SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

Zumrotul Kusnia Kusnia

Abstrak


PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

Zumrotul Kusnia , Ari Sapto Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang 65145

E-mail: zumrotulkusnia12@gmail.com

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan metode card sort dalam pembelajaran sejarah. Adapun objek penelitian ini yaitu siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang. Keterlaksanaan pembelajaran dikelas X GB 4 dengan menggunakan metode pembelajaran card sort sudah mencapai keberhasilan yang baik dengan berjalan dengan lancar. Metode pembelajaran card sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang pada aspek kognitif.

 

Kata Kunci: Metode Card Sort, Hasil Belajar Siswa, Siswa Kelas X GB SMK N 6 Malang

 

Abstract

This study aims to improve student learning outcomes through the use of card sort methods in learning history. The object of this research is class X GB 4 Vocational High School 6 Malang. The implementation of learning in class X GB 4 by using the card sort learning method has achieved good success by running smoothly. Card sort learning methods can improve student learning outcomes of class X GB 4 Malang State Vocational High School 6 on cognitive aspects.

 

Keywords: Card Sort Method, Student Learning Outcomes, Class X GB Students of SMK N 6 Malang

 

PENDAHULUAN

Sejarah merupakan salah satu wahana untuk mencerdaskan bangsa dalam arti luas. Dengan sifatnya yang unik, sejarah berpijak pada fakta masa lampau yang dianalisis untuk memahami masa kini dan diproyeksikan untuk merencanakan masa depan. Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran tentang masa lampau, sehingga perlu  untuk diperhatikan bagaimana seorang guru memandang masa lampau tersebut dan bagaimana materi tentang masa lampau tersebut (Widja, 1989:20).

Secara umum, penilaian merupakan proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar siswa. Dengan demikian penilaian siswa serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, menafsirkan data tentang proses hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Sudjana (2014:3) mendefinisikan bahwa hasil belajar siswa adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif merupakan kemampuan yang terkait dengan penalaran, meliputi kemampuan pengetahuan (C1), pemahaman (C2), analisis (C3), analisis dan sistensis (C4), evaluasi (C5), dan mencipta (C6). Aman (2011:75) juga menyebutkan hasil belajar adalah terjadinya perubahan dan perbedaan dalam cara berpikir, merasakan, dan kemampuan untuk bertindak serta mendapat pengalaman dalam proses belajar mengajar. Sistem penilaian mempengaruhi pola dan cara belajar siswa. Oleh karena itu, sistem penilaian harus direncanakan dengan matang oleh guru. Penilaian seperti halnya tes akhir sekolah sengat penting keberadaannya karena pada akhirnya dapat digunakan sebagia alat ukur utama keberhasilan sebuah kebijakan di sektor pendidikan.

Menurut Gintings (2008:42) metode pembelajaran diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta sebagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajar. Penggunaan metode dalam proses pembelajaran adalah untuk mengoptimalisasi daya serap para peserta didik dapat memahami materi yang diberikan dan untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu.

Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode card sort. Adapun komponen-komponen belajar metode card sort meliputi:

(1) pengalaman,

(2) interaksi,

(3) komunikasi,

(4) Refleksi. Adapun langkah-langkah Metode PembelajaranCard Sort menurut Silberman (2002:157-158):

Penerapan metode card sort tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran. Dengan cara menggunakan kartu-kartu yang dibuat oleh seorang guru. Di dalamnya terdapat poin-poin yang berkaitan tentang suatu materi. Langkah-langkah yang digunakan ketika menerapkan metode card sort dalam pembelajaran adalah:

(1) Setiap siswa diberi potongan kertas yang berisi informasi atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori,

(2) Mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama. Anda dapat mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan siswa menemukan sendiri.

(3) Siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.

(4) Seiring dengan presentasi dari tiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin terkait materi.

Penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti yaitu Skripsi yang disusun oleh dari Dwi Widianto (2015) berjudulPengembangan Permainan Ular Tangga dalam Bentuk Koleksi Kartu Pembelajaran untuk Memahami Konsep-konsep Materi Pelajaran Sejarah Kelas X di SMA Negeri 1 Sidoarjo berisikan pengembangan permainan ular tangga berbentu koleksi kartu pembelajaran mengenai konsep-konsep sejarah.Fakhtur Roji (2018) berjudul Pengembangan Media Kartu Uno Sejarah dalam Pembelajaran Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia berisikan tentang penelitian R & D melalui pengembangan media kartu uno dalam menjelaskan materi pembelajaran proklamasi kemerdekaan Indonesia. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang melalui penggunaan metode card sort dalam pembelajaran sejarah.

 

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang digunakan untuk mengatasi permasalahan terkait hasil belajar sejarah di kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang. Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penaralaran praktik sosial mereka. PTK sebagai penelitian tindakan berbeda dengan penelitian kelas. Fakor pendorong pada penelitian kelas biasanya keinginan untuk mengetahui atau keinginan untuk mengembangkan sesuatu. Sehingga dalam penelitian kelas guru berperan hanya sebagai objek penelitian, yang kadang-kadang hasilnya pun tidak dapat di manfaatkan oleh guru itu sendiri. Berbeda dengan penelitian tindakan kelas (PTK). Faktor pendorong pada PTK adalah keinginan untuk memperbaiki kinerja guru (Sanjaya,2009:27).

Arikunto (2006:74) menyatakan bahwa proses penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalham bentuk yang berulang yang didalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan yaitu

1)  perencanaan,

2) pelaksanaan,

3) observasi, dan

4) refleksi.

Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah terlebih dahulu melakukan observasi awal untuk menyusun rencana pembelajaran atau untuk memasuki tahap perencanaan. Penelitian tindakan kelas ini sendiri dilakukan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap siklus harus melalui empat tahapan tersebut. Penerapan metode pembelajaran card sort ini dapat dikatakan berhasil apabila adanya perubahan yang mendasar terhadap konstribusi siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Subjek uji coba dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X Gambar Bangunan 4 SMKN 6 Malang dan guru mata pelajaran Sejarah Indonesia yang bernama Ibu Trimin Hastuti. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terbagi menjadi dua yaitu instrumen tahap pra pelaksanaan dan tahap pelaksanaan. Adapun jenis instrumen pada tahap prapelaksanaan yang terdiri dari wawancara dan observasi tahap awal serta pada saat tahap pelaksanaan yaitu dengan menyebarkan tes awal berupa:

(1) Lembar observasi kegiatan guru,

(2) Lembar observasi kegiatan siswa,

(3) Lembar observasi lapangan,

(4) Pedoman wawancara,

(5) Tes akhir siklus 1 dan siklus 2.

 

HASIL

Deskripsi Metode Pembelajaran Card Sort

Card sort merupakan model pembelajaran yang memberikan penekanan pada siswa dengan suasana yang aktif dan menyenangkan, sehingga terjadi interaksi antara siswa satu dengan siswa yang lainnya secara aktif yang juga berpengaruh pada peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, metode ini juga mengajarkan kepada siswa untuk bekerjasama (berelaborasi) antarindividu untuk memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru menggunakan card sort.

Pada pelaksaan test dan ulangan, siswa dituntut menghafal materi yang telah dipelajari agar mendapat nilai yang maksimal, sedangkan saat pelaksanaan pembelajaran sebagian siswa cenderung tidak banyak memahami materi yang disampaikan. Upaya untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa kelas X GB 4 dapat diatasi dengan adanya pemilihan strategi yang inovatif, salallh satunya yaitu dengan menggunakan metode card sort.

Metode pembelajaran yang dibuat agar seluruh siswa aktif dan tidak ada dominasi, sehingga dalam hal ini metode pembelajaran card sort (memililah dan memilih kartu). Metode ini bertujuan agar siswa dapat belajar santai tanpa harus mencatat atau membaca banyak materi. Penggunaan metode card sort tidak terlalu sulit, pelalatan dibuat sendiri oleh peneliti, sedangkan soal-soal yang digunakan telah disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari.

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan metode card sort di kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Metode yng digunakan dalam pembelajaran adalah power point dan video interaktif, sedangkan sumber belajar berasal dari berbagai hal, seperti buku paket, LKS dan internet. Peneliti dalam hal ini bertindak sebagai pelaksana tindakan. Pada awl pembelajaran siklus 1 nampak kurang serius dalam mengikuti pelajaran, hanya siswa yang duduk dibagian depan saja nampak fokus belajar, sedangkan yang bagian belakang masih ada yang berbicara diluar konteks pembelajaran. Peneliti langsung mengingatkan agar dalam pembelajaran sejarah sekarang dan kedepannya, siswa harus lebih fokus dan konsentrasi agar hasil belajar yang diperoleh menjadi maksimal.

Pada pertemuan pertama siklus 1 siswa nampak sangat tertarik dengan penggunaan metode card sort, namun pada pelaksanaannya terkadang siswa masih menyimpang dari strategi pembelajaran yang telah dijelaskan. Pada pertemuan pertama dan kedua, instruksi diberikan karena anggota seringkali langsung semua kelompok mencari kartu rinciannya. Kelas menjadi gaduh karena setiap kelompok saling berebut agar ditunjuk untuk mencari kartu rincian yang ada di kelompok lain.

Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode card sort membuat siswa berminat untuk belajar, pada pertemuan pertama siklus 1 setiap anggota kelompok nampak antusias mencari jawaban yang diajukan. Kondisi tersebut berbanding terbalik pada pertemuan kedua, dalam pelaksanaan pembelajaran hanya terdapat beberapa siswa dalam kelompok yang aktif mencari kartu rincian (jawaban). Siswa hanya senang ketika kegiatan menempel kartu rincian saja, tetapi hanya beberapa kelompok tertentu yang aktif mencari sungguh-sungguh kartu rincian. Dan dilakukannya post-test pada materi siklus 1 untuk melihat ketercapai siswa dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Pada pertemuan ketiga siswa terlihat senang dan antusias, terlebih lagi ketika peneliti menanyangkan video interaktif tentang kejayaan masa kerajaan Sriwijaya. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode card sort dapat berjalan dengan lancar karena siswa mulai terbiasa. Setiap kelompok antusias mencari jawaban bersama anggotanya kekelompok lain, namun hanya kelompok 2 yang nampak terdiam dan tidak mengerjakan, sehingga peneliti memberi teguran. Siswa dikatakan aktif dengan didasarkan beberapa bukti, pertama setiap kelompok tidak langsung semua mencari kartu rincian melainkan harus perkelompok yang mencari sekitar 5 siswa yang mencari disetiap kelompok dan sisanya mencocokan benar apa tidak jawaban yang dibawah oleh anggotanya.

Pada saat pembelajaran siklus kedua siswa sudah tertarik untuk belajar sejak awal, terlebih dengan adanya media berupa video intraktif tentang masa awal berdirinya kerajaan Sriwijaya, kejayaanya dan masa keruntuhan kerajaan Sriwijaya. Perbaikan yang dilaksanakan pada siklus 2 yaitu pemberian materi secara singkat dan jelas berdasarkan vidoe yang ditanyangkan.

Penguatan kemudian diberikan setelah siswa melaksanakan pembelajaran dengan metode pembelajaran card sort  dengan memberikan siswa kartu inti dan kartu rincian. Berdasarkan kartu yang disusun siswa jika yang salah satu yang salah meletakkan maka guru bisa membahasnya lebih mendalam.

Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan metode card sort telah dilksankan dengan sangat baik oleh peneliti sebagai observer. Pernyataan tersebut terbukti dari hasil observasi yang dilakukan  oleh peneliti banyak siswa yang awalnya tidak mengerti dan binggung mengunakan metode card sort  setelah dilakukan beberapa pertemuan siswa  menjadi lebih tahu dan antusias dalam pembelajaran. Pada siklus 2 siswa sangat antusias dan memahami apa yang diminta oleh guru banyak siswa yang mengajukan pertanyaan pada siswa yang maju didepan kelas. Berdasarkan hasil akhir pelaksanaan siklus 2 dapat dikatakan bahwa keterlaksanaan tindakan yang dilakukan di X GB 4 masuk katagori baik.

 

Hasil Uji Coba Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan metode pembelajaran card sort (memilah dan memilih kartu) ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar yang diukur pada penelitian ini yaitu aspek kognitif dengan ujian. Hasil belajar kognitif siswa diukut melalui pelaksanaan pre-test atau ujian awal yang dilakukan sebelum pelaksanaan metode pembelajaran card sort sebagai awal kemapuan siswa. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa, peneliti bersama guru memberikan ujian yang dilakukan diakhir pembelajaran siklus I dan siklus II (pos-test).

Penelitian ini difokuskan pada hasil belajar kognitif, akan tetapi peneliti dan guru juga melakukan penilian sikap dan keterampilan dalam jalannya diskusi lampiran(). Menurut Bloom (dalam Sudjana, 2014:22) hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif berkenaan dengan intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu penegetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yaitu gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Pre-test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal dari siswa. Pre-test dilakukan pada hari senin tanggal 29 Oktober 2018 di kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang dan diikuti oleh 35 siswa. Hasil yang didapat kurang memuaskan dan masih banyak siswa yang nilainya dibawah Kriteria Ketuntasan Kelulusan Minimum (KKM) atau dibawah 71. Siswa yang tuntas atau diatas KKM dalam pre-test ini hanya siswa atau presntase belajar hanya 7 siswa sedangkan siswa yang belum tuntas atau berada dibawah KKM sejumlah 23 siswa jika dipresentasekan hanya 20%.

Kemudian pelaksanaan post-test siklus I dilakukan pada hari senin tanggal 5 November 2018. Kegiatan post-test ini diikuti oleh semua siswa. Hasil belajar yang diperoleh dari ujian post-test siklus I ini mengalami peningkatan dibandingakan dengan nilai pada pre-test sebelumnya. Siswa yang nilainya diatas KKM atau tuntas sebanyak 26 siswa, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 9 siswa atau jika dipresentasekan keseluruhannya sebesar 74,9 %. Pada post-test siklus Iini nilai atau hasil belajar siswa meningkat, pada nilai ujian awak (pre-test) siswa yang tuntas atau diatas KKM hanya sebnayak 7 siswa dan yang berada di bawah KKM atau belum tuntas sebanyak 23 siswa atau jika dipresentasekan sebanyak 20% dibandingkan dengan nilai ujian awal (pre-test).

Penilaian sikap dalam diskusi meliputi keselamatan, keamanan, dan kebersihan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru melalui kartu. Setiap kelompok sudah menerapkan tiga aspek ini dengan baik dan tertata. Selain penilaian sikap, keterampilan dari masing-masing kelompok juga dinilai mulai dari penyusunan kartunya. Teknik pengolahan, bentuk fisik, inovasi kesesuaian dengan materi, kelengkapan kartu dengan materi hingga presentasi dalam penguasaan materi.

Pelaksanaan post-test siklus II dilakukan pada hari senin, tanggal 19 November 2018. Kegiatan post-test ini diikuti oleh seluruh siswa. Hasil belajar yang diperoleh dari ujian post-test siklus II ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai pada pre-testdan post-test sebelumnya. Siswa yang nilainya diatas KKM atau tuntas sebanyak 31 siswa, sedangkan siswa yang memperoleh dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 4 siswa jika dipresentasekan sebanyak 88,5%.

Pada post-test siklus II ini nilai atau hasil belajar siswa meningkat, paada nilai awal (pre-test) siswa yang tuntas atau diatas KKM sebanyak 7 siswa dan siswa yang berasa dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 23 siswa atau jika dipresentasekan rata-rata sebanyak 20%. Sedangkan nilai post-test siklus I siswa yang tuntas atau diatas KKM sebanyak 26 siswa, sedangkan yang berada dibawah KKM sebanyak 9 siswa jika dipresentasekan rata-rata 74,2%. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada post-test siklus II ini meningkat sebanyak 5  siswa dibandingkan dengan nilai pre-test meningkat sebanyak 24 siswa dibandingkan dengan post-test siklus I. Hal ini membuktikan perbaikan-perbaikan dalam siklus II berjalan dengan baik dan lancar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rata-rata hasil belajar siswa pada pre-test yaitu 57,7, pada post-test siklus I meningakat menjadi 72,9, dan pada post-test siklus II mengalami peningkatan menjadi 88,5.

Hasil belajar tersebut membuktikan bahwa hasil belajar sisswa pada mata pelajaran sejarah dapat meningkat setelah diterapakan metode pembelajaran card sort. Metode pembelajaran card sort membuat siswa lebih aktif dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah. Sehingga siswa mampu memahami materi sejarah yang dibahas dalam kelompoknya secara detail dan menyeluruh. Sehingga dengan teori yang diungkapkan oleh Sudjana (2014:22), bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah, maka penerapan metode card sort (memililah dan memilih kartu) terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil data yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

(1) Keterlaksanaan pembelajaran dikelas X GB 4 dengan menggunakan metode pembelajaran card sort sudah mencapai keberhasilan yang baik dengan berjalan dengan lancar. Siswa terlihat antusias dan paham dengan apa yang sedang dikerjakan untuk memecahkan masalah dalam bentuk kartu yang telah diberikan oleh guru. Siswa dapat mengkondisikan dan aktif mulai dari pemecahan masalah hingga presentasi. Langkah-langkah dari metode pembelajaran card sort juga terlaksana dengan baik dan sistematis antara siswa, yaitu setiap siswa diberikan potongan kertas yang berisi informasi atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori, mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama. Guru mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan siswa menemukan sendiri, siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas, seiring dengan presentasi dari setiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin terkait materi.

(2) Metode pembelajaran card sort dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X GB 4 SMK Negeri 6 Malang. Hasil belajar siswa diambil hanya pada aspek kognitif. Hasil belajar siswa belajar siswa diambil pada aspek kognitif. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan selama diadakan pre-test (ujian awal) untuk mengukur kemampuan awal siswa dan dua kali post-test pada setiap siklus. Hasil belajar siswa pada pelaksanaan pre-test yang tuntas atau diatas KKM dalam hanya 7 siswa, sedangkan siswa yang belum atau tidak tuntas berada sibawah KKM sejumlah 23 siswa jika dipresentasekan rata-ratanya sebanyak 20% dengan rata-rata 57,7%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada pelaksanaan post-test siklus I yang nilainya diatas KKM sebanyak 26 siswa, sedangkan siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 9 siswa jika dipresentasekan sebanyak 74,2%. Nilai hasil belajar siswa pada siklus I meningkat dengan rata-rata 72,91 dan meninkat menjadi 80,25 pada siklus II. Jumlah siswa yang nilainya diatas KKM atau tuntas ini meningkat pada post-test siklus II menjadi 31 siswa, sedangkan yang memperoleh nilai dibawah KKM atau belum tuntas sebanyak 4 siswa jika dipresentasekan sebanyak 88,5%. Target ketuntasan kelas pada penelitian ini telah tercapai karena siswa yang memperoleh skor minimal 71 atau siswa yang mencapai kriteria kentuntasan minimal (KKM) pada kelas X GB 4 mencapai lebih dari 70%, yaitu sebesar 88,5%.

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilkukan, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

1. Kepada guru, dapat menerapkan metode pembelajaran card sort dalam kegiatan pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah. Guru juga dapat menerapkan metode-metode pembelajaran yang baru, yang dapat membantu siswa lebih aktif dan memahami materi pembelajara dengan maksimal.

2. Kepada siswa, hendaknya lebih aktif berpartisipasi dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Siswa juga hendaknya antusias dalam setiap proses belajar dan mengajar ketika guru menerapkan metode-metode pembelajaran baru

3. Kepada sekolah, diharapkan pihak sekolah mendukung dan memfasilitasi guru dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran yang baru dan inovatif. Khusus metode pembelajaran card sort, yang memang membutuhkan dana karena menggunakan kartu.

4. Kepada peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti selanjutnya dalam menerapkan metode pembelajaran card sort ini lebih variatif dan inovatif lagi sehingga dapat memudahkan siswa untuk mempelajari materi dan dibandingakan dengan metode pembelajaran lain atau memadukan metode pembelajaran lain, sehingga hasil yang diperoleh lebih baik.

 

DAFTAR RUJUKAN

Aman. 2011. Model Evaluasi Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Gintings, A. 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora.

Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Silberman, M. 2002. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.

Sudjana, N. 2014. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Widja, I. G. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: P2LPTK