SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Imam Soedja'i dalam Konstelasi Politik di Tubuh Militer Indonesia (1945-1948)

Yoga Pradana Putra

Abstrak


ABSTRAK

 

Putra, Yoga Pradana. 2017. Imam Soedja'i dalam Konstelasi Politik di Tubuh Militer Indonesia (1945-1948), Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Ari Sapto, M.Hum.

Kata Kunci: Pahlawan, Konstelasi Politik, Militer

Imam Soedja'i merupakan salah satu pahlawan lokal di Lumajang, Jawa Timur. Pahlawan lokal belum begitu dikenal jika dibandingkan pahlawan yang bersifat nasional. Imam Soedja'i lebih dikenal sebagai nama salah satu jalan di Lumajang. Keterbatasan sumber sejarah membuat kajian-kajian yang bersifat lokal disisihkan dalam historiografi Indonesia. Sebagian besar yang dibahas hanyalah nama-nama atau pahlawan yang memiliki nama besar. Berkaitan dengan itu, maka penelitian ini dilakukan agar bisa menggambarkan peranan Imam Soedja'i dan pengaruh konstelasi politik di tubuh militer Indonesia terhadap pergantian panglima Divisi VII Imam Soedja'i tahun 1945-1948.

Penelitian ini mencari jawaban atas masalah yaitu: Pertama, bagaimana latar belakang kehidupan Imam Soedja'i. Kedua, bagaimana konstelasi politik yang terjadi di tubuh militer Indonesia tahun 1945-1948. Ketiga, bagaimana keterkaitan antara konstelasi politik di tubuh militer Indonesia dengan pergantian panglima Divisi VII/Untung Suropati.

Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah pertama, pengumpulan data (Heuristik). Kedua, pengujian sumber (Verifikasi). Pengujian sumber dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Ketiga, analisis data (Interpretasi). Analisis data dilakukan dengan cara ngelompokkan data-data yang sudah didapatkan dan mencatat hal-hal yang penting. Keempat, penulisan narasi sejarah (Historiografi).

 Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tiga kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Imam Soedja'i lahir sebagai keturunan priyayi muslim. Pada masa Hindia-Belanda, Imam Soedja'i memperoleh pendidikan Hollandsch Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Burgerlijke Avond School (BAS). Pada masa pergerakan, Imam Soedja'i bergabung dengan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Selain bergabung dengan organisasi politik, ia juga mendirikan Pencak Organisasi dan SIAP (Sarekat Islam Afdeling Pandu) yang bertujuan untuk mengumpulkan para pemuda dalam wadah seni beladiri. Pada masa pendudukan Jepang, Imam Soedja'i menjabat sebagai pimpinan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) Kabupaten Lumajang. Pada masa perang kemerdekaan, Imam Soedja'i menjabat sebagai Panglima Divisi VII/Untung Suropati.

Kedua, konstelasi politik di tubuh militer Indonesia tahun 1945-1948 sedikit banyak dipengaruhi oleh adanya faksi-faksi di dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia. TNI berasal dari empat golongan. Bekas anggota Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), Peta, Laskar, dan pelajar serta mahasiswa. Selain adanya faksi-faksi di tubuh TNI, konstelasi politik di tubuh militer Indonesia tahun 1945-1948 juga dipengaruhi perbedaan pandangan perjuangan antara golongan tua dan golongan muda. Golongan tua berjuang dengan menggunakan cara diplomasi sedangkan golongan muda lebih memilih jalan konfrontasi.

Ketiga, pergantian panglima Divisi VII/Untung Suropati dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, Imam Soedja'i menjadi korban dalam pergulatan politik yang terjadi di dalam tubuh militer Jawa Timur. Kedua, kedekatan Imam Soedja'i dengan golongan kanan (laskar hisbullah dan laskar sabilillah).

Kajian ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi peneliti-peneliti lain yang melakukan penelitian sejarah lokal berkaitan dengan peranan salah satu pahlawan lokal di daerah Lumajang atau di daerah-daerah lain.