SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMANFAATAN BABAD DIPONEGORO DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK MATERI PERANG DIPONEGORO 1825-1830 KELAS X JASA BOGA 2 SMKN 1 KUDUS

KHOIRUNNIS SALAMAH

Abstrak


ABSTRAK

Khoirunnis, Salamah. 2019. Pemanfaatan Babad Dipoengoro Dalam Pengembangan Bahan Ajar Lembar Kerja Peserta Didik Materi Perang Diponegoro 1825-1830 Kelas X Jasa Boga 2 SMKN 1 Kudus. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M.Hum

 

Kata Kunci: Babad Diponegoro, Lembar Kerja Peserta Didik. Perang Diponegoro 1825-1830

Tugas guru mengalami pergeseran dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di mana guru merupakan sumber informasi utama. Kini guru lebih merupakan seorang fasilitator pembelajaran sesuai dengan tuntutan abad industri dan informasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam membantu siswa mencapai keberhasilan tujuan pembelajarannya adalah dengan menyiapkan komponen penting pembelajaran yakni sumber belajar. Dalam pembelajaran sejarah dibutuhkan bahan ajar yang menggunakan sumber sejarah secara langsung agar dapat menambah wawasan peserta didik akan pentingnya penggunaan sumber sejarah.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model pengembangan yang dilakukan oleh Borg dan Gal. Subjek uji coba dalam penelitian ini terdiri dari ahli, praktisi, dan peserta didik. Ahli terdiri dari ahli bahan ajar dan ahli materi yang menilai kelayakan dan kevalidan produk bahan ajar yang dihasilkan. Guru Sejarah sebagai praktisi serta peserta didik kelas X Jasa Boga 2 memberikan penilaian pada tahap pelaksanaan. Hasil penilaian dari ketiga subjek uji coba menyatakan bahwa produk bahan ajar yang dihasilkan secara keseluruhan baik dan layak digunakan dalam pembelajaran sejarah.

Saran yang dapat diberikan pada guru, peserta didik, dan peneliti lanjutan yaitu :

(1) Bagi guru, pemanfaatan sumber sejarah  historiografi tradisional seperti serat dan babad dalam pembelajaran sejarah perlu ditingkatkan agar dapat menambah wawasan peserta didik bahwa pelajaran sejarah bukan perihal menghafal semata, namun dapat melestarikan budaya lokal.

(2) Bagi peserta didik, dapat meningkatkan kecintaan serta melestarikan kebudayaan lokal yaitu dengan belajar tembang macapat.

 

(3) Bagi peneliti lanjutan diharapkan dapat menghasilkan bahan ajar yang memuat nilai kearifan budaya lokal.