SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2007

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perubahan Ekologi Hutan di Kawasan Lindung Pada Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pujon 1999-2003

Niken Panca Kuswanendra

Abstrak


Pengaruh buruk manusia pada alam seringkali kita jumpai dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah kerusakan hutan yang ditimbulkan dari kegiatan budi daya pertanian. Kegiatan ini makin marak dengan adanya krisis moneter pada tahun 1998 dan diperkuat oleh makin sulitnya untuk memperoleh lahan garapan. Dari fenomena tersebut penelitian ini dilakukan, bahwa telah terjadi perubahan ekologi di wilayah BKPH Pujon yang semula kawasan ini didominasi hutan beralih ke ekologi pertanian yang berdampak pada rusaknya hutan. Untuk mempermudah fokus penelitian, penulis membuat rumusan masalah, pertama, bagaimana proses pengalihan lahan dari hutan ke pertanian. Kedua, bagaimana perkembangan fisik hutan di BKPH Pujon dan ketiga, bagaimana dampak pembukaan hutan terhadap ekonomi masyarakat dan perhutani sebagai pengelola hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya pengalih fungsian lahan yang hutan menjadi areal pertanian serta mengetahui perkembangan fisik hutan akibat pengalih fungsian lahan hutan menjadi areal pertanian dan mengetahui dampaknya dibidang ekonomi bagi masyarakat dan Perhutani sebagai pengelola hutan.
Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan ekologi dan metode sejarah lisan. Alam merupakan objek kajian dalam penelitian ini, hal ini tidak terlepas dari alam merupakan bagian dari kehidupan manusia, sedangkan manusia dan seluruh aspek kehidupannya merupakan objek kajian sejarah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembukaan lahan hutan untuk dijadikan areal pertanian sebenarnya telah dimulai semenjak tahun 1970-an. Akan tetapi kegiatan itu masih dapat berjalan beriringan dengan ekosistem yang ada. Budidaya sayur-mayur ternyata mampu dikembangkan secara baik di wilayah BKPH Pujon, RPH Punten. Dalam kurun waktu dua dekade (1970-1990), sayur-mayur akhirnya menjadi komoditi yang mampu diandalkan untuk menopang kehidupan petani. Namun justru dengan makin berkembangnya budidaya sayur-mayur keberadaan hutan kian tergeser. Memasuki tahun 1999 kegiatan perambahan hutan untuk pertanian mulai marak bahkan sampai memakai lahan miring sebagai arealnya. Pada perkembangannya terjadi kerusakan lahan hutan di hampir sebagian besar wilayah BKPH Pujon yang ditandai dengan munculnya lahan kritis, hutan yang makin gundul dan hilangnya sumber air di wilayah Kota Batu.
Secara ekonomis, kegiatan perambahan hutan untuk pertanian membawa dampak kerugian bagi Perum Perhutani sebagai pengelola hutan. Penghasilan Perhutani praktis menurun, terlebih dengan adanya larangan untuk melakukan

penebangan hutan di RPH Punten. Namun, bagi masyarakat, pertanian merupakan kegiatan yang lebih menjanjikan dan menghasilkan dibandingkan menanam tanaman keras dan buah. Agar tidak terjadi kerusakan hutan yang lebih parah maka masyarakat, Perhutani dan Pemda sepakat untuk memulai babak baru pengelolaan hutan secara bersama dan dikenal dengan istilah PHBM. Melalui PHBM, masyarakat diperkenalkan kembali kepada alamnya agar tidak hanya mampu memperoleh tapi juga mau menjaga hutan demi kelangsungan hidup seluruh ekosistem.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, masih nampak bahwa hubungan antara rakyat dan Negara untuk mengelola hutan kurang berjalan harmonis. Untuk itu disarankan kepada instansi terkait untuk mengembangkan potensi alam yang ada secara lebih bijak tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi tapi juga keseimbangan ekologi dan kesejahteraan rakyat melalui wisata ternak sapi, kebun raya dan pengembangan eco village.