SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KETERLIBATAN SOE HOK GIE DALAM GERAKAN MAHASISWA SOSIALIS DI INDONESIA 1961-1966

Faris Fathoni

Abstrak


KETERLIBATAN SOE HOK GIE DALAM GERAKAN MAHASISWA SOSIALIS DI INDONESIA 1961-1966

Faris Fathoni Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang

Faris.Fathoni69@gmail.com

 

Abstrak

Pergerakan pemuda merupakan salah satu bagian dari sejarah penting di Indonesia. Salah satunya ialah pergerakan pemuda tahun 1966. Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh kunci dari pergerakan ini. Sebagai seorang sosialis, Soe Hok Gie semasa perkuliahannya mengikuti salah satu organisasi gerakan bawah tanah ayng berafiliasi dengan PSI, yaitu gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis). Melalui koneksinya dengan gemsos lah Soe Hok Gie dengan mudah dapat bekerja sama dengan pihak militer untuk meruntuhkan rezim Soekarno. Soe Hok Gie juga dengan mudah dapat memperoleh informasi-informasi penting dari salah satu rekan gemsosnya yang bekerja di bidang politik. Pergerakan mahasiswa tahun 1966 akhirnya membuahkan hasil dengan berhasil diruntuhkannya rezim Soekarno dan berganti menjadi orde baru rezim Soeharto.

 

Kata Kunci: Soe Hok Gie, Sosialisme, Gemsos.

 

Abstract

The youth movement is one of the important parts of history in Indonesia. One of them was the youth movement in 1966. Soe Hok Gie was one of the key figures in this movement. As a socialist, Soe Hok Gie during his lecture participated in one of the underground movement organizations affiliated with PSI, namely gemsos (Socialist Student Movement). Through his connection with gemsos Soe Hok Gie could easily work with the military to undermine the Soekarno regime. Soe Hok Gie can also easily obtain important information from one of his gemsos colleagues who work in the political field. The student movement in 1966 finally paid off with the successful collapse of the Soekarno’s regime and changed into the new order of the Suharto regime.

Salah satu pelaku utama sejarah di Indonesia adalah para pemuda. Toer dalam Kusuma (2015:1) bahkan menyatakan bahwa “sejarah Indonesia adalah sejarah para pemuda Indonesia”. Hal ini tidak dapat dipungkiri, mengingat bahwa sejak zaman penjajahan para pemuda telah memiliki andil yang cukup besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang Indonesia diharapkan mampu menikmati kemerdekaan dengan gemilang. Akan tetapi baik saat Orde Lama maupun Orde Baru, Indonesia kembali bergelut dengan masalahnya sendiri.Pada saat pemerintahan Soekarno Indonesia mengalami hyper inflasi yang menyentuh angka 650%. Inflasi ini menyebabkan harga – harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan menyebabkan rakyat semakin kesusahan. Pemerintahan Orde Baru dibawah rezim Soeharto yang otoriter juga menyebabkan banyak keresahan, rakyat kehilangan haknya dalam mengutarakan aspirasinya. Pemerintahan ini juga dinilai penuh dengan KKN. Melihat keadaan yang seperti inilah golongan para pemuda akhirnya kembali mengambil peranan yang sangat besar bahkan dapat dikatakan lebih besar dari sebelumnya. Golongan pemuda yang paling menonjol pergerakannya adalah dari kalangan mahasiswa. Dalam kurun waktu 1965 -1998 mahasiswa banyak melakukan kritik, koreksi bahkan hingga mengatakan demonstrasi kepada sistem pemerintahan yang ada.

Tidak lepas dari sejarah diatas, salah satu mahasiswa yang menjadi tokohkunci angkatan ’66 dan ikut serta menjadi arsitek dari aksi yang dilakukan oleh mahasiswa pada Maret 1966 adalah Soe Hok Gie.  Soe Hok Gie mengotaki semacam Long Marh (istilahnya sendiri) untuk gerak jalan yang menuntut penurunan harga bensin, penurunan harga karcis bis kota (LP3ES, 2011:12). Soe Hok Gie bukan hanya aktivis turun kejalanan namun Soe Hok Gie juga adalah seorang cendekia yang mengkritik melalui tulisan yang dimuat dalam surat kabar pada masa itu.Soe Hok Gie memprotes setiap ketidak-adilan bukan untuk dirinya pribadi namun semata karena Soe Hok Gie peduli pada penderitaan rakyat kecil. Kepedulian yang tinggi terhadap kaum bawah dan kebenciannya pada ketidak-adilan tersebut membuat Soe Hok Gie pada akhirnya mengambil sikap tegas dan ingin meruntuhkan rezim Soekarno yang saat itu dipandangnya banyak melakukan penyelewengan dan semakin otoriter. Oleh karena itu, Soe Hok Gie tidak ragu-ragu mengambil jalur kekuasaan untuk mewujudkan keinginan anti kekuasaan tersebut. Soe Hok Gie memutuskan untuk rmemecahkan dilemanya tentang kekuasaan dengan benar-benar melibatkan diri ke dalam suatu pergerakan bawah tanah yang sampai sekarang tidak banyak diketahui orang, yaitu melalui Gerakan Mahasiswa Sosialis (gemsos).

Permasalahan yang muncul dapat dijadikan rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:

(1) bagaimana latar belakang kehidupan Soe Hok Gie?

(2) bagaimana pemetaan ideologi organisasi pemuda indonesia tahun 1961-1969?

(3) bagaimana keterlibatan soe hok gie dalam gerakan mahasiswa sosialis?

 

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang menggunakan lima tahapan yang harus dilaksanakan dalam sebuah penelitian. Tahapan-tahapan tersebut antara lain penentuan topik, heuristik (pengumpulan sumber data), kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Berikut tahapan-tahapan tersebut, antara lain:

1. Pemilihan Topik

Pemilihan topik ini berkaitan dengan minat peneliti secara pribadi terhadap tokoh Soe Hok Gie. Peneliti membaca buku-buku terkait dengan Soe Hok Gie seperti “Catatan Seorang Demonstran” (2014), “Soe Hok Gie : Sekali lagi” (2009), maupun “Soe Hok Gie Biografi Sang Demonstran” (2010), dalam buku tersebut banyak dijelaskan bagaimana perjalanan Soe Hok Gie selama menjadi aktivis saat mahasiswa.Selain ketertarikan penulis pada tokoh Soe Hok Gie, pemilihan topik ini berdasarkan tidak banyaknya orang yang mengetahui keterlibatan Soe Hok Gie dalam GemSos. Dari hal inilah peneliti merasa bahwa perjalanan Soe Hok Gie selama menjadi aktivis sangat menarik untuk dikaji secara lebih dalam terutama berfokus pada keikut-sertaan Soe Hok Gie dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis di Indonesia.

2. Heuristik

Heuristik merupakan kegiatan yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan pencarian dan pengumpulan data serta sumber yang terkait dengan penelitian (Syamsuddin, 2008:86). Dalam hal ini penulis mengumpulkan berbagai sumber yang nantinya dikumpulakan dan dibagi menjadi beberapa bagian seperti sumber Primer dan Sumber Sekunder.

a. Sumber Primer

Sumber primer merupakan sumber paling utama dalam penelitian ini yang dikemukakan oleh pelaku sejarah, yaitu Soe Hok Gie.

1) 2011. Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran.. Jakarta : LP3ES. Merupakan buku yang berisi tentang catatan harian dari Soe Hok Gie dari masa kecil sampai masa bujangnya. Lebih tepatnya dari 4 Maret 1957 – 8 Desember 1969.

2) Koran-Koran yang memuat tulisan Soe Hok Gie. Seperti Harian Rakyat, Indonesia raya, dan Sinar Harapan

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder adalah sumber yang berasal dari bukan pelaku sejarah, akan tetapi sumber yang ditulis oleh sejarawan atau penulis terdahulu. Sumber Sekunder bisa berupa buku, jurnal, dan skripsi.

1) Badil, R,  Luntungan, R. N & Sutrisno, L.B (Ed). 2009. Soe Hok Gie : Sekali Lagi (Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya). Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia. Merupakan buku yang berisi tentang saksi hidup dari kehidupan Soe Hok Gie. Saksi tersebut merupakan sahabat-sahabat dari Soe Hok Gie semasa hidup.

2) Sarwono, S.W. 1978. Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivis Dalam Gerakan Protes Mahasiswa. Jakarta : Bulan Bintang. Merupakan buku yang berisi tentang konsep dasar mengenai gerakan mahasiswa.

3) Feith, H& Castles, L (Ed). 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta : LP3ES. Merupakan buku yang berisi tentang tokoh pemikir politik indonesia.

4) Sarwono, S.W. 2002. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Merupakan buku yang berisi tentang teori-teori psikologi, salah satunya adalah teori peran yang dibutuhkan penulis untuk penulisan ini.

5) Supriyatna. 2007. Peranan Soe Hok Gie dalam Gerakan Mahasiswa Indonesia Tahun 1960-1968. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: FKIP Universita Sebelas Maret. Merupakan skripsi dari Supriyatna mahasiswa Universitas Sebelas Maret.

c. Sumber Lisan

Sumber Lisan adalah sumber yang diperoleh penulis dari wawancara dari informan-informan yang telah terpilih. Peniliti berencana untuk mewawancarai sahabat dari Soe Hok Gie yang masih hidup, seperti :

Aristides Katoppo : sahabat dari Soe Hok Gie

3. Kritik Sumber

Kritik Sumber merupakan langkah selanjutnya setelah melakukan Heuristik. Kritik Sumber sendiri bertujuan untuk menguji serta mengenali kebenaran atau ketajama dari sumber-sumber yang diperoleh dari penulis. Kritik Sumber terbagi menjadi Kritik Ekstern dan Kritik Intern.

Kritik Ekstern merupakan penilaian dari sebuah sumber untuk memastikan kesejatian bahan dari sumber tersebut. Penulis mengidentifikasi dari buku terbitan LP3ES yang berjudul Soe Hok Gie :Catatan Seorang Demonstran cetakan kesepuluh tahun 2011. Buku tersebut merupakan buku yang diterbitkan oleh lembaga swada masyarakat terbesar di indonesia yang sangat ahli dalam bidang penerbitan dan penelitian. Jadi buku yang diterbitkan oleh LP3ES merupakan buku yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.

Kritik intern adalah kritik yang dilakukan untuk mengetahui fakta dan pernyataan pada isi dari sumber yang didapat oleh penulis. Penulis mengidentifikasi Buku nyang diterbitkan dari LP3ES yang berjudul Soe Hok Gie Catan Seorang Demonstran. Didalam buku ini terdapat catatan asli dari tokoh Soe Hok Gie yang menceritakan kisahnya semasa hidupnya. Penulis meyakini kesejatian dari buku ini dalam hal bahan sudah dianggap memadai untuk dijadikan sumber.

4. Interpretasi

Interpretasi adalah langkah selanjutnya setelah melakukan kritik sumber. Interpretasi merupakan sebuah langkah dengan menafsirkan data dan fakta yang diperoleh untuk mendapatkan makna yang saling terhubung. Berdasarkan penjelasan diatas penulis menafsirkan bahwa Soe Hok Gie merupakan anggota GemSos yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. Hal ini diperoleh peneliti setelah membandingkan buku Catatan Seorang Demonstran (2011) yang merupakan kumpulan dari catatan harian Soe Hok Gie dengan buku Soe Hok Gie.. Sekali Lagi (2009) yang berisi tentang kesaksian dari rekan-rekan selama menjadi mahasiswa.

5. Historiografi

Soe Hok Gie merupakan sosok mahasiswa Universitas Indonesia yang ikut memiliki sejarah penting di angkatan ’66. Tidak banyak orang tahu tentang perannya dalam salah satu pelengseran era Orde Lama yang dipimpin oleh Ir. Soekarno, Soe Hok Gie bukan hanya turun ke jalan bersama rekan-rekannya, namun Soe Hok Gie juga banyak mengkritik sistem pemerintahan era Soekarno dengan menulis dan menerbitkannya di surat kabar seperti Kompas, Indonesia Raya, Mahasiswa Indonesia ,dan Sinar Harapan, selain melalui media masa Soe Hok Gie juga manyampaikan kritik terhadap pemerintah melalui Radio UI.

Meskipun Soe Hok Gie diyakini dan dikatakan terlibat dalam GemSos namun selama Soe Hok Gie menjadi aktivis dan mahasiswa Soe Hok Gie selalu bersifat netral kepada seluruh organisasi lain di dalam kampusnya. Bukan hanya pernah mendamaikan konflik HMI dan GMNI di fakultasnya, namun lebih dari itu Soe Hok Gie juga menjadi salah satu mahasiswa yang mengkoordinir seluruh elemen mahasiswa, termasuk HMI, PMII, KAMI, dan lainnya untuk ikut bersama – sama turun ke jalan pada maret 1966 dan menyuarakan keadilan. Dalam melakukan aksi – aksinya Soe Hok Gie dapat dikatakan sebagai seorang yang nekad, bahkan saat harus berhadapan dengan petugas polisi/tentara pun Soe Hok Gie tidak pernah memilih untuk mundur.

Terlepas dari itu semua, sisi lain yang tidak banyak diketahui oleh orang lain adalah keterlibatan Soe Hok Gie dalam GemSos. Hal ini dapat di mengerti mengingat bahwa GemSos pada saat itu adalah suatu gerakan underground dan tidak banyak diketahui orang. Keikut sertaan Soe Hok Gie dalam gerakan ini memiliki kemungkinan besar akibat persamaan visi dan tujuan yang dimiliki keduanya. Baik Soe Hok Gie maupun GemSos sama – sama memiliki tujuan untuk menyuarakan keadilan dan memperjuangkan rakyat kecil. Meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa gerakan yang diikuti oleh Soe Hok Gie tersebut merupakan gerakan dari sayap kiri, namun sifat Soe Hok Gie yang sangat idealis mungkin saat itu merasa memiliki kecocokan dengan pemikirannya sehingga akhirnya Soe Hok Gie memilih untuk ikut bergabung, apalagi Soe Hok Gie juga mengagumi salah satu tokoh dari sayap kiri yaitu Sutan Syahrir.

 

Hasil

a. Latar Belakang Kehidupan Soe Hok gie

1. Kehidupan Masa Kecil Soe Hok Gie

Soe Hok Gie adalah putra ke empat dari Salam Sutrawan yang merupakan seorang sastrawan dan juga wartawan pada zaman Pergerakan Nasional dan zaman Jepang. Ayah Soe Hok Gie adalah seorang penulis, redaktur berbagai surat kabar dan majalah seperti Tjin Po, Panorama, Hwa Po, Liberty, Hong Po, Kung Yung Pao, Min Pao, dan terakhir pada tahun 1950 menjadi redaktur harian Sadar di Jakarta (LP3ES,2011:20).  Lingkungan keluarga Soe Hok Gie bisa dikatakan adalah keluarga yang dekat dengan buku –buku. Dari segi ekonomi mereka (keluarga Soe Hok Gie) memang serba sederhana, tetapi tidak dalam penjelajahan intelektual (Stanley&Santoso, 2017:vii). Bakat menulis Soe Hok Gie dapat dikatakan adalah warisan dari ayahnya. Soe Hok Gie mulai memiliki hobi menulis sejak usia belia, selain itu sejak kecil Soe Hok Gie juga memiliki hobi membaca berbagai macam buku mulai dari sejarah hingga politik. Latar belakang seperti inilah yang akhirnya membentuk Soe Hok Gie menjadi aktivis yang berpengetahuan luas. Soe Hok Gie juga memiliki kepribadian yang sensitif, namun pemberani. Sejak Soe Hok Gie  masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, sudah mulai terlihat kebenciannya pada kesewenang - wenangan.

Saat di Sekolah Menengah Atas perlawanan Soe Hok Gie bukan hanya terhadap guru namun justru semakin meluas. Soe Hok Gie juga mulai mengkritik pastor dan teman – teman sekolahnya yang berasal dari keluarga yang kaya raya. Soe Hok Gie memberi julukan mereka masyarakat borjouis.Soe Hok Gie merasa di sekolahnya semua orang dinilai berdasarkan strata sosial, orang kaya bisa bertindak sewenang-wenang, sedangkan pastor dimata Soe Hok Gie hanyalah orang memonopoli sebuah kebenaran. Sejak kecil Soe Hok Gie sudah menulis buku hariannya sejak SMP sedangkan ayahnya sendiri merupakan seorang wartawan yang banyak menulis di berbagai surat kabar. Kakanya sendiri juga memiliki kebiasaan yang tidak jauh dari kebiasaan Soe Hok Gie, yaitu menulis. Tulisan – tulisannya yang selalu tajam, berani dan jujur. Soe Hok Gie berani mengkritik dan tidak pernah ragu untuk menyebut nama. Soe Hok Gie mengkritik Presiden Soekarno, para Menteri, pejabat, hingga rekan – rekan seperjuangannya sendiri dari KAMI yang ikut turun di jalanan bersamanya saat upaya meruntuhkan rezim Soekarno.

2. Kehidupan Soe Hok Gie Saat Menjadi Mahasiswa

Soe Hok Gie mulai memasuki masa perkuliahan pada akhir tahun 1961. Soe Hok Gie diterima sebagai mahasiswa jurusan sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih fakultas sastra sebagai pilihannya bukan karena tidak ada alasan, fakultas sastra merupakan wadah bagi mahasiswa-mahasiswi tempat untuk saling menukar pikiran terutama masalah politik.

Pada awal masa perkuliahan Soe Hok Gie juga berkenalan dengan Zakse (Zainal Abidin) yang merupakan kakak tingkat Soe Hok Gie dijurusan Sejarah. Zakse merupakan anggota Gerakan Mahasiswa Sosialis (gemsos), dalam catatan hariannya Soe Hok Gie biasa menyebutnya dengan GMS. Melalui Zakse, Soe Hok Gie akhirnya diperkenalkan dengan aktivis PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan bergabung dalam gemsos. Soe Hok Gie juga bergabung dengan GP atau Gerakan Pembaruan yakni sebuah gerakan bawah tanah yang dibina oleh Soemitro Djojohadikusumo dari tempat pengasingan di Eropa (Suastiani &Liana, 2014).

Pada tahun 1964 Soe Hok Gie beserta rekan-rekannya mengusung Herman Lantang untuk menjadi ketua Senat Mahasiswa (SM) FS-UI. Herman Lantang pada akhirnya meraih kemenangan dan berhasil menjadi ketua SM FS-UI pada periode 1964-1966. Akan tetapi peran Soe Hok Gie tidak selesai hanya sampai Herman Lantang menang. Saat Herman menjadi Ketua Senat FS-UI, Gie menjabat sebagai pembantu staf SM FS-UI.

Di tahun yang sama dengan terpilihnya Herman Lantang menjadi ketua SM FS-UI, Soe Hok Gie juga memprakarsai berdirinya MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) UI. Soe Hok Gie mendirikan MAPALA UI bukan tanpa alasan ,karena banyaknya ekstra kampus yang mayoritas berbau politik, MAPALA didirikan untuk golongan netral yang bertujuan agar mahasiswa serta mahasiswi bisa mencintai negara Republik Indonesia dengan mencintai alam yang ada disekitarnya.

Pada tahun 1966 situasi kampus UI menjadi kacau dikarenankan kenaikan harga naik kendaraan bus dari Rp. 200 menjadi Rp. 1000. Banyak kalangan mahasiswa dari berbagai jurusan ingin segera memprotes pemerintahan karena semena-menanya menaikan harga . Menurut mahasiswa kenaikan harga ini dsengaja dilakukan karena pemerintah ingin mengalihkan isu Gestapu/PKI dengan menaikan harga bahan-bhan pokok supaya rakyat beralih mementingkan perut daripada memikirkan gestapu/PKI. Akibat dari kejadian terebut akhirnya Soe Hok Gie melakukan perencananaan terhadap turun kejalan untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Itulah awal dari terbentuknya agenda long march dari kalangan mahasiswa untuk memprotes pemerintah karena telah menaikan bahan-bahan pokok dan tarif kendaraan umum. Akhirnya pada tanggal 10 januari 1969 mahasiswa turun kejalan untuk menuju ke SEKNEG (Sekretariat Negara) yang saat itu berada di sebelah istana negara. Mahasiswa meminta agar dapat bertemu dan berdialog dengan Chairul Shaleh yang dianggap sebagai “otak” dibalik kenaikan harga.

Setelah berbagai upaya dilakukan oleh mahasiswa akhirnya  PKI berhasil dibubarkan serta Soekarno yang diturunkan dari jabatan Presiden RI dengan digantikan oleh Soeharto. Soe Hok Gie sempat menjabat sebagai ketua SM-FSUI selama periode 1967-1968. Selama menjadi ketua SM-FSUI Soe Hok Gie menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus. Berbagai kegiatan intra berjalan dengan baik, ada olahraga renang dan bola basket, ada klub buku, film, dan musik. (Badil, dkk, 2009:193)

b. Pemetaan Ideologi Organisasi Pemuda Indonesia

1. Ideologi Pemuda Indonesia

Ideologi merupakan sebuah pegangan dasar dalam sebuah negara yang mempunyai peran penting sebagai jati diri suatu negara . Secara garis besar terdapat dua aliran ideologi yaitu ideologi kanan dan ideologi kiri. Ideologi kanan merupakan sebuah ideologi yang banyak mengarah ke nasionalis sedangkan ideologi kiri mengarah ke sosialis. Di indonesia banyak sekali cabang ideologi yang berkembang banyak dalam masyarakat . Hal tersebut dipengaruhi karena adanya faktor ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem yang sedang berkembang. di Indonesia telah banyak organisasi-organisasi pemuda dengan berbagai ideologi.  sejak munculnya organisasi Budi Utomo sampai dengan organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GemSos), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan masih banyak lagi. Banyaknya organisasi pemuda dalam kalangan mahasiswa dikarenakan karena dalam forum universitas aatau kampus kaum pemuda bisa lebihmengutarakan atau mengeluarkan aspirasi mereka karena kurang puasnya mereka dalam pemerintah yang mereka anggap tidak pro rakyat.

Kemerdekaan indonesia tidak lepas dari berbagai peran organisasi para pemuda. Pada kurun waktu 1961-1969 terdapat beberapa oragnisasi pemuda dengan berbagai macam ideologi, diantaranya : 1) Nasionalisme, yang merupakan ideologi yang mengedepankan kepentingan negara dan bangsa. 2) Sosialisme, yang merupakan ideologi yang menjunjung tinggi kesetaraan dan kesejahteraan sosial. 3) Marhaenisme, marhaenisme dicetuskan oleh Soekarno. Ideologi menghendaki hilangnya liberalisme dan imperialisme dari indonesia. 4) Komunisme, merupakan ideologi yang sebenarnya juga ingin kesetaraan dalam bernegara namun komunisme cenderung menggunakan cara-cara kiri yang terkenal keras. 5) Islam, ideologi ini mengedepankan nilai-nilai Islam yang sarat dengan Ke-Tuhanan.

2. Organisasi Pemuda 1961-1969

Pada kurun waktu 1961-1969 terdapat banyak organisasi pemuda seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berideologi Islam tradisional, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berideologi marhaenisme, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berideologi komunis, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berideologi Islam modern, Gerakan Mahasiswa Sosialis (GemSos) yang berideologi sosialisme, dan Permimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang berdasarkan nilai-nilai agama Katolik.

c. Keterlibatan Soe Hok Gie Dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis

1. Pandangan-Pandangan Sosialis Soe Hok Gie

Sejak masih muda Soe Hok Gie telah tumbuh sebagai sosialis. Dengan segala pengaruh dari lingkungan serta buku-buku bacaannya menjadikan Soe Hok Gie sosok yang memimpikan kehidupan masyarakat yang sejahtera, setara dan penuh keadilan. Soe Hok Gie mengecam segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan dalam pemerintahan. Soe Hok Gie bersikap keras terhadap ketidak adilan yang ia lihat. Akan tetapi disisi lain meskipun Soe Hok Gie adalah seseorang dengan idealisme yang tinggi, Soe Hok Gie adalah sosok yang berhati lembut dan mudah terenyuh jika melihat penderitaan rakyat kecil.

Pandangan-pandangan sosialis Soe Hok Gie dapata terlihat dalam tulisan-tulisannya, baik dalam catatan hariannya maupun dalam artikel-artikelnya yang telah dimuat oleh banyak redaksi koran. Tulisan-tulisan Soe Hok Gie rata-rata berisi tentang kritik terhadap pemerintah maupun isu-isu tentang kemanusiaan dan politik yang sedang terjadi. Tulisan Soe Hok Gie selalu tajam dan tidak jarang dengan gamblang menyebut nama tokoh yang ia kritik. Soe Hok Gie secara jujur dan berani menulis apa yang dirasakannya mulai dari pemerintahan presiden Soekarno, hingga kasus pembantaian massal PKI pada tahun 1968. Padahal tidak banyak orang yang berani bersuara terkait kasus tersebut.

2. Peran Soe Hok Gie Dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia

Soe Hok Gie masuk ke Gemsos pada akhir tahun 1961, dimulai dari perkenalannya dengan Zainal Zakse di kampusnya. Kedekatan Soe Hok Gie dan Zakse dipicu karena persamaan pemikiran mereka dalam menentang rezim Soekarno. Zakse pula orang pertama yang membawa Soe Hok Gie ke markas gemsos dan mengenalkannya dengan golongan tua gemsos. Pada akhirnya Soe Hok Gie mulai tertarik masuk ke lingkaran gemsos meskipun pada saat itu gemsos merupakan organisasi yang relatif kecil serta tidak memiliki basic kuat dari kalangan mahasiswa. Padahal dilain sisi, pada saat itu di dalam kampus UI justru terdapat beberapa organisasi besar lainnya seperti CGMI, HMI dan PMII, namun Soe Hok Gie tidak pernah memiliki keinginan untuk bergabung didalamnya.

Ketertarikan Soe Hok Gie terhadap gemsos dilatar belakangi kesamaan prinsip gemsos dengan pemikiran Soe Hok Gie yang menjunjung tinggi kesetaraan dan kesejahteraan sosial. Selain itu gemsos juga berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Sutan Sjahrir merupakan salah satu tokoh yang dikagumi oleh Soe Hok Gie sejak SMP. Tulisan Sutan Sjahrir yang berjudul ‘Renungan Indonesia’ merupakan salah satu tulisan yang memberikan pengaruh besar pada pemikiran Soe Hok Gie. Sejak saat itu Soe Hok Gie mulai memiliki kecenderungan terhadap Sutan Sjahrir dan PSI

Pada bulan Januari 1963 Soe Hok Gie diberi kepercayaan oleh rekan-rekan gemsosnya untuk mengkoordinasi salah satu acara gemsos yang bertujuan untuk menanamkan sikap heroik di kalangan pemikir-pemikir muda. Selain itu, semasa menjadi anggota gemsos Soe Hok Gie pernah membentuk suatu grup diskusi awal tahun 1963 yang bertujuan untuk membahas isu-isu politik dan sosial yang berkembang pada masa tersebut. Grup tersebut dibentuk Soe Hok Gie bersama Zakse dengan mengandalkan koneksinya dengan gemsos. Diskusi pertama dilaksanakan di rumah Maruli dengan Soedjatmoko sebagai pembicara utama (penceramah). Diskusi tersebut tidak hanya diikuti oleh anggota gemsos yang berdomisili di Jakarta, anggota gemsos yang berasal dari Bandung juga ikut menghadiri diskusi tersebut. Akan tetapi grup diskusi tersebut tidak berlangsung lama. Grup ini akhirnya bubar setelah pada tahun 1963 terjadi kerusuhan rasial di Bandung yang melibatkan para aktivis gemsos.

Soe Hok Gie juga menjadi tokoh kunci aliansi antara militer dengan mahasiswa ketika menghancurkan Orde Lama tahun 1966 (Argenti, 2017: Supriyatna, 2007). Soe Hok Gie memang memegang peranan penting untuk menghubungkan antara mahasiswa dan pihak militer, dengan koneksinya yang ia miliki sebagai anggota gemsos. Melalui Suripto yang merupakan anggota gemsos di Bandung Soe Hok Gie mendapatkan berbagai informasi penting mengenai keadaan saat itu untuk kemudian diteruskan kepada rekan-rekan mahasiswanya. Informasi tersebut dapat diperoleh Soe Hok Gie dengan mudah karena Suripto bekerja di KOTI dan mengurus soal politik sehingga ia memperoleh banyak informasi tentang situasi terkini. Pada akhirnya kerja sama dengan militer tersebut membuahkan hasil dengan berhasil diruntuhkannnya orde lama serta dibubarkannya PKI.