningkatan minat belajar di setiap siklusnya. Peningkatan minat belajar siswa dapat dikatakan berhasil apabila mencapai 50% siswa yang berminat dalam satu kelas. Pada kelas yang digunakan dalam upaya untuk meningkatkan minat ini digunakan sepuluh (10) orang informan sebagai subjek yang diwawancarai mengenai peningkatan minat yang terjadi. Penilaian berdasarkan skala Guttman yaitu “ya-tidak”. Jawaban yang menyatakan “ya” memiliki skor 1, dan jawaban yang menyatakan “tidak” memiliki skor 0. Teknik pengumpulan data yakni dari wawancara kesepuluh informan menggunakan pedoman wawancara. Analisis data menggunakan skala ini juga dijelaskan oleh Arikunto, dkk (2015:96) antara lain: “Analisis data itu tinggal menjumlahkan berapa banyak centangan yang ada dalam kolom “ya”. Peneliti dapat menyebutkan yang dicentang “tidak” pada baris apa saja. Untuk pembahasan data, peneliti memberi argumentasi dan diceritakan mengenai pendapat siswa. Semua itu dikemukakan saja secara jujur, tidak usah ditutuptutupi.” Skor maksimum tiap informan = 10 ∑ Presentase skor tiap siswa =  x 100  ∑ Presentase rata-rata minat siswa =  x 100

Prosedur penelitian tindakan kelas ini meliputi 2 (dua) tahapan, yaitu kegiatan pra-penelitian dan pelaksanaan penelitian. Pelaksanaan penelitian pada masing-masing siklus (siklus I dan II), yang meliputi: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection).

 

HASIL

Hasil penelitian pra-tindakan menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah yang berlangsung selama di dalam kelas belum melibatkan peran siswa sebagai pusat pembelajaran. Hal ini disebabkan karena guru sepenuhnya menjadi pusat pembelajaran dengan menggunakan metode debat dalam pembelajaran sejarah. Oleh karenanya diterapkan model pembelajaran debat rapat dewan kota untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar dalam mata pelajaran sejarah. Peningkatan presentase minat belajar siswa pada siklus I mencapai 49% dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 77%.

Paparan Data dan Temuan Siklus I

Perencanaan merupakan tahap pertama untuk pelaksaanaan penelitian tindakan kelas. Sebelum dilakukan tindakan di kelas, terlebih dahulu peneliti bersama guru mendiskusikan materi yang hendak disampaikan yakni tentang “Peristiwa Sekitar Proklamasi” dimana topik Debat Rapat Dewan Kota pada siklus I ini adalah “Peran Tokoh-tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia meliputi Golongan Tua dan Golongan Muda”. Langkah berikutnya peneliti bersama guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota. Pembelajaran sejarah pada siklus I yang dilaksanakan pada Kamis, 21 Februari 2019 menggunakan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota. Pada siklus I peneliti berperan sebagai guru model yang bertugas memimpin seluruh kegiatan pembelajaran yang terjadi dikelas, sedangkan guru mata pelajaran sejarah bertugas sebagai observer dengan 2 orang observer lainnya. Guru model menjelaskan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model debat rapat dewan kota dimana 1 kelas besar dibagi ke dalam 2 kelompok besar dimana terbagi ke dalam kelompok ganjil dan genap. Siswa nampak antusias dan menunjukkan semangat yang berbeda ketika pembelajaran menggunakan metode debat saja.

Kelompok Pro Terdiri dari siswa bernomor absen ganjil VS Kelompok Kontra Terdiri dari siswa bernomor absen genap Hasil observasi didapatkan dari kegiatan pembelajaran selama siklus I berlangsung dimana kegiatan observasi ini dilakukan oleh 3 orang observer. Tugas dari observer adalah untuk mengamati seluruh kegiatan pembelajaran yang berlangsung dikelas sekaligus mengamati minat belajar siswa. Aktivitas yang diamati oleh observer terdapat 10 indikator dimana hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

No Indikator Skor yang diperoleh

Skormaksimum %

1 Mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah dengan semangat dan gembira 4 10 40

2 Mengetahui pentingnya kehadiran siswa setiap pertemuan kegiatan pembelajaran sejarah 7 10 70

3 Menunjukkan perasaan dan sikap tidak bosan 5 10 50

4 Aktif bertanya dan merespon pertanyaan dari guru dan teman 3 10 30

5 Aktif dalam diskusi 3 10 30

6 Menunjukkan sikap ingin tahu dan mengajukan pertanyaan pada guru dan teman 8 10 80

7 Menunjukkan keantusiasan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah 5 10 50

8 Mengikuti arahan dari guru selama kegiatan pembelajaran sejarah 6 10 60

9 Menunjukkan fokus pada kegiatan pembelajaran sejarah meliputi arahan guru dan materi ajar 6 10 60

10 Menunjukkan konsentrasi pada pembelajaran sejarah meliputi pengerjaan tugas baik individu maupun kelompok 2 10 20

Total 49 100 490

Prosentase Rata-rata 4.9 100 49

Tahap selanjutnya adalah tahap refleksi yang ditujukan untuk mengetahui segala hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan pada saat pembelajaran siklus I. Refleksi dilakukan guru model bersama guru mata pelajajaran sejarah yakni Ibu Taslimatut Diniyah, S. Pd. dan kedua observer dari teman sejawat yakni Riza Brandon Mahendra dan Ihda Khoiri Ni’mah. Adapun beberapa kekurangan yang harus diperbaiki dalam siklus berikutnya antara lain:

a. Penguasaan kelas lebih ditingkatkan.

b. Ketegasan saat pembelajaran berlangsung dan volume suara kurang lantang.

c. Manajemen waktu diskusi kurang maksimal, sehingga banyak waktu terbuang.

d. Pembagian kelompok terlalu besar sehingga kurang efektif untuk sebagian kecil siswa yang bertempat dibagian belakang.

Keberhasilan pemberian tindakan dalam penelitian yang dilakukan adalah hasil dari presentase yang sebelumnya ditentukan yakni mencapai 50%, akan tetapi pada saat penilaian di siklus I dilakukan presentase minat belajar siswa masih 49%. Berdasarkan refleksi yang dilakukan peneliti dengan guru mata pelajaran dan teman sejawat berkaitan dengan pelaksanaan tindakan siklus I telah terdapat peningkatan dari kegiatan pembelajaran yang sebelum diberi tindakan. Akan tetapi, peningkatan pada siklus I masih kurang dan belum menunjukkan ketuntasan keberhasilan untukmencapai hasil yang diharapkan. Sehingga penelitian akan dilanjutkan ke siklus II untuk dilakukan perbaikan dari kekurangan pada siklus sebelumnya.

Paparan Data dan Temuan Siklus II

Perencanaan merupakan tahap pertama dalam penelitian tindakan kelas. Setelah dilakukannya refleksi pada siklus I, terdapat beberapa poin yang harus diperbaiki oleh peneliti. Peneliti kembali mengonfirmassi materi yang akan dibahas dalam siklus II ini yakni “Peran Tokoh Asing dalam Kemerdekaan Indonesia”, “Peran Telekomunisasi dalam Kemerdekaan Indonesia”, dan “Indonesia sebelum dan sesudah Merdeka”. Oleh karena itu, peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bersama guru mata pelajaran sejarah. Berdasarkan temuan penelitian mengenai pembelajaran sejarah menggunakan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota pada siklus I dan  melalui refleksi, kegiatan tindakan dilanjutkan pada siklus II. Pelaksanaan dari siklus II pada hari Sabtu tanggal 16 Maret 2019. Pada siklus II peneliti bertindak sebagai guru model yang memimpin segala kegiatan pembelajaran di kelas, sedangkan guru mata pelajaran bertindak sebagai observer dengan 2 orang observer lainnya. Pelaksanaan siklus II berbeda dengan sintaks pelaksanaan siklus I. Letak perbedaannya adalah pada pembagian kelompok yang dipergunakan lebih diperbanyak jumlahnya sehingga pada siklus I terdapat 2 kelompok besar, pada siklus II terdapat 4 kelompok yang lebih kecil. Tindakan ini bertujuan untuk memaksimalkan kegiatan diskusi. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I ditemukanlah rumusan untuk memperbanyak jumlah kelompok sehingga peran masing-masing anggota kelompok semakin terlihat. Kegiatan observasi dilakukan oleh guru mata pelajaran sejarah kelas XI IIS 2 yakni Ibu Taslimatut Diniyah, S. Pd. dan kedua observer lainnya dari teman sejawat peneliti yakni Riza Brandon Mahendra dan Ihda Khoiri Ni’mah. Berdasarkan hasil observasi didapatkan temuan penelitian yakni mengenai kegiatan pembelajaran yang berlangsung selama di dalam kelas dan mengenai peningkatan minat belajar siswa. Adapun hasil observasi disajikan pada tabel dibawah ini.

Tahap berikutnya merupakan refleksi yang bertujuan mengetahui kekurangan pada siklus I yang berhasil diperbaiki pada siklus II. Kegiatan refleksi dilakukan bersama guru mata pelajaran dan dua orang observer lainnya. Berdasarkan hasil observasi, temuan penelitian yang menunjukkan kekurangan siklus I dan berhasil diperbaiki pada pelaksanaan tindakan siklus II yakni:

a. Penguasaan kelas oleh guru model mengalami perbaikan yang cukup baik terlihat dari cara guru model mengintruksikan langkah-langkah model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota dengan tegas. Suara guru model jauh lebih lantang dari siklus sebelumnya. Akan tetapi, karena kelompok menjadi lebih banyak, fokus guru model lebih kapada kelompok dalam sesi diskusi.

Sedang kelompok yang diluar sesi diskusi kurang mendapatkan teguran.

 

No Indikator Skor yang diperoleh

Skor maksimum %

1 Mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah dengan semangat dan gembira 9 10 90

2 Mengetahui pentingnya kehadiran siswa setiap pertemuan kegiatan pembelajaran sejarah 10 10 100

3 Menunjukkan perasaan dan sikap tidak bosan 3 10 30

4 Aktif bertanya dan merespon pertanyaan dari guru dan teman 7 10 70

5 Aktif dalam diskusi 10 10 100

6 Menunjukkan sikap ingin tahu dan mengajukan pertanyaan pada guru dan teman 9 10 90

7 Menunjukkan keantusiasan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sejarah 8 10 80

8 Mengikuti arahan dari guru selama kegiatan pembelajaran sejarah 8 10 80

9 Menunjukkan fokus pada kegiatan pembelajaran sejarah meliputi arahan guru dan materi ajar 7 10 70

10 Menunjukkan konsentrasi pada pembelajaran sejarah meliputi pengerjaan tugas baik individu maupun kelompok 6 10 60

Total 77 100 770

Prosentase Rata-rata 7.7 100 77

b. Manajemen waktu untuk masing-masing sesi diskusi sudah terlaksana dengan baik sehingga siswa lebih siap mengikuti diskusi dan tidak banyak melakukan aktivitas diluar kegiatan diskusi. Hal ini juga disebabkan materi diskusi yang dibagikan kepada seluruh siswa sekitar 3 hari sebelum model pembelajaran

Debat Rapat Dewan Kota dilaksanakan sehingga siswa jauh lebih siap dalam siklus II.

c. Pembagian menjadi 4 kelompok pada siklus II ini, dinilai lebih efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu, peran siswa dalam diskusi kelompok lebih terlihat. Kerjasama di setiap kelompok cukup baik dibandingkan siklus I. Berdasarkan hasil refleksi dengan guru mata pelajaran sejarah dan teman sejawat, terdapat peningkatan minat belajar siswa yang menjadi informan. Pada pelaksanaan tindakan siklus I presentase rata-rata keaktifan yakni mencapai 49% dan pada pelaksanaan tindakan siklus II presentase rata-ratanya menjadi 77%, hal ini menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa pada siklus I ke siklus II sebanyak 28%. Tercapainya hasil yang didapatkan pada siklus II telah sesuai dan mencapai target yang sebelumnya ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang ada di kelas XI IIS 2 tahun ajaran 2018/2019 mengenai rendahnya minat belajar siswa dapat diatasi dengan diterapkannya model pembelajaran Debat Rapat Dewab Kota. Oleh karena itu, tidak perlu dilakukan pemberian tindakan pada siklus berikutnya. Adapun peningkatan minat belajar dari siswa yang menjadi informan adalah sebagai berikut.

 

PEMBAHASAN

Pembelajaran Sejarah Menggunakan Model Pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota

Pembelajaran tidak diartikan sebagai sesuatu kegiatan yang statis, melainkan suatu konsep yang bisa berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, pengertian pembelajaran yang berkaitan dengan sekolah adalah kemampuan dalam mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponenkomponen yang berkaitan dengan pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai tambah standar yang berlaku (Yamin & Bansu, 2008:22). Adapun komponen yang berkaitan dengan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran antara lain guru, siswa, pembina sekolah, sarana dan prasarana dan proses pembelajaran. Guru memiliki peran yang cukup dominan dimana berhasilnya kegiatan pembelajaran di dalam kelas dipengaruhi oleh guru dalam mengajar. Guru harus mampu menerapkan model pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran didalam kelas. Selain itu, guru juga harus mengetahui karakter kelas yang diajar sehingga penggunaan model pembelajaran dan media pembelajaran dapat disesuaikan. Model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota merupakan dua  strategi untuk menstimulasi diskusi kelas dimana terdiri dari strategi Debat dan strategi Rapat Dewan Kota. Model pembelajaran ini telah diterapkan di kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar tahun ajaran 2018-2019 yang bertujuan untuk mengatasi salah satu masalah yang ada di kelas tersebut yakni permasalahan mengenai rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah. Pada saat diterapkannya model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota pada siklus I, siswa menunjukkan keantusiasannya. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya hal baru yang siswa kenal setelah hanya model pembelajaran itu-itu saja. Proses pelaksanaan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota bertujuan agar siswa mampu bekerjasama dengan kelompok dan saling bertukar argumen sehingga menjadikan siswa kelas XI IIS 2 lebih kritis. Oleh karena itu, seorang guru harus betul-betul paham mengenai cara pengajaran yang baik. Sehingga pada pelaksanaan tindakan di siklus I dan siklus II dilakukan, guru model memberikan materi sebelum tindakan dilaksanakan. Pada pelaksanaan tindakan guru juga mengintruksikan kembali untuk membaca dan mempelajari materi yang sebelumnya dan materi yang akan dibahas dalam diskusi. Kegiatan diskusi berjalan lebih mudah ketika siswa telah memahami materi dengan sungguhsungguh. Penerapan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota menunjukkan bahwa siswa terlihat tertarik dan dapat mengikuti pembelajaran yang diberikan dengan baik. Perilaku lainnya yang mencerminkan bahwa siswa tertarik terhadap pembelajaran menggunakan Debat Rapat Dewan Kota adalah siswa antusias dalam belajar dan mengikuti dengan baik instruksi yang diberikan berkaitan dengan pelaksanaan model pembelajaran yang akan diterapkan. Dipergunakannya debat sebagai model pembelajaran dikelas tentu saja dapat meningkatkan minat siswa untuk lebih kritis dan tanggap. Sebagian besar guru menerapkan model pembelajaran debat untuk menghidupkan kondisi diskusi kelas sehingga siswa dituntut lebih aktif, kritis dan tanggap. Tujuan dari dilakukannya pembelajaran menggunakan debat yaitu siswa dapat berpikir secara kritis dengan mengidentifikasi dan menantang asumsi dari alasan yang mendasar, mengeksplor jalan lain untuk menganalisis dan merefleksikan. Dirancangnya model pembelajaran debat juga bertujuan membuat siswa untuk berlatih memperkuat argumen sehingga mematahkan argumen lawan dan meningkatkan kemampuan merespon terhadap suatu masalah. Peningkatan Minat Belajar Siswa di Kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar dengan Menggunakan Model Pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota dalam Pembelajaran Sejarah Pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II didahului oleh kegiatan pratindakan meliputi kegiatan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada tindakan di siklus I dan siklus II terdapat peningkatan dalam hal minat belajar pada mata pelajaran sejarah yakni 49% pada siklus I dan 77% pada siklus II. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pada siklus II dibandingkan siklus sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan peneliti menunjukkan adanya peningkatan minat dari beberapa indikator minat. Sebagai contoh pada indikator minat mengenai respon siswa saat ingin tahu dan bagaimana rasa ingin tahu siswa terjawab mengalami peningkatan. Hal tersebut dibuktikan bahwa siswa terlihat antusias ketika mengkuti pembelajaran sembari sesekali terlibat tanya jawab dengan guru sehingga rasa keingintahuan siswa terjawab ketika tanya jawab diluar maupun diluar kelas. Selain pada indikator tersebut, peningkatan juga terjadi pada indikator konsentrasi. Sikap siswa yang menunjukka konsentrasi mengalami peningkatan dari sebelum diberi tindakan kemudian dilaksanakan siklus I dan siklus II terus mengalami peningkatan. Siswa lebih memusatkan perhatian dan terlihat berkonsentrasi pada saat topik materi diskusi diberikan dan saat diskusi dengan kelompok masing-masing berlangsung. Peningkatan tindakan pada siklus II ini dibuktikan dengan adanya peningkatan dari siklus I yang menunjukkan presentase rata-ratanya mencapai 49% dan pada siklus II presentase rata-rata mencapai 77%, hal ini membuktikan adnya peningkatan minat belajar siswa pada siklus I ke siklus II sebanyak 28%. Pada hasil data siklus I sudah menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran sebelum diberikan tindakan, namun peningkatan pada siklus I masih dibawah batas minimum yakni 50% sedangkan peningkatan pada tahap siklus I masih 49%. Hasil siklus I menunjukkan hasil dibawah batas minimum sehingga pertimbangan yakni dilakukan kembali pemberian tindakan  pada siklus II sekaligus untuk memperbaiki kekurangan selama pelaksanaan siklus I. Perbaikan ini bertujuan agar proses pelaksanaan tindakan yang dilakukan menjadi maksimal dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.

No Nama L/P Skor

% Skor

% Peningkatan

%

Keterangan Siklus

1 Siklus

2

1. Aimatul Nur Kholisoh P 60 80 20 Meningkat

2. Amidana Hikmatal F P 70 80 10 Meningkat

3. Bagus Setyawan L 70 80 10 Meningkat

4. Diana Ema F P 30 60 30 Meningkat

5. M. Arbi Fadilah L 60 80 20 Meningkat

6. M. Yopi Putra R L 40 70 30 Meningkat

7. M. Ni’am Roziqul A L 30 70 40 Meningkat

8. Naimatul Jannah Y P 30 80 50 Meningkat

9. Silmah Nilovah P 60 80 20 Meningkat

10. Wahyu Fida R P 40 90 50 Meningkat

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, temuan penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan , maka dapat disimpulkan:

1. Model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota memiliki potensi untuk meningkatkan aspek mengenai minat belajar siswa khususunya dalam mata pelajaran sejarah. Strategi Debat dan Rapat Dewan Kota merupakan dua strategi untuk menstimulasi diskusi kelas yang pada umumnya untuk format kelas besar. Akan tetapi, pada pelaksanaaan pembelajaran sejarah menggunakan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota dikelas XI IIS 2 dengan diperbanyaknya jumlah kelompok sehingga masing-masing anggota kelompoknya lebih sedikit, justru lebih efektif dalam meningkatkan minat dan semangat belajar siswa. Melalui kelompok yang lebih banyak ini, masingmasing kelompok bekerjasama dan menunjukkan kekompakan yang sangat baik.

2. Di kelas XI IIS 2 MAN 3 Blitar terjadi peningkatan dalam hal minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah menggunakan model pembelajaran Debat Rapat Dewan Kota. Peningkatan tersebut dianalisis sejak tahap pra-tindakan hingga pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II yaitu ditemukannya siswa yang semakin berminat, bersemangat dan berantusias dalam pembelajaran  sejarah. Hal tersebut diukur dari indikator perasaan senang, keterlibatan siswa, ketertarikan dan perhatian siswa menerima dan mengikuti pembelajaran sejarah. Data peningkatan minat belajar siswa kelas XI IIS 2 pada pelaksanaan tindakan siklus I sebesar 49% dan pada siklus II sebesar 77%.

 

DAFTAR RUJUKAN

Ali, Moh. R. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono & Supardi. 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Khairani, Makmun. 2013. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja Presindo.

Silberman, Melvin L. 2017. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa Cendekia.

Suyadi. 2012. Buku Panduan Guru Profesional: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Yogyakarta: Andi.

Yamin, Martinis & Bansu I. Ansari. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta: GP Press.