SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Eksistensi Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) dalam Melestarikan Tosan Aji di Kabupaten Pamekasan dan Peranannya dalam Dunia Pendidikan

Rendy Machdi Nugraha

Abstrak


ABSTRAK

 

Keris adalah budaya asli Indonesia. Walaupun pada abad ke-14, nenek moyang bangsa Indonesia pada umumnya beragama Hindu dan Budha, tidak pernah ditemukan bukti bahwa budaya keris berasal dari India atau negara lain. Tidak pula ditemukan bukti adanya kaitan langsung antara senjata tradisional itu dengan kedua agama itu. Pada beberapa candi di pulau Jawa ditemukan adanya gambar timbul (relief) yang menggambarkan adanya senjata yang berbentuk keris, tetapi pada candi yang ada di India atau negara lain, senjata semacam itu tidak pernah ada. Namun pada saat ini keberadaan pusaka keris semakin tidak terpelihara oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, peneliti meneliti bagaimanakah pelestarian pusaka keris yang dilakukan oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) dan peranannya dalam dunia pendidikan. Adapun rumusan masalah dari penelitian adalah (1) bagaimana sejarah berdirinya Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) di Kabupaten Pamekasan? (2) bagaimana eksistensi Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) dan peranannya dalam dunia pendidikan?

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan survey kepada ketua dan anggota Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara). Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data mengguna an analisis data kualitatif model interaktif adalah reduksi data, display data, verifikasi data.

Hasil penelitian menunjukkan berdirinya Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) berawal dari sebuah kesadaran anggota kecil masyarakat yang mulai merasakan dampak modernisasi dan globalisasi. Kesadaran akan cinta budaya dan pelestarian benda-benda peninggalan nenek moyang menjadi faktor utama berdirinya paguyuban. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) dalam melestarikan pusaka keris antara lain dengan mengikuti pameran baik yang berskala lokal, regional, maupun nasional. Selain itu Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) juga terlibat aktif dalam seminar-seminar yang membicarakan tentang pusaka keris dan bagaimanakah cara pelestarian pusaka keris dalam masa globalisasi seperti saat ini. Selain itu terdapat kegiatan jual beli yang dilakukan oleh antar anggota Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) maupun yang dilakukan oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) dengan paguyuban yang lainnya. Upacara atau ritual juga rutin dilakukan oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Madura (Pusara) misalnya ritual mandi keris yang dilakukan setiap tanggal 1 Suro dalam penanggalan Jawa.

 

Kata Kunci: eksistensi, Pusara, keris

 

Abstract

Keris heirloom is the native culture of Indonesia. Although in the 14th century, the ancestors of the Indonesian nation have a Hinduism and Buddist, never found evidence that the kris heirloom culture is derived from India or the others county. Neither found evidence the direct link between the traditional weapons with both religions. In some temples in Java found relief that describes the presence of a keris heirloom weapon-shaped, but on temples in India or the others country, keris heirloom never existed. But at this time the existence of keris heirloom is more unmaintained by the public. Therefore, researcher examined how do the keris heirloom conservation by the “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara) and its role in education. The problem statement of this research are (1) how the history of  “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara) in Pamekasan? (2) how the existence of “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara) and its role in education?

This research is descriptive research with qualitative approach. In this study, the researcher use a survey to the chairman and the members of “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara). Techniques of data retrieval is observation, interview, and documentation. Technique of data analysis used interactive models qualitative there are reduction, display, and verification data.

The results showed the founding of  “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara) is started from a part of society who haves awareness and feel the impact of modernization and globalization. Awareness to love and conserve the ancestors’s heritage objects became a major factor of founding this association. The efforts by “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara) to conserve keris heirloom is follows the local, regional, or national cultural exhibition. Besides there also active in seminary that talk about keris heirloom and its conservation in this globalization era. In addition to buying and selling activities that undertaken by the “Paguyuban Pelestari Pusaka Madura” (Pusara) or with the others. The routin ceremony that do by the association is wash the keris heirloom in every 1st Suro in Javanese calendar.

 

 

Key words: The existence, Pusara, keris