SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

ROMO MANGUNWIJAYA: PROFIL ROHANIWAN KATOLIK DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN 1980-1999

Andreanus Abadi

Abstrak


ABSTRAK

 

Andreanus Abadi[1]

Drs. Slamet Sujud P.J., M.Hum[2]

E-mail: andreanusabadi@hotmail.com

Abstract: Romo Mangun as a multidimensional figure has deservedly become a model for the Indonesian people today. Romo Mangun not only has a role as a clergyman, but also as an architect, a writer. With such a diverse role, Romo Mangun can be said to be productive in the work. This can be interesting because the main source of Romo Mangun's inspiration in the work is the poor. This can be understood when tracing the life of Romo Mangun who lived with the marginalized. The residents on the edge of Code River, the refugees of the Kedung Ombo Dam building, and the students at Kanisius Elementary School were inspired by the work of Romo Mangun. Romo Mangun has devoted his devotion and ministry to the marginalized.

Keywords: Romo Mangunwijaya, poverty, Kali Code, Kedung Ombo.

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau yang lebih akrab disapa Romo Mangun adalah seorang intelektual dan figur publik yang pernah aktif berkontribusi untuk wacana kemanusiaan di Indonesia. Romo Mangun lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa dengan nama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Romo Mangun sebagai rohaniwan Katolik memberi sumbangsih pemikiran yang sangat multidimensional untuk Indonesia. Romo Mangun tidak hanya membahas Indonesia dalam dimensi religi, namun juga membahas pendidikan, kebudayaan, politik, dan IPTEK. Pemikiran Romo Mangun yang multidimensional terhadap Indonesia berlandaskan pada semangat kemanusiaan dan pengamalan Bhinneka Tunggal Ika.

Romo Mangun menanamkan kemanusiaan dengan menghargai perbedaan setiap potensi manusia yang unik. Cara berpikir seperti ini dimulai dari individu manusia sebagai subjek sebelum meningkat hingga lingkungan keluarga, masyarakat hingga negara-bangsa (nation state). Romo Mangun bukannya tidak mendapat kesulitan dalam proses pewujudan pemikiran kemanusiaannya. Romo Mangun sendiri menegaskan bahwa dalam praktik, ide maupun bentuk sering tidak mudah begitu saja ditemukan (Mangunwijaya, 2009: 118). Salah satu contoh tantangan Romo Mangun dalam mewujudkan idenya datang dari penguasa pada masa itu. Romo Mangun berseberangan dengan Orde Baru yang dalam praktik kekuasaannya meminggirkan nilai-nilai kemanusiaan oleh karena nafsu serta ambisi pelanggengan kekuasaan. Rezim Soeharto menunjukkan kecenderungan penyeragaman dibanding menerima sekian perbedaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti membaginya ke dalam tiga rumusan masalah: 1) Bagaimana latar kehidupan Romo Mangun? 2) Bagaimana multidimensi pemikiran Romo Mangun? 3) Bagaimana perjalanan hidup Romo Mangun bersama orang-orang miskin? Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui latar kehidupan Romo Mangun, 2) Untuk mengetahui multidimensi pemikiran Romo Mangun, 3) Untuk mengetahui perjalanan hidup Romo Mangun bersama orang-orang miskin.

METODE

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode sejarah. Menurut Kuntowijoyo (2013:69) metode sejarah terdiri dari lima tahap yaitu: 1) pemilihan topik, 2) pengumpulan sumber, 3) verifikasi, 4) interpretasi, dan 5) historiografi. Metode sejarah dipilih oleh penulis karena metode sejarah merupakan metode yang paling cocok untuk digunakan dalam penelitian sejarah.

Pemilihan topik berhubungan dengan kedekatan intelektual (akademis) dan kedekatan emosional yang merupakan dua faktor utama dalam proses pemilihan topik. Kedekatan intelektual penulis adalah disiplin ilmu sejarah. Kedekatan emosional penulis adalah karena penulis mengaggumi sosok Romo Mangun sebagai seorang yang pemikirannya multidimensional dan aktif mengentaskan kemiskinan dalam pelayanannya. Heuristik atau pengumpulan sumber. Setelah topik ditentukan adalah pengumpulan sumber. Sumber-sumber yang digunakan utamanya adalah tulisan karya Romo Mangun. Tulisan karya Romo Mangun tersebar dalam bentuk buku, kumpulan tulisan, maupun yang terdapat dijurnal. Verifikasi atau kritik sejarah. Sumber-sumber yang didapat tidak diolah begitu saja, tetapi terlebih dahulu dilakukan kritik terhadap sumber yang didapat tersebut. Sebelum digunakan sebagai sumber sejarah, tulisan-tulisan tersebut diperbandingkan satu sama lain. Artikel di Koran dan Majalah serta buku-buku yang menulis mengenai Romo Mangun digunakan sebagai pembanding. Sumber-sumber tersebut diseleksi untuk mendapatkan data yang sesuai dengan topik yang telah dipilih. Interpretasi atau penafsiran penulis terhadap data yang diperoleh. Dalam tahap interpretasi, penulis menafsirkan kehidupan Romo Mangun sesuai dengan jiwa zaman pada masa itu. Interpretasi dimaksudkan agar diperoleh makna yang terkandung dari sumber-sumber tersebut. Historiografi atau tahap penulisan sejarah. Historiografi dilakukan sebagai tahap akhir dari tahapan penelitian sejarah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Latar Kehidupan Romo Mangun

Konsep kemanusiaan Romo Mangun tidak muncul begitu saja melainkan terbentuk berdasarkan pengalaman. Perjalanan hidup telah membentuk konsep berpikir Romo Mangun yang mengedepankan kemanusiaan. Pada masa revolusi Indonesia (1945-1949) Mangun muda bergabung dalam Tentara Pelajar. Mangun muda sebagai Tentara Pelajar yang bergerilya bersentuhan langsung dengan rakyat Indonesia dari daerah satu ke daerah lainnya. Mangun muda menyaksikan dan terlibat secara langsung dengan derita rakyat Indonesia pada masa revolusi. Interaksinya dengan rakyat pada masa revolusi, menyebabkan Romo Mangun berempati pada rakyat jelata khususnya rakyat miskin. Romo Mangun tidak pernah merasa diri sebagai pahlawan walaupun pernah terlibat dalam revolusi Indonesia sebagai Tentara Pelajar. Romo Mangun menganggap jasa rakyat Indonesia adalah yang terbesar pada masa revolusi.

Mangun muda tumbuh pada masa politik etis. Gagasan politik etis berasal dari tulisan berjudul "Een Eereschuld" (Debt of Honour), yang berarti Hutang Budi oleh C. Th van Deventer yang dimuat dalam de Gids pada 1899. Konsep politik etis ialah kemakmuran Belanda dapat tercapai oleh sebab kerja dan jasa pribumi di Hindia Belanda. Bangsa Belanda sebagai bangsa yang maju dan bermoral haruslah membayar hutang itu dengan menyelenggarakan trilogi atau trias: irigasi, emigrasi, dan edukasi (Daliman, 2012:64). Harapan dari terselenggaranya trilogi tersebut ialah penghidupan pribumi di Hindia Belanda menjadi lebih baik.

Mangun muda menempuh pendidikan dasar di Magelang pada tahun 1943. Status ayahnya yang merupakan priyayi rendah menyebabkan Mangun muda dapat bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Tidak semua anak pada masa penjajahan Belanda yang dapat diterima sebagai siswa HIS yang bergengsi tersebut. Dapat bersekolah di lembaga pendidikan milik pemerintah Belanda merupakan suatu yang istimewa bagi anak-anak pribumi pada masa itu. Mangun muda merasa bangga dapat mengenyam pendidikan Belanda yang berjiwa kebarat-baratan, begitu pula dengan Mangun muda. Pemuda-pemuda dari Sekolah Barat menganggap dirinya lebih mulia dan lebih tinggi dari temannya (yang tidak bersekolah barat) (Agung & Suparman, 2012:26). Mereka terdidik dengan nafas barat, sehingga cara berpikir serta dalam kehidupan sehari-harinya kebarat-baratan.

HIS sempat ditutup ketika awal datangnya Jepang. Merujuk Romo Mangun (1999:A1) HIS tempatnya belajar ditutup tepat setengah tahun menjelang Mangun muda lulus. Romo Mangun tidak bersekolah lagi setelah HIS di tutup. Berdasarkan kesaksian Utomo (1999:19), Mangun muda ikut kinrohosi (wajib kerja) mencangkul lapangan Balapan Yogyakarta pada tahun 1943. Kinrohosi merupakan kerja bakti untuk kepentingan umum. Merujuk Oktorino (2013:57) Kinrohosi meliputi pekerjaan dari membersihkan selokan, memperbaiki jembatan, dan jalan, hingga membantu pembangunan lapangan terbang. Mangun muda kehilangan masa-masa indah di Hindia Belanda yang penuh warna-warni ala Belanda.

Jepang menyerah pada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki di jatuhi bom atom. Proklamasi kemerdekaan pada pada 17 Agustus 1945 menandai awal dari masa Revolusi Indonesia. Pada masa revolusi tahun 1945 hingga 1949, Mangun muda turut serta dalam medan pertempuran sebagai Tentara Pelajar. Usia Mangun ketika itu baru sekitar 16-17 tahun. Tentu saja arti umur sangat relatif terhadap sesuatu zaman tertentu (Mangunwijaya, 2003:4). Hal ini dikuatkan Anton Lucas (1986:161) yang berpendapat bahwa seorang pemuda adalah orang yang berjiwa revolusioner. Ukuran pemuda tidak tergantung pada umur, pendidikan, dan sudah kawin atau belum.

Heroisme menjadi nafas bagi kebanyakan pemuda Indonesia untuk bergabung sebagai Tentara Pelajar. Banyak siswa yang tergabung dalam resimen pelajar dan turut berjuang membela kedaulatan negara dari ancaman Belanda. Hal tersebut juga berlaku pada Mangun muda yang telah berketetapan hati untuk mendaftar sebagai Tentara Pelajar. Menurut Mangun muda, turut serta dalam mempertahankan kemerdekaan merupakan suatu yang membanggakan. Hal yang biasa dan wajar, bahkan menjadi tuntutan zamannya bahwa seorang pemuda merenda masa depannya dengan masuk dunia militer (Margana, 2001:15). Namun tidak sedikit dari pemuda-pemuda tersebut yang dalam hatinya terselip ketakutan. Mangun muda juga tidak luput dari perasaan takut ketika harus turun ke medan perang. Setiap pemuda ingin menjadi pahlawan tanah air, walaupun itu disertai doa gencar (tersimpan rapat-rapat di dalam hati tentu saja) agar jangan gugur dulu sebelum kemenangan tercapai (Mangunwijaya, 1994:246). Perasaan takut yang menghantui pemuda dalam menghadapi perang ini merupakan sesuatu yang lumrah pada episode Revolusi Indonesia 1945-1949.

Mangun muda juga menemui pengalaman yang menyebabkan kegelisahan dalam hatinya. Mangun muda menjadi saksi penyelewengan yang dilakukan oleh komandannya. Komandannya tersebut mencegat dan merampas tembakau milik petani dengan dalih ada bahaya. Tembakau hasil rampasan tersebut kemudian dijual ke pihak Belanda oleh komandannya untuk bekal hidup enak sendiri (Mangunwijaya, 2003:35). Berbagai pengalaman bersinggungan langsung dengan rakyat miskin pada masa perang Revolusi inilah yang menyebabkan keprihatinan dalam diri Mangun muda hingga perang Revolusi telah usai.

Pada tahun 1947, Mangun muda lulus dari Sekolah Teknik Mataram setingkat SMP di Yogyakarta. Mangun muda sempat terdaftar sebagai siswa SMA di Magelang, namun karena Belanda melakukan agresi militer untuk kedua kalinya maka SMA yang menjadi tempat Mangun muda bersekolah tersebut ditutup. Seusai agresi militer Belanda yang kedua Mangun muda berpindah ke Kota Malang untuk melanjutkan pendidikan SMA. Pada saat itu SMAK St. Albertus di Malang memulai kembali kegiatan belajar mengajar. Mangun muda mendapat informasi bahwa SMAK St. Albertus melalui Romo Djajus tengah mencari siswa (informasi berdasarkan wawancara dengan Bapak Ferry Timur Indratno. Lihat lampiran). Demi melanjutkan pendidikan yang terputus karena pecahnya perang, maka Mangun muda pindah ke Malang dan bersekolah di SMAK St. Albertus atau yang kini lebih dikenal sebagai SMAK Dempo. Mangun muda yang saat itu masih merupakan Tentara Pelajar memberanikan diri datang ke Kota Malang. Kota Malang ketika itu berada dalam wilayah kekuasaan Belanda dan sekutu.

Seusai lulus Sekolah Menengah Atas, Mangun muda memilih untuk mendaftarkan diri di seminari. Mangun muda menanggapi panggilan sebagai gembala umat Katolik yaitu Pastur, yang dalam bahasa Jawa disebut "Romo". Pilihan ini aneh, karena banyak diantara pemuda yang berstatus sebagai Tentara Pelajar pada saat itu memilih untuk melanjutkan karir di bidang militer. Ada beberapa pendapat mengenai alasan Mangun muda lebih memilih menanggapi panggilan sebagai imam dari pada meniti karir di dunia militer atau profesi lainnya. Berdasarkan kesaksian Nyonya Hendrawasita (adik perempuan Romo Mangun) dalam Sapta Margana (2001:14) keputusan Mangun muda untuk menjadi imam merupakan harapan besar dari orang tua, khususnya Ibu. Pilihan Mangun muda untuk menanggapi panggilan tersebut dapat dimengerti apa bila menelusuri cerita masa kanak-kanaknya. Pernah pada waktu masa kecilnya, Romo Mangun mendapat alat permainan untuk "misa-misa"-an. Adik-adiknya disuruh menjadi umat. Peran imam hanya untuk kakak sulung yaitu Mangun, meskipun ia memiliki banyak adik laki-laki (Margana, 1999:15). Kesaksian ini membuktikan bahwa sejak kecil Mangun telah memiliki keinginan untuk menjadi Pastur dan orang tuanya mendukung keinginan anak sulungnya tersebut.

Keinginan Mangun muda untuk menjadi Pastur juga didorong oleh karena ia ingin mengabdi pada rakyat, terutama rakyat miskin. Kepedulian Mangun muda pada rakyat miskin dapat ditelusuri berdasarkan pengalamannya sebagai Tentara Pelajar semasa Revolusi Indonesia. Mangun muda melihat bahwa rakyat Indonesia khususnya yang hidup di pedesaan merupakan yang paling menderita pada masa Revolusi. Rakyat desa memberi makan serta tempat tinggal pada para tentara yang bergerilya. Apabila dalam satu desa ada yang ketahuan oleh Belanda menyembunyikan gerilyawan, maka nyawa seluruh desa tersebut terancam. Banyak keluarga yang menjadi melarat karena rumahnya dijadikan dapur umum atau markas dengan akibat dibakar bom Belanda (Mangunwijaya, 2003:34). Pengalaman hidup sebagai Tentara Pelajar pada masa perang Revolusi diperkuat saat mendengar pidato komandannya yang bernama Isman di Malang.

Pak Isman dalam pidatonya di Malang menegaskan bahwa perjuangan rakyat pada masa revolusi lebih berat dari pada siapapun bahkan bila dibandingkan tentara pelajar seperti Mangun muda. Ketika pidato tersebut disuarakan, Mangun muda merupakan siswa kelas 2 di SMAK St. Albertus dan ia mendengarkan dengan penuh perhatian (Budianta, 2011:11). Mangun muda terpukau pada pidato Mayor Isman. Bagi Mangun muda, pidato tersebut luar biasa. Malam hari setelah Pidato tersebut Mangun muda tidak bisa tidur (informasi berdasarkan wawancara Majalah Matra, April 1988 hlm 13-23, dengan Romo Mangun yang dimuat kembali dalam buku Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat 1999:35). Pidato tersebut makin menguatkan pendirian Mangun muda untuk menanggapi panggilan sebagai Pastur.

Pada tahun 1951, Mangun muda masuk Seminari Menengah di Jalan Code, Yogyakarta untuk memulai pendidikan sebagai calon imam. Hanya setahun berada di Seminari Menengah di Jalan Code, Mangun muda kemudian pindah ke Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan Magelang pada tahun 1952. Tahun 1953 Mangun muda menyelesaikan studi di Seminari Menengah Mertoyudan. Jenjang pendidikan yang selanjutnya harus di tempuh adalah Seminari Tinggi Pada tahun yang sama Mangun muda masuk di Seminari Tinggi serta belajar di Institut Filsafat dan Teologi (IFT) Sancti Pauli, Yogyakarta. Semenjak berada di Seminari Tinggi Santo Paulus inilah Mangun muda resmi berstatus sebagai "Frater". Frater adalah sebutan untuk pria yang sedang menempuh pendidikan menjadi calon Pastur atau imam dalam agama Katolik. Mangun muda menetapkan hati untuk bergabung sebagai Frater dalam kelompok Diosesan atau Projo.

Mangun muda menjadi frater (calon imam) Diosesan untuk nantinya menjadi Imam Diosesan. Imam Diosesan adalah seorang pria yang dengan tahbisannya mengikatkan diri atau diinkardinasikan pada suatu dioses (dioikesis: wilayah administrasi, bahasa Yunani) atau Keuskupan tertentu (Tjahjadi, 2014:7). Imam Diosesan secara khusus berkarya untuk keuskupan masing-masing. Wilayah tugas seorang Imam Diosesan dibatasi dalam lingkup suatu keuskupan. Imam Diosesan mengabdi pada Uskup setempat dan menjadi milik keuskupan tersebut. Diosesan berasal dari kata Yunani yang berarti ‘menata rumah', artinya tugas utama Imam Diosesan adalah mengelola keuskupan tempatnya ditugaskan (Kusumawanta, 2008:34). Karakteristik inilah yang membedakan Imam Diosesan dengan imam yang bergabung dalam suatu Ordo, Tarekat, atau Kongregasi lain yang kehadiran serta karyanya pada suatu keuskupan diatur melalui semacam kontrak dan diharuskan hidup taat kepada pembesar masing-masing. . Pada 8 September 1959 Mangun muda ditahbiskan menjadi Pastur di Gereja St. Yusup Bintaran. Motto Imamat Romo Mangun adalah "Agar Nama Tuhan dan Gerejanya dimuliakan" (Puramdani, 1999:30) Romo Mangun merupakan sapaan akrabnya setelah resmi sebagai Pastur.

Romo Mangun ditugaskan di keuskupan Semarang setelah ditahbiskan. Romo Mangun dalam kedudukannya sebagai Pastur muda sangat taat kepada atasannya di Vikaris Apostolik Semarang yaitu Mgr. A. Soegijapranata. Setelah ditahbiskan sebagai Pastur, Romo Mangun diberi mandat oleh Mgr. A. Soegijapranata untuk belajar arsitektur. Perintah untuk belajar arsitektur ini karena Vikariat Semarang sedang dalam masa membangun banyak gereja, dan memerlukan seorang imam yang juga ahli dalam pembangunan (Djajasiswaja, 1999:26). Jerman dipilih sebagai tempat untuk Romo Mangun belajar arsitektur. Tugas ini langsung disanggupi oleh Romo Mangun dengan sepenuh hati. Menerima tugas untuk belajar arsitektur di Jerman dengan sepenuh hati merupakan bukti ketaatan Romo Mangun pada atasanya yaitu Mgr. Soegijapranata.

Romo Mangun ketika berada di Jerman belajar di Sekolah Teknik Tinggi Rhein, Westfalen, Aachen. Namun sebelum berangkat ke Jerman beliau terlebih dahulu menempuh studi teknik arsitektur di ITB sebagai persiapan awal untuk studi di Aachen Jerman. Romo Mangun belajar arsitektur di ITB hanya setahun dari 1959 sampai tahun 1960. Selanjutnya pada tahun 1960 Romo Mangun mulai belajar di Sekolah Teknik Tinggi Rhein, Westfalen, Aachen, Republik Federasi Jerman.

Romo Mangun memanfaatkan waktunya di Jerman untuk berkeliling Eropa. Romo Mangun banyak bepergian, dibantu oleh jaringan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, kebanyakan Muslim, tetapi dalam hal ini kesamaan kebangsaan mengatasi perbedaan agama (Steenbrink, 1999:37). Romo Mangun dapat mengunjungi banyak tempat di Eropa atas rekomendasi mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Pada saat studi di Jerman, Romo Mangun menemani Mgr. Soegijapranata ketika dirawat hingga meninggal dunia di Belanda. Romo Mangun merupakan salah satu orang yang berada di kamar ketika Mgr. Soegijapranata menghembuskan nafas terakhir.

Multidimensi Pemikiran Romo Mangun

Romo Mangun menyelesaikan studinya di Jerman pada tahun 1966 dengan menyandang predikat Cum Laude. Sepulang dari studi di Jerman, Romo Mangun ditugaskan di Paroki Santa Theresia, Desa Salam, Magelang. Hanya berselang setahun semenjak kepulangannya, Romo Mangun sudah harus mulai membangun gereja.

Konsili Vatikan dilaksanakan pada 1962-1965. Teologi pembebasan diperkenalkan oleh Gustavo Gutierrez pada tahun 1971. Kedua momen penting dalam sejarah Gereja Katolik tersebut terjadi hanya beberapa tahun setelah Romo Mangun ditahbiskan menjadi Pastur pada 1959. Konsili Vatikan II menekankan pada keterbukaan umat Katolik dalam permasalahan yang terjadi disekitarnya. Pernyatan-pernyataan dalam Konsili Vatikan II memang menegaskan perlunya penyingkapan batas-batas dari suatu proses modernisasi, perlunya suatu aggiornamento, suatu pembukaan diri terhadap dunia (Lowy, 2003: 52).

Romo Mangun terlibat dalam usaha menyelesaikan permasalahan masyarakat khususnya orang miskin yang di sekitarnya. Romo Mangun tidak hanya berkhotbah di mimbar Gereja, namun juga terjun secara langsung dalam usaha meningkatkan taraf hidup orang miskin. Teologi Pembebasan diperkenalkan oleh Gustavo Gutierrez pada tahun 1971. Guttierez memperkenalkan Teologi Pembebasan dalam bukunya yang berjudul Liberation Theology-Perspective. Guttierez mengajukan berbagai gagasan anti-kemapanan yang kemudian membawa pengaruh kuat yang tak terduga sebelumnya terhadap doktrin Gereja (Lowy, 2003: 54). Guttierez berpendapat bahwa Gereja Katolik seharusnyaberpihak pada kaum miskin. Menurut Romo Mangun (1997: 40) setiap orang normal apalagi yang beragama atau lebih sempurna lagi beriman, sadar atau tidak, betul atau keliru, ilmiah atau spontan, selalu berteologi pembebasan.

Romo Mangun menjabarkan pengertian Teologi sebagai suatu yang ilmiah. Menurut Romo Mangun (1997: 40) teologi itu refleksi ilmiah atau-paling tidak-rasional, tentang apa yang dihayati orang beriman. Teologi tidak identik dengan iman dan juga tidak sama dengan agama. Teologi berada dalam wilayah dunia rasional dan ilmiah. Romo Mangun menganggap istilah Teologi Pembebasan kurang cocok di Indonesia karena cenderung liberal "Hanya istilah "bebas" itu yang saya, sejak dulu, tidak sreg. Saya memilih istilah "pemerdekaan". Pembebasan itu kesannya liberal. Sedangkan merdeka itu kan lari dari hanya sekedar bebas" (informasi berdasarkan wawancara Majalah Matra, April 1988 hlm 13-23, dengan Romo Mangun yang dimuat kembali dalam buku Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat 1999: 25). Liberation Theology bagi Romo Mangun lebih cocok diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Teologi Pemerdekaan.

Orang miskin menjadi fokus karya pelayanan Romo Mangun sebagai imam. Romo Mangun memiliki konsep mengenai kemiskinan yang disebutnya sebagai Trilogi Kemiskinan. Trilogi Kemiskinan menurut Romo Mangun (1986: 99) mencakup: kemiskinan, kriminalitas, dan pelacuran. Ketiga permasalahan tersebut saling memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga Romo Mangun menyebutnya sebagai Trilogi. Kemiskinan, kriminalitas, dan pelacuran merupakan permasalahan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat bawah.

Romo Mangun menjadi dosen luar biasa di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta antara tahun 1967-1980. Namun setelah mengajar selama kurang lebih 13 tahun, Romo Mangun memutuskan untuk berhenti. Keputusan ini dipandang aneh, mengingat kedudukan sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia tersebut menjadi incaran banyak orang.

Perjalanan Hidup Romo Mangun Bersama Orang-orang Miskin

Romo Mangun ingin menggunakan ilmunya secara riil dengan cara terjun langsung membantu masyarakat yang membutuhkan. Kali Code dipilih oleh Romo Mangun menjadi lokasi untuk mengamalkan keilmuannya yaitu arsitektur. Pada tahun 1985 Pemerintah Daerah Yogyakarta mewacanakan untuk memperindah Kali Code. Kali Code akan diperindah mengingat lokasi Kali Code yang alirannya melalui tengah Yogyakarta. Sepanjang sungai Code yang membelah kota Yogyakarta tepat di tengah ini, akan dijadikan green belt atau Jalur Hijau (Puramdari, 1999: 31). Konsekuensi logis yang harus diterima oleh penduduk sepanjang Kali Code adalah digusur. Selebar antara 40 meter kanan-kiri batang sungai dibebaskan dari permukiman (Kompas, 14 Oktober 1985: 1). Jalur Hijau akan dihiasi dengan Pepohonan dan Bunga.

Romo Mangun dengan berani berposisi sebagai penentang kebijakan tersebut. Romo Mangun menganggap Jalur Hijau membutuhkan biaya besar antara lain untuk membayar petugas penghijauan, petugas kebersihan, dan keamanan untuk mengamankan dari tindakan mesum. Romo Mangun berusaha meyakinkan pemerintah keuntungan adanya perkampungan pinggir sungai. Romo Mangun juga memikirkan nasib penduduk yang harus digusur ke lokasi lain. Romo Mangun merencanakan untuk melakukan aksi mogok makan. Pada akhirnya rencana mogok makan tidak jadi dilaksanakan karena batalnya proyek pemerintah membangun Jalur Hijau. Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim mendukung Romo Mangun mempertahankan perkampungan di Pinggir Kali Code.

Langkah awal yang dilakukan oleh Romo Mangun untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat Kali Code adalah dengan cara mendekatkan diri pada anak-anak di Kali Code. Oleh Romo Mangun anak-anak di Kali Code diasuh, diberikan pelajaran, dibuatkan lomba, dan sebagainya. Melalui anak-anak ini, Romo Mangun dapat mengambil hati Ibu bahkan Ayahnya yang kebanyakan berprofesi di dunia hitam. Ketika anak-anak membuat kegiatan, orang tua mereka pun akhirnya turut pula berpartisipasi (Mangunwijaya, 1986: 105). Melalui partisipasi inilah Romo Mangun mulai menjalin hubungan dengan masyarakat dewasa di Kali Code. Romo Mangun kemudian membangun suatu hubungan batin dengan masyarakat di Kali Code. Hubungan batin ini menjadi kunci untuk Romo Mangun sehingga mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Kali Code.

Langkah Romo Mangun selanjutnya adalah membuatkan rumah yang layak bagi tetangga barunya di Kali Code. Desain rumah yang dibangun Romo Mangun tidak rumit dan memanfaatkan bahan yang ada disekitar "bangunannya sederhana dari bambu-yang bahannya mudah ditemukan di sepanjang sungai-dan kayu" (Puramdari, 1999: 31). Romo Mangun memanfaatkan bahan yang telah tersedia dengan efektif. Romo Mangun kemudian menghiasi rumah-rumah tersebut dengan cat warna-warni untuk mempercantik pemandangan. Kali Code yang pada awalnya berkesan kumuh, sejak kedatangan Romo Mangun menjadi indah. Pada tanggal 19 September 1992 rumah-rumah desain Romo Mangun ini mendapat anugerah Aga Khan. Rumah yang dicat berwarna-warni tersebut mendapatkan penghargaan internasional.

Membentuk suasana masyarakat yang kondusif di Kali Code juga menjadi perhatian Romo Mangun. Salah satu hal yang mendukung terciptanya suasana masyarakat yang kondusif adalah dengan kebiasaan bermusyawarah. Namun membangun kebiasaan untuk bermusyawarah menjadi hal yang tidak mudah bagi Romo Mangun. Permasalahan sulitnya membangun kebiasaan untuk bermusyawarah muncul sehubungan dengan berprofesi kebanyakan warga di Kali Code "bandit, pelacur, dan mafia di sini paling tidak suka musyawarah" (Mangunwijaya, 1986: 106). Membangun pemandian umum untuk mendekatkan warga merupakan cara yang efektif. Membangun pemandian umum juga menjadi cara yang tidak membutuhkan banyak biaya untuk merilekskan emosi warga bila dibandingkan dengan menghadirkan psikolog atau psikiater.

Setelah sekitar 6 tahun hidup bersama warga di Kali Code, Romo Mangun pindah kembali ke kota Yogyakarta. Alasan kesehatan menjadi latar belakang kepindahan Romo Mangun. Romo Mangun juga ingin agar warga di Kali Code menjadi mandiri. Dukungan serta simpati pada penduduk Kedung Ombo datang dari berbagai kalangan. Dukungan dari berbagai kalangan terhadap penduduk Kedung Ombo secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu Kelompok Mahasiswa yang diwakili oleh KSKPKO (Kelompok Solidaritas Korban Pembangunan Kedung Ombo), Kelompok Romo Mangun, dan Kelompok LSM (Stanley, 1994: 135).

Awal mula keterlibatan Romo Mangun dalam permasalahan Waduk Kedung Ombo adalah atas ajakan Kerabat Mangkunegaran. Penduduk Kedung Ombo yang bertempat tinggal di daerah Pegunungan Kendeng Tengah mendatangi Pura Mangkunegaran Solo. Kerabat Mangkunegaran mengajak Romo Mangun secara bersama membantu penduduk Kedung Ombo yang diperlakukan tidak adil. Romo Mangun pada saat itu sedang diopname di RS Elizabeth Semarang langsung menyetujui ajakan tersebut dan mengajukan sebuah persyaratan "yaitu hanya akan menolong anak-anak saja yang diperkirakan berjumlah sekitar 3.500 orang" (Stanley, 1994: 173). Anak-anak menjadi fokus perhatian Romo Mangun dalam melihat permasalahan Kedung Ombo.

Romo Mangun segera melakukan kunjungan ke daerah genangan Kedung Ombo setelah keluar dari opname di RS Elizabeth. Romo Mangun melihat sendiri blokade oleh militer dan rumah-rumah penduduk tergenang air yang semakin meninggi. Kondisi tersebut menyebabkan Romo Mangun mempercepat pelaksanaan niatnya karena berpacu dengan waktu dan ketinggian air. Terdapat beberapa pihak yang memberikan komentar negatif atas keikutsertaan Romo Mangun membantu anak-anak di Kedung Ombo. Muncul isu, Romo Mangun berniat menjalankan misi penyebaran agama di Kedung Ombo (Stanley, 1994: 174). Romo Mangun tidak menanggapi isu tersebut dan tetap berkonsentrasi membantu anak-anak Kedung Ombo. Romo Mangun hanya berniat membantu anak-anak tanpa ada maksud lain.

Romo Mangun mengkritik pendidikan pada masa Orde Baru yang menjadikan murid sebagai kader dan guru sebagai penatar. Romo Mangun juga mengkritik Sekolah Katolik. Menurut Romo Mangun sekolah-sekolah Katolik dianggap tidak lagi setia mengabdi pada kepentingan kaum lemah, dan hanya memperhatikan pihak-pihak yang bisa mendatangkan keuntungan (Indratno, 2005: 53).

Pada tahun 1993 sebuah SD Katolik milik Yayasan Kanisius cabang Yogyakarta akan ditutup karena kekurangan dana. SD tersebut bernama SD Kanisius Mangunan. SD Kanisius Mangunan terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. SD Kanisius yang berdiri sejak tahun 1964 dikelola oleh Yayasan Kanisius cabang Yogyakarta. SD Kanisius Mangunan tidak memiliki bangunan sekolah yang permanen. Yayasan Kanisius cabang Yogyakarta terpaksa menyewa rumah penduduk untuk kegiatan belajar mengajar (Indratno, 2005: 70). SD Kanisius Mangunan hingga tahun 1993 belum memiliki gedung sekolah yang permanen. Ruang kelas memanfaatkan dua penduduk milik penduduk setempat dengan uang sewa sebesar Rp 125.000,00 pert tahun (Kompas, 1 September 1993: 13). SD Kanisius Mangunan sepertinya sejak awal pendirian telah kesulitan dalam pendanaan.

Romo Mangun melihat SD Kanisius Mangunan yang akan ditutup sebagai peluang untuk Dinamika Edukasi Dasar mempraktekkan kurikulum eksperimen. SD Kanisius Mangunan dipilih sebagai lokasi eksperimen karena Yayayan Kanisius dan Dinamika Edukasi Dasar memiliki visi yang sama yaitu prefential option for the poor (Indratno, 2005: 70). Yayasan Kanisius dan Dinamika Edukasi Dasar ingin mengangkat taraf hidup kaum miskin agar bisa hidup mandiri serta produktif melalui pendidikan. Langkah pertama Romo Mangun adalah melakukan pendekatan pada Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta yaitu Henricus van Voorst tot Veerst, SJ. Henricus van Voort tot Veerst, SJ kemudian tidak jadi menutup SD Kanisius Mangunan, namun pengelolaannya diserahkan ke Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (Indratno, 2005: 70).

Rencana Romo Mangun mendapat respon positif dari pemerintah. Pada 27 Agustus 1993 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro mendatangi SD Kanisius Mangunan. Wardiman Djojonegoro tertarik dengan Konsep Kurikulum Eksperimen Romo Mangun. Awal mula ketertarikan Wardiman Djojonegoro dengan rencana Romo Mangun adalah ketika bertemu dalam suatu pertemuan informal di Jakarta beberapa waktu sebelumnya (Kompas, 8 September 1993: 13). Wardiman Djojonegoro adalah teman Romo Mangun saat berkuliah di Jerman. Kedatangan Wardiman Djojonegoro di SD Kanisius Mangunan menjadi pembuktian dari Romo Mangun bahwa Kurikulum Eksperimen yang dikembangkannya dalam Dinamika Edukasi Dasar dapat diterima pemerintah.

Romo Mangun mewujudkan pemikirannya mengenai pendidikan yang berpihak pada anak miskin melalui Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Yayasan Dinamika Edukasi Dasar berperan sebagai pelaksana eksperimen pendidikan. Dinamika Edukasi Dasar adalah pengembang kurikulum alternatif dari Romo Mangun. Kurikulum yang dikembangkan oleh Dinamika Edukasi Dasar diaplikasikan pada Sekolah Dasar (SD) Mangunan.

Romo Mangun meninggal dunia akibat serangan jantung pada Rabu, 10 Februari 1999 di Hotel Meridien yang menjadi lokasi berlangsungnya simposium "Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru" yang diselenggarakan oleh Yayasan Obor. Dalam simposium tersebut, Romo Mangun menjadi salah satu pemakalah. Makalah yang dibawakan Romo Mangun berjudul "Peranan Buku dalam Penguasaan Iptek". Kematian Romo Mangun terkesan mendadak, namun apabila melihat lokasi dan keadaan pada saat itu bisa dikatakan keinginannya terkabul. Terdapat 3 permintaan Romo Mangun sehubungan dengan kematiannya "Saya ingin 3 hal kalau meninggal: Pertama, mudah-mudahan meninggal dalam tugas.; Kedua, ndak pake kesakitan lama-lama; Ketiga, jangan bikin susah orang" (Lega, 21 Februari 1999: 41). Seluruh permintaan Romo Mangun ini semuanya dikabulkan oleh Tuhan.

KESIMPULAN

Romo Mangun merupakan imam yang memiliki pemikiran yang multidimensi. Pemikiran Romo Mangun yang multidimensi dapat ditelusuri  melalui karya-karyanya. Pemikiran Romo Mangun yang multidimensi dan memiliki visi meningkatkan taraf hidup orang miskin merupakan akumulasi dari pengalaman hidup saat menjadi Tentara Pelajar, dan pengaruh Konsili Vatikan II serta Teologi Pembebasan. Motivasi Romo Mangun menanggapi panggilan untuk menjadi Pastur adalah karena ingin membayar hutang pada rakyat. Keingingan Romo Mangun untuk meningkatkan taraf hidup orang miskin membawa semangat Konsili Vatikan II dan Teologi Pembebasan. Cara yang dipilih Romo Mangun dalam karya pelayanannya yang berpihak pada orang miskin adalah melalui menulis dan terjun langsung.

SARAN

Pemikiran seorang yang multidimensional akan lebih luas dan menyentuh berbagai aspek kehidupan. Gereja Katolik di Indonesia sepeninggal Romo Mangun membutuhkan sosok yang tidak hanya berpikiran multidimensi namun juga aktif untuk turun langsung mengatasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Sosok imam seperti inilah yang seharusnya ada ditengah umat Katolik Indonesia. Imam multidimensional dan aktif dibutuhkan Gereja Katolik Indonesia dalam keadaan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Imam Katolik yang multidimensional dan aktif adalah gambaran gembala yang baik bagi umatnya.

Gereja Katolik di Indonesia membutuhkan imam-imam seperti Romo Mangun. Romo Mangun merupakan imam yang tidak hanya sebagai pemimpin keagamaan, namun juga aktif terlibat langsung dalam mencari solusi atas permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Romo Mangun juga terbuka untuk bekerjasama dengan berbagai pihak, bahkan dengan pemuka dari agama selain Katolik untuk meningkatkan taraf hidup orang miskin. Imam yang mampu memadukan antara ide dan praksis dalam karya pelayanan di tengah masyarakat.

DAFTAR RUJUKAN

Agung, L. & Suparman, T. 2012. Sejarah Pendidikan. Yogyakarta: Ombak.

Indratno, A.F.T. 2005. Manusia Pasca-Indonesia & Pasca Einstein. Yogyakarta: Dinamika Edukasi Dasar bekerja sama dengan KZE/Misereor.

Kompas, 14 Oktober 1985. Jalur hijau Code yang menggelisahkan, hlm 1 & 8.

Kompas, 1 September 1993. Mendikbud Saya Dapat Mitra Menggarap Pedesaan Miskin. hlm 13.

Kompas, 8 September 1993. Y.B. Mangunwijaya Bidik Pendidikan Dasar 9 Tahun..., hlm 13.

Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lucas, A. 1986. Pemuda Revolusi. Dalam Colin Wild & Peter Carey (Eds.), Gelora Api Revolusi: Sebuah Antologi Sejarah (hlm. 156-163). Jakarta: Gramedia.

Mangunwijaya, Y.B. (a). 2009. Pengakuan Seorang Amatir. Dalam Pamusuk Eneste (Ed.), Proses Kreatif: Mengapa & Bagaimana Saya Mengarang (hlm. 117-139). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Mangunwijaya, Y.B. (b). 1999. Memuliakan Allah Mengangkat Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Mangunwijaya, Y.B. (c). 1999. Pasca Indonesia, Pasca Einstein: Esei-Esei tentang Kebudayaan Indonesia Abad Ke-21. Yogyakarta: Kanisius.

Mangunwijaya, Y.B. (d). 1999. Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat. Yogyakarta: Kanisius.

Oktorino, N. 2013. Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Stanley. 1994. Seputar Kedung Ombo. Jakarta: Elsam.

Puramdari, C. 21 Tahun LIII 23 Mei 1999. Ketika Romo Mangun Menghadapi Bandit dan Pelacur. Hidup: 30-32.

Puramdari, C. 8 Tahun LIII 21 Februari 1999. Rakyat Kecil, Pilihan Awal dan Akhir Romo Mangun. Hidup: 30-32.

 [1] Mahasiswa program studi ilmu sejarah, jurusan sejarah, fakultas ilmu sosial, Universitas Negeri Malang.

[2] Dosen pembimbing.