SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pemanfaatan Museum Kambang Putih untuk Sarana Belajar Sejarah bagi Siswa di Kota Tuban

Whan Maria Ulfa

Abstrak


Pemanfaatan Museum Kambang Putih untuk Sarana  Belajar Sejarah bagi Siswa di Kota Tuban

Whan Maria Ulfa Universitas Negeri Malang

E-mail: whanmaria@gmail.com

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi serta faktor-faktor pedukung dan penghambat pemanfaatan Museum Kambang Putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi dan suasana lingkungan museum yang terbilang cukup nyaman dan dapat membantu siswa memenuhi tugas ataupun tujuan mereka dalam belajar sejarah.

 

Kata kunci: Museum, Sarana, Belajar Sejarah, Siswa

Kota Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terletak di pantai utara Jawa Timur. Kabupaten dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa ini terdiri dari 20 kecamatan dan beribukota di kecamatan Tuban. Tuban mempunyai letak yang strategis, yakni di perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan dilintasi oleh Jalan Nasional Daendels di pantai utara. Pusat pemerintahan Kota Tuban terletak 101 km sebelah barat laut Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur dan 215 km sebelah timur Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, pada jaman dahulu Tuban dijadikan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit dan menjadi salah satu pusat perdagangan. Dalam perkembanganya, Tuban menjadi sebuah kota yang sangat maju baik dibidang industri maupun kelautan, disini pengertian dari sebuah kota menurut Zahund (2006:1) “Kota adalah salah satu ungkapan kehidupan manusia yang mungkin paling kompleks”.

Kota Tuban juga terkenal sebagai salah satu pelabuhan penting pada zaman kerajaan Majapahit di mana banyak sekali kapal-kapal dagang dari Monggol bersandar untuk menaik turunkan barang dan menjadi komoditas perdagangan pada masa itu, dengan ini kota Tuban juga banyak sekali ditemukan keramik-keramik dan benda-benda peninggalan kapal Monggol yang ditemukan di sekitar pelabuhan kota Tuban. Karena begitu banyaknya benda bersejarah yang ditemukan, pemerintah kota Tuban sepakat membuat sebuah museum daerah yang nantinya dapat menampung benda-benda tersebut dan dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat kota Tuban.

Tak banyak daerah yang memiliki museum sebagai kepedulian untuk menjaga dan menyimpan benda-benda sejarah dan purbakala yang ditemukan di daerahnya. Walau tampak sederhana, kepedulian untuk membangun museum itu patut diapresiasi karena dari museum itu kita bisa menyimak jejak peradaban pada masa lampau. Salah satunya adalah Museum Kambang Putih yang berada di Kota Tuban, Jawa Timur. Museum Kambang Putih awalnya berada di dalam kompleks Pendopo Krido Manunggal yang diresmikan Gubernur Jawa Timur Wahono pada tanggal 25 Agustus 1984. Benda-benda koleksi Museum Kambang Putih  tersebut  ditempatkan dalam ruangan-ruangan yang berbeda sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti ruangan Ethnografi, Kesenian, Numismatik dan sebagainya. Diantara benda-benda koleksi museum itu terdapat beraneka macam Fosil, Kapak Batu dan Kapak Perunggu, Nekara, dan sebagainya. Dalam hal ini museum akan dilihat pemanfaatannya sebagai sarana belajar bagi siswa yang ingin lebih mengenal dan belajar sejarah, dengan ini bisa sedikit memberi solusi model pembelajaran yang lebih inovatif terhadap siswa supaya siswa tidak cenderung merasa bosan dengan model dan cara guru mengajar. Sedangkan dalam pendidikan sering kita mengenal beberapa pendapat yang menyangkut tentang kegiatan belajar mengajar di kelas.

Belajar adalah suatu proses usaha yang ditandai dengan adanya perubahan sebagai hasil proses belajar mengajar ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kemampuan, serta perubahan aspek lainnya (Slameto 1988:2). Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan kondisional dalam belajar supaya tercapai pembelajaran yang kondusif. Hal ini berkaitan dengan proses mengajar yang dilakukan oleh guru. Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks karena kegiatan mengajar menyangkut proses penciptaan lingkungan belajar, baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa agar dapat terjadinya proses belajar yang baik dan berkualitas. Sarana belajar menurut Sanjaya (2010 : 18) “Sarana belajar adalah segala sesuatu yang mendukung terhadap kelancaran proses pembelajaran”. Dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana belajar sekolah sangat penting dalam proses pembelajaran untuk mendukung jalannya proses pembelajaran. Dengan berbagai macam sarana dan prasarana belajar sekolah yang tersedia dan pemanfaatan yang dapat menunjang kegiatan belajar tentunya akan membantu siswa dalam belajar baik di rumah maupun di sekolah.

Peneliti memilih Museum Kambang Putih untuk dijadikan tempat penelitian karena museum ini merupakan museum daerah yang cukup besar dan lengkap koleksinya. Selain itu, peneliti juga ingin mengungkap apa alasan museum sebesar ini kurang begitu terkenal di kalangan siswa SMA di daerah perbatasan kota Tuban.

Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan Museum Kambang Putih, kegiatan yang dikaukan museum hingga bagaimana pihak museum membantu proses pembelajaran sejarah. Ketika telah diketahui permasalahannya, faktor apa penyebabnya dan upaya penanganannya dan dari penelitian ini diharapkan museum menjadi lebih baik lagi karena pada dasarnya museum tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang mengumpulkan dan memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah perkembangan kehidupan manusia dan lingkungan, tetapi merupakan suatu lembaga yang mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan dan pengembangan nilai budaya bangsa guna memperkuat kepribadian dan jati diri bangsa, mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, serta meningkatkan rasa harga diri dan kebanggaan nasional. Oleh karena itu, museum dapat berguna sebagai sumber sejarah yang digunakan dalam dunia pendidikan, baik pada pendidikan dasar, menengah, ataupun pendidikan tinggi, dan sejarah memiliki fungsi-fungsi tertentu.

Banyak sekali dari kalangan siswa dan guru yang tertarik datang ke museum tapi kendalanya adalah datang dari pihak sekolah yang memang kesulitan dari bebagai faktor terutama kendaraan dan perizinan dari sekolah.  Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat penelitian yang berjudul “Pemanfaatan Museum Kambang Putih untuk Sarana Belajar Sejarah bagi Siswa di Kota Tuban”.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena berusaha memperoleh data variabel dan non variabel yang secara potensial dapat dianalisis untuk mendapatkan makna dan informasi. Menurut Milles dan Huberman (1992:1-2) “penelitian kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat”. Dengan data kualitatif kita dapat mengikuti dan memahami alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup pikiran orang-orang setempat, dan memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat. Sedangkan pengertian penelitian kualitatif menurut Moleong (2005:6) menyebutkan “penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks kusuwers yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah”.

Kehadiran penelitian di sini adalah sebagai pengamat. Dalam hal ini yang diamati adalah Museum Kambang Putih, kemudian  sebagai agenda yang akan dilakukan peneliti datang secara langsung ke lokasi penelitian yakni Museum Kambang Putih dengan menggunakan instrumen pembantu yang nantinya dapat melengkapi sumber data, dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai observer dan pengumpul data yang dilakukan dalam situasi yang sesungguhnya. Dalam tahap ini peneliti melakukan kegiatan pelaksanaan penelitian yang meliputi tahap pelaksanaan, observasi, dan wawancara.

Tahap pelaksanaan kegiatan penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing dan pihak museum yang dimulai tanggal 21 Desember 2017. Pada tanggal ini peneliti melakukan survey lokasi dan meminta permohonan izin pada pihak museum untuk melakukan penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara pertama dengan pihak museum, setelahnya penelitian berlanjut tanggal 9 Januari hingga tanggal 20 Januari. Penulis mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil penelitian kemudian melakukan analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan, mulai dari memahami situasi dan peristiwa di lapangan kemudian pernyataan dari informan-informan terkait data yang menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan.

 

TEMUAN HASIL PENELITIAN

Berdasarkan paparan data dari hasil penelitian tersebut, dapat diketahui kondisi Museum Kambang Putih, faktor  pendukung dan faktor penghambat pemanfaatan Museum Kambang Putih sebagai sarana belajar sejarah siswa di kota Tuban sebagai berikut.

 

1. Kondisi Museum Kambang Putih

Hasil dari  kegiatan penelitian yang terdiri dari observasi dan wawancara, peneliti mendapatkan hasil yang cukup bagus. Dari beberapa pandangan pengunjung dan kebanyakan orang menganggap museum ini sangat bagus untuk dijadikan tempat atau sarana pembelajaran non formal bagi siswa dan dengan adanya museum ini sendiri sesungguhnya membantu para guru untuk lebih menjadi inovatif lagi dalam mencari model dan metode pembelajaran. Karena dengan adanya museum ini siswa jadi merasa lebih santai dan tidak terlalu tegang saat menerima pelajaran terutama pelajaran sejarah yang kebanyakan dari para siswa justru membencinya karena membosankan dan tidak jauh-jauh dari membaca buku dan mengerjakan LKS semata. Dengan adanya museum anak-anak diharapkan dapat lebih mengerti dan mudah dalam belajar dengan mereka melihat bukti dan contoh bendanya secara langsung jadi mereka dapat memahami apa yang dijelaskan dan dimaksud gurunya selama ini. Selain itu museum banyak juga menerima kunjungan dari luar kota dan bahkan mereka lebih antusias dibandingkan masyarakat yang ada di daerahnya sendiri. Hal ini lah yang mengakibatkan keberadaan museum ini sempat dipertanyakan oleh masyarakat di daerah perbatasan kota Tuban.

 

2. Faktor–faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pemanfaatan Museum Kambang Putih sebagai Sarana Belajar Sejarah Siswa di Kota Tuban

 

a. Faktor Pendukung

Berdasarkan hasil Observasi yang dilakukan peneliti pada saat kegiatan proses pemanduan terhadap pengunjung Museum Kambang Putih diperoleh informasi yang berkaitan dengan faktor pendukung pemanfaatan museum yang menjadikan museum menjadi lebih baik lagi yaitu diadakannya pameran dan diskusi bersama yang dilakukan pihak museum guna membekali para petugas yang memang tidak dari bidang sejarah. Di sini terdapat dua indikator yang dapat diamati secara langsung oleh peneliti dalam kegiatan observasi dan wawancara di museum selama kegiatan berlangsung.

 

1) Pameran

Pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara peneliti dapat diketahui faktor pendukung perubahan museum ini adalah adanya kegiatan pameran dan diskusi bersama. Museum selalu melakukan pameran guna mengenalkan koleksinya kepada masyarakat luas bahwa museum memiliki beragam koleksi yang bagus dan juga dapat menunjukan kualitas museum.

 

2) Diskusi Bersama

Untuk refleksi, Museum Kambang Putih memiliki cara tersendiri yang berbeda dari museum manapun karena pada dasarnya beberapa petugas museum memang bukan murni dari kalangan atau lulusan sejarah, jadi ketika ada mahasiswa yang melakukan magang atau penelitian yang sekiranya memakan waku lama, pihak museum sepakat untuk mengadakan diskusi bersama yang diadakan setiap ada waktu luang dengan tema sesuai mata perkuliahan yang telah ditempuh mahasiswa/mahasiwi yang tengah menjalani magang di museum. Disini ada dua perbedaan ketika mahasiswa magang dengan program studi yang berbeda yang satu memang dari golongan ilmu murni dan satunya dari pendidikan. Untuk yang ilmu murni mereka cenderung menjelaskan tentang materi-materi yang memang berkaitan dengan museum bagaimana cara membedakan benda dan beberapa hal yang memang lebih rinci membahas museum, tetapi untuk yang pendidikan mereka lebih memfokuskan bagaimana cara menangani pengunjung.

 

b. Faktor Penghambat

Peneliti menemukan permasalahan bahwasanya memang lokasi museum saat ini sangatlah strategis dan mudah untuk dikunjungi, tetapi memang permasalahan dasarnya adalah museum yang berdekatan dengan Makam Sunan Bonang yang megakibatkan banyaknya pedagang asongan dan becak yang ada di sekitar museum, sesungguhnya becak ini sudah sangat mengganggu sebab mereka berjajar hingga menutupi depan pintu gerbang museum yang akhirnya ketika ada yang ingin melakukan kunjungan menjadi kesulitan karena tidak tahu harus masuk dari arah mana. Pihak museum sendiri sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan dan kedisiplinan kota Tuban tapi sampai sekarang tidak ada perubahan dan masih saja becak selalu berjajar di depan pintu museum.

 Museum sudah berupaya untuk merubah lokasi supaya dapat dikenali dan mempermudah akses tetapi dari sini permasalahan semakin timbul dengan banyaknya peziarah dan becak yang semakin padat parkir di depan museum. Terkadang pihak keamanan dalam hal ini bukan polisi melainkan tentara yang dengan suka rela menertibkan becak-becak tersebut supaya memberikan akses masuk kepada pengunjung. Tapi itupun tidak bertahan lama hanya mungkin satu hari saja dan hari berikutnya tetap sama mereka masih saja menutupi pintu masuk dari museum dan akibatnya ketika pihak museum ingin keluar masuk untuk pengiriman surat dan lain-lain agak kesusahan karena terlebih dahulu harus membunyikan klakson dan menunggu beberapa saat sampai becak memberikan sedikit celah untuk keluar.  Sesungguhnya permasalahan becak ini sendiri bukan terjadi di museum saja tetapi di depan hotel dan rumah warga pun sama, banyak sekali antrian becak yang memenuhi hampir separuh jalan raya dan memblokir pintu masuk karena mereka memang berlomba-lomba mendapatkan penumpang yang rata-rata adalah peziarah dari makam Sunan Bonang yang letaknya persis di sebelah Museum Kambang Putih.

 

PEMBAHASAN

1.Kondisi Museum Kambang Putih sebagai Sarana Belajar Sejarah Siswa di Kota Tuban.

Museum memang dikenal sebagai tempat pembelajaran kedua setelah sekolahan dan merupakan tempat pembelajaran non formal, dengan adanya museum model pembelajaran sejarah menjadi lebih inovatif karena pada dasarnya pembelajaran sejarah yang dilakukan di sekolah cenderung kurang diminati dan terkadang banyak siswa yang menyepelekan pelajaran tersebut karena dianggap tidak penting dan membosankan. Karena pada dasarnya siswa menginginkan model pembelajaran yang inovatif dan beragam. Mereka membutuhkan perhatian lebih akan pembelajaran terutama sejarah yang memang susah dibuktikan secara langsung dan hanya berbekal buku dan materi seadanya tidaklah cukup memenuhi kebutuhan belajar siswa, hal ini sesuai dengan pendapat Desmita (2014:59) “seorang guru perlu memahami jenis dan tingkat kebutuhan peserta didiknya sehingga dapat membantu dan memenuhi kebutuhan mereka melalui aktivitas kependidikan termasuk proses pembelajran”.

Banyak sekali kasus siswa yang memang disetiap pembelajaran sejarah berlangsung mereka akan cenderung malas dan tidak mau mendengarkan. Ditambah dengan cara mengajar guru yang monoton hanya menghafal dan mengerjakan tugas saja. Ada banyak sekali permasalahan tentang pembelajaran sejarah serta cara pengajaran sejarah pun perlu diperhatikan, hal ini sesuai dengan pendapat  Hariyono (1995:143) yang menyatakan bahwa “pengajaran di sekolah selama ini sering dilakukan kurang optimal. Pelajaran sejarah seolah sangat mudah dan digampangkan. Banyak pendidik yang tidak berlatar belakang pendidikan sejarah terpaksa mengajar di sekolah”.

Di daerah Tuban sendiri ada sebuah museum yang terkenal di kalangan siswa dan masyarakat kota Tuban yaitu Museum Kambang Putih dimana museum ini banyak menyuguhkan koleksi benda-benda kuno yang dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran. Benda-benda itu ditempatkan dalam tempat pajangan yang berbeda sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti Numismatik, Etnografi, Arkeologi, dan lain-lain. Dengan kondisi dan suasana lingkungan yang terbilang nyaman diharapkan dapat membantu siswa memenuhi tugas ataupun tujuan mereka dalam belajar sejarah dan dalam hal ini pihak museum selalu terbuka menerima siapapun terutama dari pihak sekolah yang ingin melakukan kegiatan pembelajaran di museum dengan model pembelajaran apapun, museum siap menyediakan yang dibutuhkan siswa maupun guru guna membantu jalannya peroses belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Dimyanti (2013:10) ”belajar adalah kegiatan yang kompleks dimana hasil belajar berupa kapabilitas sehingga setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (1) stimulus yang berasal dari lingkungan, dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajaran.” Oleh sebab itu bisa kita simpulkan bahwa dengan adanya Museum Kambang Putih ini dapat membantu meningkatkan pengetahuan belajar.

 

2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pemanfaatan Museum Kambang   Putih sebagai Sarana Belajar Sejarah Siswa di Kota Tuban.

Ada beberapa permasalahan yang memang dialami Museum Kambang Putih bukan hanya permasalahan dari luar saja permasalahan dari dalam pun juga membuat museum sedikit kerepotan. Ada beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat kinerja Museum Kambang Putih diantaranya:

 

a. Faktor-faktor pendukung

1) Pameran

Museum selalu melakukan pameran guna mengenalkan koleksinya kepada masyarakat luas bahwa museum memiliki beragam koleksi yang bagus dan juga dapat menunjukan kualitas museum. Pameran yang setiap tahun diikuti museum adalah di Taman Mini Jakarta dan hanya Museum Kambang Putih satu-satunya museum dari daerah Jawa Timur yang berani berangkat ke Taman Mini terhitung sudah empat kali museum mengikuti pmeran di sana. Untuk biaya museum menggunakan dana pribadi karena pihak penyelenggara tidak mau menanggungnya. Tidak hanya itu saja, Museum Kambang Putih juga pernah mengikuti beberapa pameran yang dimulai dari Jawa Timur yaitu di Royal Plaza Surabaya, IMM “Internasional Museum Mart” di Semarang Jawa Tengah, Universitas Sebelas Maret di Solo, dan yang terakhir di Kudus yang mengadakan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Ketika museum ingin mengikuti pameran, pihak museum melihat ruang lingkup tema dari acara tersebut dan tidak asal-asalan ingin memamerkan koleksinya. Dengan kegiatan pameran rutin ke Jakarta, museum dapat mengenalkan dan menjaring minat masyarakat bahwa di Jawa Timur tepatnya di Tuban terdapat museum yang layak untuk dikunjungi. Hal ini sesuai dengan pendapat Fred E. Hahn dan Kenneth G. Mangun, (1999: 16) yang mengatakan bahwa “pameran adalah sarana pemasaran yang paling efektif untuk melakukan kampanye, baik kampanye pengenalan produk atau sosialisasi program suatu  perusahaan.  Secara  terperinci,  pameran  dapat  berfungsi  untuk memamerkan,  menyampaikan  informasi  dan  keunggulan  suatu  produk ke  masyarakat  sebagai  target  audiensnya,  sekaligus  sebagai  upaya meningkatkan penetrasi pasar”.

 

2) Diskusi Bersama

Dalam menjalankan diskusi bersama ini, museum dapat belajar dari dua pandangan ketika mendapat mahasiswa penelitian dari dua program studi yang berbeda. Satu dari ilmu sejarah murni dan satu lagi pendidikan sejarah. Dalam hal ini ketika yang menjadi pemateri adalah mahasiswa ilmu, pihak museum dapat belajar lebih dalam mengenai benda dan koleksi-koleksi bersejarah yang mungkin mereka belum ketahui dan untuk pemateri dari mahasiswa pendidikan museum juga dapat belajar bagaimana cara menangani pengunjung dan mengetahui nilai dan karakter belajar seseorang karena memang sebagian besar pengunjung dari kalangan pelajar jadi bukan hanya ilmu sejarah saja yang diperlukan tapi pengetahuan akan pendidikan juga penting.

 

2. Faktor-faktor penghambat

Banyaknya barisan becak di depan museum mengakibatkan para pengunjung kesulitan menemukan di mana letak museum, itu karena fokus mereka beralih ke barisan becak yang parkir di depan museum. Untuk menangani masalah itu, pihak museum pun juga sudah menghubungi pihak terkait sebagai pemangku jalan Departemen Perhubungan, dan pemagku jalan untuk menangani penertiban tapi tindakan kelanjutanya mungkin belum dilaksanakan.  Dan dengan adanya becak ini banyak masyarakat yang justru tidak tahu akan adanya museum.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Kondisi Museum Kambang Putih ini banyak menyuguhkan koleksi benda-benda kuno yang memang dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran. Benda-benda itu ditempatkan dalam deretan lemari kaca yang berbeda sesuai dengan jenis dan klasifikasinya. Seperti Numismatik, Etnografi, Arkeologi, dan lain-lain. Dengan kondisi dan suasana lingkungan yang terbilang nyaman diharapkan dapat membantu siswa memenuhi tugas ataupun tujuan mereka dalam belajar sejarah dan dalam hal ini pihak museum selalu terbuka menerima siapapun terutama dari pihak sekolah yang ingin melakukan kegiatan pembelajaran di museum dengan model pembelajaran apapun, museum siap menyediakan yang dibutuhkan siswa maupun guru guna membantu jalanya peroses belajar. Fasilitas yang disuguhkan museum seperti halnya biaya masuk yang gratis, petugas dan pemandu museum yang ramah dan banyaknya jenis koleksi yang disuguhkan dan diatur sesuai urutan masa yang paling tua hingga masa kini, hal itu cukup menjadikan museum sebagai tempat atau sarana pembelajaran sejarah di kota Tuban.

Faktor pendukung yang pertama adalah pameran, museum selalu melakukan pameran guna mengenalkan koleksinya kepada masyarakat luas bahwa museum memiliki beragam koleksi yang bagus dan museum juga dapat menunjukkan kualitasnya

Faktor Pendukung yang ke dua adalah diskusi bersama, adanya program diskusi ini di dalam museum membuat museum juga lebih mudah menjalankan proses pemanduan karena memang walaupun beberapa tidak dari kalangan sejarah setidaknya dengan adanya agenda diskusi bersama setiap hari dapat membantu mereka agar tidak salah mengerti dan menjelaskan kepada para pengunjung yang memang banyak dari kalangan pelajar.

Faktor penghambatnya didapat dari lingkungan museum yang memang kurang begitu mendukung dari mulai barisan tukang becak yang menghalangi pintu masuk yang membuat pihak museum kewalahan menangani hal tersebut. Upaya yang dilakukan Museum Kambang Putih sebagai sarana pembelajaran yang layak dapat dilihat dengan adanya perubahan bertahap dari segi bangunan dan koleksi yang terbilang lebih modern dari sebelumnya serta tidak adanya pemungutan biaya masuk ke museum diharapkan dapat mempermudah semua pengunjung untuk datang dan menikmati koleksi dan melakukan proses pembelajaran di museum.

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan maka saran ini ditujukan kepada pihak museum dan peneliti lainnya.

1. Bagi pihak museum

Setelah mengetahui permasalahan yang dihadapi, semoga kedepannya museum dapat menjadi tempat dan sarana pembelajaran yang lebih maju dan kekompakan bagi para petugas menjadi nilai tambahan untuk kenyamanan yang diberikan untuk pengunjung dan kemajuan museum.

 

2. Bagi peneliti yang lain

Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Desmita.  2014. Psikologi  Perkembangan  Peserta  Didik.  Bandung:  PT Remaja Rosdakarya. Dimyati & Mudjiono. 2013. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta:  Rineka Cipta. Hariyono. 1995. Mempelajari Sejarah Secara Efektif. Jakarta: Pustaka Jaya. Miles,  B. M. & Huberman, M. 1992. Analisis  Data  Kualitatif Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: Uip Moleong, L. J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sanjaya,W.2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prananda Media Group Slameto. 1988. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta :Pt Renika Cipta Zahund, M. 2006. Perencanaan Kota Secara Terpadu Teori Perancangan Kota Dan Penerapanya. Yogyakarta: Kainsius.