SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perjuangan Muawiyyah Bin Abu Sufyan Dalam Usaha Menegakkan Daulah Bani Umayyah (Tahun 38 H – 61 H/657 M – 680 M)

Roi Nikmatuz Zuhro

Abstrak


Perjuangan Muawiyyah dalam mendirikan sebuah dinasti diwarnai dengan peristiwa-peristiwa yang tidak hanya menegangkan dalam suasana politis, tetapi juga menguras banyak darah dari kaum muslimin. Usaha yang dilakukan Muawiyyah untuk menegakkan kekuasaannya ini merupakan nuansa politik tingkat tinggi seperti halnya jaman sekarang. Untuk memperoleh dukungan dan massa, ia mampu melakukan propaganda terhadap lawan oposisinya yakni Ali Bin AbiThalib, baik itu melalui peperangan maupun diplomasi yang penuh tipu muslihat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimanakah lingkungan pertumbuhan dan perkembangan Muawiyyah? (2) Bagaimanakah kepemimpinan Muawiyyah sebagai gubernur Syiria? (3) Apa yang dilakukan Muawiyyah dalam usaha mencapai kekhalifahan? (4) Bagaimanakah kebijakan Muawiyyah selama memerintah Daulah Umayyah?
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan sejarah, yang mempunyai langkah-langkah; (1) Pemilihan topik; (2) Heuristik atau pengumpulan sumber-sumber data. Sumber data ada dua yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber-sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari koleksi pribadi dan pinjaman, baik itu dari kolega maupun perpustakaan Universitas negeri Malang serta perpustakaan Universitas Islam Negeri Malang; (3) Kritik yang mempunyai dua kategori yakni kritik ekstern dan intern; (4) interpretasi dan; (5) Historiografi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Lingkungan pertumbuhan dan perkembangan Muawiyyah, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang keras pendidikannya. Oleh karena itu membentuk kepribadian yang kuat pada diri Muawiyyah. Sebelum masuk Islam Muawiyyah dan keluarganya adalah termasuk orang yang paling keras menentang ajaran Islam dan paling akhir masuk Islam. Bahkan Abu Sufyan selaku ayah Muawiyyah baru masuk Islam ketika terjadi peristiwa pembebasan kota Makkah, namun setelah keIslaman mereka merupakan aset yang berharga dalam perkembangan Islam selanjutnya. (2) Kepemimpinan Muawiyyah sebagai gubernur Syiria, telah berhasil membawa negeri itu kepada kemakmuran dan mampu mengolah rakyat Syiria menjadi satu kekuatan besar yang mendukung karirnya sebagai penguasa. (3) Upaya yang dilakukan dalam usaha mencapai kekhalifahan meliputi (a) Perang siffin (b) Diplomasi Daumatul Janndal, yang merupakan tindak lanjut dari perang Siffin (c) Melakukan gerakan oposisi yang menekan terhadap kekhalifahan Hasan. (4) Kebijakan yang dilakukan Muawiyyah selama memerintah Daulah Umayyah meliputi (a) Kelahiran Daulah Umayyah dan Muawiyyah sebagai khalifah pertama, pada masa ini Muawiyyah dihadapkan pada beberapa peristiwa yang menimbulkan ketidakstabilan dalam wilayah kekuasaannya (b) Kebijakan Muawiyyah dalam bidang politik, baik itu politik dalam negeri maupun politik luar negeri (c) Kebijakan Muawiyyah dalam bidang sosial budaya, yang menimbulkan heterogenitas dalam negara baik itu dalam bentuk pembangunan fisik maupun pembangunan kultural (d) Kebijakan Muawiyyah dalam bidang ekonomi, yang dalam kurun waktu singkat mampu mengisi kas negara dengan pendapatan negara yang melimpah.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Muawiyyah untuk mencapai ambisinya sebagai khalifah telah mengalami berbagai peristiwa yang menimbulkan dua persepsi yaitu persepsi negatif dan positif. Persepsi negatif terkait dengan usahanya yang diwarnai hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti pada gerakannya dalam melawan pemerintahan Ali Bin Abi Thalib. Sedang sisi positifnya terlihat pada terbentuknya suatu negara yang bersatu di bawah pimpinannya, bahkan ia mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pada penelitian selanjutnya, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian-penelitian sejarah Islam klasik khususnya tentang Daulah Bani Umayyah. Dan bagi kaum sejarawan dapat mengkategorikan kepemimpinan Muawiyyah Bin Abu Sufyan ke dalam stereotipe tertentu.