SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Dinamika Status Sosial Petani Cengkeh di Desa Dongko, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek Tahun 1990-2005

Linda Z Rahayu

Abstrak


Penelitian tentang perubahan status sosial petani cengkeh di Desa Dongko Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek dilandasi oleh ketertarikan penulis terhadap akibat yang ditimbulkan dari perubahan sosial yang terjadi di Desa Dongko. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat tidak akan lepas dari perubahan. Perubahan-perubahan dalam suatu masyarakat itu dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma sosial, pola prilaku, organisasi, lapisan-lapisan dalam masyarakat maupun perubahan status sosial. Perubahan yang terjadi di Desa Dongko, membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakatnya, khususnya bagi petani cengkeh yang memiliki lahan luas. Mereka tidak hanya kehilangan sumber penghasilan yang selama ini mereka peroleh, tapi lebih krusial lagi, petani cengkeh yang berlahan luas tersebut kehilangan status sosial yang tinggi di masyarakat. Perbedaan status sosial yang dialami petani cengkeh berlahan luas, membawa dampak pada kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, (1) Bagaimana kehidupan petani cengkeh di Desa Dongko pada saat cengkeh mengalami masa kejayaan?; (2)  Bagaimana kehidupan petani cengkeh di Desa Dongko setelah cengkeh tidak ada?; dan (3) Bagaimana dinamika sosial petani cengkeh berlahan luas tahun 1990-2005?.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendiskripsikan kehidupan petani cengkeh di Desa Dongko pada saat cengkeh mengalami masa kejayaan, (2) Mendiskripsikan kehidupan petani cengkeh di Desa Dongko setelah cengkeh tidak ada; dan (3) Mendiskripsikan dinamika sosial petani cengkeh berlahan luas tahun 1990-2005.
Untuk mencapai tujuan di atas digunakan metode penelitian kualitatif. Untuk memperoleh data, yaitu dengan cara studi lapangan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dari informan dan sumber data sekunder dari data tertulis, gambar dan hasil foto penelitian. Untuk menganalisis dan mengolah data menggunakan analisis kualitatif.
Hasil temuan dari penelitian ini membawa perolehan kesimpulan bahwa sebelum tahun 1995, masyarakat Desa Dongko merupakan masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Kehidupan perekonomian petani di Desa Dongko pada saat itu sangat tinggi karena ditunjang oleh hasil tanaman cengkeh dengan jumlah melimpah dan harga cengkeh yang sangat tinggi. Keadaan tersebut memunculkan tiga pelapisan masyarakat, yaitu: (a) tingkatan paling atas diduduki oleh petani cengkeh berlahan luas, (b) tingkatan kedua diduduki oleh petani yang mempunyai tanah yang tidak terlalu luas menduduki tingkatan menengah dan (c) tingkatan ketiga atau yang paling bawah diduduki oleh petani kecil, petani penggarap, buruh tani. Setelah terjadi penebangan cengkeh secara besar-besaran oleh petani, kehidupan masyarakat Desa Dongko juga mengalami perubahan. Perubahan yang mencolok adalah tanaman yang diproduksi petani bukan lagi cengkeh melainkan palawija yang secara ekonomi kurang menguntungkan petani. Dengan demikian struktur masyarakat di Desa Dongko mengalami pergeseran. Setelah cengkeh tidak ada, sistem pelapisan masyarakat Desa Dongko bila dilihat dari dimensi pendapatan atau kekayaan adalah:            (a) tingkatan paling atas diduduki oleh warga yang kaya, terdiri dari para pekerja profesional seperti dokter dan pengacara, pedagang kaya, pemilik toko-toko besar, pegawai negeri; (b) tingkatan kedua diduduki oleh orang-orang yang berprofesi sebagai guru, pedagang, TKW, (c) tingkatan paling bawah diduduki oleh petani, termasuk juga petani berlahan luas.
Perubahan status sosial yang dialami oleh petani cengkeh berlahan luas mempunyai dampak, baik positif maupun negatif. Dampak positifnya yaitu terjadi kemajuan pola pikir yang dialami petani berupa munculnya kesadaran bahwa hidup tidak sesaat. Mereka mulai menyadari pentingnya memikirkan masa depan yang lebih panjang, yaitu dengan mulai membiasakan menabung. Walaupun penghasilan yang diperoleh sekarang jauh lebih sedikit dibandingkan waktu cengkeh masih ada, namun hasil yang sedikit itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, seperti untuk menyekolahkan anak dan untuk membangun rumah. Mereka mulai meninggalkan kebiasaan berfoya-foya, mengikuti pesta tayuban dan suka bermabuk-mabukan seperti pada saat status sosial mereka masih tinggi. Sedangkan dampak negatifnya adalah ketidak percayaan diri yang dialami oleh sebagian petani yang dulunya mampunyai status tinggi di masyarakat.
Akhirnya dalam penelitian ini perlu disampaikan beberapa saran yaitu,   (1) Terjadinya perubahan sosial hendaknya disertai dengan arahan dari instansi terkait agar masyarakat jangan sampai melupakan begitu saja aktivitas budayanya, meskipun banyak pengaruh dan budaya baru yang datang dan berkembang;        (2) Penurunan status yang dialami oleh petani berlahan luas di Desa Dongko, hendaknya tidak menjadi keputus asaan. Kemudian dijadikan pelajaran bahwa nasib manusia tidaklah selalu berada diatas, ada kalanya manusia berada dibawah. Dan hendaknya kekayaan dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan selalu memikirkan masa depan yang lebih panjang, tidak hanya untuk kepuasan sementara;             (3) Mobilitas sosial vertikal menurun atau social sinking yang terjadi di Desa Dongko hendaknya dijadikan pedoman untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang sama di daerah lain. Apabila terjadi hal yang serupa, hendaknya bisa menyesuaikan diri dan tidak larut dalam kemerosotan; (4) Negara ataupun penguasa dalam menentukan kebijakan, hendaknya tidak merugikan rakyat. Walaupun kebijakan itu dilakukan untuk pembangunan, tapi hendaknya memikirkan lebih mendalam dampak-dampak yang akan terjadi; dan (5) Untuk menindak lanjuti karya tulis ini, diperlukan penelitian yang lebih lanjut mengenai stratifikasi sosial yang dilihat dari dimensi-dimensi lain selain dimensi ekonomi atau kekayaan.