SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGGUNAAN MEDIA ALAT PERAGA PERALATAN NEOLITIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS X TKJ SMK PGRI 2 MALANG

Syukron Wahyu Syah Putro

Abstrak


PENGGUNAAN MEDIA ALAT PERAGA PERALATAN NEOLITIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

KELAS X TKJ SMK PGRI 2 MALANG

 

Syukron Wahyu Syah Putro1

Ari Sapto1

1Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial,

Universitas Negeri Malang

Email: syukronendog@gmail.com

 

Abstrak : Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang telah dilakukan oleh peneliti  bertujuan pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Malang, yang didalamnya terdapat beberapa siklus untuk mengukur hasil belajar. Media yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni sebuah alat peraga. Penggunaan alat peraga bukan sekedar untuk menarik perhatian peserta didik, namun mempercepat proses belajar mengajar dan membantu peserta didik dalam menangkap materi.

 

Kata Kunci: alat peraga peralatan neolitik, hasil belajar.

 

Abstract : Classroom Action Research (PTK in Indonesian language) which has been done by researchers aims at improving the quality of process and learning outcomes of students in class X TKJ SMK PGRI 2 Malang, in which there are several cycles to measure learning outcomes. Media used in Classroom Action Research (PTK), which is a props. The use of props is not just to attract the attention of learners, but to accelerate the learning process and help learners in capturing the material.

 

Keyword : neolithic equipment, learning outcomes.

 

Pada umumnya, praktik pembelajaran sejarah di sekolah masih banyak menggunakan media yang monoton. Media yang digunakan untuk menyampaikan materi masih melalui PowerPoint (PPt), dengan media ini peserta didik hanya melihat dan mendengar apa yang ditayangkan dan dijelaskan oleh pendidik, tanpa bisa memunculkan keadaan nyata yang terjadi pada masa lalu. Sehingga, permasalahan yang sering muncul adalah anggapan peserta didik terhadap matapelajaran sejarah itu bersifat membosankan. Dari masalah ini, akhirnya berdampak pada hasil belajar peserta didik yang nilainya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Permasalahan nilai hasil belajar peserta didik di bawah KKM juga muncul di kelas X Teknik Komputer Jaringan (TKJ)  SMK PGRI 2 Malang. Peneliti memilih SMK PGRI 2 Malang karena akhir-akhir ini SMK PGRI 2 Malang telah membuktikan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Kota Malang. Dalam kegiatan Lomba Kompetisi Siswa (LKS) yang diadakan di Kota Malang dan LKS se Jawa-Bali SMK PGRI 2 malang berhasil meraih juara II harapan.

Peserta didik SMK PGRI 2 Malang terdapat masalah mengenai hasil belajar matapelajaran sejarah. Masalah tersebut terdapat di kelas X TKJ. Ketika peneliti melakukan wawancara kepada empat peserta didik yang bernama Achmad Romadhoni, Indiana Pramita Sari, Raufiati Astutik dan Vivta Nadia pada hari Rabu 26 Oktober 2017, peserta didik mengatakan “media yang digunakan oleh Pak Deva hanya PPt dan gambar-gambar, dan itu sangat membosankan”. Hal ini yang menyebabkan hasil belajar peserta didik di bawah KKM. Keahlian seorang pendidik sangat berpengaruh pada proses pembelajaran sejarah, peneliti melihat bahwa kondisi pembelajaran di kelas X TKJ kurang menarik, karena penyampaian materi hanya melalui media powerpoint dan gambar.

Pada tanggal yang sama, peneliti juga melakukan wawancara kepada Pak Deva mengenai hasil belajar kelas X TKJ, beliau mengatakan “memang ada permasalahan pada hasil belajar di kelas X TKJ. Dimana dari 30 peserta didik terdapat 18 peserta didik nilai ulangan harian di semester 1 masih di bawah KKM (KKM untuk matapelajaran sejarah 70).Setelah peneliti melakukan wawancara dengan Pak Deva, peneliti meminta izin untuk melihat hasil ulangan peserta didik kelas X TKJ semester 1 yang ada di daftar nilai milik beliau. Dari data nilai ulangan harian peserta didik kelas X TKJ dapat dikalkulasi tingkat ketuntasannya sekitar 30%, dimana 70% hasil belajar peserta didik belum tuntas (sumber:Dokumen Guru Tahun 2016).

Berdasarkan pada hasil wawancara dan hasil observasi awal tersebut, maka peneliti merespon untuk memecahkan masalah serta memberi solusi agar hasil belajar peserta didik kelas X TKJ terjadi peningkatan. Solusinya menggunakan suatu media yang mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satu media pembelajaran yang bisa diterapkan pada matapelajaran sejarah adalah media alat peraga.

Media alat peraga memegang peranan penting dalam pembelajaran, yaitu sebagai alat bantu untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif. Setiap pembelajaran tentunya mempunyai target tujuan, untuk mencapai tujuan tersebut, media alat peraga memgang peranan penting, sebab dengan media alat peraga ini, bahan atau materi dapat dipahami peserta didik dengan mudah. Media alat peraga sering disebut audio visual, dari pengertian tersebut, menjelaskan bahwa alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga (Sudjana, 2013:99). Media alat peraga mempunyai fungsi tersendiri dalam pembelajaran, yaitu sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Penggunaan alat peraga bukan sekedar untuk menarik perhatian peserta didik, namun mempercepat proses belajar mengajar dan membantu peserta didik dalam menangkap materi. Materi yang disampaikan menggunakan media alat peraga akan lebih lama diingat oleh peserta didik, karena dengan media alat peraga peserta didik tidak hanya melihat dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh pendidik, namun peserta didik bisa mempraktikkan langsung bagaimana fungsi alat peraga tersebut. Apabila materi pelajaran mudah diserap dan diingat, maka hasil belajar akan meningkat (Sudjana, 2013:100).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan ini berfokus pada kelas, sehingga penelitian ini disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Ulfatin (2013:98) menjelaskan “penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi”. Model penelitian tindakan kelas yang telah ditafsirkan adalah model penelitian tindakan kelas bentuk spiral yang terdiri dari beberapa tahap siklus kegiatan. Siklus pertama adalah siklus dasar (lihat bagan 3.1).

Siklus pertama merasa kurang atau terjadi kesalahan, maka dapat diperbaiki dengan mengembangkan spiral ke perencanaan siklus kedua. Jika penerapan siklus tersebut masih kurang, maka dapat diperbaiki ke siklus berikutnya dan siklus ini dihentikan apabila data yang dikumpulkan sudah jenuh (Arifin, 2012:109-110. lihat bagan 3.2).

Ciri utama dari penelitian ini adalah adanya perubahan yang terus menerus dan akan menjadikan perubahan itu seperti siklus yang akan berulang. Selanjutnya, kegiatan penelitian ini akan berakhir jika dirasa data yang ditampilkan dan dikumpulkan di lapangan adalah data-data yang mengalami perubahan tetapi sedikit saja.

Penelitian ini dilakukan di kelas X TKJ pada tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah peserta didik 30, dengan perincian jumlah peserta didik laki-laki 20 dan jumlah peserta didik perempuan 10. Penelitian ini dilakukan di SMK PGRI 2 Malang yang beralamat di Jalan Janti Barat Blok A, Kota Malang. Subjek yang digunakan pada penelitian ini adalah peserta didik di kelas X TKJ SMK PGRI 2 Malang pada tahun pelajaran 2017/2018 dengan jumlah peserta didik 30, dengan perincian jumlah peserta didik laki-laki 20 dan jumlah peserta didik perempuan 10. Data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berasal dari pendidik dan peserta didik. Data dalam penelitian ini sebagai berikut:

1.                  Data yang memuat aktivitas pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan media alat peraga masa neolitik.

2.                  Data berupa nilai, dimana data nilai tersebut dapat menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik setelah penerapan media alat peraga masa neolitik diterapkan, yang diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Pre-test digunakan sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik sebelum diterapkan  media alat peraga peralatan masa neolitik. Post-test digunakan sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik sesudah diberikan media alat peraga peralatan masa neolitik. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan pre-test dan post-test sebagai alat ukurnya. Sumber data diperoleh dari peserta didik kelas X TKJ SMK PGRI 2 Malang, Kota Malang, yang berjumlah 30 peserta didik. Untuk mempermudah peneliti dalam mengumpulkan data, peneliti juga menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti menggunakan tiga cara yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) menggunakan tes tulis dalam bentuk pre-test dan post-test untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam belajar. Penelitian ini untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, namun difokuskan pada hasil belajar peserta didik. Sehingga penggunaan tes oleh peneliti sebagai teknik pengumpulan data agar data yang dihasilkan lebih valid.

Analisis data dilakukan selama proses pengumpulan data. Data yang terkumpul kemudian dianalisis melalui tiga tahap, yaitu:

1.             Reduksi Data

Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang diperoleh dari hasil pengamatan, dokumentasi, observasi, dan memilih data yang dibutuhkan dalam penelitian.

2.             Penyajian Data