SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Semiotik Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca sebagai Media Pembelajaran Matapelajaran Sejarah Indonesia SMA Kelas XII K.D 3.7

Jemy Patriya

Abstrak


ANALISIS SEMIOTIK LAGU JINGGA KARYA BAND EFEK RUMAH KACA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA KELAS XII K.D 3.7

Jemy Patriya1 Drs. Kasimanuddin Ismain, M. Pd 2 Indah W. P. Utami, S.Pd., S. Hum., M. Pd 3 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia

Email: jpatriya@gmail.com

 

ABSTRACT: One of the classic problems of history lesson is that it is boring and makes people sleepy when studying it. Based on preliminary observations conducted by the researcher found several results of the research suggested that in history lesson is still less attractive to students and seemed monotonous so it feels boring. In addition, the researcher also found the song entitled Jingga by Efek Rumah Kaca Band which included the lyrics of figures who has historical story but not many people know what the background of it. From the problems above, the researcher tries to make the song lyrics of Jingga by Efek Rumah Kaca Band as an learning media for Indonesian History lesson. The aim of this research is to describe the semiotic meaning of the song lyrics of Jingga by Efek Rumah Kaca Band as learning media on subjects in Indonesian History class XII. This research uses a qualitative approach. This research is conducted with a type of semiotic research. The data collection in this research uses documentation techniques. Documentation techniques were chosen because in this research, the data sources used were written sources, namely song lyrics. The unit of analysis in this research uses words as the main focus. This is because the researcher wants to examine the meaning contained in each word in the song lyrics of the Jingga. The collection techniques itself using interpreting the text contained in the Jingga song, so that the meaning contained in the lyrics can be drawn. The result showed that the song lyrics of the Jingga by Efek Rumah Kaca Band has a meaning within it that contained historical events. The event was about disappearance of 13 people from pro-democracy activists in 1997-1998, which was not found until this research was conducted. This song also can be used as an learning media for Indonesian History subject. It is due to the background of the Jingga song by Efek Rumah Kaca Band contained in the K.D (basic competency) 3.7 in the class XII Indonesian History subject on the learning material about the impact of economic and political policies during the New Order period. From this research, the researcher recommends that the Jingga song by Efek Rumah Kaca Band be used as an learning media for Indonesian History lesson.

 

Keywords : Semiotic, Learning Media, Indonesian History

Sejarah pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang kehidupan manusia pada masa lampau. Materi sejarah yang menceritakan peristiwa masa lampau menuntut perlu adanya unsur keindahan dalam penulisannya ataupun penyampaiannya agar terlihat menarik dan memunculkan ketertarikan dalam mempelajari sejarah itu sendiri. Kuntowijoyo (2013: 52) menyebutkan bahwa sejarah memerlukan intuisi, sejarah memerlukan imajinasi, juga sejarah memerlukan emosi, dan bagaimana sumbangan seni bagi sejarawan. Seni juga sangat diperlukan dalam penulisan sejarah untuk menciptakan suatu keindahan dalam penulisan sejarah sehingga akan lebih meningkatkan minat pembaca. Dari berbagai macam seni yang ada, musik adalah salah satu seni yang menarik untuk dikaji dalam sejarah. Musik dalam dunia sejarah bukanlah istilah yang asing lagi. Musik digunakan sebagai alat propaganda oleh beberapa negara. Salah satunya adalah Bangsa Indonesia. Penyebarluasan lagu di masa kolonial Hindia Belanda, bukan saja dilakukan oleh organisasi politik, tetapi juga pers dan dunia dagang. Sama halnya dengan masa lalu, musik di Indonesia pada masa sekarang pun banyak yang memiliki fungsi lain salah satunya digunakan sebagai alat untuk mengkritik. Salah satu pemusik yang aktif menyuarakan tentang hal itu adalah Band Efek Rumah Kaca. Efek Rumah Kaca atau biasa dipanggil ERK ini merupakan Band Indie yang beraliran musik popular atau pop. Adrian Yunan Faisal (dalam Mubarok, 2013: 27) mengemukakan bahwa komposisi dari lagu yang di ciptakan oleh ERK sebangun dengan tema agar musik yang dihasilkan tidak hanya sekedar hiburan saja. Lirik harus mengandung unsur refleksi dan pesan dari realitas yang ingin disampaikan. Lirik yang terkandung dalam lagu-lagu milik ERK memiliki makna yang tersirat dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, tidak terkecuali pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah menekankan pada tujuan pembelajarannya, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat banyak permasalahan Sejarah terkenal sebagai mata pelajaran yang membosankan dan membuat orang cepat mengantuk, hal ini tentu saja membuat sebagian orang tidak tertarik. Permasalahan dalam pembelajaran sejarah perlu adanya tindakan yang nyata untuk mencari solusi pemecahannya Salah satunya adalah dengan mencari media pembelajaran sejarah yang di arahkan untuk menumbuhkan motivasi, minat, dan kreatifitas siswa. Dari permasalahan di atas peneliti mencoba mencari salah satu pemecahan masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu dengan menggunakan media lagu. Lagu Jingga dari ERK merupakan media yang solutif untuk memecahkan permasalahan pembelajaran sejarah. Lagu Jingga juga sangat relevan dengan materi pembelajaran sejarah khususnya pada materi dampak kebijakan politik Orde Baru yang terdapat pada kurikulum pembelajaran KD 3.7 matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII. Lagu Jingga dipilih karena di dalam liriknya ada beberapa kata-kata yang memiliki relevansi dengan peristiwa yang terjadi pada masa pergantian rezim. Namun yang menjadi permasalahan adalah penikmat musik tidak mengetahui makna yang terkandung dalam lirik dan peristiwa yang melatarbelakangi terciptanya lagu Jingga ini. Para penikmat musik tidak mengetahui bahwa dibalik lagu tersebut ada peristiwa sejarah. Untuk itu peneliti mencoba mencari makna dari lirik lagu Jingga karya ERK agar dapat digunakan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Berangkat dari permasalahan ini peneliti ingin mengkaji lirik lagu Jingga karya Efek Rumah Kaca sebagai media pembelajaran matapelajaran Sejarah Indonesia. Media pembelajaran memang perlu selalu diteliti dan di kritisi agar permasalahan pembelajaran sejarah khususnya dapat diselesaikan dengan baik. Peneliti mengambil lirik lagu Jingga karya Efek Rumah Kaca dikarenakan terdapat lirik-lirik yang mengandung tokoh dan peristiwa sejarah yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran sejarah, elain itu agar pembelajaran sejarah tidak monoton dan menjadikan pembelajaran sejarah lebih bervariatif. Penelitian ini dilakukan menggunakan analisis semiotik model Roland Barthes, penggunaan analisis semiotik ini karena objek kajiannya merupakan makna yang terkandung di dalam teks lirik lagu. Melalui analisis semiotik Roland Barthes ini diharapkan akan diperoleh informasi baik yang tertulis di dalam lirik lagu maupun yang tersirat secara lebih mendalam. Informasi yang tersirat ini akan diolah oleh peneliti agar dapat difungsikan menjadi media pembelajaran sejarah pada materi yang terdapat pada kurikulum 2013 Kompetensi Dasar 3.7 matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII. Adapun rumusan masalah yang dapat diajukan dan bisa membawa pemahaman pada topik yang dibahas, yaitu mengenai bagaimana makna semiotik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang dibahas yakni mendeskripsikan makna semiotik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7.

 

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian semiotik. Metode semiotik bersifat kualitatif interpretatif, atau dapat dijelaskan bahwa metode tersebut memfokuskan pada tanda dalam teks sebagai objek kajian, serta bagaimana peneliti menafsirkan dan memahami kode dibalik tanda dan teks tersebut dan memberikan kesimpulan yang komprehensif mengenai hasil penafsiran dan pemahaman yang telah dilakukan. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer pada penelitian ini adalah Transkrip lirik Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dari CD original album Sinestesia. Data sekunder dari penelitian ini adalah sumber-sumber tertulis seperti artikel ilmiah yang membahas mengenai analisis Lirik lagu Band Efek Rumah Kaca, media online resmi efekrumahkaca.net, selain itu ada banyak dokumen-dokumen, dan sumber pendukung lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi dipilih karena dalam penelitian ini sumber data yang digunakan merupakan sumber tertulis yaitu lirik lagu. Unit analisis dalam penelitian menggunakan kata sebagai fokus utama. Teknik pengumpulan sendiri dengan menggunakan cara interpretasi teks yang terdapat pada lagu Jingga sehingga dapat ditarik makna yang terkandung dalam liriknya. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan cara sebagai berikut:

1. Pada tahap yang pertama peneliti akan mengelompokan dan memilah kata-perkata pada lirik lagu Jingga per kata agar mempermudah analisis.

2. Setelah dikelompokan peneliti akan mencari makna denotatif dari liri-lirik tersebut.

3. Setelah dikelompokan dan diketahui makna denotatifnya maka peneliti akan mencari makna konotatifnya.

4. Setelah diketahui denotatif dan konotatifnya maka peneliti akan menetukan simbol.

5. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi

Berdasarkan jenis penelitian yang digunakan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan temuan dengan metode ketekunan pengamat. Ketekunan pengamatan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Sugiyono (2016: 370) mengemukakan bahwa dengan meningkatkan ketekunan maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti melakukan pengecekan awal tentang bentuk media pembelajaran Sejarah Indonesia yang terdapat pada lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca yang kemudian akan diuraikan dalam bentuk analisis secara deskrptif. Setelah peneliti selesai melakukan analisis, maka akan dilakukan kembali pengecekan data mulai dari awal yang terkandung di dalam lirik, data-data yang terkumpul, hingga data yang telah dianalisis oleh peneliti untuk meminimalisir kesalahan yang ada. Pengecekan data ini akan dilakukan terus menerus hingga peneliti yakin bahwa hasil yang telah diperoleh tidak ada kesalahan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis yang relevan dengan analisis semiotik. Peneliti menggunakan analisis data yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Analisis ini menekankan pada makna denotatif dan makna konotatif yang terkandung di dalam sebuah tanda. Makna konotatif sendiri dalam hal ini adalah makna denotatif (makna yang sebenarnya) ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan, perasaan yang ditimbulkan oleh kata tersebut. Makna konotatif ini mengarah kepada makna-makna kultural yang berbeda dengan kata (Sobur, 2006: 262). Peneliti memilih model ini karena sesuai dengan fokus penelitian yakni analisis lirik lagu yang digunakan sebagai media pembelajaran pada matapelajaran Sejarah Indonesia kelas XII K.D 3.7. Adapun kerangka analisisnya dapat digambarkan dengan peta tanda dari Roland

Barthes sebagai berikut.

1. Signifer (Penanda)

2. Signified (Petanda)

3. Denotative Sign (Tanda Denotatif)

4. Conotative Signifer (Penanda Konotatif)

5. Conotative Signified (Petanda Konotatif)

6. Conotative Sign (Tanda Konotatif)

Disadur dari Sobur (2006: 69) Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda

(1) dan petanda

(2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif

(4) (Sobur, 2006: 69).

 

Hasil

Efek Rumah Kaca adalah Band indie yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2001. Band ini beranggotakan Cholil Mahmud sebagai vokalis, Adrian Yunan Faisal sebagai pemain bass, dan Akbar Bagus Sudibyo sebagai pemain drum. Dari tahun 2001 hingga tahun 2019, Band Efek Rumah Kaca telah meluncurkan 3 album. Lagu Jingga merupakan salah satu lagu dalam album ketiga Band Efek Rumah Kaca yang berjudul Sinestesia. Album tersebut dilucurkan pada 22 Desember 2015. Pada album ini Efek Rumah Kaca Menggunakan Label Demajors Independent Music Industry sebagai distributor pemasaran album mereka. Dalam lagu Jingga terdapat 3 judul lagu. Judul yang pertama adalah Hilang, kemudian judul yang kedua adalah Nyala Tak Terperi, dan judul lagu yang ketiga adalah Cahaya, Ayo Berdansa. Dari ketiga lagu itu, penelitian lebih fokus terhadap lirik lagu hilang. Lagu kedua yang berjudul Nyala Tak Terperi tidak terdapat lirik mengenai peristiwa sejarah dan menurut Cholil sendiri lagu ini adalah lagu yang diciptakan oleh Adrian Yunan dan menceritakan tentang sakit yang dialaminya. Sedangkan pada lagu ketiga yang berjudul Cahaya, Ayo Berdansa merupakan lagu instrumentasi atau hanya alunan musik tanpa disertai lirik jadi lagu ini tidak dapat dianalisis. Pada penelitian kali ini yang akan dianalisis adalah fragmen Hilang. Lirik lagu Hilang ini diciptakan oleh Cholil Mahmud yang merupakan vokalis Band Efek Rumah Kaca. Cholil (2018: 120) mengatakan bahwa Lagu Hilang ini tercipta pada tahun 2010 ketika ERK beberapa kali mengikuti Aksi Kamisan untuk mempelajari bagaimana para peserta aksi rata-rata adalah keluarga korban penghilangan aktivis 1997-1998 yang memiliki semangat yang tak pernah putus untuk menuntut keadilan. Lagu Hilang tercipta  sebagai upaya untuk memetik pelajaran dan menyebarluaskan semangat aktivisme Aksi Kamisan. Lagu Hilang ini masuk dalam album kompilasi PEACE yang digagas oleh Buffetlibre dan Amnesty Internasional. Amnesty Internasional sendiri merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang HAM. Album ini berisikan 50 lagu baru dari berbagai negara di dunia. Indonesia diwakili oleh 3 Band indie yakni Efek Rumah Kaca, White Shoes and The Couple Company, dan Mocca. Tujuan diadakannya album ini adalah untuk mengkampanyekan mengenai pencegahan dan penyelesaian pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh dunia. Berdasarkan analisis yang dilakuakan, terdapat beberapa temuan penelitian yaitu sebagai berikut:

 

a. Korelasi lirik lagu Jingga dengan materi Sejarah Indonesia

Korelasi yang dimaksud adalah keterkaitan antara lirik lagu dengan media pembelajaran sejarah. Lirik lagu yang di gunakan adalah lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca, sedangkan materi yang dipilih adalah tentang peran pelajar, mahasiswa dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia yang terjadi pada tahun 1997-1998. Materi ini dipilih karena ada kaitannya dengan peristiwa dan tokoh-tokoh yang ada di lirik lagu Jingga. Selain itu materi ini juga ada dalam kurikulum 2013 matapelajaran Sejarah Indonesia. Beberapa hal yang dapat dijadikan landasan Lirik Lagu Jingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah matapelajaran Sejarah Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Permendikbud No. 24 Tahun 2016 pada lampiran matapelajaran Sejarah Indonesia.

Tabel 4.1 KI dan KD Materi yang memiliki hubungan dengan lagu Jingga

 

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR

3. memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan 3.7. Mengevaluasi peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia 4. 7. Menulis sejarah tentang peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam  peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian  yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia Disadur : Permendikbud No. 24 Tahun 2016

2. lirik lagu Jingga juga memiliki keterkaitan pada materi pembelajaran sejarah pada materi masa akhir Orde Baru dan masa awal Reformasi bahkan masih relevan untuk dibicarakan pada masa sekarang karena menurut UU internasional kasus penghilangan paksa itu tidak memiliki batas kedaluarsa (Statute of Limitations). Sebagaimana diatur dalam prinsip untuk perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia melalui tindakan untuk memberantas impunitas Pasal 23, guna menjamin hak atas upaya hukum yang efektif, tidak ada waktu kadaluwarsa yang bisa diterapkan untuk tindakan pidana, perdata atau administratif yang diajukan korban yang berusaha mendapatkan reparasi untuk cedera mereka. (Amnesty International, 2011: 23)

3. Pada lirik lagu Jingga terdapat nama-nama korban penghilangan secara paksa yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Materi mengenai pelanggaran HAM juga di temukan pada buku siswa mata pelajaran Sejarah Indonesia kelas XII pada halaman 140.

4. Selain itu korban-korban yang dihilangkan secara paksa atau diculik memiliki latar peristiwa yang sama yaitu terjadi pada kurun waktu 1997-1998 saat masa-masa akhir  Orde Baru berkuasa. Materi ini tercantum pada Buku Siswa Sejarah Indonesia kelas XII halaman 147-151.

5. Materi tentang penghilangan secara paksa atau penculikan aktivis 1997-1998 tidak disebutkan secara tertulis pada buku sejarah Indonesia kelas XII namun kejadian ini termasuk dampak dari kebijakan politik orde baru yang merupakan kejahatan pelanggaran HAM yang tertulis pada buku Sejarah Indonesia kelas XII. Orang-orang yang dihilangkan secara paksa atau diculik yang tercantum pada lirik lagu Jingga ini merupkan korban-korban dari dampak terjadinya krisis politik dan krisis ekonomi pada masa Orde Baru. Namun orang-orang itu tidak tercantum pada buku pelajaran. Meskipun demikian peristiwa penghilangan para aktivis pada tahun 1997-1998 juga merupakan dampak dari kebijakan politik pada masa akhir Orde Baru. Sepintas lagu ini terdengar seperti lagu pada umumnya, namun pada lirik yang menyebutkan tentang nama-nama korban yang dihilangkan secara paksa atau diculik ini belum banyak siswa mengetahui peristiwa apa yang ada dibalik lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca tersebut. Untuk itulah peneliti mencoba melakukan analisis semiotik tentang lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini agar dapat digunakan sebagai media pembelajaran Sejarah Indonesia pada materi kelas XII tentang dampak kebijakan politik yang terjadi pada menjelang masa akhir Orde Baru. Setelah diketahui makna dan diketahui memiliki korelasi dengan materi pembelajaran sejarah maka selanjutnya adalah cara pemanfaatan dan penerapannya dilapangan. Pemanfaatan Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca pada pembelajaran sejarah dapat dilakukan dengan menggunakan saran dari Turner-Bisset (2005: 137) yang memberikan saran-saran berikut ketika menggunakan lagu di kelas sejarah:

a). Pilih lagu di sekitar tema yang terkait dengan konten historis sehingga lagu tersebut menjadi sumber bukti lain untuk digunakan bersama orang lain. Setelah melakukan analisis diketahui bahwa lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca memiliki korelasi dengan materi pembelajaran sejarah jadi dapat digunakan sebagai media pembelajaran

b). Mengekstrak informasi dari lagu sebagai teks. Dalam tahap ini siswa dapat mencari tahu makna pada lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca

c). Biarkan para siswa membandingkan sumber-sumber yang berbeda secara berdampingan untuk membantu membandingkan apa yang dikatakan oleh berbagai jenis sumber. Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan yang luas untuk  riset dari manapun yang dapat mereka akses baik dari buku, internet, maupun sumber lainnya yang terkait dengan materi sejarah dan lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca.

d). Nyanyikan dan mainkan lagu asli untuk kesenangan. Lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dapat diputar di kelas agar siswa mengetahui seperti apa lagunya dan siswa juga dapat menikmati pembelajarannya karena tidak monoton pada teks saja.

e). Ajukan pertanyaan tentang lagu-lagu seperti mengapa lagu-lagu ditulis dan siapa yang menulis lagu. Guru dapat menanyakan dan memberi tugas kepada siswa mengenai mengapa lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini di tulis. Penugasan ini dilakukan agar siswa memahami peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terciptanya lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini.

 

b. Analisis Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca

a. Analisis Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca

1. Analisi Denotatif pada lirik Jingga

Tabel 4.2 Analisis denotatif lirik lagu Jingga

No Objek Penelitian Denotatif

1 Rindu kami seteguh besi Rindu adalah perasaan ingin bertemu seseorang. Kami menggambarkan objek melebihi satu atau jamak. Seteguh besi adalah gambaran untuk sesuatu yang sangat keras atau kuat sekeras besi. Bisa dikatakan bahwa kalimat ini menggambarkan   sekelompok orang yang sedang rindu yang teramat sangat.

2 Hari demi hari menanti Menunggu dengan waktu yang lama

3 Tekad kami segunung tinggi tekad adalah perasaan atau niatan. Kami menunjukan  jamak. Segunung tinggi menggambarkan bahwa keinginan yang sangat kuat

4 Takut siapa? Semua hadapi Tidak ada perasaan takut dan yang ditakuti sama sekali

5 Yang hilang menjadi katalis Kata Yang hilang maksudnya adalah orang yang diculik. Katalis adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa.

6 Di setiap kamis nyali berlapis Di setiap hari kamis nyali selalu lebih tebal atau lebih kuat dari pada hari-hari biasanya

7 Marah kami senyala api Marah adalah suatu emosi manusia. Senyala api adalah gambaran untuk marah yang teramat sangat

8 Didepan istana berdiri Istana disini merupakan Istana Kepresidenan.

9 Yang ditinggal takan pernah diam Orang yang ditinggalkan akan selalu memperjuangkan untuk berusaha menemukan orang yang hilang tidak hanya berdiam diri

10 Menanyakan kapan pulang Menanyakan waktu kepulangan

11 Dedy Hamdun HILANG Mei 1997 Dedi Hamdun diculik pada bulan Mei tahun 1997

12 Ismail HILANG Mei 1997 Ismail diculik pada bulan Mei tahun 1997 12

 

Bait pertama:

Rindu kami seteguh besi

Hari demi hari menanti

Tekad kami segunung tinggi

Takut siapa?

semua hadapi Makna denotatif pada bait pertama kalimat pertama lirik lagu Jingga diawali dengan kata Rindu. Rindu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI merupakan perasaan dalam bentuk keinginan yang kuat untuk bertemu seseorang. Kata selanjutnya yaitu Kami, menggambarkan objek lebih dari satu atau jamak. Seteguh besi adalah gambaran untuk sesuatu yang sangat keras atau kuat

13 Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998 Hermawan Hendrawan diculik pada bulan Maret tahun 1998

14 Hendra Hambali HILANG Mei 1998, Hendra Hambali diculik pada bulan Mei tahun 1998

15 M. Yusuf HILANG Mei 1997 M. Yusuf diculik pada bulan Mei tahun 1997

16 Nova Al Katiri HILANG Mei 1997 Nova Al Katiri diculik pada bulan Mei tahun 1997

17 Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998 Petrus Bima Anugrah diculik pada bulan Mei tahun 1998

18 Sony HILANG April 1997 Sony diculik pada bulan April tahun 1997

19 Suyat HILANG Februari 1998 Suyat diculik pada bulan Februari tahun 1998

20 Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998 Ucok Munandar Siahaan diculik pada bulan Mei tahun 1998

21 Yadin Muhidin HILANG Mei 1998 Yadin Muhidin diculik pada bulan Mei tahun 1998

22 Yani Afri HILANG April 1997 Yani Afri diculik pada bulan April tahun 1997

23 Wiji Tukul HILANG Mei 1998 Wiji Tukul diculik pada bulan Mei tahun 1998

13 sekeras besi. Bisa dikatakan bahwa kalimat ini menggambarkan sekelompok orang yang sedang rindu yang teramat sangat. Pada kalimat kedua bait pertama adalah Hari demi hari menanti. Kalimat ini merupakan gambaran dari ungkapan menunggu dengan waktu yang lama. Pada kalimat ketiga tekad kami segunung tinggi. tekad adalah kemauan yang kuat. Kami menunjukan lebih dari satu orang. Segunung tinggi menggambarkan sangat besar. Bisa dikatakan tekad yang sangat besar dan kuat. Pada kalimat keempat bait pertama takut siapa? Semua hadapi. pada kalimat ini menggambarkan keberanian yang besar bahwa tidak ada yang ditakuti berdasarkan kata semua akan dihadapi.

 

Bait kedua:

Yang hilang Menjadi katalis

Disetiap kamis nyali Berlapis

Makna denotatif pada bait kedua kalimat pertama lirik lagu Jingga diawali dengan kata Yang hilang. Kata Yang hilang menunjukan sesuatu yang tidak ada atau yang ditiadakan. Katalis menurut KBBI adalah zat yang dapat mempercepat atau memperlambat reaksi yang pada akhir reaksi dilepaskan kembali dari bentuk semula. Katalis juga dapat diartikan sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa. Selanjutnya kalimat kedua pada bait kedua Disetiap kamis nyali Berlapis. Kalimat tersebut menggambarkan setiap hari kamis nyali selalu lebih tebal atau lebih kuat dari pada hari-hari biasanya. Kesimpulannya pada bait kedua ini adalah yang tidak ada atau yang ditiadakan memunculkan reaksi yang terjadi disetiap hari kamis dengan nyali atau keberanian yang sangat kuat.

 

Bait ketiga:

Marah kami senyala api

Di depan istana berdiri

Makna denotatif pada bait ketiga kalimat pertama lirik lagu Jingga diawali dengan kata marah. Marah merupakan emosi yang dimiliki manusia berupa perasaan sangat tidak senang. Selanjutnya kata kami, menunjukan jamak atau lebih dari satu orang. Kata selanjutnya senyala api. Kata senyala berasal dari kata nyala, diawali kata se- yang artinya seperti atau menyerupai nyala api. Kalimat ini berarti menggambarkan orang-orang yang sangat marah. Kalimat kedua bait ketiga kalimat di depan istana berdiri. Kata di depan menunjukan tempat yang artinya  berposisi di hadapan. Kata selanjutnya istana, merupakan tempat tinggal atau tempat kerja raja atau kepala negara. Kata yang terakhir adalah berdiri yaitu dengan kedua kaki. Kalimat ini memiliki arti yaitu berdiri di hadapan tempat tinggal atau tempat kerja raja atau kepala negara. Kesimpulannya pada bait ketiga ini adalah beberapa orang yang sedang sangat tidak suka atau marah sedang berdiri di depan tempat tinggal atau tempat kerja raja ataupun kepala negara.

 

Bait keempat:

Yang ditinggal takkan pernah diam

Mempertanyakan kapan pulang?

Makna denotatif pada bait keempat kalimat pertama lirik lagu Jingga diawali dengan kata yang ditinggal, menggambarkan orang yang ditinggalkan. Kata selanjutnya takkan pernah diam, menggambarkan tidak akan pernah diam. Kalimat ini maksudnya adalah Orang yang ditinggalkan akan selalu memperjuangkan untuk berusaha menemukan orang yang hilang tidak hanya berdiam diri. Kalimat kedua pada bait keempat mempertanyakan kapan pulang? Mempertanyakan yaitu permintaan keterangan. Kata kapan menunjukan pertanyaan tentang waktu. Kata terakhir dalam kalimat ini adalah pulang, dalam KBBI berarti pergi ke tempat asalnya atau kerumah. Kalimat ini pada intinya adalah mempertanyakan waktu kepulangan. Kesimpulan yang dapat diambil dari kalimat bait keempat ini adalah orang yang ditinggalkan tidak akan tinggal diam dan selalu mempertanyakan watu kepulangan.

 

Bait kelima:

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997

Ismail HILANG Mei 1997

Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998

Hendra Hambali HILANG Mei 1998

M. Yusuf HILANG Mei 1997

Nova Al Katiri HILANG Mei 1997

Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998

Sony HILANG April 1997

Suyat HILANG Februari 1998

Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998

Yadin Muhidin HILANG Mei 1998

Yani Afri HILANG April 1997

Wiji Tukul HILANG Mei 1998

Makna denotatif pada bait kelima lirik lagu Jingga ini berbeda dengan bait-bait sebelumnya. Pada bait kelima ini hanya berisi nama-nama yang berjumlah tigabelas dengan diberikan kata HILANG yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI berarti tidak ada, tidak kelihatan, atau lenyap. Kata ini menunjukan bahwa nama-nama tersebut dihilangkan. Kemudian kata selanjutnya adalah bulan dan tahun. Kesimpulan pada bait kelima ini yaitu kalimatkalimat berisi tigabelas nama-nama orang yang dihilangkan secara paksa beserta bulan dan tahun mereka diculik atau dihilangkan secara paksa.

2. Analisis Konotatif Lirik Lagu Jingga

Tabel 4.3 Analisis konotatif lirik lagu Jingga

No Objek Penelitian Konotatif

1 Rindu kami seteguh besi Sekelompok orang yang sangat merindukan keluargannya yang hilang pada peristiwa penculikan aktivis HAM oleh aparat militer pada tahun 1997- 1998 yang hingga sekarang 13 korban masih belum diketahui keberadaannya.

2 Hari demi hari menanti Sudah hampir 20 tahun mereka menunggu keluarga mereka yang hilang kembali menuntut kejelasan dari pemerintah.

3 Tekad kami segunung tinggi Dalam memperjuangkan menuntut keluarga mereka yang menjadi korban penculikan pada tahun 1997- 1998 kembali pulang sangat gigih, salah satunya adalah dengan mengadakan aksi di depan Istana Negara guna  menuntut pengusutan kasus secara jelas.

4 Takut siapa? Semua hadapi Orang-orang yang melakukan aksi ini tidak pernah takut dengan siapapun karena bagi mereka ini adalah tindakan yang benar guna mencari tahu keberadaan keluarga mereka yang diculik pada peristiwa 1997-1998.

5 Yang hilang menjadi katalis Orang orang yang diculik menjadi pemicu semangat keluarga mereka dan orangorang yang mendukung mereka segera ditemukan tergerak untuk melakukan aksi mendesak pemerintah agar segera menemukan mereka yang hilang.

6 Di setiap kamis nyali berlapis Setiap hari kamis keluarga yang ditinggalkan selalu dengan tekat yang kuat melakukan aksi. Aksi yang diadakan di depan istana negara disebut Aksi Kamisan.Aksi Ini sudah berlangsung dari tahun 2007 dan rutin dilaksanakan setiap hari kamis. Aksi ini merupakan aksi untuk menegakan HAM yang belum jelas secara politis. Cirikhas aksi ini adalah mengunakan payung hitam dan  pakaian yang serba hitam. (Putra, 2016: 13)

7 Marah kami senyala api Marah senyala api menggambarkan bahwa keluarga menanti dengan penuh amarah atas ketidakjelasan keberadaan keluarga mereka yang diculik 20 tahun yang lalu.

8 Didepan istana berdiri Memperjuangkan menuntut kejelasan dari keluarga mereka yang hilang.

9 Yang ditinggal takan pernah diam Para keluarga korban penculikan pada peristiwa 1997-1998 terus memperjuangkan dengan penuh kemarahan dan tanpa putus asa dalam mencari tahu keberadaan keluarga mereka yang hilang.

10 Menanyakan kapan pulang Pulang dalam keadaan hidup atau mati yang jelas mengetahui keberadaannya.

11 Dedy Hamdun HILANG Mei 1997 Deddy Hamdun adalah pengusaha dan aktivis PPP yang pro dengan Mega Bintang. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997

12 Ismail HILANG Mei 1997 Sopir Dedy Hamdun yang hilang bersama dengan Dedy Hamdun dan Nova Al Katiri pada 29 Mei 1997.

13 Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998 Mahasiswa Universitas Airlangga yang juga merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PDR) hilang pada tanggal 12 Maret 1998 di Jakarta.

14 Hendra Hambali HILANG Mei 1998, Hendra Hambali merupakan siswa SMU. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998.

15 M. Yusuf HILANG Mei 1997 M. Yusuf merupakan seorang guru di Jakarta, diculik didepan rumahnya pada tanggal 7 Mei 1997

16 Nova Al Katiri HILANG Mei 1997 Teman dari Deddy Hamdun, memiliki latar belakang yang sama yaitu pengusaha dan aktivis PPP yang pro dengan Mega Bintang. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997

17 Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998 Mahasiswa Universitas Airlangga dan merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PDR). Petrus hilang usai konferensi pers Komite Nasional Penyelamat Demokrasi (KNPD) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia  (YLBHI), Jakarta, 12 Maret 1998.

18 Sony HILANG April 1997 Pendukung PDI Megawati, setiap hari bekerja menjadi seorang sopir dan merupakan DPC (Dewan Pimpinan Cabang) Partai PDI di Jakarta Utara. Sonny hilang pada tanggal 26 April 1997 di Jakarta.

19 Suyat HILANG Februari 1998 Mahasiswa FISIP Universitas Slamet Riyadi ini merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID), organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD). Suyat hilang di Solo pada 12 Februari 1998 dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Pada pagi-pagi buta itu, Suyat dijemput sekitar 10 orang yang menggunakan mobil Kijang.

20 Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998 Ucok Munandar Siahaan merupakan mahasiswa STIE Perbanas. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta

21 Yadin Muhidin HILANG Mei 1998 Yadin Muhidin merupakan alumnus sekolah pelayaran. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta.

22 Yani Afri HILANG April 1997 Sopir angkot yang merupakan pendukung Mega-Bintang pada pemilu 1997. Yani Afri sempat

 

Bait pertama:

Rindu kami seteguh besi

Hari demi hari menanti

Tekad kami segunung tinggi

Takut siapa? semua hadapi

Lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dari bait pertama sampai kelima menceritakan tentang korban penghilangan secara paksa atau penculikan aktivis 1997-1998 dan perjuangan keluarga yang ditinggalkan yang tanpa lelah menuntut kepastian keberadaan korban yang hingga kini belum diketahui. Makna konotatif pada bait pertama lirik lagu Jingga ini menceritakan tentang sekelompok orang atau beberapa orang yang sangat merindukan keluargannya yang hilang pada peristiwa penangkapan, penghilangan atau penculikan aktivis HAM secara paksa oleh oknum aparat militer pada tahun 1997-1998 yang hingga sekarang 13 korban masih belum diketahui keberadaannya. Perjuangan keluarga korban yang menanti kepulangan ataupun kepastian tanpa kenal lelah digambarkan pada kata hari demi hari menanti. Kata tekad kami segunung tinggi menguatkan kata sebelumnya dan menekankan betapa seriusnya perjuangan mencari tahu keberadaan korban aktivis 1997-1998 yang dihilangkan secara paksa atau diculik dengan digambarkan setinggi gunung. Perjuangan dalam mencari keberadaan mereka yang diculik oleh keluarga korban dilakukan sangat serius tanpa ada yang ditakuti, hal ini digambarkan pada kata takut siapa? Semua hadapi. Kesimpulan analisis konotatif ditahan di Makodim Jakarta Utara, sebelum akhirnya hilang di Jakarta pada 26 april 1997. Hilangnya Yani Afri ini diketahui setelah ibundanya, Tuti Koto, melapor ke Kontras 23 Wiji Tukul HILANG Mei 1998 Penyair, Aktivis JAKER (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat) yang termasuk dari bagian PDR. Wiji Tukul hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998.  pada bait pertama lirik lagu Jingga ini adalah menggambarkan betapa gigihnya peruangan keluarga korban dalam menanti dan mencari keberadaan 13 aktivis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

 

Bait kedua:

Yang hilang Menjadi katalis

Disetiap kamis nyali Berlapis

Pada bait kedua lirik lagu Jingga, makna konotatif kalimat pertama bermaksud menunjukan bahwa orang-orang yang diculik menjadi pemicu semangat keluarga mereka terutama dan orang-orang yang mendukung penyelesaian kasus HAM pada umumnya untuk segera diselesaikan kasusnya dan ditemukan korbannya. Mereka tergerak untuk melakukan aksi nyata dengan mendesak pemerintah agar segera menemukan mereka yang hilang. Pada bait kedua kalimat kedua lirik lagu Jingga menceritakan bahwa setiap hari kamis keluarga yang ditinggalkan selalu dengan tekat yang kuat melakukan aksi. Aksi yang diadakan di depan istana negara disebut Aksi Kamisan. Aksi Ini sudah berlangsung dari tahun 2007 dan rutin dilaksanakan setiap hari kamis. Aksi ini merupakan aksi untuk menegakan HAM yang belum jelas secara politis. Cirikhas aksi ini adalah mengunakan payung hitam dan pakaian yang serba hitam. (Putra, 2016: 13) Kesimpulan pada bait kedua ini masih berkaitan dengan bait pertama namun sudah mulai menceritakan pengaruh korban terhadap gerakan yang dilakukan oleh keluarga korban dan orang-orang peduli terhadap penyelesaian kasus HAM di Indonesia.

 

Bait ketiga:

Marah kami senyala api

Di depan istana berdiri

Pada bait ketiga lirik lagu Jingga kalimat pertama marah kami senyala api menggambarkan bahwa keluarga korban menanti dengan penuh amarah atas ketidakjelasan keberadaan keluarga mereka yang diculik sekitar 20 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1997-1998. Marah disini bukan diartikan marah yang destruktif namun marah yang memicu semangat untuk terus memperjuangkan apa yang sedang mereka tuntut yaitu mengetahui keberadaan para aktivis korban penculikan 1997-1998. Kalimat kedua pada bait ketiga ini menggambarkan perjuangan para keluarga korban yang melakukan aksi di depan istana negara guna menuntut kejelasan dari keluarga mereka yang dihilangkan secara paksa atau diculik. Kesimpulan pada bait ketiga ini menggambarkan perjuangan yang dilakukan oleh para keluarga dengan melakukan aksi di depan istana guna meuntut penyelesaian kasus dan ditemukannya keluarga mereka yang masih hilang.

 

Bait keempat:

Yang ditinggal takkan pernah diam

Mempertanyakan kapan pulang?

Pada bait keempat kalimat pertama menggambarkan para keluarga korban penculikan aktivis 1997-1998 terus memperjuangkan dengan penuh kemarahan dan tanpa putus asa dalam mencari tahu keberadaan keluarga mereka yang hilang baik melalui jalur hukum ataupun terus mendesak pemerintah dalam penyelesaian kasus penghilangan secara paksa atau penculikan ketigabelas aktivis 1997-1998. Pada kalimat kedua bait keempat ini kata pulang yang dimaksud adalah pulang baik dalam keadaan hidup ataupun dalam keadaan sudah tidak bernyawa yang jelas keluarga korban membutuhkan kepastin dan segera ingin mengetahui keberadaan para korban penghilangan secara paksa atau penculikan aktivis 1997-1998. Kesimpulan pada bait keempat ini menjelaskan bahwa keluarga korban penculikan aktivis 1997-1998 menolak untuk lupa dan terus mengupayakan agar kasus dan korban segera selesai dan ditemukan.

 

Bait kelima:

Dedy Hamdun HILANG Mei 1997

Ismail HILANG Mei 1997

Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998

Hendra Hambali HILANG Mei 1998

M. Yusuf HILANG Mei 1997

Nova Al Katiri HILANG Mei 1997

Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998

Sony HILANG April 1997

Suyat HILANG Februari 1998

Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998

Yadin Muhidin HILANG Mei 1998

Yani Afri HILANG April 1997

Wiji Tukul HILANG Mei 1998

Pada bait kelima ini merupakan inti dari penelitian ini. mengapa lagu Jingga ini dijadikan sebagai media pembelajaran Sejarah. Ketigabelas nama tersebut yaitu  Deddy Hamdun, merupakan pengusaha dan aktivis PPP yang pro dengan Mega Bintang. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997. Ismail merupakan sopir Dedy Hamdun yang hilang bersama dengan Dedy Hamdun dan Nova Al Katiri pada 29 Mei 1997. Hermawan Hendrawan merupakan mahasiswa Universitas Airlangga yang juga merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PDR) hilang pada tanggal 12 Maret 1998 di Jakarta. Hendra Hambali merupakan siswa SMU. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998. M. Yusuf merupakan seorang guru di Jakarta, diculik didepan rumahnya pada tanggal 7 Mei 1997. Nova Al Katiri merupakan teman dari Deddy Hamdun, memiliki latar belakang yang sama yaitu pengusaha dan aktivis PPP yang pro dengan Mega Bintang. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997. Petrus Bima Anugerah merupakan mahasiswa Universitas Airlangga dan merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PDR). Petrus hilang usai konferensi pers Komite Nasional Penyelamat Demokrasi (KNPD) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, 12 Maret 1998. Sony merupakan pendukung PDI Megawati, setiap hari bekerja menjadi seorang sopir dan merupakan DPC (Dewan Pimpinan Cabang) Partai PDI di Jakarta Utara. Sonny hilang pada tanggal 26 April 1997 di Jakarta. Suyat merupakan mahasiswa FISIP Universitas Slamet Riyadi ini merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID), organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD). Suyat hilang di Solo pada 12 Februari 1998 dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Pada pagi-pagi buta itu, Suyat dijemput sekitar 10 orang yang menggunakan mobil Kijang. Ucok Munandar Siahaan merupakan mahasiswa STIE Perbanas. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta. Yadin Muhidin merupakan alumnus sekolah pelayaran. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta. Yani Afri merupakan Sopir angkot pendukung Mega-Bintang pada pemilu 1997. Yani Afri sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara, sebelum akhirnya hilang di Jakarta pada 26 april 1997. Hilangnya Yani Afri ini diketahui setelah ibundanya, Tuti Koto, melapor ke Kontras. Wiji Thukul merupakan Penyair, Aktivis JAKER (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat) yang termasuk dari bagian PDR. Wiji Tukul hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998. Ketigabelas nama tersebut masih belum ditemukan hingga kini. Kesimpulan pada bait lima ini adalah kita dapat menggolongkan ketigabelas aktivis yang dihilangkan secara paksa atau diculik ini menjadi dua golongan, yakni golongan aktivis mahasiswa dan aktivis pendukung mega-bintang pada pemilu 1998.

 

3. Analisis Simbol Lirik Lagu Jingga

Simbol adalah sebuah tanda yang menggambarkan hubungan alamiah dari penanda dan pertandanya. Gambaran ini menghubungkan antara ikon dan indeks menjadi sebuah tanda yang dapat menunjukan hubungan kedua kajian tersebut. Ikon dan indeks disini merupakan makna denotatif dan konotatif yang menggambarkan suatu permasalahan sedangkan simbol adalah sebuah nilai yang menunjukan permasalahan tersebut. (Kusuma, 2015: 131) Tabel 4.4 Analisis simbol lirik lagu Jingga No Konotatif Simbol (Tanda)

1 Sekelompok orang yang sangat merindukan keluargannya yang hilang pada peristiwa penculikan aktivis HAM oleh aparat militer pada tahun 1997-1998 yang hingga sekarang 13 korban masih belum diketahui keberadaannya. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

2 Sudah hampir 20 tahun mereka menunggu keluarga mereka yang hilang kembali menuntut kejelasan dari pemerintah. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

3 Dalam memperjuangkan menuntut keluarga mereka yang menjadi korban penculikan pada tahun 1997-1998 kembali pulang sangat gigih, salah satunya adalah dengan mengadakan aksi di depan Istana Negara guna menuntut pengusutan kasus secara jelas. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

4 Orang-orang yang melakukan aksi ini tidak pernah takut dengan siapapun karena bagi mereka ini adalah tindakan yang benar guna mencari tahu keberadaan keluarga mereka yang diculik pada peristiwa 1997-1998. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

5 Orang orang yang diculik menjadi pemicu semangat keluarga mereka dan orang-orang yang mendukung mereka segera ditemukan tergerak untuk melakukan aksi mendesak pemerintah agar segera menemukan mereka yang hilang. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

6 Setiap hari kamis keluarga yang ditinggalkan selalu dengan tekat yang kuat melakukan aksi. Aksi yang diadakan di depan istana negara disebut Aksi Kamisan.Aksi Ini sudah berlangsung dari tahun 2007 dan rutin dilaksanakan setiap hari kamis. Aksi ini merupakan aksi untuk menegakan HAM yang belum jelas secara politis. Cirikhas aksi ini adalah mengunakan payung hitam dan pakaian yang serba hitam. (Putra, 2016: 13) Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

7 Marah senyala api menggambarkan bahwa keluarga menanti dengan penuh amarah Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum atas ketidakjelasan keberadaan keluarga mereka yang diculik 20 tahun yang lalu. diketahui keberadaannya hingga sekarang

8 Memperjuangkan menuntut kejelasan dari keluarga mereka yang hilang. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

9 Para keluarga korban penculikan pada peristiwa 1997-1998 terus memperjuangkan dengan penuh kemarahan dan tanpa putus asa dalam mencari tahu keberadaan keluarga mereka yang hilang. Keluarga korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang

10 Pulang dalam keadaan hidup atau mati yang jelas mengetahui keberadaannya. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

11 Deddy Hamdun adalah pengusaha dan aktivis PPP yang pro dengan Mega Bintang. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997 Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

12 Ismail merupakan sopir Dedy Hamdun yang hilang bersama dengan Dedy Hamdun dan Nova Al Katiri pada 29 Mei 1997. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

13 Hermawan Hendrawan merupakan mahasiswa Universitas Airlangga yang juga merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PDR) hilang Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang. pada tanggal 12 Maret 1998 di Jakarta.

14 Hendra Hambali merupakan siswa SMU. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

15 M. Yusuf merupakan seorang guru di Jakarta, diculik didepan rumahnya pada tanggal 7 Mei 1997 Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

16 Nova Al Katiri merupakan teman dari Deddy Hamdun, memiliki latar belakang yang sama yaitu pengusaha dan aktivis PPP yang pro dengan Mega Bintang. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997 Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

17 Petrus Bima Anugerah merupakan mahasiswa Universitas Airlangga dan merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PDR). Petrus hilang usai konferensi pers Komite Nasional Penyelamat Demokrasi (KNPD) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, 12 Maret 1998. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

18 Sony merupakan pendukung PDI Megawati, setiap hari bekerja menjadi seorang sopir dan merupakan DPC (Dewan Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang. Pimpinan Cabang) Partai PDI di Jakarta Utara. Sonny hilang pada tanggal 26 April 1997 di Jakarta.

19 Suyat merupakan Mahasiswa FISIP Universitas Slamet Riyadi ini merupakan aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID), organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD). Suyat hilang di Solo pada 12 Februari 1998 dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Pada pagi-pagi buta itu, Suyat dijemput sekitar 10 orang yang menggunakan mobil Kijang. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

20 Ucok Munandar Siahaan merupakan mahasiswa STIE Perbanas. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

21 Yadin Muhidin merupakan alumnus sekolah pelayaran. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

22 Yani Afri merupakan Sopir angkot yang merupakan pendukung Mega-Bintang pada pemilu 1997. Yani Afri sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara, sebelum akhirnya hilang di Jakarta pada 26 april 1997. Hilangnya Yani Afri ini diketahui setelah ibundanya, Tuti Koto melapor ke Kontras Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang. Setelah menganalisis makna kontatif dan makna denotatif lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca, peneliti menemukan sebuah mitos yang berkembang dimasyarakat bahwa pihak penegak hukum masih kurang serius dalam menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Kasus ini menambah deretan kasus-kasus pelanggaran HAM tentang penghilangan secara paksa atau penculikan yang dilakukan oleh oknum yang berkuasa di negeri ini. berdasarkan timeline yang didapat dari komnas HAM tercatat lebih dari 5 kasus pelanggaran HAM berat tentang penghilangan secara paksa atau penculikan terjadi sejak tahun 1960an hingga 1998.

 

Pembahasan

A. Makna Semiotik Lirik Lagu Jingga Karya Band Efek Rumah Kaca

Mencari makna yang terkandung dalam sebuah lirik memang memerlukan analisis yang mendalam. Peneliti menggunakan analisis semiotik model Roland Barthes pada lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca. Pada analisis semiotik model Roland Bhartes mengunakan 2 tahap yakni analisis denotatif sebagai signifikansi tataran pertama dan analisis konotatif atau bisa disebut sebagai signifikansi tataran kedua. Semiotik Roland Barthes lebih berfokus pada tataran kedua atau yang Barthes sebut sebagai konotatif. Seperti yang dikemukakan oleh Sobur (2006: 69) bahwa fokus semiotik Roland Bhartes terjadi pada tataran tahap dua atau konotatif. Dari analisis konotatif akan diketahui makna yang tersirat dari lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca ini. Lirik lagu Jingga karya Band Efek Rumah Kaca dari bait pertama sampai kelima menceritakan tentang korban penghilangan secara paksa atau penculikan aktivis 1997- 1998 dan perjuangan keluarga yang ditinggalkan yang tanpa lelah menuntut kepastian keberadaan korban yang hingga kini belum diketahui. Menurut pengarang lirik, Cholil Mahmud (dalam Budi, 2018) mengungkapkan bahwa lirik lagu Jingga ini menceritakan tentang sekelompok orang atau beberapa orang yang sangat merindukan keluargannya

23 Wiji Tukul merupakan seorang Penyair, Aktivis JAKER (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat) yang termasuk dari bagian PDR. Wiji Tukul hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998. Korban penculikan 1997-1998 yang belum diketahui keberadaannya hingga sekarang. yang hilang pada peristiwa penangkapan, penghilangan atau penculikan aktivis HAM secara paksa oleh oknum aparat militer pada tahun 1997-1998. Hingga sekarang 13 aktivis korban penghilangan secara paksa masih belum diketahui keberadaannya. Lirik Lagu Jingga ini terinspirasi dari Aksi Kamisan yang dilakukan oleh keluarga korban yang dengan semangat pantang menyerah menuntut agar segera mengetahui keberadaan ke-13 aktifis yang dihilangkan tersebut. Perjuangan keluarga korban yang menanti kepulangan ataupun kepastian tanpa kenal lelah digambarkan pada pada bait pertama lirik lagu Jingga

 

Bait pertama:

Rindu kami seteguh besi

Hari demi hari menanti

Tekad kami segunung tinggi

Takut siapa? semua hadapi

Bait pertama ini menggambarkan betapa gigihnya perjuangan keluarga korban dalam menanti dan mencari keberadaan 13 aktivis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Salah satu cerminan dari kegigihan ini adalah dibentuknya IKOHI yang memiliki kepanjangan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia. Dikutip dari website resmi IKOHI (ikohi, 2018) organisasi ini didirikan pada tanggal 17 September 1998 oleh keluarga korban penculikan aktivis pro-demokrasi 1997-1998. DT Raharjo Utama ayah dari Petrus Bima Anugerah didaulat menjadi ketua untuk pertama kalinya. Sampai saat ini telah diadakan 4 kongres yang pertama pada tahun 2002, kongres kedua tahun 2004, kongres ketiga 2009, dan yang terakhir pada tahun 2014. Prioritas program organisasi ini ada dua, yakni program pemulihan dan penguatan korban (Reparasi) dan program keadilan (Justice).

 

Bait kedua:

Yang hilang Menjadi katalis

Disetiap kamis nyali Berlapis