SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Dinamika Perhimpunan "Saksi Yehuwa" di Kota Blitar Tahun 1990-2015

Feby Christina Simare Mare

Abstrak


ABSTRAK

 

Simare Mare, Feby Christina. 2017. Dinamika Perhimpunan“Saksi Yehuwa” di Kota Blitar Tahun 1990-2015. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Marsudi, M.Hum. (2) Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum.

 

Kata Kunci: dinamika, perhimpunan, “Saksi Yehuwa”, Blitar

Indonesia memiliki 6 agama besar yang telah diresmikan. 6 agama besar tersebut ternyata memiliki aliran-aliran didalamnya, seperti Agama Kristen yang memiliki aliran Lutheran, Calvinis, Karismatik, “Saksi Yehuwa” dan lainnya. Aliran“Saksi Yehuwa” inilah yang akan peneliti kaji dalam penelitian ini.

Penelitian ini memiliki tiga rumusan masalah yang akan dikaji yaitu: (1) bagaimana masuknya “Saksi Yehuwa” di Kota Blitar, (2) bagaimana karakteristik “Saksi Yehuwa” di Kota Blitar, (3) bagaimana dinamika perhimpunan“Saksi Yehuwa” di Kota Blitar pada tahun 1990-2015. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah meliputi pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber) meliputi kritik ekstern dan kritik intern, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara terhadap informan yang sesuai dengan topik penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa misionaris “Saksi Yehuwa” tiba di Kota Blitar tahun 1960 adalah Abraham Lian. “Saksi Yehuwa” sering menyebut ajarannya adalah Kristen, karena arti dari Kristen adalah pengikut Kristus. Di balik itu, sebenarnya antara “Saksi Yehuwa” dan Kristen berbeda. Perbedaannya dapat dilihat beberapa hal, diantaranya adalah hari raya dan tempat ibadah. Kitab Suci Kristen dan “Saksi Yehuwa” adalah Alkitab. Namun Alkitab versi Kristen dan “Saksi Yehuwa” mempunyai penerbit yang berbeda yaitu Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Alkitab terbitan Terjemahan Dunia Baru. “Saksi Yehuwa” menganut konsep Anti-Tritunggal, dimana “Saksi Yehuwa” hanya percaya dengan Yehuwa sebagai Tuhannya.

“Saksi Yehuwa” pernah dilarang peredarannya di Indonesia dan kemudian diizinkan kembali atas dasar Hak Asasi Manusia (HAM) yang tertulis di Surat Keputusan Jaksa Agung No. Kep. 225/A/JA/06/2001. Meskipun dilarang beredar di Indonesia, “Saksi Yehuwa” tetap melalukan kegiatannya secara diam-diam dan tetap menyusun langkahnya untuk memberitakan Kerajaan Yehuwa. Setelah larangan tersebut dicabut, “Saksi Yehuwa” dapat melakukan kegiatannya secara bebas. Tanpa buang-buang waktu, “Saksi Yehuwa” melakukan penginjilan yang dikemas menyerupai kunjungan ke panti jompo dan dinas sosial (pelayanan anak terlantar). “Saksi Yehuwa” juga kerap mengadakan pameran atau expo, tujuannya adalah semakin banyak orang yang mengenal Yehuwa dan ikut berhimpun.

ABSTRAK

 

Simare Mare, Feby Christina. 2017. The Dynamics of the Association of “Jehovah’s Witness” on Blitar 1990-2015. Thesis, Department of History, Faculty of Social Science, State University of Malang. Advisor: (1) Drs. Marsudi, M.Hum. (2) Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, Hum.

 

Keywords: dynamics, associations, “Jehovah’s Witness”, Blitar

Indonesia has 6 big religions that have been legitimate. 6 big religions was found to have currentsinside as Christians, like Lutheranism, Calvinism, Charismatic, “Jehovah’s Witness” and others. The flow of “Jehovah’s Witness” will be discussed in this study.

This study has three formulation of issues to be examined are: (1) how the inclusion of “Jehovah’s Witness” on Blitar, (2) how the characteristics of “Jehovah’s Witness” on Blitar, (3) how the dynamic association of “Jehovah’s Witness” on Blitar in the year 1990-2015. This study uses historical research. Methods of historical research include the selection of topics, heuristics (collection of sources), verification (source criticism) include external criticism and internal criticism, interpretation, and historiography. The collection of data is also done through interviews with informants according to research topic.

Based on the conclusion, “Jehovah’s Witness” missionaries who first arrived in Kota Blitar on 1960 is Abraham Lian. “Jehovah’s Witness” often call his teachings are Christians, because the meaning of the Christian is a follower of Christ. Behind it, in fact between “Jehovah’s Witness” and Christian is different. The difference can be seen a few things, like the feast and place of worship. The Scriptures of Christian and the “Jehovah’s Witness” is the Bible. But the Christian version of the Bible and “Jehovah’s Witness” have a different publishers, they are Indonesian Bible Society and New World Translation. “Jehovah’s Witness” embraced the concept of Non-Trinity, “Jehovah’s Witness” believe only with Jehovah as his Lord.

“Jehovah’s Witness” been banned in Indonesia and later allowed back on the basis of Human Rights (HAM) is written in the Prosecutor General's Decree No. Kep. 225/A/JA/06/2001. Although banned in Indonesia, “Jehovah’s Witness” still pass its activities in secret and keep preparing steps to proclaim Jehovah's Kingdom. After “Jehovah’s Witness” have been carrying out their activities freely. Without wasting time, “Jehovah’s Witness” do evangelism are packaged to resemble a visit to a nursing home and social services (care of neglected children). “Jehovah’s Witness”also often hold exhibitions or expos, the goal is the more people who know Jehovah and come assembled.