SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BUKU TEKS TENTANG PERLAWANAN RAKYAT BIMA TERHADAP KOLONIALISME BELANDA(1908-1910) SEBAGAI BAHAN AJAR PENUNJANG PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK KELAS XI IPA1 DI SMAN 1 WOHA

Muhammad Furqan

Abstrak


PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BUKU TEKS TENTANG PERLAWANAN RAKYAT BIMA TERHADAP KOLONIALISME BELANDA(1908-1910) SEBAGAI BAHAN AJAR PENUNJANG PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK KELAS XI IPA1 DI SMAN 1 WOHA

Muhammad Furqan Pembimbing (1) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd Pembimbing (2) Dra. Yulianti, M.Hum Universitas Negeri Malang

Email: Ellqan80@gmail.com

 

ABSTRAK:

Bahan ajar merupakan media belajar yang selalu digunakan oleh peserta didik dan guru dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar. Salah satu bentuk dari bahan ajar adalah buku teks. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah buku teks yang berisi materi sejarah lokal Bima sebagai bahan ajar pada mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Woha Kabupaten Bima. Fokus dari penelitian ini adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan peserta didik SMAN 1 Woha kelas XI IPA1 tentang sejarah lokal Bima. Berdasarkan masalah tersebut peneliti mengembangkan sebuah bahan ajar berupa buku teks dengan tujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi di kelas XI IPA1 SMAN 1 Woha. Materi yang diambil adalah materi tentang sejarah lokal Bima lebih khususnya pada masa penjajahan Belanda. Penelitian dan pengembangan kemudian dilakukan peneliti untuk menghasilkan buku teks yang dapat digunakan sebagai media penunjang pembelajaran sejarah. Produk yang dikembangkan dinyatakan valid dan layak digunakan setelah melalui berbagai tahap validasi dan uji coba.

 

Kata Kunci: buku teks, sejarah lokal, Bima

ABSTRACT:

Teaching materials are learning media that are always used by students and teachers in every learning and teaching activity. One form of teaching materials is textbooks. This study aims to develop a textbook that contains Bima's local history material as teaching material for historical subjects at SMAN 1 Woha, Bima Regency. The focus of this research is the lack of understanding and knowledge of students of SMA 1 Woha in class XI IPA1 about Bima's local history. Based on this problem the researcher developed a teaching material in the form of textbooks with the aim to solve problems that occurred in class XI IPA 1 of SMA 1 Woha. The material taken was material about Bima's local history, especially during the Dutch colonial period. Research and development is then carried out by researchers to produce textbooks that can be used as media to support history learning. The developed product is declared valid and feasible to use after going through various stages of validation and trial.

 

Keywords: textbook, local history, Bima

Dalam era globalisasi pendidikan adalah hal yang sangat diperlukan. Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa dan negara. Dari tahun ke tahun pendidikan selalu mengalami perubahan dan kemajuan, pendidikan tidak hanya difokuskan pada pendidikan formal, namun pendidikan itu sendiri memiliki cakupan yang sangat luas. Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005:77) bahwa “pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun manusia, pada gilirannya manusia hasil pendidikan itu menjadi sumber daya pembangunan”. Salah satu masalah yang mendasar dalam dunia pendidikan adalah bagaimana usaha untuk meningkatkan proses belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang efektif dan efisien, tidak terkecuali pada mata pelajaran sejarah. Masalah yang ditemukan oleh peneliti dari hasil observasi dan wawancara adalah terdapat beberapa peserta didik yang menyatakan bahwa mata pelajaran sejarah itu tidak disukai karena membosankan dan akhirnya membuat mereka mempunyai pengetahuan sejarah yang minim, hal ini diketahui dari hasil wawancara dengan salah satu siswa di SMAN 1 Woha Kabupaten Bima dan hasil observasi di kelas (ketika guru mengajar) serta dilihat sarana dan prasanapun tidak terlalu mutakhir dan kurang, misalnya buku-buku yang dIPAkai masih menggunakan LKS yang bukan dari buatan gurunya sendiri. Adapun hasil wawancara dengan siswa kelas XI IPA1 SMAN 1 WOHA adalah sebagai berikut : “Pembelajaran sejarah itu membosankan, berbelit-belit, banyak teori, isinya(materi) juga banyak, cara mengajar yang monoton, buku yang digunakan juga kurang menarik dan akibatnya saya juga kurang motivasi dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Tapi, jujur saja saya pribadi menganggap bahwa sejarah sesuatu yang informatif, karena cuma sejarah mata pelajaran yang membuat kita tahu tentang masa lalu (wawancara dengan Nurfatun siswa kelas XI IPA1)”. Mata pelajaran sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang mengupas dan menjelaskan tentang segala sesuatu peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu. Hal-hal yang membuat mata pelajaran sejarah itu tidak disukai oleh para peserta didik karena menurut para peserta didik mata pelajaran sejarah itu berbelit-belit, teorinya banyak dan banyak materi yang harus dipelajari. Walaupun keadaan yang seperti itu para peserta didik tetap diwajibkan untuk berhasil menempuh mata pelajaran ini karena merupakan salah satu aspek penumbuh rasa nasionalisme serta sejarah yang merupakan salah satu unsur dari indentitas nasional dari sebuah negara atau bangsa. Bukan hanya sejarah di dunia ataupun sejarah nasional, sejarah yang di daerahpun (sejarah lokal) harus diketahui oleh para peserta didik sebagai penumbuh rasa cinta terhadap daerahnya dan juga sebagai penambah wawasan. Terdapat alasan-alasan mengapa perlu mengembangkan bahan ajar sebagai media belajar peserta didik adalah sebagai berikut. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan ajar yang kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi bahan ajar pokok atau bahan ajar suplementer (Warso, 2016:20). Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah atau kesulitan dalam belajar. Terdapat sejumlah materi pembelajaran yang sering kali sulit dimengerti oleh siswa dan sulit dijelaskan oleh guru. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi karena materi tersebut abstrak, rumit, asing dan sebagainya. Demi mengatasi kesuliltan ini maka perlu dikembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak tersebut, misalnya dengan menggunakan gambar, foto, bagan, skema, dan lain-lain. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat pikir siswa, sehingga lebih mudah dipahami(Warso, 2016:21). Dipilihnya buku teks sebagai produk, karena sampai saat ini buku teks masih menjadi media utama dan sangatlah penting dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Buku merupakan media yang dapat memuat dan menyajikan berbagai informasi dan berbagai keperluan.Walaupun merupakan media konvensional, buku masih dipergunakan di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini(Sitepu, 2012:23). Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, para peserta didik masih menggunakan bahan ajar berupa LKS sebagai sumber belajarnya. LKS tersebut bukanlah bahan ajar yang dikembangkan oleh guru melainkan buatan orang lain. Menurut para peserta didik sendiri, bahan ajar ini tidaklah terlalu bagus dan terasa membosankan untuk dibaca karena beberapa hal; berwarna hitam putih, gambar yang tidak bagus, dan lain-lain. Salah satu sejarah lokal di Indonesia adalah sejarah lokal di Bima Nusa Tenggara Barat (NTB), sejarah Bima menjelaskan tentang masa-masa tumbuh dan berkembangnya Bima pada masa lampau, mulai dari ditemukan peninggalan awal sampai masa kontemporer. Sejarah lokal ini sangat menarik disimak oleh semua golongan yang ada di kota maupun di Kabupaten Bima umumnya dan para peserta didik yang ada di Bima khususnya. Hal ini menjadi alasan bagi peneliti untuk mengembangkan sebuah bahan ajar berupa buku teks tentang sejarah lokal Bima yang lebih khusus pada perang rakyat yang terjadi di Bima pada masa kolonialisasi Belanda di Nusantara. Meletusnya perang ini merupakan hasil dari ketidakpuasan rakyat Bima terhadap “Dou Kafi” (orang-orang Belanda) yang telah sewenang-wenang terhadap Kesultanan Bima pada waktu itu. Dipilihnya SMAN 1 Woha sebagai tempat penelitian karena peneliti menganggap bahwa sekolah tersebut memiliki masalah tentang pembelajaran sejarahnya. Hal ini dibuktikan dengan observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dikelas XI IPA1. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMAN 1 Woha Kabupaten Bima, diketahui bahwa pemahaman dan pengetahuan para peserta didik tentang sejarah naisonal dan sejarah lokal masih sangat kurang, hal ini juga ditambah dengan tidak lengkapnya sarana dan prasarana yang ada di kelas. Sebagai contoh para siswa belum memiliki buku paket sejarah sebagai media mereka belajar. Berdasarkan Kurikulum 2013, pembelajaran sejarah dimasukan dalam pengelompokan mata pelajaran wajib dan sekaligus peminatan. Sejarah sebagai mata pelajaran wajib kini berlabel sejarah Indonesia, sedangkan sejarah peminatandimasukan dalam peminatan sosial(Fajri, 2013:Online). Materi pembelajaran sejarah yang masuk dalam penelitian dan pengembangan buku teks tentang perang rakyat di Bima ini adalah perkembangan penjajahan Bangsa Barat di Indonesia  dengan Kompetensi Dasar 4.2: Mengolah informasi tentang proses masuk dan perkembangan penjajahan Bangsa Barat di Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah. Penggunaan Kompetensi Dasar (KD) ini sesuai dengan K.D yang ada dalam Kurikulum 2013 (K13). Materi ini menjelaskan tentang masuk dan berkembangnya bangsa barat di Nusantara. Keberadaan Bangsa Barat di Nusantara, sangat mempengaruhi keadaan masyarakat Nusantara pada waktu itu. Hal ini terjadi karena Bangsa Barat tidak menjadi “tamu” di Nusantara tapi melainkan sebagai penjajah yang menjajah Nusantara atau Indonesia selama beratus-ratus tahun. Hal ini haruslah diketahui dan dIPAhami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia khususnya terlebih lagi para peserta didik yang sedang menempuh pendidikan karena merupakan bagian dari sejarah Indonesia, tak terkecuali para peserta didik yang ada di SMAN 1 WOHA Kabupaten Bima. Berdasarkan latarbelakang diatas tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah Tujuan umum penelitian pengembangan ini yaitu mengembangkan sebuah bahan ajar sejarah dalam bentuk buku teks tentang perlawanan rakyat Bima melawan Belanda. Adapun tujuan khusus penelitian dan pengembangan ini yaitu menghasilkan bahan ajar sejarah buku teks tentang perlawanan rakyat Bima melawan penjajah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik kelas XI IPA 1 (sejarah wajib) SMAN 1 Woha tentang sejarah lokal Bima.

 

METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan. Metode penelitian dan pengembangan digunakan untuk mengembangkan produk yaitu buku teks sejarah. Metode penelitian dan pengembangan ini menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan Borg dan Gall dalam Sugiyono (2015:409) dibagi menjadi sepuluh tahap yang dimulai dari mencari potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk dan produksi masal. Langkah pertama untuk melakukan penelitian dan pengembangan adalah menemukan potensi masalah. Pada awalnya suatu penelitian berangkat dari suatu permasalahan. Masalah yang didapatkan setelah melakukan wawancara dan melakukan observasi pada peserta didik dikelas XI IPA1. Adapun masalah yang didapatkan adalah kurangnya pemahaman para peserta didik tentang sejarah local. Berdasarkan permasalahan yang didapatkan oleh peneliti, kemudian peneliti menemukan potensi untuk mengatasi masalah tersebut. Adapun potensi yang dapat dijadikan bahan penelitian adalah sejarah lokal Bima. Peneliti melihat bahwa pengembangan sebuah buku teks sejarah lokal Bima. Hal tersebut dapat dijadikan suatu referensi dalam materi pembelajaran terutama pada Kompetensi Dasar 4.2 yang berkaitan tentang proses masuk dan perkembangan penjajahan Bangsa Barat di Indonesia. Langkah kedua yaitu pengumpulan data, menurut Sugiyono (2010: 411) menyatakan “Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukkan secara faktual dan up to date, selanjutnya dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan  sebagai bahan perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut”. Adapun data-data yang diperoleh berdasarkan potensi dan masalah di atas yaitu melakukan analisis terkait KD dari Kurikulum 2013 yang digunakan sekolah agar produk yang dikembangkan bisa digunakan sebagai media penunjang. Selain menggunakan wawancara untuk pemgambilan data kualitatif, peneliti juga menggunakan angket untuk mengambil data-data kuantitatif pada saat ujicoba kecil dan besar di SMAN 1 Woha.. Langkah ketiga adalah melakukan desain produk yang dikembangkan mulai dari menentukan materi yang sesuai dan kemudian melakukan penyusunan buku teks. Setelah melakukan pengumpulan materi dan data yang menunjang buku teks langkah selanjutnya(langkah keempat) adalah melakukan validasi produk terkait materi dan media yang dikembangkan dengan tujuan menilai kelayakan materi dan media tersebut. Validator desain ahli materi dalam mengembangkan produk tersebut adalah Drs. Marsudi M.Hum dan validator ahli media adalah Drs. Ismail Lutfi, M.A. Langkah kelima adalah melakukan revisi desain berdasarkan masukan, saran dan kritik dari para ahli agar produk memiliki tingkat kelayakan yang tinggi.  Langkah keenam, ketujuh, dan kedelapan terkait dengan uji coba di lapangan yang melibatkan peserta didik kelas XI IPA SMAN 1 Woha. Pada tahap uji coba kelompok kecil peneliti mengumpulkan dari 6 pserta didik yang berasal dari kelas yang berbeda-beda(XI IPA 1,2,3,4,5,6), jika masih memiliki kekurangan maka akan diperbaiki lagi berdasarkan masukan dari responden, tetapi jika uji coba kelompok kecil sudah layak maka dilanjutkan dengan uji coba kelompok besar. Langkah terakhir yang kesembilan adalah revisi produk dari uji pemakaian guna menyempurnakan produk yang dikembangkan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dIPAparkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Bagian ini menampilkan hasil dari ahli media, ahli materi dan responden uji coba kelompok kecil dan kelompok besar. Media yang dikembangkan dalam penelitian dan pengembangan ini merupakan buku teks pembelajaran sejarah dengan materi kolonialisme-imperialisme. Bagian ini diuraikan data hasil penelitian dan pengembangan produk yang terdiri dari data hasil validasi dan data hasil uji coba produk. Data hasil uji validasi yang disajikan adalah data hasil dari instrumen angket validasi yaitu hasil validasi ahli media dan validasi ahli materi. Validator ahli materi dalam penelitian dan pengembangan ini adalah Drs. Marsudi M.Hum selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Validator media adalah Drs. Ismail Lutfi, M.A selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Kemudian uji coba produk yang dilakukan pada siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Woha. 

Adapun hasil validasi dan uji coba produk diuraikan berikut ini.

(a) Validasi yang dilakukan oleh ahli media menggunakan instrumen angket penilaian dengan jumlah 13 item pertanyaan. Validasi ahli materi dilakukan oleh Drs. Marsudi M.Hum, selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pada validasi ahli media tersebut diketahui hasil validasi media sebesar 76,92%, hasil ini termasuk dalam kategori valid.

(b) Validasi yang dilakukan oleh ahli materi menggunakan angket penilaian dengan jumlah 14 item pertanyaan. Validasi media dilakukan Drs. Ismail Lutfi, M.A, selaku dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.Berdasarkan  angket penilaian yang diberikan kepada ahli materi, media pembelajaran ini direkomendasikan dengan kriteria valid dengan perolehan persentase sebesar 83,92%.

(c) Uji coba kelompok kecil dilakukan pada 6 peserta didik kelas XI IPA 1,2,3,4,5,6 SMAN 1 Woha yang dipilih dengan menggunakan teknik random sampling. Uji coba kelompok kecil ini dilakukan pada tanggal 9 November 2017. Pada uji coba kelompok kecil ini responden disediakan angket dengan 10 item pertanyaan terkait buku teks yang dikembangkan. Berdasarkan angket yang telah diisi oleh responden, nilai persentase yang diperoleh sebesar 91,25%, hasil tersebut masuk dalam kategori valid.

(d) Uji coba kelompok besar dilakukan pada 30 peserta didik kelas XI IPA 1 SMAN 1 Woha. Uji coba kelompok besar ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 10 November 2018. Berdasarkan angket yang telah diisi oleh responden, nilai persentase yang diperoleh sebesar 82,92%, hasil tersebut masuk dalam kategori valid.

Berdasarkan hasil persentase dari ahli materi, ahli media, dan uji coba produk, maka analisis hasil tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

(a)Uji validasi media dilakukan pada tanggal 9 November 2017. Berdasarkan perhitungan rekapitulasi uji validasi media oleh ahli media, diketahui bahwa jumlah skor yang diperoleh (x) adalah sebanyak 40 dan jumlah keseluruhan nilai (xi) adalah 52. Persentase hasil dari perolehan skor sebanyak 52 adalah sebesar 76, 92%. Hasil tersebut telah menunjukkan bahwa buku teks yang dikembangkan sudah layak digunakan sebagai bahan ajar penunjang.

Adapun penilaian angket dari ahli media dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1)Ketepatan susunan dalam cover buku teks

(2)Tampilan gambar menarik.

(3)Ketepatan dan kejelasan petunjuk penggunaan buku teks.

(4)Tampilan buku teks menarik.

(5)Kesesuaian tujuan dengan materi

(6)Kemudahan memahami materi.

(7)Ketepatan ruang lingkup materi

(8)Cakupan isi/uraian materi.

(9)Keruntutan isi/materi.

(10)Faktualisasi isi/materi.

(11)Aktualisasi isi/materi.

(12)Kejelasan dan kecakupan contoh yang disertakan.

(13)Kemenarikan isi materi untuk motivasi pengguna.

(b) Uji validasi Media. Berdasarkan perhitungan data validasi materi, dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan skor yang diperoleh (x) adalah sebanyak 47 dan jumlah keseluruhan nilai ideal (xi) adalah 56. Persentase hasil yang  diperoleh berdasarkan skor 49 adalah sebesar 83,92%. Hasill ini termasuk dalam kategori layak/valid digunakan dan dijadikan media pembelajaran sejarah yang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Adapun penilaian angket dari ahli materi dapat dijabarkan sebagai berikut

(1)Proporsional layout cover

(2)Tampilan gambar

(3)Kejelasan judul buku teks

(4)Kemenarikan desain cover

(5)Ukuran buku teks

(6)Sinkronisasi antar ilustrasi grafis, visual dan verbal

(7)Kejelasan petunjuk belajar

(8)Kejelasan rumusan tujuan/ kompetensi

(9)Kemudahan dalam mempelajari buku teks

(10)Kemudahan dalam penggunaan buku teks

(11)Kemudahan pencarian halaman dalam buku teks

(12)Ketersediaan contoh dan ilustrasi untuk memperjelas pemahaman materi

(13)Materi up to date/konstektual

(14)Memiliki daya tarik dengan warna, gambar/ ilustrasi, huruf.

(c) Uji coba kelompok kecil dilakukan pada tanggal 9 November 2017 di kelas IPA1 SMAN 1 Woha. Uji coba kelompok kecil ini dilakukan dengan cara memberikan angket penilaian produk kepada 6 peserta didik dari setiap kelas XI IPA di SMAN 1 Woha yang dipilih secara random sampling. Pada uji coba kelompok kecil diperoleh hasil persentase sebesar 91,25% dan hasil tersebut termasuk dalam kategori valid

Adapun item pertanyaan angket dari uji coba kelompok kecil dijabarkan sebagai berikut:

(1)Ketepatan susunan dalam cover buku teks

(2)Tampilan gambar menarik

(3)Ketepatan dan kejelasan petunjuk penggunaan buku teks

(4)Tampilan buku teks menarik

(5)Kesesuaian tujuan dengan materi

(6)Kemudahan memahami materi

(7)Ketepatan ruang lingkup materi

(8)Cakupan isi/uraian materi

(9)Keruntutan isi/materi

(10)Faktualisasi isi/materi

(11)Aktualisasi isi/materi

(12)Kejelasan dan kecakupan contoh yang disertakan

(13)Kemenarikan isi materi untuk motivasi pengguna.

(d) Uji coba produk pada kelompok besar dilakukan pada tanggal 10 November 2017. Uji coba kelompok besar dilakukan pada seluruh siswa kelas XIIPA 1 SMAN 1 Woha yang berjumlah 30. Pada uji coba kelompok besar diperoleh hasil persentase sebesar 82,92% dan termasuk dalam kategori valid.

Adapun item pertanyaan angket dari uji coba kelompok besar dijabarkan sebagai berikut:

(1)Ketepatan susunan dalam cover buku teks

(2)Tampilan gambar menarik

(3)Ketepatan dan kejelasan petunjuk penggunaan buku teks

(4)Tampilan buku teks menarik

(5)Kesesuaian tujuan dengan materi

(6)Kemudahan memahami  materi

(7)Ketepatan ruang lingkup materi

(8)Cakupan isi/uraian materi

(9)Keruntutan isi/materi

(10)Faktualisasi isi/materi

(11)Aktualisasi isi/materi

(12)Kejelasan dan kecakupan contoh yang disertakan

(13)Kemenarikan isi materi untuk motivasi pengguna.

 

KESIMPULAN

Produk yang dihasilkan adalah buku teks dengan judul “Perlawanan Rakyat Bima Terhadap Kolonialisme” yang digunakan untuk kelas XI di SMAN 1 Woha. Menurut Prastowo (2014:17) bahan ajar adalah segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan akan digunakan dalam proses pembelajaran, misalnya modul, LKS, handout, modul atau maket, bahan ajar audio dan sebagainya. Berdasarkan penjelasan tersebut menegaskan bahwa modul merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan sebagai penunjang pembelajaran. Pengembangan buku teks tentang sejarah lokal Bima ini telah melalui tahapan penelitian dan pengembangan secara keseluruhan. Berdasarkan hasil validasi dari ahli materi pada buku teks penunjang pembelajaran sejarah ini menunjukkan nilai persentase sebesar 76,92%. Hasil yang diperoleh tersebut telah menunjukkan kriteria valid. Berdasarkan validasi ahli media pada produk modul pembelajaran sejarah ini 83,92%. Hasil yang diperoleh tersebut telah menunjukkan kriteria valid dan tidak perlu revisi. Berdasarkan hasil rekapitulasi pada uji coba kelompok kecil yang dilakukan pada kelas XI IPA 1 di SMAN 1 Woha dengan melibatkan 6 peserta didik sebagai subjek penelitian didapatkan nilai persentase sebesar 91,25%. Hasil tersebut menunjukkan kriteria valid. Hasil rekapitulasi selanjutnya adalah data hasil uji coba kelompok besar yang dilakukan pada kelas XI IPA 1 di SMAN 1 Woha dengan melibatkan seluruh peserta didik dalam kelas tersebut sebagai subjek penelitian. Pada uji coba kelompok besar tersebut didapatkan nilai persentase sebesar 82,92%, hasil tersebut menunjukkan kriteria valid dengan keterangan tanpa revisi. Berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil dan kelompok  besar di atas, maka produk yang dikembangkan sudah layak untuk digunakan sebagai bahan ajar penunjang. Bahan ajar sejarah buku teks ini memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Kelebihan buku teks sejarah lokal Bima yang berjudul “Perlawanan terhadap Kolonialisme”, adalah sebagai berikut:

1. Buku teks sejarah lokal ini membahas tentang perlawanan rakyat Bima terhadap penjajahan (kolonialisme) yang terjadi pada tahun 1908-1910. Penjelasan tentang materi tidak terdapat di buku teks sejarah lokal digunakan untuk peserta didik kelas XI SMA/MA, dan SMK, namun buku ini tetap disesuaikan dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang sesuai dengan Kurikulum 2013 untuk kelas XI.

2. Buku teks sejarah lokal ini dilengkapi dengan gambar/foto, peta serta bagan-bagan yang relevan seperti foto/gambar Raja-raja Bima, peninggalan-peninggalannya, silsilah, bagan susunan pemerintahan dan lain-lain.

3. Buku teks sejarah lokal ini mudah dalam penggunaanya baik untuk guru dan peserta didik.

4. Buku teks sejarah lokal ini dilengkapi dengan glosarium yang memudahkan peserta didik dalam mempelajari buku teks. Selain kelebihan yang ada pada di bahan ajar ini, tentu bahan ajar juga memiliki kekurangan.

Adapun kekurangan-kekurangan pada bahan ajar ini adalah sebagai berikut:

1. Buku teks sejarah lokal ini memiliki banyak kekurangan pada gambar/foto peninggalan Kesultanan Bima(minim akan gambar)

2. Buku teks sejarah lokal ini lebih dominan akan tulisan karena minimnya gambar yang bisa didapatkan

 

DAFTAR RUJUKAN

Prastowo, A. 2014.Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Jogjakarta: DIVA Press. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tirtarahardja, U., dan La Sulo, S.L. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya. Warso, A.W. 2016. Pembuatan Buku, Modul, Diktat. Yogyakarta: Pustaka Belajar Sitepu. B.P. 2012. Penulisan Buku Teks Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Wawancara peneliti dengan salah satu peserta didik bernama Nurfatun.