SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGEMBANGAN ATLAS SEJARAH NUSANTARA (ASTARA) BERBASIS ANDROID UNTUK MENUNJANG PEMAHAMAN KONSEP RUANG DALAM MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA MATERI ISLAMISASI DAN SILANG BUDAYA DI NUSANTARA SISWA KELAS X SEKOLAH MENENGAH ATAS

Yenni Eria Ningsih

Abstrak


ABSTRAK

 

PENGEMBANGAN ATLAS SEJARAH NUSANTARA (ASTARA) BERBASIS ANDROID UNTUK MENUNJANG PEMAHAMAN KONSEP RUANG DALAM MATAPELAJARAN SEJARAH INDONESIA MATERI ISLAMISASI DAN SILANG BUDAYA DI NUSANTARA SISWA KELAS X SEKOLAH MENENGAH ATAS

Yenni Eria Ningsih

Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang

 

Pengembangan ASTARA dilatarbelakangi kurangnya sumber belajar dan pemahaman konsep ruang siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji efektivitas produk ASTARA. Hasil validasi ahli materi dan media menunjukkan persentase sebesar 92,5% dan 97,5%. Uji coba kelompok kecil yang dilakukan kepada 10 siswa menunjukkan persentase sebesar 89,75%, sedangkan uji coba kelompok besar yang dilakukan kepada kelas X IPA 1, menunjukkan persentase sebesar 86,8%. Hasil validasi dan uji coba tersebut termasuk dalam kategori valid tanpa revisi.

 

Kata Kunci: Atlas, sumber belajar, ruang, Sejarah Indonesia, Islamisasi.

Guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pengembang kurikulum yang dapat menciptakan kondisi dan suasana belajar yang kondusif, yaitu suasana belajar menyenangkan, menarik, memberi rasa aman, memberikan ruang pada siswa untuk berpikir aktif, kreatif, dan inovatif dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi kemampuannya (Rusman, 2012: 19). Selanjutnya Soewarso (2000: 7) juga menjelaskan bahwa guru sejarah dituntut kreatif dalam mengembangkan proses belajar-mengajar. Kreatifitas pengajar sejarah dikuatkan dengan kemampuan dan kecakapannya dalam mengembangkan konsep-konsep sejarah (Hamid, 2014:14).

Sejarah sebagai sebuah peristiwa tidak terlepas dari tiga konsep utama yaitu manusia, ruang, dan waktu. Tidak ada satu pun peristiwa sejarah yang tidak mencakup ketiga konsep tersebut. Hanya dengan adanya manusia, ruang, dan waktu, maka proses sejarah dapat berjalan (Latief, 2006: 42). Sjamsuddin (1996: 30) memaparkan hubungan manusia, ruang dan waktu sebagai berikut:

Dengan batasan ruang, tinjauan terhadap perubahan-perubahan yang dibawakan sejarah menurut tempat atau lokasi terjadinya peristiwa-peristiwa sejarah dilakukan. Geografi meninjau kegiatan manusia dan hasil karyanya dalam dimensi ruang dan waktu. Sehingga sejarah berhubungan erat dengan geografi, yang menggambarkan keadaan tempat, di mana berlangsung kegiatan manusia dan terwujud hasil karyanya. Sedangkan sejarah menggambarkan perkembangan perikehidupan manusia dalam batasan ruang dan waktu. Pembahasan perubahan diadakan oleh historycal geography (geografi sejarah).

Akan tetapi, seringkali guru sejarah lebih fokus menyampaikan aspek manusia dan waktu, sedangkan konsep ruang sering dihiraukan. Padahal kombinasi ketiga hal tersebut sangat penting disampaikan dalam proses pembelajaran. Kochhar (2008: 259) mengemukakan bahwa salah satu dokumen yang paling penting untuk menumbuhkan pemahaman ruang dalam pembelajaran sejarah adalah peta. Namun dijumpai kesenggangan yaitu sangat sedikit referensi peta dalam pembelajaran sejarah, sehingga siswa tidak terbiasa membaca peta (Kochhar, 2008: 259). Permasalahan tersebut membuat siswa tidak dapat mengeksplorasi dan mengelaborasi kemampuannya secara utuh. Berdasarkan wawancara dengan ibu Winda Tri Astuti, S.Pd yang dilakukan pada tanggal 02 September 2016 di SMA Negeri 1 Gondanglegi menyebutkan bahwa rendahnya pemahaman konsep ruang siswa terlihat pada sikap siswa yang tidak dapat menggambarkan pulau Sulawesi ketika diberikan tugas oleh pendidik. Daldjoeni (1982: 3) berpendapat bahwa agar siswa dapat mengeksplorasi dan mengelaborasi dengan baik berbagai peristiwa di masa lampau, tidaklah cukup bila diketahui apa yang terjadi dan kapan itu terjadi. Masih perlu pula diketahui dimana itu terjadi, karena segala peristiwa harus dihubungkan dengan tempat tertentu dan dengan sendirinya juga sifat-sifat istimewa dari tempat yang bersangkutan harus dipahami.

Sumber belajar atau sumber pembelajaran dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan belajar, sehingga diperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperlukan (Musfah, 2011:102). Soeharto, dkk (1995: 89) mengemukakan kriteria-kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan sumber belajar, yaitu: sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, bersifat ekonomis, praktis dan sederhana dalam pengoperasian, mudah didapat, luwes dan fleksibel, dan sesuai dengan karakteristik pemakai. Rendahnya pemahaman ruang siswa dalam mempelajari materi pelajaran sejarah dikarenakan sumber belajar yang digunakan oleh siswa hanya terbatas pada buku paket dan lembar kegiatan siswa.

Atlas merupakan bahan referensi yang memberikan informasi melalui sekumpulan peta. Informasi yang termuat meliputi tentang cuaca, lokasi, sejarah, ekonomi, dan lain-lainnya dari suatu kota, daerah, dan negara atau biasa disebut dengan atlas tematik (Khanifatul, 2013: 180). Widja (1989: 66) menjelaskan bahwa penggunaan peta yang tidak lain daripada lukisan visual dari ruang atau tempat di mana peristiwa itu terjadi, adalah mutlak dalam pembelajaran sejarah. Hanya melalui penggunaan petalah visualisasi yang menyangkut konsep ruang suatu kejadian bisa diwujudkan dengan lebih jelas dihadapan siswa. Atlas mempunyai susunan yang jelas dimana suatu informasi itu ada. Suatu atlas dapat diawali dengan gambaran dunia kemudian secara gradual ke daerah yang lebih besar dalam lingkungannya (Kraal, 2013:158). Karena banyaknya data topografi yang dapat disajikan di atas suatu peta, Subagio (2003: 2) berpendapat tentang perlunya dilakukan pemilihan data-data yang akan disajikan sehingga kerumitan isi peta dapat dihindari. Dalam pemilihan data tersebut, perlu dipertimbangkan beberapa hal seperti: skala peta yang akan dibuat, sumber data pemetaan, serta jenis data yang akan disajikan (tujuan pemetaan).

Dipilihnya KD 3.7. dan 3.8. kelas X Sekolah Menengah Atas, karena materi yang memuat Kompetensi Dasar tersebut merupakan materi yang kompleks. Sehingga memerlukan suatu sumber belajar yang dapat meringankan siswa dalam mempelajari materi tersebut. Dengan adanya ASTARA, siswa akan merasa terbantu dalam mempelajari materi. Materi tidak harus dapat terselesaikan dalam kelas, melainkan juga dapat dipelajari sendiri di luar kelas dengan mengakses aplikasi ASTARA. Arifianto (2011: 1) menjelaskan bahwa android merupakan sistem operasi untuk telepon seluler yang berbasis Linux. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka sendiri. Sejak dibuat pertama kali hingga sekarang, Android berkembang sangat pesat dari tahun ke tahun (Edward, 2012: 2). Aplikasi berbasis android mempunyai kelebihan diantaranya dapat digunakan secara efisien, karena bisa diakses dan dibawa kemanapun, bersifat portable, juga tidak menghabiskan banyak waktu. Semua kelebihan tersebut membuat perangkat mobile smartphone digemari oleh semua golongan, termasuk siswa. Mayoritas siswa Sekolah Menengah Atas sudah memiliki dan memanfaatkan perangkat mobile smartphone. Pengguna smartphone android di SMAN 1 Gondanglegi sebesar 97,3%, sehingga siswa sudah terbiasa dalam menjalankan aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone android.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran sejarah selama ini, dan dengan memperhatikan berbagai potensi ASTARA dalam pembelajaran sejarah, maka peneliti bermaksud mengembangkan Atlas Sejarah Nusantara sebagai sumber belajar audio-visual dengan memanfaatkan smartphone android.. Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, peneliti mengambil judul “Pengembangan Atlas Sejarah Nusantara (ASTARA) Berbasis Android untuk Menunjang Pemahaman Konsep Ruang dalam Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Materi Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas”. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan dan menghasilkan produk Atlas Sejarah Nusantara (ASTARA) berbasis android untuk menunjang pemahaman konsep ruang dalam matapelajaran Sejarah Indonesia materi Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas, (2) menguji efektivitas produk Atlas Sejarah Nusantara (ASTARA) berbasis android untuk menunjang pemahaman konsep ruang dalam matapelajaran Sejarah Indonesia materi Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas.

Metode

Model penelitian & pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, dan menunjukkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk (Arifin, 2012: 128). Terdiri dari sembilan langkah yang dimodifikasi dari Gall, Gall & Borg (1989: 784-785) yang terdiri atas Potensi dan Masalah, Pengumpulan Data, Desain Produk, Validasi Desain, Revisi Desain, Uji Coba Produk, Revisi Produk (I), Uji Coba Pemakaian, dan Revisi Produk (II).

Tahap pertama yang dilakukan yaitu analisis potensi dan masalah. Masalah dalam penelitian ini yaitu tidak terjadi sinkronisasi antara pemanfaatan IPTEK untuk pembelajaran sejarah dengan perkembangan IPTEK. Padahal permasalahan yang ada, yaitu kurangnya sumber belajar siswa dapat diselesaikan dengan memanfaatkan IPTEK untuk dijadikan sumber belajar. Minimnya sumber belajar terutama penggunaan atlas menyebabkan pemahaman konsep ruang yang dimiliki siswa rendah. Kompetensi dasar yang dijelaskan dalam ASTARA yaitu KD 3.7. dan 3.8., karena kompetensi dasar tersebut sesuai untuk dijelaskan dan dikembangkan dalam bentuk atlas sejarah. Selain itu KD tersebut memuat materi yang kompleks, sehingga memerlukan suatu sumber belajar yang dapat meringankan siswa dalam mempelajari materi tersebut. Dengan adanya ASTARA, siswa akan terbantu dalam mempelajari materi. Materi tidak harus dapat terselesaikan dalam kelas, melainkan juga dapat dipelajari sendiri di luar kelas dengan membawa aplikasi ASTARA.

Tahap kedua yaitu Pengumpulan Data. Data dan informasi yang dikumpulkan peneliti berasal dari penelitian terdahulu dan wawancara dengan guru yang dilakukan pada tanggal 02 September 2016 di SMA Negeri 1 Gondanglegi. Materi mengenai Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara disusun dengan merujuk beberapa buku sejarah diantaranya yaitu, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII, Sejarah Kebudayaan Indonesia: Religi dan Falsafah, Sejarah Kebudayaan Indonesia: Arsitektur, Islamisasi Dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, serta Arkeologi Islam Nusantara.

Tahap ketiga merupakan Desain Produk. Produk pengembangan yang dihasilkan dalam penelitian ini selanjutnya digunakan sebagai sumber belajar. Produk ini diberi nama ASTARA, yang merupakan singkatan kata dari Atlas Sejarah Nusantara. Ada banyak software pembuat aplikasi mobile atau game yang bisa dimanfaatkan, diantaranya yaitu unity 3d, Eclipse, Android Studio, Construct 2, Flash, Game Salad, Buildbox, dan lain-lain (Jhie, 2016: 111). Dalam pembuatan aplikasi ini, peneliti dan mitra menggunakan aplikasi android studio.

Tahap keempat yaitu Validasi Desain. Dalam penelitian dan pengembangan produk ini, peneliti meminta kritik, saran, masukan dan pendapat dari dua orang tenaga ahli. Dua tenaga ahli tersebut, yaitu seorang ahli materi dan seorang untuk ahli media. Tenaga ahli dapat menilai kelayakan produk dengan kriteria telah menempuh pendidikan S3, sesuai dengan bidang keahlian dan memiliki pengalaman mengajar minimal 10 tahun. Tahap kelima berupa Revisi Desain. Setelah desain produk divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli, maka akan dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain, yang bertugas memperbaiki desain adalah peneliti yang mau menghasilkan produk (Sugiyono, 2015: 414).

Tahap keenam berupa Uji Coba Produk. Uji coba produk dilakukan setelah produk sudah direvisi oleh peneliti. Tahap uji coba kelompok kecil dilakukan di SMAN 1 Gondanglegi dengan pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Sampel yang dipilih secara acak berjumlah 10 siswa dari total populasi. Siswa yang dipilih secara acak merupakan siswa kelas X. Tahap ketujuh merupakan Revisi Produk (I). Revisi produk dilakukan apabila terdapat kekurangan dalam produk setelah diuji cobakan pada kelompok kecil. Kekurangan produk diidentifikasi dengan melihat instrumen penilaian yang telah diisi oleh siswa. Kekurangan tersebut dijadikan acuan dalam proses perbaikan produk. Hasil dari revisi produk ini selanjutnya akan dijadikan bahan uji coba pemakaian.

Tahap kedelapan berupa Uji Coba Pemakaian. Model dari penilaian kelompok besar dilakukan dengan model One Group Pre Test-Post Test Design. Alasan peneliti menggunakan model penelitian tersebut karena sebelum mengoperasikan produk, siswa diberi soal-soal pre-test untuk mengetahui kemampuan pemahaman siswa mengenai materi Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara. Setelah mengoperasikan produk ASTARA, siswa diberi soal-soal post-test untuk mengetahui pemahaman ruang siswa setelah penggunaan produk.

Tahap kesembilan berupa Revisi Produk (II). Revisi produk dilakukan berdasarkan hasil dari instrumen penilaian produk yang dilakukan oleh siswa pada tahap uji pemakaian. Setiap penilaian siswa diidentifikasi untuk menentukan bagian-bagian yang perlu direvisi.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini menggunakan teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari perhitungan angket dan tes, sedangkan data kualitatif diperoleh dari wawancara dan observasi.

a.       Teknik Data Kuantitatif

1) Analisis Validitas Produk

Rumus yang digunakan untuk mengetahui tingkat validitas media dengan menggunakan angket menurut Arikunto (2013: 54).

P = x 100%

Keterangan:

       P : Persentase hasil subjek uji coba

    ∑X : Jumlah jawaban skor oleh responden

   ∑XI : Jumlah jawaban maksimal dalam aspek penelitian oleh responden

100% : Konstanta

2) Analisis Efektivitas Produk

Instrumen dan hasil observasi digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data tentang tingkat pemahaman siswa terhadap materi antara sebelum pemanfaatan dan setelah pemanfaatan produk. Kriteria yang digunakan peneliti untuk mengetahui tingkat validitas media pembelajaran menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh Arikunto (2004:18). Tabel persentase validitas media dapat dilihat pada tabel 3.1. berikut ini.

Tabel 3.1. Persentase Validitas Media

Tingkat Persentase

Kriteria

Keterangan

81%-100%

Valid

Tidak Revisi

61%-80%

Cukup Valid

Tidak Revisi

41%-60%

Kurang valid

Revisi

%

Tidak Valid

Revisi

 

Hasil dan Pembahasan

Sumber belajar Atlas Sejarah Nusantara (ASTARA) pada materi Islamisasi dan silang budaya di Nusantara merupakan hasil integrasi dari kumpulan peta, gambar, dan suara tentang materi Islamisasi dan silang budaya di Nusantara. ASTARA dikembangkan dengan memanfaatkan program aplikasi Android Studio. Spesifikasi dari produk yang dikembangkan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:  Kompetensi Dasar (berisi kompetensi dasar yang digunakan acuan pembuatan materi produk), Materi (berisi materi tentang Islamisasi dan silang budaya di Nusantara), Profil Pengembang (informasi tentang riwayat hidup pengembang produk), Petunjuk Penggunaan, dan Evaluasi.

Dalam konten materi terdapat empat sub-konten, yaitu: Kedatangan Islam ke Nusantara, Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara, Akulturasi Budaya Islam, Referensi. Pada sub-konten kedatangan Islam ke Nusantara terdapat lima sub-sub konten yang berisi peta dan bukti pendukung teori. Lima sub-sub konten tersebut yaitu Pola Islamisasi, Teori Gujarat, Teori Persia, Teori Mesir/Arab, dan Motif Penyebaran Islam. Sub-konten kedatangan Islam ke Nusantara memuat empat peta. Diantaranya yaitu, Peta Teori Gujarat, Peta Bukti Teori Gujarat, Peta Teori Persia, dan Peta Teori Mesir/Arab.

Pada sub-konten kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara terdapat delapan sub-sub konten yang masing-masing sub-sub kontennya memuat satu peta. Delapan sub-sub konten tersebut yaitu kerajaan Islam di Sumatra (Kerajaan Samudera Pasai), kerajaan Islam di Sumatra (Kerajaan Aceh Darussalam), kerajaan Islam di Jawa (Kerajaan Demak), kerajaan Islam di Jawa (Kerajaan Mataram Islam), kerajaan Islam di Jawa (Kerajaan Banten), kerajaan Islam di Kalimantan (Kerajaan Pontianak), kerajaan Islam di Sulawesi (Kerajaan Gowa-Tallo), kerajaan Islam di Maluku (Kerajaan Ternate dan Tidore).

Pada sub-konten akulturasi budaya Islam terdapat enam sub-sub konten yang termuat dalam satu peta. Enam sub-sub konten tersebut yaitu seni dan bangunan (masjid dan menara), seni dan bangunan (makam), upacara, seni ukir, kesenian, serta aksara dan seni sastra. Referensi. Pada sub-konten referensi memuat referensi yang digunakan dalam penyusunan produk. Berikut beberapa tampilan konten ASTARA:

Gambar 1. Tampilan ASTARA pada Konten Tampilan Awal, Konten Tampilan Menu Utama, Konten Kompetensi Dasar, dan Konten Materi

 Ahli materi yang memvalidasi produk ASTARA merupakan dosen jurusan sejarah yang ahli dalam Sejarah Indonesia Madya. Beliau memiliki pengalaman kerja selama 29 tahun. Validasi dilakukan dalam beberapa tahap, validasi tahap pertama dilaksanakan pada tanggal 05 Januari 2017 bertempat di kantor Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang. Validasi tahap kedua, dilaksanakan pada tanggal 06 Januari 2017 bertempat di kantor Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang.

Hasil penilaian validator materi yaitu, terdapat tiga item pertanyaan dengan skor 3 dan tujuh item pertanyaan dengan skor 4. Dari rekapitulasi tersebut dapat ditarik distribusi frekuensi skala data hasil uji coba ahli materi dengan rincian skor 3 dengan persentase distribusi frekuensi skor 30% dan skor 4 dengan persentase distribusi frekuensi skor 70%. Persentase keseluruhan dari hasil uji validasi ahli materi sebesar 92,5%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan oleh peneliti termasuk dalam kriteria valid dengan keterangan tidak revisi. Namun validator materi memberikan saran untuk penyempurnaan produk yang dihasilkan. Saran yang diberikan oleh validator materi, yaitu:

a.    Bahasa lebih dialogis sesuai dengan perkembangan siswa.

b.    Memanfaatkan temuan penelitian terbaru mengenai teori Islamisasi di Nusantara.

Ahli media yang memvalidasi produk ASTARA, yaitu dosen jurusan Teknologi Pendidikan yang ahli dalam pengembangan produk pendidikan. Beliau memiliki pengalaman kerja selama 11 tahun. Validasi dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2016 bertempat di Laboratorium Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan.

Hasil penilaian validator media yaitu, terdapat satu item pertanyaan dengan skor 3 dan sembilan item pertanyaan dengan skor 4. Dari rekapitulasi tersebut dapat ditarik distribusi frekuensi skala data hasil uji coba ahli media dengan rincian skor 3 dengan persentase distribusi frekuensi skor 10% dan skor 4 dengan persentase distribusi frekuensi skor 90%. Persentase keseluruhan dari hasil uji validasi ahli media sebesar 97,5%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan oleh peneliti termasuk dalam kriteria valid dengan keterangan tidak revisi. Namun validator materi memberikan saran untuk penyempurnaan produk yang dihasilkan. Saran yang diberikan oleh validator media, yaitu:

a.         Perlu ditaruh di Play Store untuk platform android.

b.        Perlu dipertimbangkan platform windows mobile, IOS dll.

Uji coba kelompok kecil dilakukan pada tanggal 17 Januari 2017. Dalam pelaksanaannya peneliti melakukan dua cara. Cara pertama produk disebarkan melalui link google drive yang tersedia dalam posting status facebook peneliti, siswa hanya perlu mendownload. Cara kedua produk disebarkan melalui aplikasi SHAREit. Cara pertama mengalami kendala, dikarenakan kecepatan akses wifi sekolah yang terbatas, sehingga proses penyebaran produk menggunakan cara kedua. Setelah produk berhasil terpasang dalam smartphone android  masing-masing subjek coba, kemudian dilaksanakan pembelajaran secara bersama-sama dengan memanfaatkan ASTARA. Siswa diberi kesempatan untuk mengisi angket yang sudah disiapkan peneliti di meja, setelah selesai memanfaatkan ASTARA.

Hasil penilaian pada kelompok kecil yaitu, terdapat dua item pertanyaan dengan skor 2, tiga puluh tiga item pertanyaan dengan skor 3 dan enam puluh lima item pertanyaan dengan skor 4. Dari rekapitulasi tersebut dapat ditarik distribusi frekuensi skala data hasil uji kelompok kecil dengan rincian skor 2 denag persentase distribusi skor 2%,  skor 3 dengan persentase distribusi frekuensi skor 33% dan skor 4 dengan persentase distribusi frekuensi skor 65%. Persentase keseluruhan dari hasil uji validasi ahli media sebesar 89,75%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan oleh peneliti termasuk dalam kriteria valid dengan keterangan tidak revisi, sehingga produk ASTARA selanjutnya dapat diuji cobakan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Namun subjek coba dalam uji coba kelompok kecil memberikan saran untuk penyempurnaan produk yang dihasilkan. Saran yang diterima pada saat uji coba kelompok kecil, yaitu:

 

a.    Gambar sub-sub konten kesenian dan sub-sub konten aksara dan seni sastra terlalu besar.