SKRIPSI Jurusan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perkembangan Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah Pusat Losari, Ploso, Jombang : Pesantren Cinta Tanah Air (1973-2012)

Riswatul Ummi

Abstrak


ABSTRAK

 

Ummi, Riswatul. 2013. Perkembangan Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah Pusat Losari, Ploso, Jombang : Pesantren Cinta Tanah Air (1973-2012). Skripsi, Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdul Latif Bustami, M.Si., Pembimbing: (II) Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum

 

Kata kunci: Pendidikan Cinta Tanah Air, Pesantren, Jombang.

 

Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah Pusat tumbuh dan berkembang dengan komitmen untuk menerapkan pendidikan cinta tanah air. Perkembangan Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah erat kaitannya dengan lestarinya Thoriqoh Shiddiqiyyah yang diajarkan Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi sejak tahun 1959 di Losari, Ploso, Jombang. Begitu pula dengan pendidikan cinta tanah air yang diterapkan di pesantren didasarkan atas ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah. Tujuan pendidikannya lebih berorientasi untuk membentuk manusia yang sadar beragama dan sadar bernegara. Kesadaran bernegara inilah yang dikembangkan dalam penerapan pendidikan cinta tanah air dari tahun 1973 hingga 2012.

Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah yang akan dikaji yaitu (1) Bagaimana latar belakang berdirinya pesantren, (2) Bagaimana perkembangan aktifitas Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah Pusat dalam penerapan pendidikan cinta tanah air selama periode 1973 hingga 2012.

Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah. Metode sejarah  meliputi heuristik yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber yaitu menguji kebenaran informasi baik dari segi materi maupun substansi. kebenaran  yang telah diperoleh, meliputi kritik ekstern untuk menilai keautentikan sumber dan kritik Intern untuk menilai kebenaran isi sumber dan kesaksian. Interpretasi yaitu mencari makna dari fakta-fakta yang telah diperoleh dan Historiografi yaitu penulisan sejarah. Sedangkan metode sejarah lisan digunakan karena masih memungkinkan untuk menggali informasi dari pelaku sejarah melalui wawancara.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa latar belakang berdirinya Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah adalah dengan semakin pesatnya perkembangan ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah. Berawal dari pendirian Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah (YPS) di tahun 1973 sebagai suatu wadah formal aktifitas Thoriqoh Shiddiqiyyah, kemudian baru di tahun 1974 pesantren dapat berdiri dan mulai dikenal masyarakat luas. Dari penelitian ini juga diperoleh kesimpulan bahwa perkembangan aktifitas pesantren dalam rangka penerapan pendidikan cinta tanah air sejalan dengan kemajuan  yang di capai Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah. Ketika masa awal perkembangan pesantren di tahun 1974, pendidikan cinta tanah air telah diterapkan dengan bentuk pendidikan tradisional baik melalui  pembelajaran privat, kuliah umum maupun pengajian-pengajian. Selain itu, sejak  diterapkan dengan metode pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan keseharian santri berupa aktifitas sosial meski dalam skala kecil. 

Menginjak tahun 1985, Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah merintis berdirinya lembaga pendidikan formal (sistem klasikal) di lingkungan pesantren dengan nama Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB). Pada periode ini, sejalan dengan perkembangan yang telah dicapai pesantren pendidikan cinta tanah air dimasukkan dalam kurikulum THGB. Pendidikan cinta tanah air atau Hubbul Wathan termasuk salah satu dari 6 mata pelajaran utama yang diajarkan di THGB. THGB mengembangkan berbagai teknik dan metode guna menunjang pembelajaran pendidikan cinta tanah air. Dalam periode ini, aktifitas social sebagai bentuk aplikasi pendidikan cinta tanah air berkembang dengan skala yang  lebih luas. Sebab diterapkan pula oleh warga Shiddiqiyyah di luar pesantren,  mengingat semakin tersebarnya cabang-cabang Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah  di seluruh Indonesia.  

Untuk periode ketiga yakni tahun 1998-2012, didirikannya berbagai monument kebangsaan di lingkungan Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah. Selain sebagai simbol rasa syukur atas terciptanya negara Indonesia juga digunakan sebagai media pendidikan cinta tanah air untuk para santri. Dalam periode ini pula, akifitas sosial dalam rangka peringatan syukuran nikmat kemerdekaan dan tasyakuran hari Sumpah Pemuda semakin berkembang baik dalam segi kualitas, kuantitas maupun jangkauan. Dengan didirikannya DHIBRA dan OPSHID sejak tahun 2001 sebagai organisasi masyarakat yang mengemban misi sosial dan jiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.Pendidikan cinta tanah air juga dikembangkan di luar pesantren dalam bentuk seminar, pendirian organisasi lintas agama (PCTAI), Taman Pendidikan Al-Qur’an yang dikombinasikan dengan pendidikan cinta tanah air dengan nama BTQ (Bustanuts Tsamrotul Qolbis Salim) dan pendirian pesantren Hubbul Wathan Minal Iman yang selesai dibangun tahun 2012. Komitmen pesantren untuk tetap melestarikan cinta tanah air juga disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi  bangsa terutama yang berkaitan dengan masalah keutuhan NKRI.

Saran untuk penelitan selanjutnya dapat mengembangkan penulisan dan mengkaji lebih mendalam mengenai Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah dengan tema yang berbeda. Mengingat banyak keunikan yang dimiliki oleh pesantren ini selain penerapan pendidikan cinta tanah air, misalnya saja dalam segi arsitektur bangunan maupun kurikulum pendidikan yang bersumber dari ajaran tassawuf Thoriqoh Shiddiqiyyah.