SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERISTIWA KERUSUHAN MEI 1998 DI KOTA SURAKARTA: PERGOLAKAN PENDUDUK PRIBUMI DENGAN ETNIS TIONGHOA DAN KONTRIBUSINYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Wiku Buono

Abstrak


ABSTRAK

 

Buono, Wiku. 2016. Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta: Pergolakan Penduduk Pribumi dengan Etnis Tionghoa dan Kontribusinya dalam Dunia Pendidikan. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum, (II) Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum.

 

Kata kunci: kerusuhan, pergolakan, penduduk pribumi, etnis Tionghoa.Warga etnis Tionghoa sudah ada di Kota Surakarta sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan sebelum Belanda datang, orang Tionghoa sudah lebih dulu tiba di Surakarta. Sentimen antara warga Tionghoa dengan penduduk Pribumi juga sudah mengakar sejak lama, sebagai contoh adalah peristiwa geger pecinan dan peristiwa penjarahan, perusakan, dan pembakaran toko-toko dan kendaraan milik etnis Tionghoa pada tahun 1980 yang dipicu hanya karena sebuah perkelahian antara 3 orang siswa Sekolah Guru Olahraga (SGO) dengan seorang pemuda Tionghoa. Hingga pada puncaknya pecah peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) faktor apa saja yang meyebabkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta, (2) Bagaimanakah proses terjadinya kerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta, dan (3) faktor apa saja yang menyebabkan etnis Tionghoa menjadi objek sasaran massa dalam kerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta serta kontribusinya dalam dunia pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah (history research). Metode penelitian sejarah dalam pengertian yang umum adalah penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari prespektif historis. Terdapat lima langkah yang ditempuh dalam penelitian ini yakni pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

Hasil penelitian ini adalah: (1) pertama, kerusuhan Mei 1998 di Kota Surakarta terjadi karena krisis moneter berkepanjangan sehingga masyarakat melakukan demonstrasi menuntut diturunkannya kebutuhan pokok. (2) Kedua, aksi solidaritas dilakukan oleh mahasiswa UMS atas meninggalnya 4 mahasiswa Universitas Trisakti berakhir ricuh dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan perusakan dan pembakaran bangunan serta memprovokasi massa untuk berbuat anarkis dan di luar kendali. (3) Ketiga, saat kerusuhan Mei 1998 banyak toko, aset, dan tempat usaha warga Tionghoa yang dijarah dan dibakar oleh massa sehingga warga etnis Tionghoa mengalami kerugian ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Penelitian mengenai Kerusuhan Mei 1998 di Surakarta perlu dikembangkan guna mendapatkan bukti-bukti baru. Mengingat masih minimnya sumber bacaan maupun penelitian yang membahas tentang korban, saksi, serta dalang dibalik peristiwa Mei 1998 di Kota Surakarta. Sudah saatnya warga minoritas mendapat perhatian lebih karena, meskipun mereka orang keturunan asing, mereka tetaplah warga Indonesia yang pantas memperoleh kebebasan serta keadilan di Negeri yang berdaulat dan berbhinneka tunggal ika ini

Buono, Wiku. 2016. May 1998 Riots in Surakarta: Conflict between Local Residents with Chinese Ethnic and The Contribution in Education. Thesis, Department of History, Faculty Of Social Science, State University of Malang. Supervisor  (I) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum, (II) Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum.

 

Keywords: riots, upheaval, local residents, Chinese ethnic.

Ethnic Chinese citizens already in Surakarta since hundreds of years ago. Even before the Dutch arrived, the Chinese people had already arrived in Surakarta. Sentiment among Chinese people with the Natives also been entrenched for a long time, for example, is an event tantrum Chinatown and events of looting, destruction, and burning shops and vehicles belonging to ethnic Chinese in 1980 that was triggered just because a fight between three students of the School Teachers Sports (SGO) with a Chinese youths. Until the event broke its peak in May 1998 riots in the city of Surakarta.

The problems of this study were (1) the factors that led to the riots in May 1998 in Surakarta, (2) What is the process riots in May 1998 in Surakarta, and (3) what factors are causing ethnic Chinese became the target object mass in May 1998 riot in Surakarta and his contribution to the world of education. This study uses historical research (history research). Methods of historical research in a general sense is the investigation of a problem by applying the solution of the historical perspective. There are five steps taken in this study, and selection of a topic, heuristic, criticism, interpretation, and historiography.

The results of this study are: (1) first, the May 1998 riots in Surakarta occur because of prolonged financial crisis so that people do a demonstration to demand the revelation of basic needs. (2) Second, the solidarity action undertaken by UMS students over the death of four students of Trisakti University ended in dispute and exploited by parties who are not responsible for the conduct, destruction and burning of buildings and provoking the masses to do anarchists and out of control. (3) Third, during the riots in May 1998 many stores, assets, and businesses were Chinese citizens who looted and burned by the mob so that ethnic Chinese citizens suffered losses of hundreds of millions to billions of rupiah.

 

Research on the May 1998 riots in Surakarta need to be developed in order to obtain new evidences. Given the lack of resources and research literature that talks about victims, witnesses, and the mastermind behind the events of May 1998 in the city of Surakarta. It is time for the minority gets more attention because, although they are people of foreign descent, they were still citizens of Indonesia are unworthy of freedom and justice in a sovereign State and uphold the unity.