SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENANGANAN GREAT DEPRESSION DI AMERIKA SERIKAT TAHUN 1929-1939

Putri Prastiwi

Abstrak


Abstrak

 

Prastiwi, Putri. 2018. Penanganan Great Depression di Amerika Serikat Tahun 1929-1939. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Mashuri, M. Hum.

 

Kata Kunci: penanganan pemerintah, Great Depression, Amerika Serikat

 

Aspek ekonomi dalam perjalanan sejarah selalu mendapat perhatian, pasalnya segala gerak sosial dan politik suatu negara dikendalikan oleh kondisi perekonomiannya. Krisis ekonomi yang melanda sebuah negara mampu menciptakan kekacauan bukan hanya dalam aspek ekonomi saja tetapi juga turut mengacaukan kondisi sosial dan politik negara tersebut. Dalam situasi ini, petinggi pemerintahan menjadi harapan terakhir rakyat untuk mengembalikan kehidupan mereka ke kondisi yang lebih baik dan makmur.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pemerintah dalam menangani sebuah krisis. Dalam hal ini, Great Depression 1929-1939 dipilih sebagai peristiwa krisis ekonomi yang tragis sepanjang sejarah perekonomian dunia dan berpusat di Amerika Serikat. Para presiden Amerika Serikat yang memerintah pada 1929-1939 menjadi obyek penelitian, ialah Herbert Clark Hoover (1929-1933) dan Franklin Delano Roosevelt (193-1945). Dengan mengetahui cara kerja serta kebijakan yang ditetapkan kedua presiden tersebut maka akan diperoleh sebuah fakta yang didapat secara obyektif dalam sudut pandang penulis Indonesia sesuai dengan konsep ekonomi kalsik dan pandangan kaum Keynessian.

Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kepustakaan atau library research karena ruang lingkup penelitian tidak bisa dijangkau secara langsung oleh peneliti. Langkah awal dalam penelitian ini ialah dengan menentukan topik penelitian kemudian menyusun blibliografi. Terdapat enam buku utama yang dijadikan sumber dalam penelitian ini dan beberapa sumber pendukung yang kemudian disusun menjadi blibliografi yang siap untuk diteliti. Langkah selanjutnya ialah menentukan variabel penelitian dan proses pengumpulan sumber pendukung dengan membaca berbagai macam sumber. Tahap akhir adalah analisis data, dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis historis yaitu dengan melakukan analisis terhadap peristiwa Great Depression untuk mengetahui sebab, proses jalannya sebuah peristiwa, dan menguak fakta-fakta historis di dalam peristiwa tersebut untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pegambilan keputusan mengenai cara yang ditempuh guna menstabilkan sebuah negara dri gejolak krisis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selepas Perang Dunia I pada tahun 1929 Amerika Serikat lumpuh secara moneter dan menjadi buta dalam memutuskan sebuah kebijakan. Hoover sebagai presiden terpilih yang menjabat pada 1929-1933 disanjung sebagai seorang libertarian karena sokongan dari Partai Republik yang terkenal dengan kebijakan konservatif dan terkesan klasik. Namun kebijakan yang dibuat Hoover dalam kenyataannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang digaungkan oleh ekonom klasik. “Laissez-faire” diabaikan dan pemerintah turut campur dalam segala kegiatan perekonomian nasional maupun internasional seperti hubungan dagang antar negara yang tersandung kebijakan Smooth-Hawley Tariff sehingga kerugian melanda produksi dalam negeri karena tidak lagi memiliki pasar internasional. Hal ini disebabkan adanya dendam dari pedagang luar Amerika Serikat yang dikenai pajak terlalu tinggi ketika produk mereka memasuki pasar Amerika Serikat. Turut sertanya Hoover dalam kegiatan perekonomian yang berlebih semakin membuat kondisi perekonomian Amerika Serikat lebih kacau, hingga akhirnya rakyat yang tidak memiliki rumah karena disita oleh bank mendirikan rumah nomaden terbuat dari kardus dan terpasang di pinggiran kota dijuluki dengan “Hooverville” atau perkampungan Hoover. Dari sini saja sudah cukup menggambarkan bahwa Hoover bukanlah seorang libertarian dan kapitalisme tidak menyebabkan krisis menjadi lebih parah tetapi pandangan ekonomi klasik tidak mampu lagi bertahan digerus depresi ekonomi.

Berbeda dari Hoover, Roosevelt mencoba memanfaatkan jabatannya dengan mengeluarkan kebijakan yang lebih sosialis dengan berfokus pada buruh dan pekerjaan umum. Memang pada 1933-1939 panji marxis tengah berkibar di Jerman, namun Roosevelt bukanlah seorang sosialis. Ia mencoba mengembalikan perekonomian dengan bermacam pekerjaan umum dan suntikan dana kepada tiap-tiap negara bagian. Fokus utama Roosevelt tidak hanya pada buruh saja tetapi juga pada pegawai kerah putih seperti dalam programnya yakni WPA atau Works Progress Adminsitartion pada tahun 1935. Meskipun banyak yang menuduh bahwa Roosevelt telah kehilangan jati diri liberalisme sebagai pemimpin Amerika Serikat, mereka lupa bahwa terdapat ekonom kenamaan asal Cambridge yakni Keynes dengan pandangan Keynessian mengemukakan bahwa “laissez-faire” adalah pemikiran yang bagus akan tetapi tidak akan bertahan lama karena sebuah negara dalam mengatur perekonomian membutuhkan sentuhan pemerintahnya. Roosevelt bukanlah sosialis, ia juga terang-terangan tidak mengikuti pandangan  Keynes akan tetapi setiap kebijakan yang tetapkan merupakan contoh sempurna untuk mengetahui wujud dalam pemikiran Keynessian. Tahun 1939 perekonomian tetap tidak stabil tetapi masih lebih baik dibanding pemerintahan Hoover karena banyak buruh yang mendapat pekerjaan dan investasi infrastruktur yang masih berfungsi hinggga sekarang telah difungsikan dengan baik.

Meskipun demikian, penanganan yang dilakukan oleh dua presiden Amerika Serikat tidaklah mampu mebawa perekonomian menuju arah makmur dan sejahtera. Belum habis persoalan mengenai Great Depression, Perang Dunia II terjadi dan menjadikan Amerika Serikat sebagai sekutu melawan Jepang. Selepas PD II terjadi barulah perekonomian kembali normal, maka yang demikian ini disebut sebagai ekonomi perang yang masih membutuhkan penelitian lebih untuk peneliti selanjutnya.