SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Unsur-Unsur Tradisi Megalitik pada Teras Berundak Indrakila di Gunung Ringgit

M Sofwan Hadi

Abstrak


Teras Berundak Indrakila merupakan bangunan suci pada masa akhir Majapahit (abad XV-XVI M). Hal ini dapat dilihat dari struktur bangunannya yang berbentuk teras berundak, dibangun pada lereng gunung, serta menempatkan bangunan induk yang berbentuk piramid berteras di halaman paling belakang yang memiliki posisi paling dekat dengan puncak gunung. Pola bangunan tersebut mengingatkan kita pada bangunan tradisi Megalitik yang berkembang pada masa Prasejarah yang dilatarbelakangi oleh pemujaan terhadap roh nenek moyang. Hal ini sangat menyimpang dari pola umum pembangunan candi-candi yang dibangun pada masa sebelumnya yang berpedoman pada seni bangun India yang tertuang dalam kitab Silpasastra.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bangunan Teras Berundak Indrakila sebagai bangunan suci agama Hindu, yang meliputi tinjauan mengenai seni bangun Teras Berundak Indrakila, serta menerangkan tentang ungkapan kesejarahan dan latar belakang keagamannya. (2) unsur-unsur tradisi megalitik pada seni bangun Teras Berundak Indrakila sebagaimana terungkap dalam aspek tata letak, arsitektur, dan ikonografi, serta mengungkapkan latar belakang pemujaan roh nenek moyang Teras Berundak Indrakila. (3) latar belakang munculnya kembali tradisi megalitik pada Teras Berundak Indrakila.
Penelitian ini dilakukan di situs Teras Berundak Indrakila yang terletak di Desa Dayurejo Kecamatan Prigen kabupaten Pasuruan. Penelitian ini masuk dalam disiplin Arkeologi dengan memakai pendekatan kualitatif deskriptif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian Arkeologi dengan menggunakan analisis bangunan megalitik dan analisis arca megalitik. Sedangkan interpretasi data diperoleh dari klasifikasi jenis analisis yang kemudian diperkuat dengan konsep dan teori yang relevan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Teras Berundak Indrakila merupakan bangunan suciĀ  yang dibangun pada lereng Gunung Ringgit. Pola tata letak Teras Berundak memperlihatkan perubahan ke arah ktonis dengan pola pembangunan yang diskonsentris, yakni dengan menempatkan bagunan induk pada halaman paling belakang atau halaman yang paling dekat dengan puncak gunung. Unsur-unsur tradisi megalitik pada seni bangun Teras Berundak Indrakila nampak pada beberapa aspek, di antaranya adalah aspek tata letak yang terlihat pada pembangunan Teras Berundak Indrakila yang berada pada lereng gunung yang terjal serta berorientasi pada puncak gunung, yang secara keseluruhan gunung dianggap suci sebagai tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang. Aspek arsitektur terlihat pada halaman yang berteras dan menempatkan bangunan induk pada halaman paling belakang, yang paling dekat dengan puncak gunung, serta didapatinya bangunan induk yang berbentuk piramid berteras yang mempunyai kesamaan dengan bangunan teras berundak pada masa Prasejarah. Sedangkan pada aspek ikonografi terlihat pada arca-arca yang bercorak statis, yang memperlihatkan teknik pahatan yang kasar. Adapun aspek pemujaan roh nenek moyang di Teras Berundak Indrakila dibuktikan dengan diketemukannya komponen altar. Dan di puncak altar ini terdapat batu pipih yang berbentuk lengkung kurawal sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang ketika diadakan upacara keagamaan.
Munculnya kembali tradisi megalitik pada Teras Berundak Indrakila dilatar belakangi beberapa hal di antaranya adalah (1) Perwujudan local genius, (2) Kebudayaan megalitik sebagai basic culture, (3) Masalah-masalah penghinduan yang memberikan peluang bagi bangsa Indonesia untuk berperan aktif, (4) Pergolakan politik di Kerajaan Majapahit yang mengakibatkan banyak keluarga kerajaan yang megundurkan diri dari segala urusan kerajaan dengan mengasingkan diri ke tempat-tempat terpencil termasuk di lereng Gunung Ringgit, (5) Islamisasi yang mengakibatkan terdesaknya masyarakat atau kaum agamawan ke tempat-tempat terpencil seperti lereng-lereng Gunung.