SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pemanfaatan Candi Gununggangsir sebagai Sumber Belajar Sejarah Siswa Kelas XI Ilmu Pengetahuan Sosial di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Hasan Munadi Beji Kabupaten Pasuruan

Inayatus Suffah

Abstrak


ABSTRAK

 

Suffah, Inayatus. 2016. Pemanfaatan Candi Gununggangsir sebagai Sumber Belajar Sejarah Siswa Kelas XI Ilmu Pengetahuan Sosial di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Hasan Munadi Beji Kabupaten Pasuruan.Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum Pembimbing II: Deny Yudo Wahyudi, S.Pd., M.Hum.

 

Kata Kunci: pemanfaatan, Candi Gununggangsir, sumber belajar

 

Pembelajaran sejarah dianggap membosankan karena metode pengajaran yang digunakan guru kurang tepat. Pembelajaran sejarah berbasis lingkungan melalui karyawisata ke tempat bersejarah merupakan cara untuk mengubah cara pandang siswa terhadap matapelajaran sejarah yang membosankan menjadi menyenangkan. Candi Gununggangsir dipilih sebagai obyek penelitian karena termasuk sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan memiliki letak strategis, yaitu bangunan sejarah yang letaknya dekat lingkungan sekolah, khususnya MA NU Hasan Munadi Beji, Kabupaten Pasuruan yang jaraknya sekitar ± 850 m dari bangunan candi. Sekolah ini adalah sekolah berbasis Agama Islam di Kabupaten Pasuruan yang memiliki kepedulian yang tinggi terdapat bangunan sejarah Agama Hindu pada masa silam dengan cara memanfaatkan tempat bersejarah sebagai sumber belajar siswa kelas XI IPS, padahal Pasuruan terkenal dengan nilai religius Agama Islam yang tinggi dan kurang peduli terhadap bangunan candi yang berlatar belakang Agama Hindu-Buddha.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan Candi Gununggangsir sebagai sumber belajar sejarah siswa kelas XI IPS di MA NUHasan Munadi Beji, Kabupaten Pasuruan dan untuk menjelaskan pemanfaatan Candi Gununggangsir sebagai sumber belajar sejarah siswa kelas XI IPS di MA NU Hasan Munadi Beji, Kabupaten Pasuruan.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS MA NU Hasan Munadi Beji, Kabupaten Pasuruan, guru sejarah MA NU Hasan Munadi Beji Kabupaten Pasuruan, dan juru pelihara Candi Gununggangsir. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, pengecekan keabsahan data dengan triangulasi teknik, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian berikut ini. Pertama, Candi Gununggangsir layak dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah karena Candi Gununggangsir memiliki nilai sejarah sebagai candi langgam Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan letak in-situ yang termasuk dalam peninggalan sejarah kerajaan tradisional masa Indonesia Hindu- Buddha. Fisik bangunan candi sudah baik, ornamentasi candi masih bisa digunakan, sesuai dengan kriteria sumber belajar, dan relevansi dengan materi kelas XI IPS.

 

            Kedua, proses pemanfaatan Candi Gununggangsir sebagai sumber belajar kelas XI IPS MA NU Hasan Munadi Beji, Kabupaten Pasuruan. Guru mengajak siswa ke Candi Gununggangsir untuk melakukan pembelajaran dengan metode karyawisata. Kemudian guru menjelaskan informasi tentang sejarah Candi Gununggangsir secara singkat dengan mengelilingi bangunan candi. Siswa kelas XI mencatat yang dijelaskan guru, bertanya, mengungkapkan argumennya, mengamati bentuk bangunan dan ornamen-ornamen candi dengan dibantu lembar materi dari guru, serta menjawab lembar soal. Hasil observasi saat pemanfaatan Candi Gununggangsir sebagai sumber belajar sejarah kelas XI IPS MA NU Hasan Munadi Beji, Kabupaten Pasuruan menunjukkan hasil yang baik, dengan perolehan tingkat keberhasilan dari aspek kesiapan, perhatian, dan ketepatan aktivitas sebesar 75,2%. Sedangkan nilai kognitif siswa kelas XI IPS menunjukkan kriteria baik, dengan tingkat keberhasilan sebesar 77,8%.