SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perkembangan Mitigasi Bencana Letusan Gunung Kelud di Kabupaten Kediri 1919-2014 dan Nilai Pendidikannya

Wanda Setyo Lestari

Abstrak


Lestari, Wanda Setyo. 2016. Perkembangan Mitigasi Bencana Letusan Gunung Kelud di Kabupaten Kediri 1919-2014 dan Nilai Pendidikannya. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Yuliati, M.Hum (2) Drs. Mashuri, M.Hum.

Kata Kunci: Gunung Kelud, mitigasi, bencana, letusan

Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia memiliki rentang waktu erupsi yang pendek yaitu antara 12 - 30 tahun. Letusannya bersifat eksplosif (ledakan). Setiap kali terjadi letusan menimbulkan dampak kerusakan dan korban jiwa. Oleh karena itu perlu adanya upaya mitigasi bencana untuk mencegah terjadinya banyak korban di kemudian hari. Kabupaten Kediri merupakan salah satu kawasan yang mengalami banyak kerugian dan korban jiwa saat Gunung Kelud meletus.

Rumusan masalah dalam penelitian ini: pertama, bagaimana sejarah erupsi Gunung Kelud antara tahun 1919-2014 dan dampaknya? kedua, bagaimana perkembangan mitigasi bencana Gunung Kelud dari tahun 1919-2014 di Kabupaten Kediri?

Penelitian ini menggunakan metode penulisan sejarah. Penelitian sejarah mempunyai lima tahap, yaitu: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) interpretasi: analisis dan sintesis, dan (5) penulisan.

Hasil dari penelitian ini mendapat kesimpulan. Gunung Kelud meletus tercatat dalam sejarah pertama kali pada tahun 1000. Pada abad ke-20 Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990. Kemudian pada abad ke-21 Gunung Kelud kembali meletus pada tahun 2007 dan 2014.

Perkembangan mitigasi bencana Gunung Kelud tercatat dalam sejarah adalah pembangunan sodetan terusan air sungai. Pada masa kolonial Hindia-Belanda pada saat Gunung Kelud meletus tahun 1919 dilakukan upaya pembangunan terowongan untuk mengalirkan dan mengurangi volume air danau kawah. Saat Gunung Kelud meletus kembali di tahun-tahun berikutnya, 1951-1990 upaya mitigasi terus dilakukan dengan memperbaiki dan membangun terowongan yang rusak. Mitigasi terus dilakukan seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Upaya mitigasi dilakukan tidak hanya oleh pihak pemerintah namun juga oleh masyarakat mandiri dengan kearifan lokalnya yaitu pengetahuan tradisional tentang tanda-tanda alam Gunung Kelud akan meletus. Masyarakat sekitar lereng Kelud masih memegang teguh tradisi seperti melakukan larung sesaji Gunung Kelud. Masyarakat lereng Gunung Kelud juga mendirikan komunitas-komunitas tanggap bencana seperti Jangkar Kelud dan Kelud FM. Upaya-upaya mitigasi tersebut membuat korban bencana Gunung Kelud dari tahun ke tahun semakin berkurang. Implementasi pendidikan karakter terkait dengan bencana alam letusan Gunung Kelud di sekolah dari 18 butir dapat diambil tiga, yaitu peduli lingkungan, peduli sosial, dan kreatif. Penerapan pada kurikulum di sekolah dapat diberikan melalui materi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana, kesadaran kepedulian sosial dan proses kreatif pada saat menghadapi bencana.

Saran kepada peneliti atau pembaca yang berminat untuk melanjutkan atau mengambil topik yang sama dapat membahas mengenai mitigasi bencana letusan gunung dan dapat mengambil tema penelitian mitigasi bencana gunung berapi lainnya yang ada di Indonesia.