SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Komodifikasi Upacara Adat Kebo-keboan Studi Kasus pada Masyarakat Using Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi

Dinna Eka Graha Lestari

Abstrak


 Upacara adat Kebo-keboan   merupakan salah satu upacara adat yang dimiliki
masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi. Upacara adat kebo-keboan   bertujuan
untuk mengusir wabah penyakit dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
diberi  keselamatan  dan  dijauhkan  dari  gangguan  dan  cobaan  yang  melanda  pada
masyarakat.  Pada  upacara  adat  kebo-keboan  diharapkan  hasil  panen  yang  akan
datang dapat meningkat  atau  lebih baik dari panen  sebelumnya.Upacara  adat kebo-
keboan  ini masih dilestarikan dan mempunyai pengaruh dan kedudukan yang sangat
penting dalam kehidupan masyarakat Using di Desa Alasmalang. 
  Penelitian  ini  bertujuan  (1)  menganalisis  terjadinya  proses  komodifikasi
upacara adat Kebo-keboan     di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten
Banyuwangi,  (2) menganalisis  konstruksi  komodifikasi  upacara  adat  Kebo-keboan  
menurut masyarakat Using  di Desa Alasmalang Kecamatan  Singojuruh  kabupaten
Banyuwangi,  sponsor  serta  Pemerintah  Daerah  Banyuwangi,  (3)  menganalisis 
 
adanya pergeseran makna dari  religius ke ekonomi pada upacara adat Kebo-keboan  
di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi.
  Adapun metode  yang  digunakan  adalah menggunakan  pendekatan  kualitatif
dengan  jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni; 
observasi, wawancara dan dokumentasi.  Jadi data yang digunakan berasal dari para
informan,  hasil  observasi  proses  upacara  adat  kebo-keboan,  dan  data  tertulis  yang
berupa dokumentasi desa. 
  Hasil  penelitian  ini  membawa  perolehan  kesimpulan  bahwa  upacara  adat
kebo-keboan      mempunyai  kedudukan  yang  penting  bagi  kehidupan  masyarakat
Using  Desa  Alasmalang.  Upacara  adat  kebo-keboan  di  Desa  Alasmalang  sudah
mengalami komodifikasi. Upacara adat kebo-keboan  dalam pelaksanaannya terdapat
tambahan  kesenian  tradisional Banyuwangi  yang  lainnya. Kesenian  tersebut  antara
lain; barong  ider bumi, kuntulan, damarulan/jinggoan,  tari  jejer gandrung, angklung
dan  reog.  Unsur-unsur  upacara  dalam  upacara  adat  kebo-keboan  adalah:  berdoa,
bersaji, makan bersama makanan yang telah disucikan dengan doa, pawai ider bumi.
Pelaksanaan  upacara  adat  kebo-keboan    terbagi  dalam  tiga  tahap  yaitu  tahap  pra
acara atau persiapan, acara inti, dan tahap akhir atau penutup.
  Upacara  adat  Kebo-keboan  rutin  dilaksanakan  setiap  tahun  sekali.  Selain
melibatkan masyarakat setempat misalnya sebagai panitia, upacara ini juga didukung
oleh  Pemerintah Daerah  Tingkat  II Banyuwangi  serta  para  sponsor. Upacara Adat
Kebo-keboan   membutuhkan anggaran dana besar sehingga memerlukan sumbangan
dari  berbagai  pihak. Dana  tersebut  diperoleh  dari  sumbangan  sukarela masyarakat
Alasmalang, dari Pemerintah Daerah Banyuwangi, dari para  sponsor, karcis masuk
dari penonton untuk melihat upacara ini serta dari sektor parkir. Upacara adat kebo-
keboan   mengalami komodifikasi yaitu dikemas sedemikian rupa agar layak jual dan
layak  kunjung.  Tujuan  dari  komodifikasi  itu  sendiri  yaitu  agar  banyak masyarakat
yang melihat upacara tersebut, selain itu diharapkan pengunjung tidak hanya berasal
dari Desa Alasmalang  tetapi  juga  dari  desa  atau  kecamatan  lain.  Semakin  banyak
massa  yang  melihat  semakin  banyak  pula  perusahaan  yang  ingin  menyeponsori,
maka kontribusi yang diperoleh juga akan bertambah. 
  Banyak  pihak  yang  merasa  diuntungkan  dengan  adanya  komodifikasi  ini
yaitu  masyarakat  Desa  Alasmalang  sendiri,  masyarakat  dari  luar  daerah,  para
sponsor  dan  Pemerintah  Daerah  Banyuwangi.  Selain  itu  juga  terdapat  agen  yang
berpengaruh  terhadap  proses  komodifikasi  upacara  adat  kebo-keboan  diantaranya
yaitu  Masyarakat  Using  Desa  Alasmalang,  para  sponsor  dan  Pemerintah  Daerah
Banyuwangi. Masyarakat Using Desa Alasmalang  khususnya Dusun Krajan  sangat
mendukung terlaksananya upacara adat kebo-keboan   ini, meskipun ada sekelompok
yang  tidak setuju. Masyarakat Using Alasmalang beranggapan bahwa upacara kebo-
keboan  ini  sebagai  salah  satu  identitas  daerah.  Aspek  yang  sangat  penting  dan
menunjang terlaksananya upacara adat kebo-keboan   yaitu adanya sponsor. Sponsor
upacara  adat  kebo-keboan  adalah Dji Sam Soe, Dealer Karunia Motor Rogojampi,
Teh  Botol  Sosro,  Petrokimia  Kayako  Gresik.  Perusahaan-perusahaan  tersebut
memberi  kontribusi  yang  besar  sehingga  sangat mendukung  terlaksananya  upacara
adat  ini. Sedang Pemerintah Daerah Banyuwangi selain diuntungkan dengan adanya
pariwisata budaya Pemerintah Daerah Banyuwangi  juga berfungsi sebagai pembina,
pelindung dan pengayom suatu kesenian tradisional atau kesenian adat. Kebudayaan 
 
atau kesenian adat  saat  ini  sangat membutuhkan dana dan bantuan pemerintah agar
keberadaannya tetap eksis di masyarakat.
  Upacara  adat  kebo-keboan  mempunyai  dampak  yang  luar  biasa  bagi
perkembangan dan pembangunan Dusun Krajan Desa Alasmalang, contohnya yaitu
pembangunan  gapura  masuk,  sumbangan  pembangunan  masjid,  sumbangan  anak
yatim  dan  perbaikan  jalan.  Upacara  adat  kebo-keboan  juga mengalami  pergeseran
yaitu  dari  semula  bermakna  religi  bergeser  ke  ekonomi.  Nilai  kesakralan  dalam
upacara  adat  kebo-keboan  semakin  berkurang,  dalam  hal  ini  makna  religinya
terdesak oleh faktor ekonomi. Jadi Masyarakat Using Desa Alasmalang, Sponsor dan
Pemerintah  Daerah  inilah  yang  berperan  dalam  proses  komodifikasi  yang
selanjutnya menyebabkan pergeseran makna upacara adat kebo-keboan  yang semula
religi ke ekonomi.