SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kerusuhan Etnis Tionghoa di Kota Malang Tahun 1947

Nurul Fitria

Abstrak


Kota Malang adalah salah satu kota yang terdiri dari banyak etnis diawal kemerdekaan Indonesia. Ketika kota Malang jatuh ke tangan Belanda pada tang-gal 31 Juli 1947 di salah satu sudut kota Malang tepatnya di daerah sepanjang Kotalama, Kebalen dan Mergosono terjadi persinggungan antara etnis Tionghoa dan penduduk kota Malang yang berujung pada penculikan dan pembunuhan terhadap penduduk Tionghoa yang tinggal di sepanjang daerah tersebut.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1)Bagaimana Kota Ma-lang pada masa pemerintahan Kolonial Belanda sampai masa Kemerdekaan (2)Bagaimana keadaan kota Malang setelah  Proklamasi Kemerdekaan sampai agresi militer Belanda I(3)Bagaimana bentuk sentimen penduduk kota Malang terhadap etnis Tionghoa pada masa agresi militer Belanda I serta dampaknya. Tu-juan dari penelitian ini adalah (1) Menjelaskan keadaan kota Malang dari masa Kolonial Belanda sampai masa Kemerdekaan (2)Menjelaskan keadaan kota Malang pasca Proklamasi Kemerdekaan hingga jatuhnya kota Malang tahun 1947 (3)Menjelaskan bentuk sentimen penduduk kota Malang terhadap etnis Tionghoa dan bagaimana dampak dari peristiwa tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian historis. Tahapan-tahapan penelitiannya adalah : Heuristik, Kritik, Interpetasi dan Histo-riografi. Sumber didapatkan di Perpustakaan Nasional Jakarta, Arsip Nasional Ja-karta, Perpustakaan Medayu Rungkut Surabaya. Sumber-sumber tersebut kemu-dian diuji melalui kritik eksternal dan internal kemudian diinterpetasikan. Hasil interpetasi selanjutnya dituangkan dalam historiografi berupa skripsi.
Hasil penelitian ini adalah (1)Pemerintah Belanda menerapkan kebijakan diskriminasi kepada penduduk kota Malang berdasarkan suku bangsa yang ber-akibat perbedaan hak politik, ekonomi dan pembangunan. Kota Malang dibangun untuk kepentingan Kolonial, sementara pada masa pemerintahan militer Jepang semua aset dan penduduk kota Malang difokuskan untuk membantu Jepang dalam perang melawan sekutu 2)Pasca kemerdekaan keadaan kota Malang cukup meresahkan.Mendaratnya pasukan sekutu di Surabaya ditanggapi oleh penduduk kota Malang dengan melakukan pemboikotan kepada penduduk Belanda dan Ero-pa.Pada saat itu tersebar berita diantara pengungsi dari Surabaya masuk mata-mata Belanda ke kota Malang.Belanda terus berupaya untuk menguasai Indonesia, ditengah kebutuhan biaya militer yang mendesak akhirnya Belanda memutuskan untuk menguasai Jawa dan Sumatra.Pada tanggal 31 Juli 1947 Malang jatuh ke tangan Belanda (3)Ditengah upaya mempertahankan kota Malang, pada tanggal 30-31 Juli 1947 di sepanjang Kotalama, Kebalen dan Mergosono terjadi pencu-likan penduduk Tionghoa, pabrik-pabrik dan rumah-rumah milik warga Tionghoa dijarah dan dibakar, kurang lebih 25 orang Tionghoa dibantai. Sebab peristiwa ini karena terdengar kabar bahwa diantara penduduk Tionghoa ada yang menjadi mata-mata Belanda, selain sentimen antar etnis yang sudah terbentuk sejak lama.