SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perilaku Peziarah di Kompleks Makam Mendek Desa Kutogirang Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto

Rahmat Sholihuddin

Abstrak


Ziarah ke  tempat-tempat keramat seperti candi atau makam seorang tokoh
merupakan  tradisi  yang  dilakukan  sejak  lama  dan  terus  berlangsung  hingga
sekarang. Meski modernisasi tidak dapat dihindarkan dari setiap aspek kehidupan
masyarakat, tetapi nilai-nilai tradisional seperti berziarah ke makam keramat tidak
dapat  terhapuskan  begitu  saja.  Tradisi  ini  mengakar  kuat  pada  masyarakat,
terutama di pedesaan.
Makam Mbah Mendek merupakan salah satu makam keramat yang ada di
Desa Kutogirang. Tradisi ziarah ke makam Mbah Mendek  telah dilakukan  sejak
lama.  Para  pengunjung  yang  datang  berasal  dari  berbagai  daerah  dengan  latar
belakang  yang  berlainan,  sehingga  satu  sama  lain  berbeda  tujuan  dan
keyakinannya  dalam  berziarah.  Oleh  karena  itu,  penelitian  ini  bertujuan  untuk
mengetahui  riwayat  Mbah  Mendek  serta  bagaimana  proses  peziarahan  yang
dilakukan oleh  pengunjung  dan  pada  akhirnya  dapat  diketahui mengenai  bentuk
perilaku ziarah di Makam Mendek.
Penelitian  ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan di
kompleks  Makam  Mendek.  Wawancara  dilakukan  dengan  instrumen  berupa
pedoman wawancara  terhadap  juru  kunci,  sejumlah  peziarah,  tokoh masyarakat
dan anggota masyarakat lainnya yang dipilih berdasar teknik purposive, insidental
dan  snowball.  Selain  itu  juga  dilakukan  observasi  terhadap  kondisi  bangunan
kompleks makam,  proses  ziarah,  persiapan  dan  peralatannya  serta  perilaku  para
pengunjung selama berada di kompleks Makam Mendek. Analisis hasil penelitian
dilakukan  dengan menggunakan model  interaktif,  yaitu  reduksi  data,  penyajian
data dan penarikan kesimpulan serta verifikasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa versi riwayat tokoh
utama yang dimakamkan di kompleks makam Mendek. Kendati demikian, semua
warga  yang  berziarah  dan warga  setempat meyakini  bahwa  beliau  adalah  tokoh
yang  babat alas  desa setempat. Oleh karena  itu, sebagai bentuk penghormatan
masyarakat  terhadapnya, maka  tokoh  tersebut  lebih  dikenal  dengan  nama Mbah
Mendek.
Perilaku peziarah di kompleks makam Mendek ini dapat dilihat dalam tiga
periode yang berbeda, yaitu 1) periode 1950-an
 
1970-an; 2) periode 1970-an
 
1982; dan 3) periode 1982
 
2005. Berdasarkan periodosasi ini, kemudian ditarik
suatu pembahasan mengenai perilaku peziarah dalam  lintas periode. Pengunjung
dapat melakukan  ziarah  setiap  hari,  namun  hari  yang  utama  dan  sekaligus  hari
puncak adalah Kamis Kliwon malam Jum at Legi. Peziarah dipersyaratkan untuk
membawa  bunga,  minyak  goreng,  saren,  dan  atau  kemenyan  atau  dupa.
Sebelumnya, peziarah  seyogyanya mandi keramas  (mandi besar)  terlebih dahulu
agar  selalu  dalam  keadaan  suci. Oleh  karena  itu,  bagi wanita  yang  sedang  haid
atau  menstruasi  dilarang  untuk  memasuki  cungkup  makam.  Proses  ziarah 
dilakukan sesuai dengan  tradisi yang berlaku. Peziarah menyerahkan persyaratan
yang  dibawanya  kepada  juru  kunci.  Setelah  dipersilahkan  oleh  juru  kunci,
kemudian  peziarah  memasuki  cungkup  makam Mbah Mendek  dengan  mendek
(menundukkan  badan).  Ketika  keluar,  peziarah  tidak  diperkenankan
membelakangi makam. Di dalam cungkup, peziarah dipersilahkan untuk berdoa di
samping  pusara makam Mbah Mendek  sesuai  dengan  cara  dan  tujuan masing-
masing.
Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa Makam Mendek telah dikunjungi
peziarah  sejak  lama  dan  mengalami  pasang  surut  seiring  dengan  berjalannya
waktu. Pada tahun 1970-an, peziarah yang datang mencapai ribuan. Para peziarah
berasal  dari  berbagai  daerah  dengan  latar  belakang  yang  berlainan.  Perilaku
peziarah  di  kompleks Makam Mendek  juga  berbeda-beda.  Perilaku  peziarah  ini
dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: 1) peziarah menetap; 2) peziarah rutinan;
dan 3) peziarah bebas/tidak rutin. Selain itu juga mulai terjadi perubahan perilaku
peziarah.  Hal  ini  terutama  nampak  pada  pengunjung  yang  berusia  muda  (para
pemuda).  Karena  pemuda  lebih  mudah  menerima  modernisasi,  sehingga  lebih
rasional dalam menentukan perilakunya.
Berdasarkan  hasil  penelitian  ini  disarankan  hendaknya  riwayat  Mbah
Mendek  disosialisasikan  kepada  masyarakat.  Aparat  desa  hendaknya  mengatur
peziarah  yang  tinggal  dalam  tenggang  waktu  lama  di  kompleks  makam  agar
terjadi  saling  pengertian  dan  menghindari  hal-hal  yang  tidak  diinginkan.  Juru
kunci  dan  masyarakat  pendukung  makam  Mbah  Mendek  hendaknya  memberi
peringatan  kepada  para  pengunjung  untuk  lebih  tertib  dan  tenang  agar  tidak
mengurangi nilai kesakralan dalam berziarah.