SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI BERBASIS AFTER EFFECT PADA MATERI PERISTIWA MENJELANG PROKLAMASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMAN 2 MALANG

Muhammad Sirril A'la Daroini

Abstrak


PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI BERBASIS AFTER EFFECT PADA MATERI PERISTIWA MENJELANG PROKLAMASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMAN 2 MALANG

ARTIKEL OLEH Muhammad Sirril A’la Daroini

NIM 140731600609

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH APRIL 2019

 

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI BERBASIS AFTER EFFECT PADA MATERI PERISTIWA MENJELANG PROKLAMASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMAN 2 MALANG

ARTIKEL diajukan kepada Universitas Negeri Malang untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana

PENDIDIKAN SEJARAH OLEH

Muhammad Sirril A’la Daroini

NIM 140731600609

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH APRIL 2019

Pengembangan Media Pembelajaran Animasi Berbasis After Effect Pada Materi Peristiwa Menjelang Proklamasi Dalam Pembelajaran Sejarah Di SMAN 2 Malang

Muhammad Sirril A’la Daroini Dosen Pembimbing:Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

E-mail: sirrildaroini@gmail.com@gmail.com

 

Abstract: In delivering historical material in schools, learning media have an important role in bridging students for limited space and time. Based on the results of observations and interviews at SMAN 2 Malang, it shows that every student is allowed to bring a smartphone when learning in class, but in fact the smartphone brought by students is not maximized in solving spatial problems of historical material, delivery of historical material is only done orally by the teacher and assignment summary of material that has been submitted. Based on these considerations, researchers developed learning media with the aim of producing animation videos based on After Effect on Indonesian History with the subject of the Event Towards the Proclamation for Class XI IPS 1. SMAN 2 Malang has the potential in the form of smartphone support facilities, namely the sound system, Liquid Crystal Dislay (LCD) and Wireless Fidelity (WiFi) in each class.

Keywords: Learning media, animation, after effects, the history of the proclamation

 

Abstrak: Dalam penyampaian materi sejarah di sekolah, media pembelajaran mempunyai peran yang cukup penting untuk menjembatani siswa akan terbatasnya ruang dan waktu. Berdasarkan dari hasil observasi dan wawancara di SMAN 2 Malang menunjukkan setiap siswa diperbolehkan membawa smartphone ketika pembelajaran didalam kelas, tetapi pada kenyataannya smartphone yang dibawa siswa kurang dimaksimalkan penggunaannya dalam menyelesaikan masalah keruangan materi sejarah, penyampaian materi sejarah hanya dilakukan secara lisan oleh guru dan penugasan mengenai rangkuman materi yang telah disampaikan. Berdasarkan pertimbangan tersebut peneliti mengembangkan media pembelajaran dengan tujuan untuk menghasilkan media pembelajaran video animasi berbasis After Effect pada Sejarah Indonesia dengan pokok bahasan Peristiwa Menjelang Proklamasi untuk Kelas XI IPS 1. SMAN 2 Malang mempunyai potensi berupa sarana pendukung salain smartphone yaitu juga adanya sound system, Liquid Crystal Dislay (LCD) dan Wireless Fidelity (WiFi) disetiap kelas.

Kata Kunci: Media pembelajaran, animasi, after effect, sejarah proklamasi

 

PENDAHULUAN

Pesatnya perkembangan teknologi merupakan hal yang sulit untuk dihindari. Setiap inovasi teknologi yang ditawarkan adalah untuk kemudahan manusia dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, maka konsepsi penyelenggaraan pembelajaran telah bergeser pada upaya perwujudan pembelajaran yang modern. Ide untuk menggunakan mesin belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, serta animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan, sangat menarik praktisi pembelajaran (Darmawan, 2011:4). Seharusnya, dengan adanya teknologi yang semakin maju setiap individu lebih mudah menerima informasi dan memahami tuntutan zaman pada saat ini. Dengan demikian, perkembangan teknologi yang semakin canggih dapat membuat siswa menjadi antusias dalam mengejar kepuasan dan keingintahuannya dalam menggunakan teknologi. Hal ini mampu dijadikan jembatan oleh guru dalam menyelipkan materi melalui terknologi yang sedang digemari oleh siswa, terlebih lagi saat ini banyak sekolah yang memperbolehkan siswanya membawa gadget/smartphone, salah satunya seperti yang diberlakukan di SMAN 2 Malang. Secara tidak langsung hal ini menuntut peneliti untuk memanfaatkan gadget sebagai media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan.

Fungsi lain dalam penggunaan teknologi adalah untuk mencari hal yang paling efektif yang mencakup semuanya dalam memenuhi kebutuhan dalam pembelajaran. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika teknologi mampu memudahkan dan menjadi alat yang praktis dalam membantu menyelesaikan masalah dalam pendidikan. Sebagai contoh, adanya aplikasi pemutar video yang diterapkan dalam media pembelajaran akan sangat membantu merangsang ketertarikan siswa pada saat menyimak materi dalam bentuk video. Dalam hal ini penyampaian materi mampu memaksimalkan potensi yang ada pada siswa berupa auditori, visual, dan imajinatif. Sedangkan konsepsi pengajaran visual menurut Miarso (1984:10), dia mengungkapkan bahwa penggunaan bahan-bahan visual dalam pengajaran dapat menyajikan gagasan yang abstrak sifatnya menjadi lebih konkrit sifatnya.

Selain menggunakan bahan visual guru juga harus tetap menggunakan uraian-uraian secara lisan bila dirasa perlu. Darmawan (2015:10) juga menyatakan bahwa salah satu keunggulan biologi komunikasi adalah mampu memberikan pengemasan dan informasi berbasis teknologi dapat langsung ditujukan pada pemberdayaan dan penajaman emosi. Aspek inilah yang selama ini belum begitu banyak dikedepankan dalam setiap analisis faktor penyebab lemahnya kualitas  pembelajaran.

Namun bukan berarti pembelajarn yang tidak menggunakan teknologi menjadi kurang menarik. Hanya saja yang terjadi di lapangan siswa pada saat ini lebih tertarik terhadap teknologi yang mudah diakses dan merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Dengn demikian apabila penyampaian materi menggunakan media yang digermari siswa maka secar tidak langsung mereka mampu belajar tentang isi materi dengan cara lain yang lebih menyenangkan. Kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar menurut Sadiman (2003:16) adalah sebagai berikut:

(1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka;

(2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera;

(3) Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sifat pasif anak didik.

Dari kegunaan diatas peneliti membuat kesimpulan bahwa pembuatan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi (dalam hal ini yang dimaksud peneliti adalah berbentuk video) bisa membuat siswa mengetahui materi secara visual dan tidak terlalu bersifar verbalistis.

Media pembelajaran juga bermanfaat untuk mengatasi keterbatasan ruang didalam kelas, meskipun tidak berada langsung dilokasi kejadian sejarah namun siswa mampu melihat dan mendengar kejadian sejarah dimasa lalu melalui media pembelajaran didalam kelas. Hal ini didasarkan dengan melihat betapa pesatnya perkembangan teknologi dan alat komunikasi yang berguna untuk memfasilitasi kebutuhan manusia yang juga semakin hari semakin bertambah.

Pada saat dilakukan observasi mengenai proses pembelajaran sejarah didalam kelas XI IPS 1 di SMAN 2 Malang, ditemukan permasalahan yaitu kurangnya pemanfaatan smartphone yang dimiliki siswa sebagai media pembelajaran dalam penyampaian materi sejarah. Cara dalam penyampaian materi sejarah pengajar masih melakukan dengan model ceramah dan menampilkan power point di layar Liquid Crystal Display (LCD) yang berisi rangkuman materi penyampaian secara lisan, penyampaian materi dengan sistem ceramah memang sangat mendukung dalam penguatan materi, tetapi jika setiap materi hanya disampaikan dengan ceramah maka siswa akan cenderung merasa jenuh. Didalam kelas XI IPS 1 seluruh siswa sudah mempunyai alat komunikasi yang canggih berupa smartphone sebagai penunjang aktifitas belajar, namun pada kenyataannya hal ini masih belum dimanfaatkan dengan baik. Selain membawa smartphone setiap siswa XI IPS 1 juga diperbolehkan membawa laptop untuk kebutuhan belajar dan setiap kelas sudah disediakan fasilitas belajar seperti wireless fidelity (WiFi) dan soundsystem. Tetapi permasalahannya pembelajaran sejarah didalam kelas XI IPS 1 yang minim menggunakan variasi didalam penyampaian materi seperti memanfaatkan WiFi dan smartphone, pembelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 masih dominan dengan ceramah dan penugasan yang bersifat rangkuman kepada siswa. Hal ini akan mengakibatkan kejenuhan dan penurunan minat siswa terhadap pembelajaran sejarah. Menurut Sriyono (1992:99) metode ceramah adalah penuturan dan penjelasan guru secara lisan. Namun dalam pelaksanaannya sebagai penunjang penyampaian materi dapat menggunakan alat bantu mengajar berupa media yang dimiliki siswa seperti smartphone untuk menunjukkan materi visual dan mengatasi masalah keruangan yang terbatas.

Dari uraian diatas maka peneliti melakukan variasi dengan menggunakan media pembelajaran berupa multimedia. Menurut Robin dalam Darmawan (2012:47) multimedia adalah alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengombinasikan teks, grafik, animasi, audio dan video. Salah satu media pembelajaran yang cukup potensial dalam membantu proses belajar mengajar adalah melalui multimedia. Multimedia sebagai presentasi materi menggunakan kata-kata sekaligus gambar-gambar (Mayer, 2009:3). Dalam hal ini peneliti mengggunakan multimedia yang dapat menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (animasi).

Gambar bergerak atau lebih akrab disebut dengan film animasi, adalah film yang merupakan hasil dari penggabungan gambar satu dengan gambar yang lain sehingga menjadi gambar yang bergerak. Media animasi ini merupakan sebuah visualisasi untuk menjangkau peristiwa sejarah yang tidak dapat dihadirkan didalam kelas sebagai interaksi antara guru dan siswa melalui gambar-gambar bergerak yang mirip dengan keadaan sebenarnya, agar proses pembelajaran sejarah menjadi lebih kongkrit. Media animasi ini juga lebih mudah dipahami oleh siswa seara visual, karena siswa akan mengetahui penggambaran secara jelas bukan hanya gambar yang masih abstrak. Media dapat lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas (Hamalik, 1994:12).

Media pembelajaran dengan menggunakan media animasi tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kekurangannya yaitu, media ini memerlukan persipan khusus serta waktu dan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, proses pembuatan animasi membutuhkan keahlian khusus dalam bidang videographic. Namun berdasarkan permasalahan tersebut, media pembelajaran dengan menggunakan animasi berbasis After Effect masih dapat dipertimbangkan sebagai alternatif media pembelajaran sejarah. Kelebihan dari media pembelajaran animasi berbasis After Effect adalah dapat menampilkan gambar bergerak dan teks materi yang tidak membosankan. Ilustrasi yang ditampilkan mempunyai fungsi sebagai gambaran imajinatif peristiwa sejarah, sehingg nantinya peserta didik mampu menangkap gambaran kejadian pada masa itu. Materi yang disampaikan kepada siswa berupa teks tertulis dan audio narator untuk memudahkan peserta didik dalam memahami visual yang telah dibuat oleh peneliti. Hal ini diharapkan untuk memudahkan peserta didik dalam memahami rekontruksi peristiwa sejarah. Selain menggunakan bahan visual peneliti juga menambahkan materi secara lisan bila dirasa perlu.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan diatas, hal tersebut mendasari peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Animasi Berbasis After Effect Pada Materi Peristiwa Menjelang Proklamasi Dalam Pembelajaran Sejarah Di SMAN 2 Malang”. Dengan menggunakan media animasi diharapkan siswa mampu menangkap dan mempelajari pesan moral peristiwa menjelang proklamasi. Materi ini terdapat pada KD 3.7 Menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia. Tujuannya adalah agar siswa mampu berfikir analisis dan juga dapat mengamati secara visual tentang perjuangan bangsa Indonesia.

 

KAJIAN PUSTAKA

Pengembangan Metode penelitian dan pengembangan (research and development) merupakan metode penelitan yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Sugiyono (2011:407) metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitan yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Dengan demikian, pengembangan merupakan metode penelitan yang ditujukan untuk menghasilkan suatu produk media pembelajaran dengan menguji validitas dan kesesuaian kebutuhan dilapangan dari produk yang dihasilkan. Dalam penelitian dan pengembangan ini, peneliti mencoba mengembangkan suatu media animasi yang memuat materi sejarah untuk menguji validitas dan efektifitas produk tersebut.

Media Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (1998:398) Media adalah

(1) alat;

(2) sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televise, film, poster, dan spanduk;

(3) yang terletak antara dua pihak;

(4) perantara, penghubung.

Media menurut Wilbur Schramm (1984:104) adalah untuk menyampaikan jenis rangsangan yang diperlukan saat kegiatan belajar. Media merupakan sebuah alat bantu menarik yang diluar dari materi, karena interaksi antara guru dan siswa akan sangat efektif dengan media pendukung yang sesuai. Dengan demikian, sebagai alat pendukung untuk menyampaikan materi media harus bersifat informatif terhadap penggunanya, karena media merupakan penghubung antara pendidik dan peserta didik.  Alasan lainnya, karena setiap kebutuhan dari siswa mempunyai barbagai macam perbedaan dalam menerima materi. Oleh karena itu, media merupakan alat yang diperlukan untuk mencoba menyampaikan materi secara efektif dan tepat sasaran.

Kegiatan belajar melalui media terjadi bila ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber lewat media tersebut (Miarso, 1984:47). Keberhasilan suatu media adalah pengirim pesan dapat menyampaikan pesan yang sesuai atau dengan lebih baik hasilnya ke penerima pesan. Salah satu ciri media ialah tempat menyampaikan rangsangan yang diminta untuk disampaikan (Wilbur Schramm, 1984:107). Karenanya, pemilihan media harus bisa merangkum dari berbagai bentuk pemahaman siswa seperti kecenderungan visual, audio, atau ceramah. Dengan demikian, pesan yang terdapat di materi mampu disampaikan dengan tepat. Seperti halnya yang telah ditulis oleh Miarso (1984:49) bukan peralatan itulah yang penting tetapi pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media dalam bentuk program belajar. Dengan kata lain media merupakan alat untuk membantu mempermudah komunikasi antara guru kepada murid sesuai dengan sumber belajar.

Pembelajaran merupakan upaya untuk menyampaikan gagasan dari pengajar kepada peserta didik. Menurut pandangan Dimyati (2009:5) bila siswa belajar, maka akan terjadi perubahan mental pada diri siswa. Pembelajaran dapat menimbulkan pertumbuhan pengetahuan dalam diri siswa, baik secara langsung atau tidak langsung. Pertumbuhan memungkinkan perkembangan dalam ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Dimyati, 2009:6). Kognitif adalah kemampuan untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah. Afektif merupakan kecenderungan perubahan dalam watak, perasaan, dan minat peserta didik dalam bertingkah laku. Ranah psikomotorik berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya menari, melukis, melompat dan sebagainya.

 

Pentingnya Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan sarana untuk memberikan rangsangan bagi si pelajar supaya proses belajar terjadi (Miarso, 2004: 458)

Kata “media” adalah bentuk jamak dari kata “medium” yang berasal dari bahasa latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata “medium” diartikan antara atau sedang. Jadi dalam ranah pembelajaran kata “medium” dapat diartikan alat untuk menghantarkan informasi.

Sadiman (2003:6) mengatakan bahwa media adalah bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca oleh siswa. Untuk memudahkan anak didik dalam menerima materi pengajaran perlu diusahakan agar anak didik menggunakan sebanyak mungkin alat indera yang dimiliki (Latuheru, 1988:15). Pada tahap ini media pembelajaran mampu mewadahi kecenderungan siswa dalam menerima materi melalui alat indera yang berbeda-beda. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Latuheru (1988:16) “makin banyak alat indera yang digunakan untuk mempelajari sesuatu, makin mudah diingat apa yang dipelajari”.

Berdasarkan peran dan pemanfaatannya, media digunakan jika media itu mendukung tercapainya tujuan instruksional yang telah dirumuskan serta sesuai dengan sifat materi instruksionalnya (Sadiman, 2003:189). Sedangkan menurut Arsyad (2014:10) media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar.

Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran sebagai pengalihan dalam proses menyampaikan materi, sehingga peserta didik mampu mencapai tujuan instruksional maupun perhatian dalam minat siswa untuk belajar.

Media pembelajaran audio visual sangat menarik digunakan dalam penyampaian materi karena media audio visual gerak merupakan media yang paling lengkap, yaitu menggunakan kemampuan audio visual dan gerak. Sehingga siswa mampu mengingat materi dengan lebih baik. Tetapi dari pembahasan media pembelajaran melalui audio dan visual mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Miarso (1984:59) Media rekam audio mempunyai kelebihan;

(1) Mudah dipersiapkan dengan sedikit pengetahuan penyuntingan;

(2) Dapat dipergunakan hampir untuk semua keperluan;

(3) Tidak memerlukan peralatan putar yang rumit;

(4) Mudah di reproduksi dan muranh ongkosnya.

Sedangkan kelemahannya ialah;

(1) Cenderung untuk menurun kualitas suaranya karena pemakaian;

(2) Perlu ruang kedap suara dan peralatan editing untuk mempersiapkannya;

(3) Jalannya program tidak dapat dikontrol pemakai.

Sedangkan media rekam video menurut Miarso (1984:61) mempunyai kelebihan yaitu;

(1) Memiliki semua kemampuan yang dipunyai media audio, visual maupun film;

(2) Dapat dirangkum beberapa jenis media dalam satu program;

(3) Dapat digunakan berbagai efek dan teknik yang tidak dipunyai oleh media lain;

(4) Dapat menghadirkan sumber yang sukar dan langka;

(5) Penggunanya tidak memerlukan ruangan yang terlalu gelap.

Kekurangan media rekam video adalah;

(1) Tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari rangkaian kegiatan produksi video;

(2) Harus memenuhi persyaratan teknis produksi;

(3) Memerlukan peralatan yang kompleks dan mahal;

(4) Memerlukan tenaga listrik dan batere yang pendek umurnya;

(5) Kesesuaian sukar dijamin karena jenis format yang berbeda-beda;

(6) Persiapan memerlukan kontinuitas kerja yang berurutan.

 

Animasi adalah Ilustrasi yang merupakan pernyataan dasar dari unsur grafis. Ilustrasi dapat disajikan mulai dari goresan atau titik sederhana sampai dengan yang kompleks. Ilustrasi menurut Pujirianto (2005:41) berfungsi untuk a). Menarik perhatian, b). Merangsang minat pembaca terhadap keseluruhan pesan, c). Memberikan eksplanasi atas pernyataan, d). Menonjolkan keistimewaan daripada produk, e). Menciptakan suasana khas. Sedangkan, kata animasi berasal dari bahasa latin yaitu anima yang berarti ‘hidup’ atau animare yang berarti ‘meniupkan kedalam’. Dalam bahasa Inggris istilah tersebut berubah menjadi animate yang berarti memberi hidup (to give life to), atau animation yang berarti ilusi dari gerakan. Istilah animation dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Animasi.                                                                                                                                                                                                                                                   Lazimnya istilah animation diartikan sebagai pembuatan film kartun (the making of cartoons) (Sugihartono, 2010:9).

 

Pembelajaran Sejarah  merupakan dasar bagi terbinanya identitas nasional yang merupakan salah satu modal utama dalam membangun bangsa, masa kini maupun diwaktu yang akan datang (I Gde Widja, 1989:100). Pembelajaran sejarah sangatlah perlu diajarkan di sekolah agar peserta didik mengetahui identitas bangsanya, yang selanjutnya akan diteruskan atau dikembangkan lagi.

Dengan demikian, menurut I Gde Widja (1989:101) nilai-nilai yang berkembang pada generasi terdahulu perlu diwariskan pada generasi masa kini, sebagai bekal untuk menghadapi masa yang akan datang. Oleh karena itu, generasi sekarang dan yang akan datang memerlukan pembelajaran tentang pengetahuan, kecakapan, visi dan misi dalam membangun negara dari pahlawan terdahulu.

Mempelajari sejarah didalam kelas tidak lepas dari jasa sejarawan yang telah meneliti peristiwa sejarah di lapangan. Tugas dari sejarawan menurut I Gde Widja (1989:96) adalah untuk menginterpretasikan fakta-fakta serta menghusut hubungan-hubungan intrinsiknya, dan akhirnya merangkaikan fakta-fakta dan menuliskannya sebagai cerita sejarah yang utuh. Dengan demikian siswa mampu mendapat kebenaran fakta sejarah yang telah diajarkan, dan untuk menghindari manipulasi peristiwa sejarah. Sejarawan dan  guru sejarah saling berkaitan didalam memberikan informasi terhadap kebenaran sejarah kepada orang awam.

Keberadaan materi sejarah yang diajarkan oleh pendidik diharapkan melibatkan pengembangan perpekstif, agar cara pandang terhadap sejarah bukan hanya hitam dan putih belaka. Sejarah punya peluang untuk menawarkan bagaiman belajar untuk berpikir, teknik berpikir dalam sejarah mempunyai nilai yang tinggi bagi aktivitas kehidupan sehari-hari (Hariyono, 1995:153).

Belajar sejarah berarti belajar memahami hal-hal penting dan belajar untuk mengapresiasi atau menumbuhkan minat (Suparno, 1995:9). Pelajaran sejarah harus dapat dimanfaatkan secara maksimum dalam mengembangkan minat seseorang untuk pengembangan pribadi dan dirinya sebagai anggota masyarakat atau pun warga negara.

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2011:297). Langkah-langkah penggunaan metode penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono adalah sebagai berikut:

(a) potensi dan masalah;

(b) pengumpulan data;

(c) desain produk;

(d) validasi desain;

(e) revisi desain;

(f) uji coba produk;

(g) revisi produk;

(h) uji coba produk;

(i) revisi produk;

(j) produksi massal (Sugiyono, 2011:298).

 

KESIMPULAN

Produk yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan ini adalah media pembelajaran berbasis video animasi yang ditujukan bagi siswa kelas XI IPS SMA/MA pada matapelajaran Sejarah Indonesia. Media pembelajaran yang dikembangkan berupa video dengan durasi 08.52 menit yang dapat dibuka melalui smartphone, laptop, maupun ditayangkan dilayar LCD secara offline. Produk pengembangan ini dikembangkan menggunakan aplikasi Adobe After Effect serta menggunakan Adobe Photoshop. Adapun materi yang dikembangkan dalam media pembelajaran merupakan materi yang mengacu pada Kompetensi Dasar 3.7 dengan pokok bahasan materi Peristiwa Penting Menjelang Proklamasi untuk kelas XI SMA/MA. Materi yang dikembangkan meliputi pengeboman di Pearl Harbour, Pengeboman di Kota Hiroshima, Jenderal Terauchi memanggil Ir. Soekarna dan Hatta ke Dalat Vietnam, Pengeboman di Kota Nagasaki, Peristiwa Rengasdengklok, serta pembacaan teks Proklamasi.

Pengembangan media pembelajaran video animasi berbasis Adobe After Effect juga dilakukan berdasarkan pada potensi dan masalah dalam pembelajaran sejarah yang ditemui pada saat melakukan observasi di Kelas XI IPS 1 SMAN 2 Malang. Adanya sarana pendukung yang memadai untuk menggunakan media pembelajaran audiovisual melalui smartphone, hal itu telah diperbolehkan sekolah untuk membantu proses belajar didalam kelas. Serta masalanya yaitu kurangnya pemanfaatan smartphone tersebut untuk digunakan oleh siswa dalam belajar materi sejarah.

 

SARAN

Media yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi solusi dan opsi dalam memahami materi Peristiwa Penting Menjelang Proklamasi Indonesia dan mewadahi ketertarikan siswa akan media pembelajaran aidiovisual berupa video animasi. Selain itu media pembelajaran berupa video animasi ini merupakan salah satu pemanfaatan smartphone yang diperbolehkan oleh sekolah untuk digunakan siswa didalam kelas.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arsyad. 2014. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Darmawan, Deni. 2011. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Darmawan, Deni. 2012. Inovasi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Darmawan, Deni. 2015. Komunikasi Pendidikan Perspektif Bio-Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dimyati, Mudjiono. 2009. Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, O. 1994. Media Pendidikan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Hariyono. 1995. Mempelajari Sejarah secara Efektif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

I Gde Widja. 1989. Sejarah Lokal suatu Perspektif dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta: Kemendikbud.

Latuheru, John. 1988. Media Pembelajaran. Jakarta: Debdik Bud.

Mayer, R.E. 2009. Multimedia Learning. Diterjemahkan oleh Teguh Wahyu. Surabaya: ITS Press.

Pujiriyanto. 2005. Desain Grafis Komputer (teori grafis computer). Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Sadiman. 2003. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Schramm, Wilbur. 1984. Big media Little media (people communication). Amerika serikat: SAGE PUBLICATION.

Sriyono, dkk. 1992. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta

 

Suparno Suhaenah. 1995. Pengajaran Sejarah Kumpulan Makalah Simposium. Jakarta: cv. Dwi Jaya Karya.