SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

WACANA NASIONALISME DALAM BUKU TEKS SEJARAH KELAS XI SEKOLAH MENENGAH ATAS

Sintiya Wahyu Handayani

Abstrak


 

WACANA NASIONALISME DALAM BUKU TEKS SEJARAH KELAS XI SEKOLAH MENENGAH ATAS

Sintiya Wahyu Handayani, Ari Sapto Universitas Negeri Malang

Email: sintiyawahyuhandayani@gmail.com

 

Abstrak                : Kehadiran buku teks di lembaga pendidikan memiliki nilai ataupun ideologi tertentu yang ingin dipertahankan oleh negara. Terjadi pengintegrasian nilai-nilai dan ideologi dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran sejarah melalui buku teks pelajaran. Salah satu nilai yang ingin dipertahankan dalam buku teks Sejarah Indonesia adalah nilai nasionalisme. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengunakan pendekatan metode analisi media, yakni analisi Framing yang dikembangkan oleh Robert Entman. Tujuan penelitian ini, mengetahui bagaimana wacana nasionalisme dalam buku teks Sejarah Indonesia kelas XI.

 

Kata kunci : Nasionalisme, Buku Teks Sejarah Indonesia,  Framing

 

Pendahuluan

Pendidikan sejarah adalah suatu wahana penting dalam pendidikan suatu bangsa. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri banyak negara didunia ini yang menempatkan sejarah sebagai unsur penting  dalam dunia pendidikan mereka. Hal tersebut dikarenakan pendidikan sejarah memiliki fungsi strategis dalam mengembangkan jiwa dan karakter bangsa serta membangun bangsa kearah yang lebih baik (Hasan, 2010:1). Oleh karena, pendidikan sejarah merupakan suatu wahana penting untuk mengembangkan jiwa dan karakter, maka pendidikan sejarah dalam kurikulum 2013 didasarkan pada prinsip sebagai berikut,

(1) pengetahuan masa lalu digunakan untuk mengenal dan memahami kehidupan masa kini dan membangun masa depan,

(2) pengetahuan masa lampau dibangun atas dasar pemahaman dan analisis terhadap fakta sejarah, dikembangkan berdasarkan penerapan hukum kausalitas, perubahan dan kesinambungan (Hasan, 2014:21).

Pendidikan sejarah mengembangkan jiwa dan karakter bangsa yang digali dari berbagai peristiwa sejarah yang dipenuhi unsur-unsur  nilai-nilai perjuangan, kegagalan, keberhasilan, kesalahan, keungulan dan semangat tidak terpatahkan untuk memperjuangkan suatu kebenaran yang dilakukan oleh tokoh sejarah, serta dari berbagai perbedaan yang ada pada tokoh-tokoh sejarah yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dapat dimaknai untuk tidak mempermasalahkan adanya perbedaan itu (Umasih, 2018:6).

Dari berbagai pendapat mengenai pendidikan sejarah dapat disimpulkan bahwa pendidikan sejarah memiliki tujuan sebagai wadah untuk mengembangkan pemahaman mengenai jati diri dan karakter bangsa,wadah untuk mengembangkan perilaku yang tercemin dari nilai-nila dan ideologi luhur dari berbagai jejak peristiwa sejarah, serta sebagai wadah untuk berpikir berorientasi pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan suatu media ajar sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai dan ideologi tertentu. Media ajar tersebut adalah buku teks pelajaran. Hal itu dikarenakan buku teks merupakan bahan ajar sekaligus sumber belajar bagi siswa yang sering dijumpai.

Buku teks memiliki keterkaitan yang erat dengan pembelajaran, hal tersebut dikarenakan salah satu fungsi dari buku teks yakni sebagai bahan referensi atau bahan rujukan oleh peserta didik. Kehadiran buku teks di lembaga pendidikan memiliki nilai ataupun ideologi tertentu yang ingin dipertahankan oleh negara. Oleh karenanya, terjadi pengintegrasian nilai-nilai dan ideologi dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran sejarah melalui buku teks pelajaran. Pengintegrasian nilai dan ideologi dilakukan oleh negara dengan cara menyisipkan nilai-nilai dan ideologi yang dianut dalam buku teks pelajaran.

Menurut Hasan (2014:28), dalam buku ajar mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah terdapat kesamaan nilai-nilai yang dikembangkan Mata pelajaran Sejarah Indonesia mengembangkan nilai-nilai kepahlawanan, kepemimpinan, keteladanan, kebijakan, persatuan, nasionalisme,patriotisme, inspiratif, apresiasi, dan toleransi. Meski dalam buku ajar mata pelajaran Sejarah dan Sejarah Indonesia memiliki nilai-nilai yang sama untuk dikembangkan, tujuan dari kedua buku ajar tersebut berbeda, Sejarah Indonesia bertujuan untuk menanamkan nilai nasionalisme, cinta tanah air dan bangsa kepada siswa, sedangkan mata pelajaran Sejarah bertujuan untuk memberi bekal keilmuan sejarah dengan ilmu sosial lainnya yang cukup relevan (Umasih, 2018:5).

Hal tersebut senada dengan pernyataan Foster (2014) bahwa, dalam buku teks tidak merepresentasikan kebenaran universal, tetapi kebenaran yang dipilih atau diseleksi untuk menumbuhkan rasa kebanggaan atas bangsa, identitas nasional, serta memori kolektif yang sama.Oleh karena itu, dalam buku teks dituliskan narasi sebagai berikut:

It is evident that this narrow conception of history is particular attractive to nation states that, often through a centrally controlled history curriculum, wish to advance a singularity story of the past to ensure all citizen are bounded together by shared past and the perception of common future destiny. Accordingly, school history narratives often celebrate nation achievements, lionize national heroes and rejoice in national triumphs and military victory. School history textbook written to support national narrative also typically play down the contributions of other nation and often use expression such as “we”, “our” and “us”.

Senada dengan Foster, Utami (2016:110) menyatakan, bahwa historiografi dalam buku teks bukanlah cerminan dari masa lalu, melainkan representasi dari realitas yang ditampilkan oleh penulisnya, dalam buku teks juga terdapat nilai-nilai dan ideologi tertentu yang ingin terus dikembangkan dan dilestarikan. Materi sejarah yang dituliskan pada buku teks Sejarah Indonesia merupakan produk intepretasi penulis serta dilandasi oleh tujuan-tujuan mata pelajaran sejarah yang bernaung pada kurikulum, dimana kurikulum merupakan produk negara untuk merumuskan tujuan pendidikan di Indonesia, hal tersebut menarik untuk dibahas mengenai bagaimana negara menanamkan rasa nasionalisme melalui buku teks Sejarah Indonesia.

Analisis Framing yang dikembangkan oleh Robert Entman dipergunakan dalam dalam penelitian ini dikarenakan model analisis Robert Entman sesuai dengan tujuan dari penelitian ini untuk melihat adanya pengintegrasian nilai nasionalisme dengan cara menonjolkan aspek-aspek tertentu. Analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat merekonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring intepretasi khalayak sesuai prespektif penulis (Sobur, 2006:162).

Menurut Eriyanto (2002:220), konsep framing oleh Entman, digunakan untuk mengambarkan proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain.

Berdasarkan pemaparan tersebut, menarik untuk dibahas mengenai wacana nasionalisme dalam buku teks Sejarah Indonesia kelas XI.  Dengan melakukan penelitian ini, peneliti berharap agar hasil temuan dijadikan pertimbangan dalam proses penulisan buku teks sudah memuat nilai-nilai nasionalisme secara proporsional tanpa adanya fanatisme yang berlebihan.

 

Metode

Jenis penelitian ini berupa penelitian kualitatif dengan mengunakan metode analisa teks media. Menurut Cresswell (2016:4), penelitian kualitatif,  yaitu penelitian dengan mengunakan metode-metode untuk mengeskplorasi dan memahami makna yang dianggap dari masalah sosial atau kemanusiaan. Penelitian kualitatif merupakan penelitian naturalistik atau natural setting karena penelitiannya dilakukan pada kondisi alamiah tanpa membawa objek keadalam laboratorium ataupun dalam kondisi yan diciptakan peneliti (Cresswell, 2016:248). Penelitian kualitatif  pada umunya digunakan untuk mendapatkan data kualitatif atau data yang mengandung makna mendalam.

Pendekatan analisis framing memandang wacana sebagai semacam arena perang simbolik antara pihak-pihak yang berkepentingan dan pokok persoalan wacana masing-masing pihak yang menyajikan prespektif untuk memberikan pemaknaan terhadap suatu peristiwa agar diterima oleh khalayak. Analisis buku teks sejarah untuk SMA kelas XI dalam penelitian ini mengunakan pendekatan analisis framing Robert Entman. Tujuan dari analisis framing ini adalah untuk mengetahui horizon penulis dalam pengintegrasian nilai nasionalisme dalam materi Sejarah Indonesia dengan cara menyeleksi fakta dan menonjolkan aspek-aspek atau fakta-fakta tertentu. Dalam pelaporan hasil penelitian ini adalah mengembangkan deskripsi atau tema-tema yang berasal dari data penelitian, khususnya deskripsi atau tema yang mengandung beragam prespektif partisipan (Cresswell, 2016:273).

 

Hasil penelitian dan pembahasan

Buku teks mata pelajaran sejarah yang dianalisis pada penelitian ini, yakni buku siswa mata pelajaran Sejarah Indonesia untuk kelas XI dengan nomor ISBN 978-602-427-123-7 (Jilid 2a) dan 978-602-427-123-7 ( jilid 2b). Buku teks tersebut merupakan buku teks yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan dapat diakses serta diunduh pada laman http://puskurbuk.kemendikbud.go.id.

Pada buku teks mata pelajaran Sejarah Indonesia untuk kelas XI yang ditulis oleh Sardiman AM, dan Amurwani, D.L, serta diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor ISBN 978-602-427-123-7 (Jilid 2a) dan 978-602-427-123-7 ( jilid 2b), terdiri atas 4 bab pada buku jilid 2a, serta 3 bab pada buku jilid 2b dengan rincian sebagai berikut:

 

Tabel 1.1 Rincian isi buku teks mata pelajaran   Sejarah Indonesia untuk kelas XI (Jilid 2a)

Bab  Subbab

1. Antara Kolonialisme dan Imperialisme 

A.  Perburuan Mutiara dari Timur dan Perebutan Hegemoni

B. Kekuasaan Kongsi Dagang VOC

C. Penjajahan Pemerintah Belanda

2. Perang Melawan Kolonialisme dan Imperialisme

A. Perang Melawan Hegemoni dan Keserakahan Kongsi Dagang

B. Perang Melawan Penjajahan Kolonial Belanda

3. Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme

A. Dampak dalam bidang politik- pemerintahan dan ekonomi

B. Dampak dalam bidang sosial-budaya dan pendidikan

4. Sumpah pemuda dan Jati diri keindonesiaan

A. Latar Belakang Sumpah Pemuda

B. Sumpah Pemuda : Tonggak persatuan dan kesatuan

C. Penguatan Jati Diri Keindonesiaan

 

Tabel 1.1.1 Rincian isi buku teks mata pelajaran Sejarah Indonesia untuk kelas XI (jilid 2b)

Bab Subbab

5. Tirani Matahari Terbit

A. Kedatangan Jepang ke Indonesia

B. Organisasi Pergerakan masa Pendudukan Jepang

C. Pengarahan dan Penindasan versus Perlawanan

D. Drama akhir sang tirani

6. Indonesia Merdeka

A. Dari Renggasdengklok hingga Pegangsaan Timur

B. Terbentukknya Pemerintahan dan NKRI

C. Proklamator dan Peran Tokoh Sekitar Proklamasi

7. Revolusi Menegakkan Panji- Panji NKRI

A. Tantangan Awal Kemerdekaan

B. Antara Perang dan Diplomasi

C. Nilai- Nilai Kejuangan masa Revolusi

 

Pada penelitian ini, terdapat 56 kutipan yang ditemukan dari keseluruhan isi materi pada buku teks Sejarah Indonesia kelas XI. Kutipan tersebut dianalisa mengunakan teknik framing yang dipopulerkan oleh Robert Entman. Berdasarkan analisis framing yang dilakukan menunjukkan bahwa upaya mengintegrasikan nilai-nilai nasionalisme dalam buku teks Sejarah Indonesia dilakukan dengan cara menonjolkan aspek-aspek dan fakta-fakta tertentu, yang dipaparkan sebagai berikut:

(1) Problem identification dalam buku teks Sejarah Indonesia kelas XI merupakan, penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing, (kolonial Belanda dan pendudukan Jepang menyebabkan kemiskinan, dan penderitaan pada rakyat Indonesia yang dipaksa untuk menjalani kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh penjajah demi memenuhi nafsu dan kejayaan negaranya. Karena penjajahan yang menyebabkan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia, maka terjadi banyak perjuangan perlawanan heroik yang dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan;

(2) Causal interpretation dalam buku teks Sejarah Indonesia kelas XI,  mengerucut pada penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing di Indonesia, kerapkali membuat kebijakan-kebijakan yang menyebabkan penderitaan rakyat Indonesia, serta melakukan berbagai tindakan yang kejam untuk mempertahankan kekuasaannya di Indonesia;

(3) Moral evaluation pada buku Sejarah Indonesia kelas XI ini mengerucut pada pemberian label bahwa, penjajah seperti bangsa Belanda memiliki sifat yang serakah, licik, suka memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya serta dalam setiap perundingan selalu melakukan pelanggaran dari hasil perundingan yang telah disetujui;

(4) Treatmet recommendation mengerucut pada ditanamkannya nilai nasionalisme dengan membuat garis tegas antara pihak kita dengan mereka, sehingga menimbulkan perasaan akan musuh bersama, selain itu, dengan menarasikan mereka dengan cara perbandingan negatif akan menimbulkan perasaan anti asing pada diri peserta didik, karena semua yang asing dalam buku teks Sejarah Indonesia hampir keseluruhan dinarasikan secara negatif.

Keterkaitan antara hasil analisa dengan adanya wacana nasionalisme dalam buku teks Sejarah Indonesia kelas XI dapat dijelaskan sebagai berikut, Dari 56 kutipan yang telah dianalisis, kutipan tersebut ditelaah kembali untuk melihat adanya wacana nasionalisme. Berdasarkan analisis terhadap kutipan-kutipan ter-sebut terdapat berbagai cara yang dilakukan oleh penulis untuk mengintegrasikan nilai nasionalisme kedalam materi Sejarah Indonesia. Dari sebanyak 56 kutipan terdapat 21 temuan mengenai cara memunculkan nasionalisme dengan cara menciptakan “boundaries”, sedangkan nasionalisme yang dimunculkan dengan cara wacana perbandingan negatif terdapat 16 temuan, 13 temuan yang memunculkan nasionalisme yang ditanamkan dengan mengali nilai patriotisme serta keteladanan tokoh-tokoh pahlawan, 3 temuan yang memunculkan nasionalisme yang dianggap sebagai kebaktian mistis terhadap organisme sosial yang kabur, 9 temuan yang memunculkan nasionalisme keinginan merdeka secara politik, keselamatan dan prestise bangsa, 4 temuan yang memunculkan wacana nasionalisme dengan menarasikan sebagai suatu peristiwa kemenangan nasional, dan 1 temuan mengenai wacana nasionalisme yang dimunculkan melalui pers, serta 1 temuan mengenai wacana nasionalisme yang dewasa.

 

Simpulan

Wacana nasionalisme yang tercermin dalam buku teks Sejarah Indonesia kelas XI  banyak dinarasikan dengan menciptakan batas-batas mengenai “mereka” dan “kita” serta menarasikan bangsa asing atau penjajah secara negatif. Upaya menamkan nilai nasionalisme,  penulis sering menarasikan bahwa seluruh rakyat Indonesia ikut berjuang dalam upaya melakukan perlawanan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, peristiwa perlawanan tersebut selalu dinarasikan sebagai peristiwa yang heroik, menunjukkan nilai patriot dalam diri rakyat Indonesia. Selain itu, penulis menarasikan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan suatu peristiwa kemenangan nasional yang merupakan hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri tanpa adanya bantuan dari negara lain.

Narasi yang demikian dimunculkan sebagai upaya menanamkan satu presepsi yang sama dalam diri peserta didik mengenai penjajahan yang dilakukan oleh mereka,  bangsa asing telah menyengsarakan kita, rakyat Indonesia, sehingga kita harus selalu waspada terhadap bangsa Asing sebagai upaya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

Saran

Pada penelitian ini, peneliti berharap pada para penulis buku teks Sejarah Indonesia agar terus melakukan penyempurnaan buku teks pelajaran Sejarah Indonesia. Hal tersebut, berkaitan dengan cara-cara untuk menyisipkan rasa nasionalisme dalam diri peserta didik, penulis diharapkan untuk dapat memberikan fakta-fakta yang berimbang agar peserta didik memiliki rasa nasionalisme yang dewasa, bukan nasionalisme yang buta. Sedangkan untuk para peserta didik, agar dapat lebih kritis dalam menyikapi fakta-fakta yang ditonjolkan oleh penulis pada buku teks pelajaran Sejarah Indonesia. Hal tersebut, dikarenakan dalam penulisan suatu buku Sejarah Indonesia, terdapat subjektifitas penulis dalam proses penulisan.

 

Daftar Rujukan

Cresswell, J.W. 2014. Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approachs. Terjemahan Fawaid, A. & Rinayati K.P. 2016. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Eriyanto. 2002. Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta : LkiS.

Foster, S. 2014. Teaching controversial Issues in the Classroom : The exciting potential of disciplinary history. Dalam Mark Baildon., Loh Kah Seng., Ivy Maria Lim., Gul Inanc., & Junaidah Jaffar (Ed), Controversial History Education in Asian Contexts. London: Routledge.

Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila : Roh Progresif Nasionalisme Indonesia. Malang: Intrans Publishing.

Hariyono. 2018. Pendidikan Sejarah Dan Karakter Bangsa: Sebuah Pengantar Dialog. Artikel disajikan dalam Seminar Nasional Penguatan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Sejarah, Jurusan Sejarah FISUM, Malang, 18 April 2018.

Hasan, S. 2010. Problematika Pendidikan Sejarah, (Online), (http://www.file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/194403101967101-SAID_HAMID_HASAN/Makalah/Beberapa_Problematik_Dalam_Pendidikan_Sejarah.pdf), diakses 20 Februari 2018.

Hasan, S. 2014. Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Sejarah Kurikulum 2013.Artikel disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Sejarah, APPS Cabang Jawa Timur, Malang, 27 Desember 2014.

Sobur, A. 2006. Analisis Teks Media. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Umasih. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Mata Pelajaran Sejarah Berdasarkan Kurikulum 2013. Artikel disajikan dalam Seminar Nasional Penguatan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Sejarah, Jurusan Sejarah FISUM, Malang, 18 April 2018.

 

Utami, I,W.P., & Aditiya, N. W. 2016. Wacana Bhineka Tunggal Ika Dalam Buku Teks Sejarah. Jurnal Paramita.26(1): 106-111.