SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) UNTUK MEMPERKUAT NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

Khoirunnis Salamah, Ari Sapto

Abstrak


PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) BERBASIS BABAD DIPONEGORO UNTUK MEMPERKUAT NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

Khoirunnis Salamah¹, Ari Sapto² Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang 65145

E-mail: khoirunnissalamah@gmail.com

 

ABSTRAK:

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berupa lembar kerja peserta didik (LKPD) yang berbasis Babad Diponegoro sebagai sumber sejarah yang dimana bahan ajar ini bertujuan untuk menambah pengetahuan serta memperkuat nilai karakter peserta didik kelas X Jasa Boga 2 di SMKN 1 Kudus dalam pembelajaran sejarah. LKPD ini diujicobakan kepada ahli, praktisi, dan peserta didik. Hasil uji coba kelayakan isi, bahasa, dan tampilan LKPD secara kesuluruhan menunjukkan bahwa LKPD  layak digunakan dalam pembelajaran sejarah.

 

Kata Kunci : pengembangan LKPD, Babad Diponegoro, Nilai Karakter, Kelas X Jasa Boga 2, SMKN 1 Kudus

ABSTRACT:

This research aims to produce student worksheet based of historical source called Babad Diponegoro to strengthen character value the student of tenth grade culinary 2 at Vocational High School 1 Kudus in history learning. Such student worksheet was tried out to experts, practitioners, and students. The results of the test to the feasibility of content, language, and the performance show that the student worksheet generally is feasible enough to be used in History learning.

 

Keywords: development of student worksheet, Babad Diponegoro, Character Value, Tenth Grade of Culinary 2, State Vocational High School of 1 Kudus

 

PENDAHULUAN

Sejarah merupakan salah satu wahana untuk mencerdaskan bangsa dalam arti luas. Dengan sifatnya yang unik, sejarah berpijak pada fakta masa lampau yang dianalisis untuk memahami masa kini dan diproyeksikan untuk merencanakan masa depan. Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran tentang masa lampau, sehingga perlu  untuk diperhatikan bagaimana seorang guru memandang masa lampau tersebut dan bagaimana materi tentang masa lampau tersebut (Widja, 1989:20).

Lembar Kerja Peserta Didik adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya (Depdiknas, 2004:18). Babad merupakan nama yang digunakan di buku cerita sejarah atau kronik dalam tradisi penulisan sejarah suku bangsa. Biasanya penulis babad merupakan pujangga-pujangga keraton (Ensiklopedia Nasional Indonesia, 1989:2). Dalam babad cenderung banyak menceritakan peran orang-orang besar atau tokoh yang terkenal, yang memiliki peranan penting dalam masanya. Dan biasanya isi babad dituangkan dalam bentuk tembang Macapat. Namun berdasarkan observasi di lapangan sumber sejarah berupa Babad sangat jarang digunakan dalam materi ajar Sejarah.

Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dilakukan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan lembar kerja peserta didik berbasis Babad Diponegoro dengan materi utama Pangeran Diponegoro yang terkenal dengan perjuangannya pada saat Perang Diponegoro (1825 – 1830). Dalam penggunaannya, LKPD memiliki setidaknya empat fungsi (Prastowo,  2015:205-206) antara lain :

(a) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lenih mengaktifkan peserta didik,

(b) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan,

(c) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih,

(d) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.

Penelitian terdahulu yang menjadi acuan peneliti yaitu Skripsi yang disusun oleh Benedikta Ango (2013) jurusan Pendidikan Teknik Informatika, fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta yang berjudul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Berdasarkan Standar Isi Untuk SMA Kelas X Semester Gasal”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan lembar kerja peserta didik teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan standar isi untuk SMA kelas X semester 1 dan tanggapan guru TIK terhadap lembar kerja peserta didik. Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian tersebut yaitu mengenai mata pelajaran yang menjadi objek penelitian yang dimana LKPD milik Benedikta Ango digunakan untuk mata pelajaran TIK sedangkan peneliti akan menghasilkan LKPD yang akan digunakan dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia. Selain itu, adapun perbedaan jenis sekolah yang digunakan sebagai objek penelitian. Penelitian terdahulu memilih sekolah SMA sedangkan peneliti memilih sekolah SMK sebagai objek penelitian.

Adapun tujuan dari penelitian dan pengembangan ini, diantaranya : Menghasilkan LKPD dengan menggunakan Babad Diponegoro untuk

(1) meningkatkan pengetahuan peserta didik kelas X Jasa Boga 2 SMK N 1 Kudus mengenai peristiwa sejarah “Perang Diponegoro (1825-1830)” yaitu materi yang diperuntukkan bagi kelas 10 pada mata pelajaran Sejarah Indonesia.

(2) mengetahui efektivitas bahan ajar LKPD berbasis Babad Dipoengoro dalam memperkuat nilai karakter dalam pembelajaran Sejarah kelas X Jasa Boga 2 SMK N 1 Kudus.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan menurut Borg & Gall (dalam Setyosari, 2010:194) yang merupakan suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. penelitian pengembangan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu model pengembangan berbasis industri, yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan, dievaluasi, disempurnakan untuk memenuhi kriteria keefektifan, kualitas, dan standar tertentu (Setyosari, 2010:195).

Adapun 10 tahapan dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan, antara lain (Rachman, 2015:342) :

(1) Studi pendahuluan dan pengumpulan data (Research and information collecting),

(2) Perencanaan (Planning),

(3) Pengembangan draf produk (Develop preliminary form of product),

(4) Uji  coba lapangan awal (Preliminary field testing),

(5) Merevisi hasil uji coba (Main product revision),

(6) Uji coba lapangan (Main field testing),

(7) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (Operasional product revision).

(8) Uji Pelaksanaan lapangan (Operasional field testing),

(9) Penyempurnaan produk akhir (Final product revision).

(10) Diseminasi dan implementasi (Dissemination and implementation). Namun pada penelitian ini, peneliti membatasi penggunaan tahapan pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan pada poin nomor 1 sampai dengan 6 dan nomor 10. Hal tersebut karena peneliti menyadari adanya keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki oleh peneliti, maka dari itu belum dimungkinkannya penggunaan semua bagian dalam strategi Borg and Gall seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Berdasarkan peraturan Depdiknas (2004) dalam Prastowo (2014:212) yang memuat penjelasan mengenai langkah-langkah penyusunan LKPD, adapun langkah-langkah penyusunan LKPD sebagai berikut :

(a) Melakukan Analisa Kurikulum,.

(b) Menyusun Peta Kebutuhan LKPD,

(c) Menentukan Judul-Judul LKPD,

(d) Penulisan LKPD, untuk menulis LKPD, menurut Prastowo (2014:276) tahapan-tahapan yang dilakukan yaitu antara lain :

(1) Merumuskan kompetensi dasar,

(2) Menentukan alat penilaian, menentukan alat penelitian yang didasarkan pada pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, maka penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensinya, dan penilaian yang sesuai adalah menggunakan pendekatan. Penilaian yang sesuai adalah menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced Assesment.

(3) Menyusun Materi.

Sumber data uji coba dalam penelitian pengembangan dilakukan pada 3 responden yaitu ahli (Ibu Lutfiah Ayundasari, S.Pd., M.Pd sebagai ahli bahan ajar dan Bapak Ronal Ridho’i, S.Hum., MA sebagai ahli materi yang merupakan dosen Sejarah FIS Universitas Negeri Malang), praktisi (Ibu Tri Anna Kusumadewi, S.Pd selaku guru Sejarah di SMKN 1 Kudus), serta peserta didik (Kelas X Jasa Boga 2).

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua instrumen, yaitu instrumen tahap praperkembangan dan tahap pelaksanaan. Instrumen yang digunakan pada tahap praperkembangan berupa pedoman wawancara dengan guru sejarah. Instrumen yang digunakan pada tahap pelaksanaan yang terdiri dari angket uji kelayakan dari segi materi dan bahan ajar, angket tanggapan guru sejarah serta angket tanggaapn peserta didik.

Teknik analisis data dalam penelitian pengembangan ini adalah teknik analisis kualitatif dan analisis data kuantitatif.

(1) Teknik Analisis Data Kualitatif, teknik analisis data menggunakan kualitatif yaitu dilakukan sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan ketika sudah selesai di lapangan.

(2) Teknik Analisis Data Kuantitatif, analisis data kuantitatif yaitu analisis data dengan mengadakan perhitungan-perhitungan yang relevan dengan masalah yang dianalisis. Analisis kuantitif digunakan untuk menganalisis data yang terkumpul dengan angket, maka akan digunakan analisis kuantitatif. Data dan angket dianalisis untuk mendapatkan gambaran tentang bahan ajar. Validitas angket ahli, validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau keahlian instrumen. Data yang dihasilkan dari sebuah instrumen yang valid maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan sesungguhnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika data yang dihasilkan oleh instrumen yang digunakan tersebut juga valid.

Dalam pengembangan Bahan Ajar LKPD berbasis Babad Diponegoro maka validitas dimaksudkan untuk menguji kelayakan bahan ajar yang dihasilkan dalam kompetensi dasar (KD), apabila bahan ajar tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan ajar yang layak atau tidak, sehingga dapat diketahui tingkat kebenaran dan ketepatan penggunaan bahan ajar tersebut. Jawaban dari angket validasi menggunakan skala Likert. Menurut Riduwan (2010: 12) “skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial.

Alternatif jawaban dalam angket ini ditetapkan skor yang diberikan untuk masing-masing pilihan dengan menggunakan modifikasi skala likert atau alternatif netral dihilangkan dengan maksud agar responden memberikan jawaban secara mantap.  Data yang digunakan, ditransformasikan lebih dahulu dengan bobot skor yang telah ditetapkan menjadi data kuantitatif (skor 1-4).

Kategori penilaian Sangat Baik (SB) dengan rentang skor X > (Mᵢ + 1,5 SDᵢ), kategori penilaian Baik (B) dengan rentang skor Mᵢ < X < (Mᵢ + 1,5 SDᵢ), kategori Kurang Baik (B) dengan rentang skor Mᵢ - 1,5 (SDᵢ) < X < Mᵢ, dan kategori Tidak Baik (TB) dengan rentang skor X > (Mᵢ - 1,5 SDᵢ)

Keterangan :

Mᵢ =  mean

SDᵢ =  standar deviasi

Mᵢ =  ½ (skor tertinggi + skor terendah)

SDᵢ =  ½ x ⅓ (skor tertinggi - skor terendah)

(Arikunto, 2013: 10) Skor penilaian pendapat terhadap bahan ajar menggunakan rumus diatas. Penggunaan rumus diatas dapat lebih mudah mempermudah pemberian criteria bahwa LKPD yang telah dihasilkan dapat digunakan untuk proses pembelajaran.

 

HASIL

Deskripsi Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Pengembangan LKPD ini berawal dari adanya potensi peserta didik sebagai generasi yang produktif, efektif, disiplin, serta tanggung jawab sehingga mereka mampu menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Tujuan pengembangan LKPD sebagai bahan ajar untuk melatih kemandirian peserta didik di dalam belajar. Media LKPD yang dibuat ini sangat fleksibel dalam penggunaannya, baik di kelas maupun di rumah dapat membantu peserta didik untuk lebih gemar membaca dan melatih pemahaman dalam mempelajari mengenai LKPD ini. Dari segi penilaian bahan ajar yang harus diperhatikan mengenai

(1) aspek kontruksi seperti ketepatan penggunaan bahasa dan kalimat, memperhatikan kemampuan peserta didik, memiliki manfaat, tujuan dan identitas.

(2) aspek teknis seperti ketepatan penggunaan tulisan gambar dan ilustrasi, ukuran lembar kerja peserta didik dan kemenarikan tata letak.

 

Hasil Uji Coba Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Validasi lembar kerja peserta didik dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi secara sistematis isntrumen dan produk media yang dihasilkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

(1) Validasi oleh ahli bahan ajar tentang aspek fungsi dan manfaat bahan ajar, aspek karakteristik tampilan lembar kerja peserta didik sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sejarah. Ahli bahan ajar yang menjadi validator dalam penelitian ini yaitu 1 dosen. Data validasi ahli bahan ajar diperoleh dengan cara memberikan lembar kerja peserta didik  beserta instrumen penilaian. Ahli bahan ajar memberikan penilaian, saran dan komentar terhadap bahan ajar dengan cara mengisi angket yang telah disediakan. Secara rinci dari 21 butir penilaian untuk bahan ajar yang dinilai oleh 1 ahli bahan ajar (dosen).

Data yang diperoleh dari penilaian bahan ajar yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 15 sehingga perolehan persentase sebesar 71,4 %, kategori baik dengan frekuensi 6 sehingga perolehan persentase 28,6 %, kategori kurang baik dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa validasi lembar kerja peserta didik oleh ahli bahan ajar secara kesuluruhan baik.

(2) Validasi ahli materi, menilai tentang materi yang telah disusun di dalam lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan. Ahli materi yang menjadi validator dalam penelitian ini yaitu 1 dosen.

Data validasi ahli materi diperoleh dengan cara memberikan lembar kerja peserta didik  beserta instrument penilaian. Ahli materi memberikan penilaian, saran dan komentar terhadap bahan ajar dengan cara mengisi angket yang telah disediakan. Secara rinci dari 21 butir penilaian untuk materi yang dinilai oleh 1 ahli materi (dosen). Data yang diperoleh dari penilaian oleh ahli materi yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 16 sehingga perolehan persentase sebesar 76,2 %, kategori baik dengan frekuensi 5 sehingga perolehan persentase sebesar 23,8 %, kategori kurang baik dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa validasi lembar kerja peserta didik oleh ahli materi secara kesuluruhan baik.

Setelah lembar kerja peserta didik ini dinyatakan valid dari segi materi dan bahan ajar, serta layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. Maka tahap selanjutnya adalah penilaian tentang tanggapan guru Sejarah terhadap lembar kerja peserta didik. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen angket. Sebelum memberikan angket kepada guru Sejarah, bahan ajar lembar kerja peserta didik dinilai oleh ahli materi (1 dosen) dan ahli bahan ajar (1 dosen).

Hasil deskripsi data diperoleh skor tertinggi yaitu 82 dan skor terendah yaitu 79. Berikut ini perhitungan kategori penilaian hasil tanggapan guru Sejarah terhadap lembar kerja peserta didik.

Mᵢ  =  ½ (skor tertinggi + skor terendah)

=  ½ (82+79)

=  80,5

SDᵢ = ½ x ⅓ (skor tertinggi – skor terendah)

= ⅙ (82 – 79)

=  0,5

a. Sangat baik = X> (Mᵢ + 1,5 SDᵢ)

= X> (80,5 + 1,5 (0,5))

= X> 81,25

b. Baik= Mᵢ < X< (Mᵢ+1,5 SDᵢ)

= 80,5 < X < 81,25

c. Kurang Baik =  Mᵢ - 1,5 (SDᵢ) <X<Mᵢ

= 80,5 - 1,5 (0,5) < X< Mᵢ

=  79,75 <X<81,25

d. Tidak baik = X> Mᵢ - 1,5 SDᵢ)

= X> (80,5 – 1,5 (0,5)

= X> 79,75

Data penilaian oleh guru sejarah diperoleh dengan cara memberikan lembar kerja peserta didik  beserta instrumen penilaian. Guru sejarah memberikan penilaian, saran dan komentar terhadap bahan ajar dengan cara mengisi angket yang telah disediakan, secara rinci terdiri dari 25 butir penilaian. Data yang diperoleh dari penilaian oleh guru sejarah yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 6 sehingga perolehan persentase sebesar 24 %, kategori baik dengan frekuensi 19 sehingga perolehan persentase sebesar 76 %, kategori kurang baik dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa validasi lembar kerja peserta didik oleh ahli materi secara kesuluruhan baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan guru sejarah terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.

Setelah lembar kerja peserta didik ini dinyatakan valid dari segi materi dan bahan ajar, serta layak digunakan sebagai bahan ajar dalam proses pembelajaran. Maka tahap selanjutnya disamping penilaian tentang tanggapan guru Sejarah terhadap lembar kerja peserta didik yaitu tanggapan peserta didik kelas X Jasa Boga 2. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen angket. Sebelum memberikan angket kepada guru Sejarah, bahan ajar lembar kerja peserta didik dinilai oleh ahli materi (1 dosen) dan ahli bahan ajar (1 dosen). Adapun metode uji coba pemakaian produk bahan ajar yaitu dengan uji coba pemakaian kelompok besar dan kelompok kecil dan melibatkan responden peserta didik kelas X Jasa Boga 1 (6 peserta didik) sebagai kelompok kecil dan X Jasa Boga 2 (30 peserta didik) sebagai kelompok besar. Kedua proses uji coba ini ditujukan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dan menguji kelayakan produk bahan ajar ini untuk pembelajaran sejarah. Secara rinci ada 10 butir penilaian.

Data yang diperoleh dari penilaian kelompok kecil (6 peserta didik) dengan frekuensi keseluruhan total 60 frekuensi yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 4 sehingga perolehan persentase sebesar 6,7 %, kategori baik dengan frekuensi 51 sehingga perolehan persentase sebesar 85 %, kategori kurang baik dengan frekuensi 5 sehingga perolehan persentase sebesar 8,3 % dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa penilaian kelompok kecil secara kesuluruhan baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan guru sejarah terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.

Data yang diperoleh dari penilaian kelompok besar (30 peserta didik) dengan frekuensi keseluruhan total 300 frekuensi yaitu kategori sangat baik dengan frekuensi 131 sehingga perolehan persentase sebesar 43,7 %, kategori baik dengan frekuensi 162 sehingga perolehan persentase sebesar 54 %, kategori kurang baik dengan frekuensi 7 sehingga perolehan persentase sebesar 2,3 % dan tidak baik dengan frekuensi 0 sehingga perolehan persentase sebesar 0 %. Sehingga data menunjukkan bahwa penilaian kelompok kecil secara kesuluruhan baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan guru sejarah terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.

 

Revisi Produk

Revisi dilakukan oleh peneliti untuk memperbaiki lembar kerja peserta didik sesuai dengan masukan saat pelaksanaan validasi.

Saran dan komentar dari ahli bahan ajar yaitu sebagai berikut :

(1) Tujuan pembelajaran belum dicantumkan,

(2) Cermati penggunaan kata hubung di awal kalimat,

(3) Beberapa referensi belum tercantum.

(4) Cermati penggunaan rujukan. Revisi yang telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan saran dari ahli bahan ajar yaitu sebagai berikut:

(1) Menambahkan tujuan pembelajaran dalam lembar kerja peserta didik,

(2) Memperbaiki kesalahan tulis,

(3) Menambahkan daftar referensi yang belum tercantum,

(4) Memperhatikan penggunaan rujukan.

Saran dan komentar dari ahli materi yaitu sebagai berikut:

(1) Foto atau ilustrasi mengenai Pangeran Diponegoro dalam lembar kerja peserta didik belum tercantum

(2) Latihan soal dalam lembar kerja peserta didik belum tercantum. Revisi yang telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan saran dari ahli bahan ajar yaitu sebagai berikut:

(1) Menambahkan foto atau ilustrasi terkait Pangeran Diponegoro dalam lembar kerja peserta didik,

(2) Menambahkan latihan soal dalam lembar kerja peserta didik.

Setelah dilakukan revsisi dari pernyataan ahli bahan ajar dan ahli materi dapat disimpulkan bahwa lembar kerja peserta didik hasil pengembangan telah baik digunakan untuk proses pembelajaran sejarah.

 

PEMBAHASAN

Lembar kerja peserta didik merupakan bahan ajar yang bertujuan membantu para peserta didik untuk bisa belajar mandiri dan kreatif. Dalam mengahsilkan bahan ajar lembar kerja peserta didik ada beberapa langkah yang harus dilakukan peneliti, agar bahan ajar lembar kerja peserta didik layak digunakan dalam proses pembelajaran peserta didik. Untuk mengetahui kelayakan bahan ajar lembar kerja peserta didik. Untuk mengetahui kelayakan bahan ajar lembar kerja peserta didik tersebut pertama harus divalidasi. Setelah bahan ajar lembar kerja peserta didik divalidasi, lembar kerja peserta didik diberikan kepada guru Sejarah untuk dinilai dengan mengisi angket yang telah disediakan beserta lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan.

1. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Dalam pengembangan lembar kerja peserta didik yang harus diperhatikan tahap demi tahapan karena dengan begitu akan menghasilkan lembar kerja peserta didik yang berkualitas dan dapat digunakan untuk proses pembelajaran. Ada pun tahap – tahap pengembangan lembar kerja peserta didik yaitu, analisis kebutuhan, penyusunan draf, validasi, revisi dan produk.

Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli bahan ajar secara kesuluruhan lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan dikategorikan sangat baik dengan persetanse 71,4 % dengan frekuensi 15. Hasil ini dikarenakan pada aspek penilaian secara kontruksi dan teknis sudah memenuhi dalam pengembangan, dilihat dari segi penggunaan bahasa dan kalimat, tujuan, materi yang diuraikan dan kemenarikan lembar kerja peserta didik itu sendiri. Hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli bahan ajar kategori baik dengan persentase 28,6 % dengan frekuensi 6. Hasil ini dikarenakan dari aspek kontruksi dan teknis, terutama pada permasalahan ilustrasi dan gambar yaitu keserasian perbandingan antara huruf dan gambar serta kombinasi antara gambar dan tulisan. Hasil penilaian kurang baik dan tidak baik tidak ditemukan karena persentasenya masing-masing 0 % dengan frekuensi 0.

Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli materi secara kesuluruhan lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan dikategorikan sangat baik dengan persetanse 76,2 % dengan frekuensi 16. Hasil ini dikarenakan dilihat dari aspek kualitas materi yang diuraikan di dalam lembar kerja peserta didik. Aspek kualitas yang dikategorikan sangat baik ini dapat dilihat dari point kelengkapan, kejelasan materi dan pemahaman peserta didik. Lembar kerja peserta didik ini diharapkan dapat digunakan dalam proses pembelajaran, dan dapat membantu peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan. Hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli materi kategori baik dengan persentase 23,8% dengan frekuensi 5. Hasil penilaian kurang baik dan tidak baik tidak ditemukan karena persentasenya masing-masing 0 % dengan frekuensi 0.

Dengan adanya penilaian yang telah dilakukan oleh ahli bahan ajar dan ahli materi, maka hasil yang diperoleh menyatakan bahwa lembar kerja peserta didik yang telah dihasilkan dapat digunakan dengan revisi yang sesuai. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Borg dan Gall (2002) dalam penelitian pengembangan, draf produk awal yang dikembangkan harus divalidasi atau direvisi berdasarkan masukan para ahli sebelum digunakan.

2. Tanggapan Guru Sejarah Terhadap Lembar Kerja Peserta Didik

Hasil penilaian tanggapan guru menyatakan bahwa, lembar kerja peserta didik yang dihasilkan dalam kategori kecenderungan baik dengan persentase 76 %, dengan persentase sangat baik 24 %, kurang baik 0 %, dan tidak baik 0 %. Berdasarkan hasil penilaian tersebut guru mengatakan bahwa kejelasan tulisan dan gambar dalam bahan ajar LKPD sudah sesuai, sehingga lembar kerja peserta didik yang dihasilkan dapat digunakan oleh guru untuk proses pembelajaran. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Hendro Darmodjo dan Jenny R.E Kaligis (1992: 40), lembar kerja peserta didik merupakan sarana pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam meningkatkan keterlibatan atau aktivitas peserta didik dalam proses belajar-mengajar.

3. Tanggapan Peserta Didik Terhadap Lembar Kerja Peserta Didik

Hasil tanggapan peserta didik terhadap lembar kerja peserta didik diuji menjadi dua tahapan yaitu uji coba pemakaian kelompok kecil (6 peserta didik) dan kelompok besar (30 peserta didik). Hasil uji coba pemakaian lembar kerja peserta didik dalam kelompok kecil diperoleh  hasil tanggapan responden kelompok kecil termasuk dalam kategori baik yaitu dengan frekuensi sebanyak 51 dengan presentase 85 %, sangat baik dengan frekuensi 4 persentase 7 %, kurang baik dengan frekuensi 5 dengan persentase 8 % dan tidak ada yang tidak baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan responden kelompok kecil terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.

Hasil uji coba pemakaian lembar kerja peserta didik dalam kelompok besar diperoleh  hasil tanggapan responden kelompok besar termasuk dalam kategori baik yaitu dengan frekuensi sebanyak 162  dengan presentase 54 %, sangat baik dengan frekuensi 131 persentase 44 %, kurang baik dengan frekuensi 7 dengan persentase 2 % dan tidak ada yang tidak baik. Sehingga data menunjukkan bahwa tanggapan responden kelompok kecil terhadap lembar kerja peserta didik secara kesuluruhan baik.

Lembar kerja peserta didik dapat digunakan sebagai tambahan sumber belajar bagi peserta didik baik di sekolah maupun di rumah. Dengan adanya LKPD ini diharapkan peserta didik dapat belajar mandiri. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh (Depdiknas, 2004:18) jika lembar kerja peserta didik merupakan lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Produk yang telah dikembangkan oleh peneliti pada penelitian dan pengembangan ini berupa produk bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) yang berbasis Babad Diponegoro sebagai sumber sejarah historiografi tradisional ditujukan bagi peserta didik kelas X Jasa Boga 2 di SMK Negeri 1 Kudus. Pengadaan pengembangan produk bahan ajar ini pada didasari pada potensi dan masalah dalam pembelajaran sejarah yang ditemukan pada saat peneliti melakukan pengumpulan data awal dengan metode observasi di kelas X Jasa Boga 2 di SMK Negeri 1 Kudus dan wawancara dengan guru pengampu matapelajaran Sejarah kelas X Jasa Boga 2.

Keberadaan dari produk bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis Babad Diponegoro dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif produk bahan ajar dalam menunjang pembelajaran sejarah. Perspektif peserta didik yang menganggap bahwa sejarah itu membosankan dan hanya sebatas materi hafalan nama tokoh atau peristiwa, tokoh dan tanggal peristiwa sejarah serta didukung dengan metode pembelajaran di kelas yang cenderung menggunakan metode konvensional membuat tingkat pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran sejarah menjadi rendah.  Penggunaan bahan ajar lembar kerja peserta didik berbasis Babad Diponegoro juga diharapkan dapat meningkatkan karakter peserta didik karena di dalam Babad Diponegoro tersebut terdapat tembang macapat yang sarat akan nilai karakter dan budi pekerti luhur, selain itu juga peserta didik dapat meningkatkan kecintaan serta melestarikan kesenian lokal yaitu dengan menyanyikan tembang macapat. Adapun dari segi materi produk bahan ini mencangkup materi pada kompetensi dasar 3.6 yaitu menganalisis dampak politik, budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa dan Jepang dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini. Penggunaaan babad dalam penyusunan lembar kerja peserta didik (LKPD) ini juga akan memudahkan peserta didik untuk memahami isi babad sebagai sumber sejarah yang peranannya sangat penting dalam mengungkap peristiwa di masa lampau.

Pada tahap lebih lanjut untuk menguji validitas dan kelayakan bahan ajar peneliti telah melakukan beberapa prosedur penelitian yang mengacu pada model penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall (dalam Setyosari, 2010:194) yang telah dimodifikasi dengan beberapa pertimbangan sesuai kebutuhan penelitian.Prosedur tersebut termasuk adanya validasi materi dan validasi bahan ajar oleh ahli materi dan bahan ajar. Pada tahap validasi ini selain memberikan penilaian terhadap produk yang dikembangkan juga terdapat beberapa catatan yang diberikan untuk dijadikan sebagai acuan dalam perbaikan produk. Pengembangan lembar kerja peserta didik, menurut para ahli bahan ajar dan ahli materi dikategorikan sangat baik atau lembar kerja peserta didik yang dihasilkan dapat digunakan sesuai dengan saran.

Meskipun dengan adanya kriteria produk yang dapat meningkatkan pemahaman peserta didik menjadi tinggi dan adanya kriteria produk bahan ajar yang mengatakan valid, bukan berarti perbaikan dan penyempurnaan tidak dilakukan. Berturut-turut ketika setelah selesai validasi materi, validasi bahan ajar, dan uji kelompok kecil, peneliti telah melakukan revisi untuk memperbaiki produk yang dikembangkannya dengan mengacu pada beberapa catatan dari ahli materi, ahli media dan responden uji coba.

 

Saran

a. Saran Pemanfaatan

Berikut saran pemakaian berdasarkan hasil pengembangan produk bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan kompetensi dasar 3.6 yaitu menganalisis dampak politik, budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa dan Jepang dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.

 

1. Bagi peserta didik

Pengembangan produk bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis Babad Diponegoro diharapkan dapat menunjang pembelajaran sejarah agar dapat meningkatkan nilai karakter karena di dalam Babad Diponegoro tersebut terdapat tembang macapat yang sarat akan nilai karakter dan budi pekerti luhur, selain itu juga peserta didik dapat meningkatkan kecintaan serta melestarikan kesenian lokal yaitu dengan menyanyikan tembang macapat.

 

2. Bagi pendidik

Lembar kerja peserta Didik (LKPD) sebagai bahan ajar diharapkan dapat memfasilitasi sebagai perantara antara pendidik dan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga tujuan pembelajaran sejarah dapat dioptimalkan. Pemanfaatan sumber sejarah  historiografi tradisional seperti serat dan babad dalam pembelajaran sejarah perlu ditingkatkan agar dapat menambah wawasan peserta didik bahwa pelajaran sejarah bukan perihal menghafal semata, namun dapat melestarikan budaya lokal.

 

b. Diseminasi

Produk bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis Babad Diponegoro telah melalui prosedur penelitian dan pengembangan dengan perolehan hasil yang valid dan layak sehingga patut dipertimbangkan keberadaan dan pengadaannya dalam menunjang pembelajaran sejarah. Selain itu dengan adanya pre tes dan pos tes pada uji coba produk dan uji coba pemakaian di sekolah menunjukan adanya peningkatan nilai antara sebelum dan sesudah penggunaan produk, itu menunjukan bahwa produk bahan ajar ini efektif digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga produk bahan ajar ini perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik khususnya pada pembelajaran sejarah. Langkah diseminasi yang dapat dilakukan yakni dapat mengenalkan dan menyebarluaskan produk lembar kerja peserta didik (LKPD) dalam lingkup pendidikan yang lebih luas. Oleh karena produk lembar kerja peserta didik (LKPD) berbentuk cetak akan dilakukan diseminasi dengan memproduksi bahan ajar ini secara massal.

 

c. Pengembangan Produk Lebih Lanjut

Produk bahan ajar lembar kerja peserta didik (LKPD) ini dikategorikan sebagai produk bahan ajar yang valid dan layak sehingga tidak menutup kemungkinan adanya perbaikan dan penyempurnaan. Hal ini dikarenakan minimnya bahan ajar atau media pembelajaran dalam matapelajaran sejarah. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan produk bahan ajar yaitu dengan mengetahui kebutuhan peserta didik yang beragam. Sehingga untuk memproduksi bahan ajar perlu mempertimbangkan keadaan seluruh peserta didik. Proses analisis potensi dan masalah juga perlu mempertimbangkan prespektif dari berbagai sudut pandang praktisi pendidikan agar penggunaan produk yang dikembangkan menjadi lebih optimal dan dapat digunakan secara umum.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta: Rineka Cipta Borg, W.R dan Gall, M.D. 2002. Educational Research: An Introduction. New York: Longman

Depdiknas. 2004. Pengertian Lembar Kerja Siswa. [Online]. Tersedia http://lenterakecil.com [01 November 2018]. Ensiklopedia Nasional Indonesia. 1989. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka

Riduwan. 2010. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta Prastowo, Andi. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Tematik: Tinjauan Teoretis  dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

 

Prastowo, Andi. 2015. Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta: Ar Ruzz Media. Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana. Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,  Kualitatif, dan R & D). Bandung: Alfabeta.